Di sebuah rumah besar dengan pemandangan pedesaan yang hijau.
"Abi!" panggil seorang wanita muda dari dapur. Farah.
Mendengar jeritan istri tercintanya, Arfan yang duduk di ruang tamu langsung terbangun dari tempatnya. Arfan berlari kecil menuju dapur.
"Kenapa, Umi?" tanya lembut Arfan.
"Lihat nih anak kita! Kenapa bisa begini?" tanya Farah sembari menunjuk kedua anak kecil yang menggemaskan berumur delapan tahun dan lima tahun itu.
Arfan membuka lebar matanya, kaget bercampur menahan tawa ketika melihat wajah kedua anaknya tertutupi oleh tepung.
"Hahaha!" Arfan tertawa sembari memegangi perutnya.
Farah yang melihat suami dinginnya bisa tertawa seperti itu, terdiam sejenak, dan senyum kecil muncul di wajahnya. Tak berselang lama, senyum itu digantikan oleh wajah yang memerah.
"Abi kok malah ketawa? Umi kan udah bilang jaga baik-baik anak kita, Umi mau keluar sebentar. Kenapa jadi begini?"
Farah menghela napas, dia mengelap keringat yang menetes di pelipisnya.
Kakak beradik yang masih kecil itu, melihat Abi mereka yang dimarahi oleh Umi, ikut tertawa kecil, dan mulai mendekat ke Abi mereka.
Mereka memeluk kaki Arfan yang kekar dengan lembut, dan hangat. Mata mereka bagaikan mutiara yang berkilau saat menatap Abi kesayangan mereka.
"Abi, Ade takut. Uminya galak!" celoteh anak perempuan manis itu.
Anak laki-laki Arfan yang sedang berlindung di belakang kakinya, ia menenggelamkan wajahnya ke kaki Arfan, berusaha bersembunyi dari Uminya.
"Heh, ampun kalian ini! Enak aja bisa ngadu ke Abi kalian seperti ini." Farah menghela napasnya, cemburu melihat kedua anaknya memeluk suaminya.
Arfan tersenyum lembut. " Umi, sini!" panggil Arfan dengan lembut, tangannya melebar bersiap untuk dipeluk.
Farah semakin memerah, rasanya malu ketika dilihat oleh kedua anaknya. Namun, tubuhnya tidak bisa menolak, ia terjatuh ke dalam pelukan Arfan.
Rasa hangat, dan penuh kasih sayang menyebar. Rafa tersenyum melihat keduanya mesra. Berbeda dengan Rafa, Zahra membulatkan pipinya.
"Apa sih Umi. Gantian Zahra dong buat dimanja, Umi kan udah setiap hari," ucap Zahra yang kini memalingkan wajahnya.
Kedua pasangan itu tersenyum hingga tertawa kecil. Rafa hanya bisa pasrah melihat adik kecilnya ini cemburu.
***
Sore pun datang. Rumah itu diwarnai kesibukan.
"Pesenannya sudah selesai belum, Umi?" tanya Arfan kepada Farah.
"Sudah kok ini, sisa di packing aja nih," jawab Farah membelakangi Arfan.
"Ya sudah, sini Abi bantuin dah. Lagian Umi udah capek juga kan?" Arfan mendekati Farah, membantu istri tercintanya dengan lembut.
Rona merah muncul di wajah Farah. Melihat tangan Farah yang tegang, senyum tipis merekah di wajah Arfan.
"Kayak pengantin baru aja! Kita udah sembilan tahun loh nikah!" goda Arfan sembari menyentuh kulit tangan Farah.
"Abi, ih!" kesal Farah mencoba menutupi rasa malunya.
Memikirkan sebuah ide, Farah berbalik menghadap pada Arfan. Mencoba mengalihkan pembicaraan. "Oh ya, anak kita masih main sama tantenya?" tanya Farah walau sedang menahan rasa malu.
Bagaimana Farah tidak malu, saat dia berbalik, dia sudah di perlihatkan dada bidang yang ditutupi oleh pakaian ketat yang dikenakan suaminya. Tingginya yang hanya 160 cm, hanya bisa melihat langsung dada suaminya itu.
"Ih, Abi, Umi kan sudah bilang, kalau sudah selesai latihan angkat beban, langsung mandi!" ucapnya. Tangannya dengan lembut mendorong Arfan untuk mundur.
Arfan tertawa halus melihat reaksi istrinya. "maaf, maaf! Tadi Abi mau mandi, tapi liat umi bungkusin pesanan, jadi Abi juga mau ikutan."
Rona merah menutupi wajah Farah, dia segera berbalik. Tangannya terus mencoba untuk menahan diri agar tidak gemetar.
"Ya udah sana ih, cepetan! Habis mandi, anterin nih pesanan Pak Asep."
Arfan tersenyum manis. "Siap!"
"Ya, Habibati," bisiknya, dekat telinga Farah yang tertutupi hijab hitamnya.
Rasa malu sudah memuncak. Farah menoleh, tapi dia sudah dikejutkan oleh Arfan yang sudah menghilang.
"Abi!" teriaknya.
Di tangga Arfan hanya tersenyum jahil menatap Farah.
***
Beberapa saat kemudian, setelah Arfan mandi, Farah kembali memanggilnya.
"Abi, tolong nih! Anterin ke rumah Pak Asep yah, sudah lama ditungguin," pinta Farah.
Arfan yang sedang bersiap di mobilnya menjawab, "Iya, Umi."
Arfan keluar dari mobilnya menuju Farah yang kini sudah menunggu di belakang pintu. Arfan mengambil bungkusin kue itu, sesekali tersenyum melihat istrinya.
"Apa liat-liat?" ujarnya sembari melotot ke arah Arfan.
"Nggak kok! nggak liat apa-apa."
Arfan berbalik menuju mobilnya yang diparkir di depan pagar. Saat ingin memasuki mobil, rasa sakit yang sangat hebat menjalar di dadanya. Matanya seketika terbuka lebar. Arfan segera menutup mulutnya dengan tangannya.
Huek!
Segumpal darah segar dimuntahkan oleh Arfan. Tangannya menampung darah itu, matanya melebar.
"Argh! Mulai lagikah?" batinnya.
Farah yang melihat punggung Arfan tampak kaku, seketika membuat keringat dingin mengalir di pelipisnya. Rasa khawatir mulai menghantuinya.
"Abi? Abi, kenapa?" tanya Farah.
Arfan tersadar dari lamunannya, dia berbalik sembari menyembunyikan tangannya yang menampung darah di belakang punggungnya.
" Nggak apa kok, Umi. Abi cuma kaget aja ada kecoa di mobil tadi," jawabnya sambil tersenyum. Mencoba untuk tidak membuat istrinya khawatir.
"Oh gitu ya? Ya udah anterin sana, kasian Pak Asep katanya buat ulang tahunnya Lisa," pinta Farah.
"Siap, Umi!" jawab Arfan. Dia masuk ke mobil, mengambil lima helai tisu yang berada di depannya. Menghapus noda darah di tangannya yang terus menetes ke bawah mobil.
Arfan menghembuskan napas kasar. "Ya, Allah. Sehatkanlah hamba-Mu ini, agar hamba-Mu ini tidak membuat keluarga kecil hamba khawatir," bisiknya. Sorot matanya lesu menatap ke arah depan, bibirnya sedikit gemetar, dan sebutir air mata menggenang di sudut matanya.
Arfan menyalakan mobil, dan segera berangkat mengantar pesanan ke rumah Pak Asep.