


oleh Ratu Lembah Sunyi · 23 Bab
Jika kamu menemukan buku tua dilengkapi dengan peta yang menjanjikan kekayaan dan kejayaan, apa yang akan kamu lakukan? Lyra dan keempat kawannya nekat mengunjungi kampung yang nyaris mati demi sebuah misi. Namun, sayangnya salah satu dari mereka melanggar larangan berujung petaka. 'Mati atau cari pengganti.' 'Ini bukan kampung mati, tapi misteri harus tetap tersembunyi.' Itu bukan ancaman, melainkan pilihan yang harus diambil saat itu juga, demi menyelamatkan seluruh masyarakat di Kampung Cikaung. Lantas, apakah peta dalam buku yang mereka temukan bisa menjadi penyelamat?
Tepat jam dua sore, Lyra dan keempat kawannya sudah berada di depan perpustakaan yang letaknya tak jauh dari areal kampus. Rencananya mereka berlima akan melakukan diskusi bersama, sekaligus mencari bahan referensi tambahan sebagai syarat untuk memenuhi nilai akhir, sebelum melakukan penelitian.
“Cie, cie, kayanya ada yang pas lulus langsung nikah, nih, Han,” sindir Arga, dengan ekor mata melirik ke arah Kiano dan Viona yang sedang bermesraan.
“Makanya cari cewek, Ga, betah amat hidup jomblo,” balas Kiano sambil terkekeh.
“Biarpun jomblo, banyak cewek yang antri di luaran sana.”
“Hust! Kalian ini, bercanda aja terus,” ketus Lyra. Wanita cantik dengan rambut sebahu itu berjalan mendahului keempat temannya. Sengaja ia memilih meja panjang biar lebih mudah saat melakukan diskusi.
Mereka mulai memilih buku yang akan dijadikan bahan referensi. Keempatnya sibuk dengan buku bacaan masing-masing, kecuali Viona. Ia masih asik memilih buku-buku yang ada di pojok ruangan.
“Babe, sini,” panggil wanita cantik dengan rok di atas lutut, pada kekasih hatinya, Kiano. Viona adalah sosok yang paling cantik di antara Lyra dan Hani, ia juga sangat humble. Namun, sikapnya manja tak jarang menjadi bahan cibiran Lyra.
“Ada apa, Babe?” Kiano mendekat ke arahnya.
“Coba baca ini.” Viona memperlihatkan buku kuno yang baru saja ia temukan di pojok kanan, posisi buku itu nyaris tidak terlihat karena bentuknya sangat lusuh dan juga ketimbun buku-buku yang lain.
Kiano membuka lembaran demi lembaran di buku itu. Sekilas buku itu seperti buku biasa. Namun, anehnya semakin ia buka, di dalamnya semakin banyak hal tak terduga. Seolah ada misi yang belum terselesaikan.
“Babe!” Kiano menatap Viona seperti mengisyaratkan, apakah ini nyata? Viona hanya mengangguk ragu. Jujur ia sendiri tidak begitu paham isi buku itu. “Ayo, kita ke sana.” Kiano menggandeng tangan Viona menuju meja di mana teman-temannya berada.
“Guys, coba lihat apa yang aku bawa.”
“Apaan, sih, Ki, berisik aja kerjaannya. Kita lagi serius, nih!”
“Lihat dulu, Ga. Aku yakin kalian pasti akan tertarik dengan buku ini.”
“Memangnya buku apaan, Ki?” Kali ini Hani yang bersuara.
Saking terkejutnya, Lyra dan Arga melirik ke arah Hani. “Sejak kapan kamu mau kepo, Han?” tanya Arga dan Lyra nyaris bersamaan.
Hani, orangnya sangat pendiam tiba-tiba jadi pusat perhatian. “Apaan, sih, kalian? Aku ‘kan cuma nanya,” jawabnya kembali menunduk.
“Kalau Lyra yang tanya, aku biasa aja. Tapi kalau kamu, Han. Duniaku berasa jungkir balik.” Arga mulai melancarkan aksi gombalan mautnya.
“Hemm. Mulai-mulai. Makanya, kalau cinta, tembak, Ga. Jangan membuat anak orang menderita,” ledek Lyra.
“Tembak? Mati dong anak orang,” balas Arga, dan seketika tawa mereka pecah di ruangan sunyi itu.
“Apaan sih, kalian.” Wajah Hani sudah merah bak kepiting rebus.
“Sudah, sudah.” Kiano melerai candaan mereka semua. “Mending kalian baca ini, deh.” Kiano menyimpan buku yang sudah terbuka di atas meja.
Hani dengan gerakan cepat mengambil buku itu. “Siapa yang menemukan ini?” tanyanya dengan mimik wajah yang sangat serius.
“Ada apa, sih, Han? Kok, ekspresinya setegang itu?” tanya Arga.
“Enggak, Ga. Soalnya aku udah tiga kali nemuin buku ini. Seingtaku, Minggu lalu aku sudah meminta penjaga perpustakaan untuk mengamankan buku ini. Herannya, kok, masih ada di sini? Padahal waktu itu ….”
“Minggu lalu?” tanya Lyra terkejut.
“Iya! Aneh sekali, masa buku pindah secara tiba-tiba. Aku ingat betul lho, mas-mas itu mindahin ini buku.” Hani masih teguh dengan pendiriannya.
“Sudahlah! Kenapa kalian jadi fokus pada kejadian Minggu lalu sih? Yang mau aku bahas isi dari buku ini.” Kiano mencoba mengembalikan suasana. Laki-laki berkulit sawo matang itu rupanya sangat terobsesi dengan isi buku tersebut.
Tangan Arga mulai mengambil buku itu. Dibukanya halaman pertama ‘Kota yang hampir mati’. Di sebuah desa terpencil, ada sungai yang airnya tidak bisa mengalir ke arah Selatan, bertahun-tahun lamanya. Jika ada sekelompok mampu mengalirkan air tersebut, maka ia berhak menguasai semua kekayaan bumi yang ada di Selatan, selain itu mereka juga akan mendapatkan kejayaan dan kekuatan kekal abadi.
Semakin dibuka setiap halamannya, mampu membangkitkan jiwa muda yang haus akan keingintahuan. Di halaman tengah, ada peta lengkap. Dari mulai titik awal perjalanan sampai titik puncak kesuksesan.
“Ini gila, sih. Kalau kita mampu menyelesaikan semua petunjuk di peta ini dengan baik. Maka semua jenis kekuasaan akan menjadi milik kita. Apalagi anggota kita pas berlima, sesuai dengan petunjuk di sini,” ujar Arga, tanganya masih sibuk membolak-balikkan halaman buku.
“Jadi kamu setuju, Ga?” Kiano masih kurang percaya, jika seorang Arga bisa dengan mudah mempelajari buku kuno.
“Aku yakin kalau kita ke sini, kelompok kita lulus dengan nilai sempurna. Selain itu, kita berlima juga akan memiliki kejayaan yang tidak dimiliki orang lain di bumi ini.”
“Dih, Arga, kolot banget sih, pemikirannya. Hallo! Ini zaman sudah modern, Arga Yoga Pratama. Mana ada kekuasaan didapatkan secara instan?” Lyra si paling realistis, jelas sangat menolak hal yang menurutnya konyol.
“Tapi, Ly, yang dikatakan Arga itu tidak sepenuhnya salah. Kamu harus tahu ya, Ly, biasanya kesuksesan itu akan sangat mudah dicapai di tempat-tempat yang kuno. Ya, bisa dikatakan ‘kampunganlah’, tapi itu tuh benar-benar terjadi.” Kiano mempertahankan argumentasinya.
“Apa sudah ada bukti? Sudah ada pakar sejarah yang membenarkan alasan klisemu itu? Adakah riset yang kuat untuk semua itu?”
“Makanya kita jadi pelopor pertama untuk membuktikan semua itu, Ly. Buku ini adalah petunjuk baru untuk kita. Aku yakin, kalau kita bisa menjalankan misi dengan baik. Nama kita berlima akan sangat terkenal, reset yang kita lakukan akan menjadi perbincangan trending. Mungkin saja kita berlima dinobatkan sebagai ‘pakar sejarah di era baru’.”
“Aku tidak ikut-ikutan. Kalian gimana, Girls?” tanya Lyra pada Hani dan Viona
“Aku nggak tahu, Ly. Aku takut,” cicit Viona sangat lirih. Wajar saja jika dia takut, secara selama dia hidup nyaris tidak pernah kesusahan. Semua keinginannya selalu didapatkan dengan mudah.
“Babe, kamu harus yakin. Di sana ada aku. Apa yang kamu takutkan?” Kiano terus menyakinkannya.
“Kamu tidak akan membuat aku kesusahan ‘kan?”
“Itu mustahil, Babe. Percaya sama aku.”
“Ya sudah, aku ikut bersama mereka, Ly.” Keputusan yang Viona ambil membuat Lyra semakin tercengang. Terlebih lagi Hani, orang yang satu-satunya ia percaya untuk tidak ikut serta malah mengangguk ragu.
“Ayolah, Ly. Tinggal kamu seorang yang masih tidak mau ikut. Kita tidak sedang mencari sesuatu yang biasa, Ly. Kita sedang memburu sejarah yang disembunyikan dunia. Ini hal besar, Ly.” Kiano terus membujuk Lyra.
“Aku nggak mau, Ki. Semua itu tidak masuk di logikaku. Semua itu hanya takhayul. Kalian semua musyrik kalau percaya hal begituan.”
“Lyra, kamu bilang mau jadi pakar sejarah, kan? Masa menghadapi tantangan ini saja kamu mundur?!” sergah Viona dengan nada tajam. Matanya memicing seolah ingin mencari jawaban dari wajah Lyra.
“Kenapa dosen bahkan memilih kamu jadi ketua tim? Kita butuh pemimpin, bukan penakut!” lanjutnya seolah-olah kata-kata pedasnya tadi belum cukup membuat mental Lyra hancur.
Tangannya menunjuk Lyra dengan jari gemetar, bukan karena takut, tapi karena rasa jengkel yang meletup-letup. Setiap diskusi apa pun, Lyra selalu mengatakan ‘semua tidak masuk di logikaku’, tapi pada kenyataannya ia sendiri akan kalah dengan suara terbanyak dari tim-nya.
“Lebih baik kita ganti saja. Suruh Kiano atau Arga yang jadi ketua. Setidaknya mereka berani melangkah, bukan cuma bicara teori doang!”
Lyra terdiam. Sorot mata semua anggota tim kini tertuju padanya, ada yang menunggu jawaban, ada yang sudah men-capnya gagal.

Ratu Lembah Sunyi
11 Pengikut · 1 Novel