


oleh Cakrawalabiru_2025 · 36 Bab
Di SMA yang mana popularitas adalah segalanya, Gadis selalu terbiasa hanya peduli pada data. Ketika pemilu OSIS yang aneh menempatkannya di kursi kepemimpinan, dunianya yang terstruktur runtuh. Kini, dia harus memimpin pesta, mengungkap korupsi kecil, dan menghadapi Dino yang karismatik, membuktikan bahwa logika dan data terkadang bisa mengalahkan pesona—meskipun dengan cara yang paling absurd. Belum lagi sejak musuh utama malah menjadi pengagum rahasia dan diam diam malah cinta. Semua komedi pun terjadi. Akankah musuh benar-benar menjadi cinta? Atau hanya berorientasi pada angka-angka mati? Yuk ikuti ke-absurd-an para tokoh.
"Permisi, Bu Dewi. Ada koreksi kecil pada presentasi Ibu tentang siklus hidrologi." Gadis tidak menengok buku Prinsip-prinsip Termodinamika Lanjutan yang sedang dibacanya. Suaranya datar, tak berniat menantang, hanya ingin memperbaiki data yang dianggapnya keliru.
Bu Dewi, guru Fisika yang tengah menjelaskan diagram di papan, terdiam sejenak lalu menoleh dengan ekspresi yang biasa ia tunjukkan. Perpaduan antara kekaguman dan sedikit rasa cemas.
"Ya, Gadis? Ada apa?" tanya Bu Dewi dengan hati-hati.
"Di slide keenam, Bu. Ibu menyebut bahwa presipitasi di wilayah tropis mencapai 80% dari total penguapan. Dari data iklim kuartal terakhir BMKG yang dipadukan dengan model prediksi GlobalCast 3.1, angka itu terlalu tinggi. Nilai sebenarnya adalah 76,4% dengan deviasi standar 1,2%. Sisanya diimbangi oleh infiltrasi yang lebih cepat daripada yang Bapak proyeksikan."
Seluruh kelas XI IPA 2, yang sejak tadi asyik dengan ponsel di bawah meja, tiba-tiba terdiam. Semua mata beralih ke Gadis.
Seorang siswa bernama Rian, yang terkenal suka menyontek, berbisik keras kepada temannya, "Dia bahkan tidak menatap papan." "Tentu saja tidak perlu melihat, Rian," sahut temannya. "Dia pasti sudah menghafal semua data itu sejak SMP."
Gadis menghela napas pelan, suaranya hanya terdengar dalam radius satu meter. Kenapa mereka tak bisa fokus pada inti masalah? Mengapa juga mereka merasa aneh saat aku mengatakan hal itu. Bukankah hal itu wajar dikatakan langsung jika memang ada kesalahan, di koreksi saja langsung supaya tidak ada kesalahan. Tapi, kenapa malah mereka melihat aku seperti melihat Alien ya?
Bu Dewi tersenyum kaku. "Baik, terima kasih atas koreksinya, Gadis. Saya akan memperbarui data itu nanti. Mari kita lanjutkan."
Kelas kembali riuh, namun kini ada ketegangan yang terasa. Gadis menjadi anomali. Ia menjawab pertanyaan yang belum diajukan, mengoreksi otoritas tanpa rasa takut, dan menjalani hidup seolah semua orang di sekitarnya hanyalah variabel yang tak relevan dalam persamaan pribadinya. Gadis memang si 'Gadis Data' yang mereka kenal. Gadis yang hanya melihat segala sesuatu dari satu sisi yaitu data yang spesifik dan semua di ukur berdasarkan data yang ada. Baginya itu sesuatu yang harus dia lakukan supaya semua berjalan rapi, teratur dan akurat.
Ia menutup buku termodinamika dengan bunyi klik yang tegas. Pandangannya melayang ke luar jendela, mengabaikan atmosfer sosial yang jelas tidak nyaman.
Di papan pengumuman sebelah koridor, poster kampanye Ketua OSIS terpampang mencolok. Ada gambar Dino, mantan ketua karismatik, tersenyum seperti model iklan pasta gigi. Di sampingnya, kandidat lain menjanjikan "Wi-Fi di setiap sudut sekolah," sebuah janji yang secara matematis mustahil dengan infrastruktur sekolah saat ini.
OSIS, pikir Gadis dengan dingin. Sebuah organisasi yang mengurus pesta, memilih warna pita seragam yang lebih cerah, dan memastikan jadwal piket kamar mandi berjalan tepat. Keseluruhan berupa ketidaklogisan sosial.
"Mereka menghabiskan berjam-jam memikirkan tema Pensi, padahal energi itu bisa dipakai menyempurnakan kurikulum sains," gumamnya pada dirinya sendiri, mencatat di buku kecil berkulit hitam polos. Di samping analisis singkat tentang inefisiensi pemilihan ketua OSIS sebelumnya, ia menuliskan 'Politik SMA: Studi Kasus Kegagalan Rasionalitas Massa.'
Ia merasa puas berada di pinggiran. Dari sana, ia dapat mengamati, menganalisis, dan menyimpulkan tanpa harus terlibat dalam drama murahan yang disebut "persahabatan" atau "popularitas".
"Gadis!" Gadis terkejut. Ia menoleh ke samping. Itu Arjuna, Ketua Kelas XI IPA 1, berdiri di ambang pintu kelas, tampak seperti patung Yunani yang baru saja dicuci terlalu keras, rapi, dingin dan sedikit mengintimidasi.
"Apa?" tanya Gadis singkat.
Arjuna melangkah masuk, gerakannya efisien. "Aku butuh izinmu meminjam jurnal fisika eksperimentalmu. Aku ingin memverifikasi desain kalorimeter yang kau buat minggu lalu. Kelas kami memerlukan presisi lebih tinggi."
Gadis mengernyit. Arjuna satu-satunya yang secara intelektual menyaingi levelnya, dan itu membuatnya kesal. Tapi hanya Arjuna saja yang paling klik dan bisa menyaingi cara berpikir Gadis. Teman yang lain pasti sudah menyerah dan angkat tangan. Tidak ingin pusing saat bicara dengan Gadis. Siswi kaku dan membosankan.
"Jurnal itu berisi catatan pribadiku tentang batas variabel. Tidak bisa dipinjam," jawab Gadis.
Arjuna mengangkat alis. "Variabel pribadi? Bukankah sains harus objektif, Gadis? Atau kau sedang menguji hipotesis tentang tingkat kebencianmu pada interaksi interpersonal?"
Gadis terdiam. Itu adalah pukulan tajam, disampaikan dengan nada sejuk seperti es.
"Aku tidak punya waktu untuk sarkasme yang terstruktur buruk, Arjuna," balas Gadis, memaksa dirinya kembali fokus pada buku.
Arjuna tidak bergerak. "Aku hanya ingin tahu mengapa seseorang dengan kapasitas kognitifmu memilih mengasingkan diri. Semua data itu tak berguna bila tak ada yang mendengarnya. Dan jujur, observasimu tentang OSISOSum di mading kemarin—‘Badan Administratif untuk Kegiatan Rekreasi yang Dipimpin oleh Individu dengan Kecenderungan Narsistik Berulang’—sangat lucu. Tapi tidak akan membawamu memenangkan apa pun."
"Aku tak berniat memenangkan apa pun, Arjuna," potong Gadis tegas, suaranya sedikit meninggi. "Aku tidak peduli jabatan, gosip, atau komite sialan yang mereka buat. Itu semua gangguan dari tujuan utama. Belajar."
Ia menutup buku termodinamika. Meninggalkan semua kebisingan yang ada di sekitarnya.
Arjuna hanya bisa menatap punggung Gadis yang melangkah meninggalkan dia sendiri. Arjuna tersenyum tipis melihat itu. Baginya, Gadis memanglah unik.
Gadis tidak sama dengan siswi lainnya, yang setiap hari mengejar dia tiada lelah. Mencari perhatian supaya bisa dekat dengannya setiap saat. Tapi Gadis, hanya dia yang selalu cuek. Itu yang membuat Arjuna memerhatikannya diam-diam.

Cakrawalabiru_2025
0 Pengikut · 3 Novel