Rafi terbangun dari tidurnya dengan napas tersengal-sengal. Peluh bercucuran di wajahnya, ia menarik napas dalam mencoba untuk memberikan efek tenang pada tubuhnya. Pria berumur 38 tahun itu selalu saja dihantui mimpi buruk, mimpi yang akan mengguncang jiwanya karena kejadian beberapa tahun silam.
“Akhhhh! Sialan! Sampai kapan aku harus mengalami mimpi buruk itu?!” rutuk Rafi, ia melihat jam dinding tepat jam dua dini hari. Sudah menjadi kebiasaan buruknya ia tidak akan bisa kembali tidur. Dengan enggan Rafi membuka kaos yang basah itu, dan berlalu ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Sejenak, guyuran air shower mampu menenangkan jiwanya yang kacau.
Selesai mandi, Rafi hanya memakai baju santai dan mengambil sebungkus roko di meja kerjanya.
Tiba-tiba terdengar ketukan yang berasal dari pintu depan. Matanya beralih pada jam di atas TV menunjukkan pukul empat pagi. Suara ketukan makin jadi.
“Ck.” Rafi membuka pintu dan melihat seorang wanita dengan pakaian yang sangat sangat minim. Atasannya tanktop berwarna merah maroon dan hotpants hitam.
“Kamu siapa?” tanya wanita itu. Aroma alkohol dan rokok tercium dari seluruh tubuhnya. Dia mabuk berat. Matanya tidak fokus dan tubuhnya lunglai, membuatnya hampir terjatuh. Plaaakkk Dia memukul lengan Rafi dengan tas tangannya yang berwarna hitam dan kaku itu. “Kamu siapa? Sedang apa di rumahku, hah?!” Dia kini menjambak rambut Rafi.
“Akhh!” Rafi berusaha melepas tarikannya. “Sial. Kamu mabuk dan ini bukan rumahmu!”
“Apa?!” Dia kembali memukul Rafi berkali-kali. “Jelas-jelas ini rumahku! Kamu siapa? Maling?”
“Rumahmu itu di depan sana, apa kamu tidak bisa membedakan??” Dia terdiam dan menatap rumah Rafi kemudian rumahnya.
“Benarkah?” tanyanya dengan polos. Bahkan dia sudah berlalu begitu saja tanpa terima kasih. Wanita itu menuju rumahnya sambil terhuyung-huyung. Sesekali dia berhenti untuk menyeimbangkan badannya.
Ini sudah kali ketiga wanita itu mabuk dan membuat keributan di rumah Rafi. Entah dia sengaja atau tidak, beberapa hari lalu dia mulai mengedor pintu dan menganggap Rafi sebagai maling atau penguntit, tidak lupa juga dia memukulnya. Dia selalu berpakaian minim, bahkan belahan dadanya sangat terlihat.
“Astaga, haruskah pagiku selalu seperti ini?” keluh Rafi.
* * *
Hari minggu adalah waktu yang tepat untuk bersantai dan melepas semua penat pekerjaan. Waktu menunjukkan pukul 11 siang, Rafi tengah duduk di teras rumahnya dan menikmati segelas ice americano sambil menyesap rokok beraroma mint. Matanya terpaku pada seorang wanita yang baru keluar dengan hotpants denim dan kaos oversized. Sesekali wanita tersebut menguap dan menggosok matanya.
‘Ah, aku harus membeli bahan makan siang,’ batin Rafi.
Rafi mengambil jaket yang menggantung di sofa. Dia berjalan kaki menuju swalayan di depan perumahan. Hanya memakan waktu 5 menit untuk sampai sana.
Begitu sampai, dia langsung mengambil trolley belanja yang ada di pintu masuk. Rafi menuju counter pasta dan mencari bahan-bahan utamanya. Hari ini dia ingin sekali makan pasta. Dia mengambil 2 bungkus pasta Penne ukuran 1 kg, 2 botol saus tomat, lada hitam bubuk, tomat berukuran besar, beberapa bawang Bombay, oregano bubuk, peterselli, dan beberapa gram daging cincang. Tidak lupa buah dan sayuran. Rafi langsung menuju kasir ketika semua yang dia butuhkan sudah ada.
“Dia, wanita yang itu kan?”
‘Ah, dasar telinga murahan.’ Rafi merutuk telinganya sendiri saat mendengar beberapa ibu-ibu bergosip.
“Yang itu? Maksudmu wanita yang menari dengan pakaian minim di depan laki-laki?”
Rafi melirik sekilas untuk melihat siapa wanita yang sedang dibicarakan ibu-ibu itu. Ternyata tetangga yang selalu mengganggunya tiap malam. Padahal jarak antara mereka cukup dekat, tapi wanita itu terlihat sama sekali tidak peduli dengan omongan mereka. Dia hanya fokus dengan belanjaan. Rafi melihat sekeranjang mie instan miliknya. Dia tidak habis pikir jika ada manusia yang membeli mie instan sebanyak itu.
Rafi keluar swalayan, di belakangnya menyusul wanita yang berjalan dengan sangat cepat. Pandangan Rafi benar-benar tidak lepas darinya. Dia mengikuti wanita yang juga akan pulang itu dari belakang. Jarak mereka agak jauh. Namun, sepanjang perjalanan Rafi selalu mendengar panggilan-panggilan kasar dari orang yang sedang berkumpul.
“Mentalnya benar-benar kuat,” gumam Rafi.
Wanita itu tiba-tiba berhenti, membuat Rafi juga reflek berhenti dan tetap menjaga jarak dengannya. Dia menoleh pada segerombolan remaja yang bersiul padanya. Kedua alisnya tertaut.
“Anak kecil jangan suka ikut-ikutan, ya!” omel wanita itu pada sekumpulan remaja berumur 15 tahun. mereka hanya terkikik mengejek. Dia tidak peduli jika para orang dewasa mengejeknya. Tapi, jika para remaja yang mengoloknya, dia akan memarahi mereka.
“Harusnya kalian belajar dengan benar!”
Seluruh warga perumahan di sana sudah tahu siapa wanita itu dan apa pekerjaannya. Menurut mereka, dia hanyalah wanita hina dan rendahan yang tidak berarti dan tidak mempunyai harga diri. Sering kali juga dia mendapat perlakuan buruk dari para tentangganya. Karena apa pun yang dia lakukan, akan selalu salah dimata mereka.
Kini wanita itu kembali berjalan, dia berbelok masuk ke rumahnya dan menutup pintu dengan emosi. Rafi juga berbelok masuk rumah.
Dia langsung menyiapkan makan siangnya. Mulai merebus pasta dan sisanya dia simpan kembali. Selanjutnya dia mulai membuat saus bolognise dengan menggunakan daging cincang tadi. Karena saat ini dia tinggal sendirian, sisa belanjaan yang dia beli disimpan di kulkas.
Setelah selesai memasak, dia menuju ruang tamu dan duduk di lantai. Dia menyendok pasta dan sesekali menyeruput smoothies yang sudah dia buat tadi. Paduan makanan yang sangat tidak cocok. Tapi dengan membuat smothies, dia tidak akan makan makanan berat dengan berlebihan sehingga beratnya tidak akan bertambah.