


oleh Yudha Karana · 38 Bab
Dari seorang anak desa menjadi pendekar yang dikuasai senjata maut, perjalanan Suroso berbelok dramatis saat ia bersekutu dengan gerombolan perampok pimpinan Asih, wanita yang selalu diimpikannya. Dalam dunia penuh kekerasan ini, apakah cinta mereka cukup kuat untuk melawan kutukan Golok Setan yang menebar maut setiap saat?
Gemericik mata air di Sungai Serayu yang mengalir jernih di kaki Gunung Slamet memecah keheningan pagi.
Airnya sebening kaca. Memperlihatkan dengan jelas kumpulan ikan sepat, ikan wader, bahkan ikan nilem maupun tawes yang berenang tenang di antara bebatuan kali yang berlumut.
Sinar matahari pagi menembus celah-celah dedaunan, di antara pohon beringin dan trembesi yang berdaun rindang, memantulkan kilau keemasan di permukaan air yang tenang.
Di atas sebuah batu pipih yang menjorok ke tengah sungai, bocah lelaki berusia sepuluh tahun duduk dengan wajah yang semakin masam.
Tangannya memegang sebuah joran dari bambu sederhana, tapi mata kail di ujung tali itu sepertinya tak digubris oleh penghuni-penghuni sungai.
"Dasar ikan-ikan tolol! Sudah sejak matahari belum bangun aku di sini, belum juga ada yang mau mencla-mencle!"
Si bocah menggerutu. Suaranya berpadu dengan gemericik air sungai. Namanya Suro, anak seorang pengrajin kayu di desa yang letaknya cukup jauh.
Dia menguap lebar, rasa kantuk dan lapar mulai menyerang. Perutnya bahkan keroncongan sejak tadi.
Tiba-tiba, ujung jorannya bergoyang-goyang hebat! Suro terkejut, rasa kantuknya pun langsung lenyap diganti rasa semangat.
"Hei! Ini dia! Ikan yang besar makan umpan!" teriaknya sambil bersiap menarik.
Dengan tenaga penuh, dia hentakkan jorannya ke atas. Seekor ikan tawes yang cukup besar terpental ke udara, berkilauan diterpa sinar mentari.
Sayangnya, sebelum Suro sempat tersenyum senang, ikan itu terlepas dari mata kail dan plung! Jatuh kembali ke air. Menghilang dengan cepat ke dalam lubuk yang berbatu.
"Tidaakk!!!" teriak Suro frustasi, hampir-hampir menjerit. Wajahnya memerah, lalu memaki dengan kesal. "Ikan sialan! Kurang ajar!"
Dia mengambil sebongkah batu dan melemparkannya ke arah tempat ikan itu tadi menghilang.
Byur!
Belum reda amarahnya, jorannya lagi-lagi bergoyang. Lagi-lagi dia menarik. Lagi-lagi seekor ikan terlempar ke udara, dan ujung-ujungnya, plung!
Jatuh kembali ke air tepat sebelum bisa diraih.
"Aaaaarghhh! Dasar ikan-ikan penipu! Kalian betul-betul menghinaku!" amuknya.
Melemparkan batu lagi dan lagi ke tengah sungai. Ikan-ikan yang lain yang takut terlempar pada kabur dan berenang ketakutan.
Tanpa sepengetahuannya, dari balik semak-semak di tepi hutan itu, terdengar suara cekikikan tawa kecil. Tawa itu muncul dari seorang anak perempuan berusia sekitar delapan tahun.
Dia mengenakan dua kuncir rambut yang diikat pita merah, menyembunyikan mulutnya dengan kedua tangan. Matanya yang bulat bersinar. Terhibur melihat kelakuan Suroso yang marah-marah sendiri.
"Bodoh sekali si anak itu," bisiknya pada diri sendiri, sambil kembali menahan tawa.
Suro, yang masih penuh amarah, mengambil batu yang lebih besar lagi. Dia mengangkatnya sampai di atas kepala, lututnya gemetar karena keberatan. Bersiap untuk melemparkan batu itu dengan sekuat tenaga.
"Hei! Hei! Hentikan! Jangan!"
Suara kecil yang lantang itu membuat Suro terkejut. Batu hampir saja terlepas dari tangannya. Selanjutnya ia menoleh ke arah sumber suara.
Seorang anak perempuan kecil berdiri di tepian sungai. Tangan kanannya menunjuk-nunjuk ke arahnya dengan wajah penuh ketidaksetujuan.
"Siapa kamu?" tanya Suro, masih dengan batu besar di tangannya, heran melihat kemunculan gadis kecil yang tidak dikenalnya.
"Aku siapa tidak penting! Yang penting, kenapa kamu melempari sungai dengan batu? Itu kan bukan salah ikannya kalau dia tidak mau dipancing!"
Suro menurunkan batunya. Melirik sebentar pada gadis kecil yang berdiri melotot ke arahnya dengan kedua tangan di pinggang.
"Lah, salah sendiri mereka menghinaku! Sudah kupancing, mau didapat, malah kabur! Berkali-kali lagi!"
"Ya jelas kabur, cara memancingmu itu salah! Kasar sekali! Ikan juga bisa takut kalau begitu!"
Si anak perempuan berjalan mendekati batu tempat Suro berdiri. Dia melompat-lompat kecil dari satu batu ke batu lainnya dengan lincah. Sampai pada akhirnya, dia berdiri di batu yang sama dengan Suro.
"Dasar perempuan cerewet," gerutu Suro dalam hati. "Salah katanya? Memangnya dia bisa cara yang benar?"
Si anak perempuan tersenyum seperti mengetahui apa yang tadi diungkapkan oleh hati Suro. Matanya yang bulat bening itu berkilat.
"Kamu mau tahu cara mengambil ikan yang gampang? Tanpa perlu marah-marah dan melempar batu sembarangan?"
"Memangnya bagaimana? Pakai jala? Atau pakai tangan?"
Suro berkata sinis. Kesal karena sepertinya anak perempuan itu sedang membual. Pasti si anak perempuan juga tidak bisa, begitu pikirnya.
"Lihat ini!"
Tiba-tiba si anak perempuan berkata dengan penuh percaya diri.
Dia memungut sebuah batu kecil yang halus. Kira-kira seukuran ibu jari orang dewasa besarnya. Batu itu diambilnya langsung dari dalam air. Selanjutnya berdiri lagi, tubuhnya sedikit membungkuk, matanya yang tajam memindai air yang jernih.
Saat seekor ikan tawes yang gemuk sedang berenang dengan santai di dekat dasar sungai, ia pun segera melempar.
Siutt!
Batu di tangan anak perempuan tiba-tiba melesat dengan kecepatan yang luar biasa. Hal sangat mustahil yang bisa dilakukan untuk ukuran anak seumurannya.
Tak ada suara benturan atau hempasan air yang keras. Hanya suara lembut "tok!" dan ikan tawes yang tadi berenang santai itu kini terkapar tak bergerak, terkena pukulan tepat di kepalanya.
Suro terpana. Mulutnya terbuka lebar. Dia bahkan tidak melihat bagaimana gerakan tangan itu tadi terjadi.
"Astaga! Hebat! Bagaimana caramu?!" tanya Suro, heran dan kagum.
Anak perempuan itu hanya tersenyum manis, mengambil ikan yang sudah pingsan dan melemparkannya ke arah Suro.
"Ini, untukmu. Daripada marah-marah tidak jelas."
Suro menangkap ikan itu, dia masih tidak percaya.
"Kamu, siapa namamu? Aku Suro." Sekarang si anak lelaki berkata dengan nada yang lebih lembut dan ramah.
"Aku Ningsih. Tapi Bapakku memanggilku Asih," jawabnya sambil duduk di atas batu, kakinya yang kecil mengayun-ayun di atas air.
"Kamu tinggal di mana, Asih? Aku belum pernah melihatmu di desa sini."
Asih menunjuk ke arah hutan lebat di seberang sungai.
"Aku tinggal di sana. Di balik hutan itu. Hanya berdua dengan Bapak."
Suro membelalak.
"Di dalam hutan? Sendirian? Banyak harimau dan ular besar loh di sana!"
Asih hanya tertawa kecil.
"Bapakku hebat. Dia bisa melindungiku. Dan dia juga yang mengajariku melempar batu seperti tadi."
"Bapakmu pasti pendekar!" tebak Suro dengan mata berkilat. Dia sering mendengar cerita tentang pendekar-pendekar sakti yang menyepi di hutan-hutan.
Asih hanya tersenyum lagi. Senyum yang menimbulkan tanda tanya bagi Suro.
"Bapakku bilang, ilmu itu untuk melindungi diri, bukan untuk sombong." Dia mengambil batu kecil lagi. "Mau kuajari, cara melempar seperti tadi?"
"Mau! Mau sekali!" jawab Suro semangat.
“Begini caranya!”
Selanjutnya, di tepi Sungai Serayu yang indah itu, Ningsih atau Asih dengan sabar mengajarkan Suro cara memegang sebuah batu, cara membidik, sekaligus cara melempar dengan tenaga yang tepat tanpa perlu berteriak-teriak atau mengerahkan tenaga yang berlebihan.
"Bukan pakai kekuatan tangan, Suro. Tapi pakai perasaan. Lihat ikannya, rasakan gerakannya, lalu, setelah itu lepaskan!"
Suro pun mencoba gerakan pertama.
Siutt!
Batu yang dilemparnya melesat jauh dari target dan hanya membuat cipratan air yang besar.
“Salah! Coba lakukan lagi!”
Suro kembali mengambil batu.
Siutt!
Percobaan kedua tetap gagal. Batu yang dilemparkan hanya menyentuh air tiga langkah di depan ikan.
Barulah di percobaan yang kesepuluh, akhirnya ia berhasil.
Pukk!
Batu tepat mengenai sasaran! Ikan kecil itu langsung menyembul di air dan pingsan!
"Aku berhasil! Asih, lihat! Aku berhasil!" teriak Suro girang, sambil melompat-lompat di atas batu.
Asih tertawa riang, sambil bertepuk tangan.
"Hebat, Suro! Cepat sekali belajarnya!"
“Hehehe! Itu karena kamu, Asih.”
Matahari semakin tinggi, menandakan hari sudah memasuki waktu siang. Kedua anak itu masih duduk berdekatan di atas batu, dikelilingi oleh empat ekor ikan hasil buruan mereka. Tiga dari hasil lemparan Asih, satu dari lemparan Suro.
"Kamu akan pulang, ya?" tanya Suro dengan nada sedih.
Asih mengangguk.
"Benar. Karena Bapak pasti sudah mencariku. Aku tidak boleh jauh-jauh dari rumah terlalu lama."
"Mau ikut aku ke desa? Ikannya kita bakar bersama di sana.”
"Tidak boleh. Bapak melarangku pergi jauh."

Yudha Karana
16 Pengikut · 3 Novel