


oleh Zhunea · 23 Bab
Talita, gadis miskin yang akan menikah dengan Damar, pria kaya di kampungnya. Namun, tiba-tiba Damar memutuskan Talita beberapa hari sebelum pernikahan mereka. Keluarga Talita yang memiliki utang kepada keluarga Damar, diminta agar melunasi secepatnya. Jika tidak, rumah keluarga Talita akan disita. Akan tetapi, mantan kekasih Talita bernama Bayu yang kembali dari perantauan membayar semua utang keluarga Talita beserta bunganya, asal Talita mau dinikahi oleh sahabat Bayu yang mencari istri.
“Kenapa kau mengajakku ke sini, Damar?” tanya Talita bingung. Tanpa ada hujan tanpa angin Damar mengajaknya ke danau dekat kampung halaman mereka.
Hal yang tak pernah terjadi selama mereka berpacaran. Ini pertama kalinya Damar mengajak Talita ke tempat wisata, pikirnya seperti itu.
Damar mendekati Talita dengan tatapan intens membuat Talita tak nyaman dibuatnya.
“Ini!” Damar membuka tangan Talita dan menaruh cincin di sana.
Senyum cerah menghiasi wajah Talita.
‘Mungkinkah ini pertunangan? Damar mengikatku dengan sebuah cincin?’ katanya dalam hati.
Meski hanya cincin polosan tanpa permata, bagi Talita yang hanya seorang gadis miskin itu sangat indah dan berharga.
“Kau memberiku cincin. Indah sekali," seraya memandangi cincin yang masih ada di tangannya.
“Itu memang pantas untukmu. Dan ini untuk wanita lain!" Damar mengeluarkan cincin lagi dan yang ini lebih indah karena dihiasi batu permata berwarna biru.
“Untuk wanita lain? Ibumu?” tebak Talita.
Damar memutar bola matanya dengan malas.
“Cincin mama banyak, untuk apa akun membelikannya. Ini, untuk wanita yang bernama Marisa," ungkapnya dengan senyum lebar di bibir.
“Marisa? Siapa Marisa?”
“Calon istriku!” jawab Damar bangga.
Talita terdiam sesaat. “Jangan bercanda, Damar!” Talita tertawa lucu. Dia adalah calon istri Damar, lantas kenapa Damar menyebut Marisa, nama yang asing baginya.
“Siapa yang bercanda. Hanya pria bodoh yang akan menikahi wanita miskin sepertimu!”
Senyum Talita terhenti seketika.
“Ini tidak lucu. Kita sudah memesan gaun untuk minggu depan, tenda sudah akan di pasang-"
“Tapi undangan sudah aku buat atas namaku dan Marisa!” potong Damar.
Ia menaruh undangan di atas tangan Talita. Di sana tertera nama Damar Prasetya dengan Marisa Laura yang akan menikah. Bukan nama Damar Prasetya dan Talita Mayang.
Tubuh Talita terasa membeku. "Ke-kenapa?”
“Karena aku tidak mencintaimu. Aku tidak mau uangku jatuh padamu. Riasan, tenda, catering, pelaminan, semua aku yang bayar, kau tinggal menikmati. Enak saja!" Damar berkacak pinggang.
“Keluargamu sendiri yang meminta semua ditanggung mereka. Aku dan keluargaku nantinya juga akan membawa seserahan saat acara nanti, kami tidak diam saja!" ucap Talita. Tapi Damar melengos.
“Berapa nilai semua itu, tidak sebanding dengan yang sudah aku keluarkan. Tidak, kita berhenti sampai di sini. Bawa cincin itu sebagai tanda putus. Lumayan itu masih bisa kau jual untuk tambah makan. Aku masih memiliki hati baik bukan?!" Damar tertawa mengejek.
Air mata Talita mengalir membasahi pipi. Tak ia sangka, pria yang sudah menemaninya beberapa tahun terakhir ini mengecewakannya dengan teramat sakit.
“Marisa, jangan bersembunyi. Datanglah kemari!" seru Damar pada sosok wanita yang ternyata sejak tadi ada di belakang pohon.
Ekor mata Talita melirik pada wanita yang dipanggil Marisa oleh Damar. Wanita modis dan cantik. Kulitnya terlihat terawat dan mulus.
“Dia calon istriku!” Damar merangkul bahu Marisa dengan senyum bangga.
“Hai, Talita. Jangan menangis begitu, wajahmu tambah kusam, lo!" Marisa tertawa.
“Dia calon menantu kami!" Pak Burhan dan Bu Santi keluar dari tempat persembunyian. Mereka adalah ayah dan ibu Damar. "Bayar hutang keluargamu pada kami besok!"
“Jadi semua ini sudah kalian rencanakan?" Talita menggelengkan kepala, sementara 4 orang di hadapannya tertawa seolah tak peduli dengan apa yang dirasakan Talita sekarang.
“Harusnya kau sadar, orang miskin tidak akan pernah bisa masuk ke dalam keluarga kami. Marisa yang lebih pantas karena dia berpendidikan tinggi dan jauh lebih segalanya darimu!" sahut bu Santi.
"Ingat, Ta. Besok, kau harus menyetor uang pada kami 50 juta. Kami tidak mau tahu. Sekarang juga pergi dan cari uang itu sampai dapat sebelum kami mendatangi rumahmu!" tukas Burhan tak berperasaan.
***
“Seenaknya saja mereka ini. Bapak harus ke sana!” Arman bangkit dari duduknya. Desir darahnya mendidih setelah mendengar cerita dari putrinya.
“Jangan, Pak. Jangan!” Sukma menahan Arman sambil menangis.
Ia tak kuasa menahan air matanya mendapati putrinya di intimidasi oleh keluarga calon suaminya. Sementara dia tak bisa berbuat apapun. Kanker rahim yang sempat menggerogoti tubuhnya membuatnya kini memiliki tubuh yang ringkih.
“Kita ini hanya orang miskin, nanti Bapak diusir dan dihina sama mereka. Ibu tidak tega. Jika tahu begini, dulu biarkan ibu mati saja, tidak usah diobati dengan menggunakan uang mereka!" imbuh Sukma.
“Tapi mereka sendiri yang mengatakan untuk tidak mengungkit hutang itu lagi asal Talita jadi istri Damar. Bu, mereka sudah menghina kita!"
Sukma masih menahan Arman yang akan pergi menemui keluarga Burhan.
“Tidak akan ada yang pergi ke sana!” ucap Tian, adik Talita. “Jika sudah begini, keluarga kita akan tenang tanpa berurusan dengan mereka. Jadi, aku akan cari pinjaman untuk membayar hutang kita ke mereka. Setelah ini, jangan lagi berdekatan dengan keluarga lintah darat itu!" tegasnya.
"Lalu bagaimana dengan pernikahanku, Tian. Marisa itu pasti sudah mencuci otak Damar. Sebelumnya Damar itu baik!" Talita menunduk memegang kepalanya yang terasa sakit.
“Apa kakak pernah berpikir, sejak kapan mereka kenal dan berhubungan sampai mereka memutuskan menikah? Bisa jadi di belakang Kakak, Damar itu sudah selingkuh sama dia, Kak!”
"Yang Tian katakan benar. Lebih baik kau tidak menikah dengannya daripada kau dikhianati setelah menjadi istrinya!" imbuh Arman setuju dengan yang Tian katakan.
TianTian mengangguk. "Aku akan berusaha mendapatkan uang itu. Aku minta doa dari kalian semua!"

Zhunea
16 Pengikut · 2 Novel