


oleh Bunga Hitam · 95 Bab
Rumah sakit baru tempat Eliana bekerja merupakan bekas bangunan gereja tua yang angker. Gereja itu telah dibongkar dan diganti dengan rumah sakit, tapi masih banyak orang yang percaya bahwa tempat itu masih dihantui oleh roh-roh jahat.
Sebuah buntelan kecil berupa kresek hitam terjatuh dari genggaman tangan gadis kecil yang kaget melihat kedatangan seseorang.
"Siapa kau?!"
"Maaf Kak, saya cuma mau ambil ini," ungkapnya lirih seraya menunjukkan sisa makanan dalam kertas yang berbungkus kumal.
"Untuk apa? Kau lapar?"
Gadis itu mengangguk malu lalu tangannya perlahan mengambil kembali tas kresek yang tadi terjatuh.
"Maaf ." Ia segera meninggalkan tempat itu secepatnya.
"Tunggu!" kata orang tadi dan segera pergi ke sebuah toko untuk membelikan beberapa roti dalam kemasan kecil.
"Bawalah roti ini dan jangan ambil sisa makanan dari tempat sampah lagi, ya," cakapnya seraya menyerahkan roti tersebut.
"Terima kasih, Kak." Gadis kecil itu menerima pemberian itu lalu langsung meninggalkan tempat yang mulai ramai oleh orang-orang yang akan pulang kerja malam ini.
Eliana hanya menghela napasnya perlahan. Melihat momen tersebut dari kejauhan. Teringat dirinya kala berada di panti asuhan 'Bunda Kasih'. Ia harus berjuang saat berumur persis dengan anak kecil tadi. Segala deraan dan hinaan kerap ia rasakan.
Siapa bilang tinggal di panti asuhan enak? Tinggal makan dan tidur karena asupan dana dari donatur. Tidur di ranjang yang empuk walaupun berjubel dengan banyaknya penghuni.
'Bila mau makan harus kerja,' itu pesan dan perintah dari pihak panti asuhan yang menaunginya. Anak-anak panti harus bisa kerjakan semua urusan beberes rumah setiap harinya. Belum lagi mendapat bullyan dari anak-anak lain dari luar atau di sekolah.
"Eh, ngelamun aja, pulang yuk," colek seseorang pada lengan Eliana. Gadis berumur 22 tahun itu tersadar lalu tersenyum.
Arah tujuan mereka sama ke tempat indekos "Mawar", hanya satu kali perjalanan, naik angkutan umum selama 25 menit saja dari tempat kerja. Tempat indekos dengan kualitas menengah ke bawah.
Nomor 3D adalah kamar yang lumayan strategis, terletak paling ujung. Sedikit tenang, tak terganggu dengan banyak suara dari kamar lain. Dalam tiap kamar kost tersedia sebuah kasur busa lantai dan lemari plastik bersusun tiga sebagai fasilitas utama.
Lumayan murah, hanya membayar 500 ribu saja setiap bulannya. Bila ada kipas angin, televisi, dispenser, magic com, baru akan dikenai tambahan biaya listrik.
Tiba-tiba saja terdengar suara bergemuruh menghujani atap berbahan asbes. Hujan turun sangat deras. Udara terasa adem. Tadinya Eliana hendak mandi karena badan terasa gerah tapi karena hujan keinginan itu pun diurungkannya. Aroma partikur langsung tercium tajam.
Tangannya masih bergoyang-goyang mengipasi tubuh yang masih berpeluh keringat. Sembari rebahan tangan satunya mulai memainkan ponsel jadulnya. Sekedar hiburan saja melihat ke logo hijau, membuka beberapa pesan yang belum sempat dibaca.
Tak lama, gelap menguasai kamar. Eliana kaget. Lagi-lagi listrik padam. Ini sudah sering terjadi bila daya Wattnya tidak kuat. Tegangan listrik di tempat kostnya turun. Tak lama beberapa orang mulai terdengar ngedumel.
“Iki piye? Kok ndadak mati lampu toh ya?”
“Li, lili! Punya lilin nggak? Pinjam satu, besok aku ganti.”
“Wes, alamat nih, bakal banyak nyamuk, tobat! Tobat!”
Serangkaikan keluhan terdengar lirih.
Eliana tak pedulikan lagi keadaan di luar. Ia berusaha untuk bisa tidur dengan tangan masih mengipasi tubuhnya dengan selembar potongan karton bekas minuman mineral. Gadis itu berusaha menghilangkan hawa panas yang semakin mendera walaupun hujan masih berlangsung.
***
Pagi menjelang, gadis rambut sebahu itu sudah siap dengan pakaian seragamnya yang berwarna putih bersih. Sebelum subuh tadi sudah mandi, bila telat sedikit saja antrean panjang sudah menanti. Tak jarang bila terbangun terlambat ia langsung berangkat kerja tanpa harus mandi
Kali ini, di bagian shif pagi. Jam tangannya menunjukkan pukul 07. 00 pagi. Beruntung sekali Eliana mendapatkan pekerjaan ini, walaupun bukan lulusan dari akademi keperawatan. Namun, dengan mengikuti les privat yang diadakan rumah sakit tersebut.
"EL! Eliana!" panggil seseorang dari seberang jalan saat sedang menunggu angkutan umum menuju tempat kerjanya.
Eliana melihat rekan kerjanya melambai, akhirnya mereka berangkat kerja bareng.
Eliana bukanlah tipe orang yang mudah bergaul. Ia cenderung malas berteman. Akan tetapi hal ini tak menjadikan diri tak punya banyak teman. Mungkin, memang dirinya membatasi dalam pertemanan.
Hanya dengan Dewi lah, gadis itu mau banyak bercerita. Siapa Dewi? Dewi adalah sahabat Eliana , sejak masa sekolah. Dewi melanjutkan kuliah di Kota gudeg.
Hari ini ada beberapa pasien baru. Eliana bertugas mendampingi perawat utama untuk cek seluruh pasien. Segera mengambil buku laporan lalu mengikuti Bu Tiur dari belakang. Bu Tiur adalah salah satu senior yang paling galak.
"Jalannya yang cepat kita harus imbangi Dokter Edward hari ini."
"Baik Bu," jawab Eliana sopan.
"Sudah absen hari ini?"
"Sudah Bu."
"Hari ini tugasmu rekap laporan cek pasien ya."
"Siap Bu."
"Ayo, itu Dokter Edward." Bu Tiur berjalan cepat mendekati Dokter Edward.
"Selamat pagi, Dok."
"Pagi," jawab Dokter muda tersebut seraya melirik ke arah Eliana lalu mengangguk hormat dan segera menundukkan kepalanya. Dokter muda nan tampan itu membuat jantungnya berdebar keras. Tatapannya selalu membuat gelisah hati.
"Eliana Putri Lestari." Edward membaca papan nama yang tersemat pada baju seragam putihnya.
"Iya, Dok. Itu nama saya," sahutnya pelan.
"Ia baru pertama kali mendapat tugas ini, seharian ini yang bertugas rekap laporan pasien," jelas Bu Tiur.
Edward mengangguk, "Oke sudah siap?"
Bu Tiur dan Eliana mengangguk.
"Mari, kita mulai dari bangsal anak. Nanti lanjut dengan Dokter Panji untuk pasien ibu hamil."
Eliana mengangguk, ia segera melangkah mengikuti Bu Tiur dan Dokter Edward. Posisinya harus selalu berada di belakang. Walaupun langkah kaki panjangnya bisa dengan cepat mendahului mereka.
Hari semakin siang, jam istirahat tiba. Eliana sudah selesai membuat laporan. Ia segera berdiri hendak ke kantin, tetapi sebuah suara mengagetkannya.
"Eliana! Bila laporan sudah selesai bisa langsung diserahkan." Bu Tiur kini sudah berada di dekatnya.
"Sekarang Bu?"
"Iya sekarang! Apa sudah selesai?"
"Sudah Bu." Ia lalu memperlihatkan hasil laporan tersebut. Bu Tiur memeriksa kemudian menyerahkan kembali laporan itu selanjutnya menyuruhnya untuk meletakkan di meja kerjanya.
"Tapi ini jam istirahat Bu."
"Apa salahnya hanya meletakkan laporan ini ke meja kerja! Saya mau pulang dulu, mau beri ASI untuk anak!" bentak Bu Tiur
Dengan malas Eliana segera membawa laporan tersebut ke lantai dua khusus bagian staf karyawan rumah sakit.
Ia segera mencari meja kerja Bu Tiur. Setelah itu meletakkan laporan tersebut. Namun, tiba-tiba saja ada angin berembus cukup kencang. Seketika bulu kuduk Eliana langsung berdiri. Suasana ruangan yang sepi membuatnya takut. setengah berlari Eliana segera pergi dari tempat tersebut.

Bunga Hitam
76 Pengikut · 10 Novel