


oleh Ice Evrily · 79 Bab
Cinta yang sempurna saat terjalin erat antara dua belah pihak. Bukan berarti harus cocok dan memiliki sifat yang persis sama. Meski banyak perbedaan tapi mereka memilih untuk bersama dalam ikatan kasih.
Bandara Internasional Incheon, Korea Selatan. Elnara Moldir tiba dengan selamat di Korea Selatan pukul 12.40 waktu setempat.
"Halo, Jessie kamu di mana? Aku sudah menunggumu, 5 menit yang lalu. Di mana kamu sekarang?”
"Maafkan aku, El. Aku tak bisa menjemputmu, karena ada sedikit urusan di kantor. Sekali lagi maafkan aku. Nanti malam aku akan datang, ke apartemen kamu, Bye."
Tut!
"Hufff, sebaiknya aku pergi ke restoran dekat sini.”
Saat Elnara mulai melangkah menuju pintu keluar dari bandara dia tak sengaja melihat seorang pria sedang berdebat dengan seorang wanita.
"Ae-ri, bisakah sekali saja kamu dengar penjelasanku? Kumohon,” kata seorang pria sambil terus berusaha menggenggam tangan kekasihnya, akan tetapi kekasihnya selalu saja menepis.
“Sebaiknya, kita pergi ke tempat makan, sekarang aku sangat lapar, apa lagi mendengar ocehanmu,” ucap si perempuan dan langsung saja meninggalkan pria yang tak lain adalah kekasihnya.
Elnara yang dari tadi tak sengaja menyaksikan adegan itu, tiba-tiba bertatapan mata dengan Daniel.
Deg!
‘Ya Tuhan dia tampan sekali, postur tubuhnya juga bagus Astaga, eh, apa yang aku pikir sadar El dia sudah punya kekasih,’ katanya dalam hati sambil menggelengkan pelan kepalanya tanda menghentikan khayalannya.
Elnara pun memutuskan untuk makan siang di tempat makan yang ada di bandara. Dia pun masuk ke Matina Gold Lounge.
"Permisi, Nona ini buku menunya,” kata seorang waiter pria itu memberikan buku menu kepada Elnara.
"Ah, terima kasih. Saya pesan sushi dan iced chocolate."
"Baik, silakan ditunggu pesanannya, Nona. Saya permisi.”
Sambil menunggu pesanannya, Elnara pun sedang bertukar pesan dengan papanya yang saat ini tinggal di Negara Kazakhstan. Saat sedang asik dengan ponselnya, tak sengaja dia melihat dari kejauhan sepasang kekasih yang tadi sempat berdebat di depan bandara.
Dengan rasa penasaran Elnara pun pergi menuju toilet. Ia memelankan langkah kakinya sambil sesekali bermain ponsel.
"Ae-ri, kenapa kamu ingin mengakhiri hubungan kita? Katakan apakah aku berbuat salah?”
Ae-ri yang dengan santainya sambil sedang menikmati makanannya lalu, berkata, "Tidak ada! Hanya saja, aku bosan denganmu.”
Hanya itulah kata-kata yang dapat didengar oleh telinga Elnara, saat dia sudah masuk ke dalam toilet umum, dia justru terpikir dengan sikap wanita tadi.
‘Apa bagusnya wanita itu, cantik saja menurutku standar, tapi, kenapa kekasihnya terus menahannya untuk tidak mengakhiri hubungan, ish ... kenapa jadi aku yang pusing dengan urusan asmara mereka ah, sudahlah.’
Elnara melanjutkan langkahnya ke toilet, dia membenarkan rambut dan penampilannya yang sedikit berantakan. Tak lama kemudian, dia pun keluar dari toilet. Elnara tidak fokus dengan jalan di depannya, dia sedang fokus dengan ponselnya, hingga tidak sengaja menabrak seseorang di depannya.
Buk!
"Maafkan saya, Tuan." Elnara tak menyadari siapa yang ditabraknya di lorong toilet umum.
"It's okay. Maaf, saya permisi."
Setelah pria itu bersuara Elnara mendongkak dan terkejut ternyata pria yang ditabraknya adalah Daniel. Saat ingin berucap Daniel telah lebih dulu meninggalkannya.
‘Huff, baru juga ingin berkenalan sudahlah lebih baik aku kembali ke mejaku.’
#####
Pesanan datang, Elnara pun menikmatinya hingga tandas. Ponsel di mejanya bergetar, itu dari Jessie, temannya.
Drtt!
"Ya halo, Jessie?"
"Kamu di mana?"
"Masih di bandara, baru saja selesai makan siang. Ada apa ?” jawabnya
"Baiklah, aku segera ke sana."
"Bukannya kamu sedang lagi banyak pekerjaan di kantormu?"
"Sudah selesai, El."
“Tak apa, aku pulang naik taksi saja. Besok rencana aku mau membeli sebuah mobil, agar lebih mudah bepergian.”
"Baiklah. Jika kamu pulang, menggunakan taksi, hati-hati di jalan.”
"Sudah dulu ya, aku mau ke apartemen, bye."
"Ehmm, bye."
Usai telepon terputus, dia pun meninggalkan Matina Gold Lounge, segera menuju Apartemen Seoul B. Saat tiba di apartemennya, langkahnya sedikit lunglai karena dia merasa lelah, ingin segera beristirahat tanpa drama lain lagi.
Ceklek!
"Hufff, sungguh melelahkan." Ponselnya kembali bergetar, Elnara langsung mengangkat panggilan tersebut.
"Halo, Papa.”
"Halo, sayang kamu sudah tiba di apartemen?"
"Iya, Papa."
"Syukurlah, sudah makan juga?"
"Iya, Papa. Kalau, Papa?"
"Papa baru saja selesai makan. Oh iya, jadi besok kamu langsung ke perusahaan atau bagaimana?"
"Lusa saja, Pa. Aku masih butuh istirahat.” Papa Elnara tersenyum di seberang sana.
"Baiklah. Papa tutup ya teleponnya bye anak papa, love you."
"Love you too, Papa bye."
Panggilan diputusnya setelah mengucapkan kata romantis kepada sang ayah. Elnara membersihkan dirinya, dia sungguh lelah dengan perjalanan yang baru saja dia laluinya. Ingin rasanya tidur akan tetapi, tubuhnya terasa lengket.
Malam mulai datang, Elnara menunggu Jessie yang mengatakan jika dirinya sudah menuju apartemennya. Tak lama kemudian, terdengar suara bel dari unit apartemennya.
"Hai,” sapa Jessie.
"Ayo masuk.” Mereka pun berjalan masuk lalu, duduk di ruang tamu.
"Kau, ingin minum apa, Jessie?"
"Santai saja, El. Nanti aku akan mengambilnya sendiri.” Elnara hanya mengangguk saja lalu, ikut duduk di sofa yang sama dengan Jessie.
"Omoo!” Elnara sedikit terkejut mendengar suara Jessie.
"Ada apa, Jessie?” tanyanya penasaran.
"Lee Min-ho terlibat cinta lokasi!’’ Karena penasaran Elnara pun melihat ke arah ponselnya dan ternyata hanya gosip tak bermutu yang dibaca oleh Jessie.
"Ya ampun, Jessica kau suka sekali membaca gosip selebriti ya, ck ck ck!’’ ujarnya sambil menggelengkan kepala dan Jessica hanya terkekeh pelan.
Sementara itu, di sebuah rumah yang terletak di Distrik Gangnam. Seorang pria baru saja tiba di rumahnya. Daniel, dia tinggal bertiga dengan ayah dan ibunya. Dia adalah anak tunggal. Daniel berjalan menuju kamar miliknya lalu, membaringkan badannya di atas tempat tidurnya sambil memejamkan mata dan tiba-tiba dia teringat dengan wanita yang dijumpainya di bandara tadi.
"Wanita tadi sedikit tak asing. Apakah pernah bertemunya sebelumnya?” gumamnya sambil membuka kedua matanya dan berbicara ke diri sendiri sambil menatap langit-langit kamarnya.
***
Keesokan harinya, jam menunjukkan pukul 6.00 pagi waktu Korea.
‘Eughh .... hoamm.’ Elnara membuka mata lalu, mengambil ponselnya yang di letakkan di meja samping tempat tidurnya.
‘Sudah jam enam pagi hari ini jadwalku pergi membeli sebuah mobil. Apakah aku hubungi Jessie untuk menemaniku? Ah, sebaiknya jangan, dia pasti sibuk bekerja aku pesan taksi saja ke sana.’
Dia pun bangkit dari tidurnya lalu, segera bersiap. Setelah satu jam lamanya bersiap sekarang Elnara sedang menunggu taksi pesanannya datang.
***
Perusahaan properti tempat Daniel Kim bekerja.
"Selamat pagi, Mr. Kim." Sapaan ramah dari seorang resepsionis. Daniel hanya tersenyum tipis lalu, berjalan menuju lift untuk tiba di lantai sepuluh keruangannya.

Ice Evrily
25 Pengikut · 4 Novel