Di dalam sebuah rumah megah, seorang wanita terlihat sangat gelisah. Dia berjalan mondar-mandir sembari terus mengecek ponselnya. Namun, raut wajahnya tidak berubah menjadi tenang.
Tanpa diketahui, beberapa orang masuk secara perlahan ke rumah tersebut. Dengan sigap mereka membekap wanita itu dan membawanya keluar, sebelum ada yang menyadari. Mereka segera masuk ke mobil dan pergi dari rumah megah tersebut.
***
“Bangunkan mereka!” Suara seorang pria cukup memekakan telinga. Semua yang mendengarnya segera melakukan apa yang diminta.
Dua wanita sedang terikat, di mana salah satunya sedang hamil tua. Para pria tersebut menyiram air ke arah dua wanita tersebut. Keduanya langsung terbangun dan mengedarkan pandangannya.
“Ini semua Nyonya Langford?” tanya seorang pria yang bertubuh kekar dan menatap dua wanita yang mulai didudukkan di kursi itu dengan tatapan sinis.
“Wanita hamil itu, Sofia Kensington, kami temukan setelah diantar oleh Killian ke rumah sakit. Sementara satunya, menurut informasi adalah Olivia Sinclair, wanita yang dinikahi tahun lalu.” Salah satu pria yang berada di sana menjelaskan.
Olivia langsung menoleh ke arah wanita yang ada di sampingnya. Wajah wanita hamil di sampingnya itu terasa sangat familiar. Namun, Olivia sama sekali tidak bisa menemukan jawaban dari pertanyaannya sendiri.
“Tolong lepaskan saya. Killian akan membunuh kalian, kalau kalian berani menyakiti anaknya.” Sofia membuka suaranya.
Olivia terperangah mendengar perkataan Sofia. Bagaimana tidak, suami yang sangat dia cintai itu, ternyata bermain belakang dengan seorang wanita lain. Tidak sanggup berkata-kata, Olivia hanya terdiam dan berharap semua hanya mimpi.
“Telepon Killian, kita punya tontonan seru setelah ini! Kalau bisa, sekalian keluarga Langford harus melihat ini.” Pemimpin mereka mulai menyuruh mereka menghubungi Killian. Anak buahnya pun melakukan apa yang yang sudah diperintahkan.
***
Killian datang tergesa-gesa bersama dengan kedua orang tuanya. Mereka berteriak di tengah hutan mencari keberadaan Olivia. Saat ditemukan, Killian terbelalak melihat Olivia terikat bersama dengan Sofia yang sedang hamil besar.
“Olivia!” Suara panggilan Killian, membuat Olivia yang baru saja dipaksa menuju hutan, menoleh ke sumber suara.
“Killian.” Olivia menahan air matanya, saat mendengar namanya yang pertama kali disebut oleh pria itu. Dia ada rasa tenang dan percaya, jika anak di perut Sofia, bukan anak suaminya.
“Killian Langford, lama tidak berjumpa!” Pemimpin yang menculik Olivia dan Sofia keluar dari persembunyian.
Kedua orang tua Killan mencoba mencerna apa yang membuat anaknya terkena masalah seperti ini. Killian sempat mundur selangkah, setelah melihat siapa yang menculik istrinya. Napasnya memburu, seiring dengan emosinya yang mulai mengisi aliran darahnya.
“Apa yang kalian mau?” tanya Killian.
“Lepaskan proyek hotel yang sedang kamu tangani, maka aku akan melepaskan wanitamu.” Pemimpin itu mengatakannya.
Olivia seketika memperhatikan raut wajah Killian. Dia sangat tahu, suaminya itu bekerja keras untuk mendapatkan proyek yang dimaksud. Olivia melihat sendiri, bagaimana Killian menangani proyek itu akhir-akhir ini.
Ada rasa khawatir, Killian tidak akan melepaskannya. Namun, dia juga tidak bisa membuat Killian meninggalkan apa yang sudah diusahakan untuk membebaskannya. Killian terlihat terdiam di tempatnya dan Olivia tahu, pria itu sedang mempertimbangkan semua di dalam kepalanya.
“Kalau kamu tidak ingin melepaskan proyek itu, aku bisa memberikan satu pilihan lagi, Killian.” Pemimpin itu mengatakan dan membuat jantung Olivia terasa berdebar jauh lebih cepat.
“Katakan pilihan lainnya!” Killian mulai menantang gerombolan penjahat tersebut, membuat mamanya menahan lengan anaknya, agar tidak terbawa emosi.
“Kamu pilih salah satu dari mereka dan kamu hanya bisa membawa satu saja malam ini. Sisanya, akan tetap di sini sampai kamu melepaskan proyek itu, Killian.” Perkataan dari pemimpin penculik itu mampu membuat dada Olivia terasa sesak.
Ada rasa takut yang kembali menyelimutinya. Olivia memperhatikan keluarga suaminya yang datang. Ibu mertuanya terlihat menenangkan Killian.
“Killian, aku sebentar lagi melahirkan anak kita. Kamu nggak akan membunuh anak kita di sini, kan?” Sofia mulai membuka suara dan membuat Killian memperhatikannya.
“Sofia, tenang. Aku akan bawa kamu keluar, tapi aku nggak bisa tinggalkan istriku.” Killian membuat Olivia tersenyum miris di dalam gelapnya malam.
“Wah, ternyata benar, keduanya adalah wanitamu, Killian. Sayang sekali, kamu hanya bisa membawa salah satu dari mereka.” Pemimpin penculik itu meremehkan Killian.
“Killian, kalau memang anak yang dikandung Sofia, anak kamu, kita selamatkan dia dulu. Dia sedang hamil besar, Killian.” Mama Killian mulai memberikan pendapat membuat anaknya menaruh perhatian ke arahnya.
“Tapi Oli—”
“Kita bisa selamatkan dia nanti, setelah kita memikirkan semuanya dengan matang. Sekarang, fokuskan ke anak yang dikandung Sofia,” potong mama Killian.
Olivia tidak memberikan reaksi apa pun. Dia tidak meminta Killian memilihnya. Dia juga tahu sifat orang tua Killian yang akan terus memaksa anaknya, jika sudah percaya pada satu hal.
“Olivia, maaf.” Killian bergumam pelan tanpa didengar oleh siapa pun. “Lepaskan Sofia sekarang!” perintah Killian.
“Kamu sudah yakin dengan pilihanmu, Killian?” tanya pemimpin penculik itu.
“Jangan banyak bicara, lepaskan Sofia sekarang!” Killian kembali mengatakannya dengan sangat tegas.
Para penculik menggiring Sofia berjalan ke arah Killian. Sedikit dorongan, membuat Sofia hampir terjatuh. Dengan sigap, Killian menahan dalam pelukannya.
Olivia yang tidak sanggup menatap hal itu, menundukkan wajahnya dan menggigit bibir bawahnya. Dia menahan tangisnya sendiri.
“Sekarang pergi, sebelum aku berubah pikiran dan mencelakakan kalian semua!” Penculik itu mulai mengusir Killian dan keluarganya.
Killian memapah Sofia untuk berjalan keluar dari hutan. Olivia mengangkat kepalanya saat mendengar langkah menjauh. Air matanya tidak lagi terbendung.
Setengah jalan, Killian menghentikan langkahnya. Dia tidak tega meninggalkan Olivia sendirian dalam sandera penculik itu. Namun, saat akan membalikkan badannya untuk menatap istrinya, Sofia terhuyung dan pingsan di dalam dekapannya.
Kedua orang tua Killian segera menyuruh anaknya membawa Sofia ke rumah sakit. Tanpa banyak bicara lagi, Killian langsung membopong Sofia ke mobilnya dan menjalankan mobil itu dengan cepat. Sementara Olivia, melihat suaminya membopong Sofia, dia pun terduduk tidak berdaya.
“Kamu yakin akan hidup bersama Killian?”
**