


oleh Lifha az zhafa · 23 Bab
Azkya Alina Al-Katiri, memendam perasaan untuk gus muda di pesantren tempat ia bertugas. Di mana ia dikirim sebagai perwakilan dari pesantrennya menimba ilmu (Pesantren Al-hikmah). Gus muda bernama Saif M Alfarabi, seorang anak kyai, yang terkenal dengan suara merdunya sehingga bisa menggetarkan hatinya. Pertama kali menginjakkan kaki di pesantren Al-Farabi. Azkya diam-diam melangitkan namanya dan berharap menjadi pendamping hidupnya. Namun, kenyataan Gus Saif itu ternyata sudah dijodohkan dengan seorang santri putri yang ternyata anak dari seorang ustadz kondang. Apa yang terjadi selanjutnya?
Alunan sholawat menggema di seluruh pesantren ketika sang vokal melantunkan sholawat Rajab. Sholawat yang selalu dilantunkan ketika memasuki bulan rajab, sya'ban dan bulan ramadhan. Senyum menawan membuat semua santri putri histeris apalagi dendangan sholawat begitu menyejukkan hati.
“Ya Allah, berkahilah hidup kami dalam bulan muliamu. Anugerahi kami dengan umur yang panjang agar bisa bertemu dengan bulan ramadhan nanti ….” Perkataan Gus Saif membuat semua menadahkan tangannya, air mata tangisan seakan membanjiri seakan menghayati setiap doa yang diucapkan gus muda itu.
Sholawat penutup dari Hadroh Pondok Pesantren Al-Farabi siang itu menjadi akhir acara Haflah akhirussanah, banyak semua santri bergegas menuju tempat pengambilan rapot yang akan dilakukan oleh wali kelas masing-masing.
Azkya tersenyum menatap Gus Saif dengan hati yang berbunga, setelah ini dia tak akan mendengar suara merdunya ketika hari kepulangannya tiba. Memang kepulangannya tak lama karena ia akan berpuasa di pondok tersebut sebagai akhir pengabdian. Tapi, untuk mendengar suara merdu yang membuat ia akan selalu merindukannya.
“Ayo, Azkya kita ke kantor sepertinya santri putri sudah ke kelasnya masing-masing,” ajak teman sesama ngabdinya bernama Ririn.
“Iya, Ayo. Aku lelah sekali mempersiapkan haflah ini, kakiku kayak mau copot,” balas Laila, teman satunya.
Azkya mengangguk dan mereka menuju kantor yang sudah ada ustadzah yang mengajar di madrasah. Para wali kelas sibuk mengecek rapor dan tak lama mereka membawa menuju kelas masing-masing.
“Azkya, Ririn, Laila,” panggil Bu Nyai. Wanita paruh baya yang masih cantik diusia senja itu tersenyum menyambut kedatangan guru tugasan dari Pondok Pesantren Al-hikmah.
Mereka bertiga langsung menghampiri pimpinan pondok dan duduk bersimpuh di hadapannya.
“Nggeh, Bu Nyai.” Mereka bertiga menunduk. Sebagai seorang pelajar madrasah yang menjadi pengabdi tamu mereka begitu memuliakan Bu Nyai Fatimah sebagai istri pemilik Pondok Pesantren.
“Duduklah di atas,” ujar beliau meminta mereka duduk di kursi tempat biasa ustadzah duduk.
Mereka bertiga duduk di kursi depan Bu Nyai dengan kepala tertunduk.
“Kalian jadi puasa di sini?” tanya Bu Nyai.
“Insyaallah, Bu Nyai. Tapi kami pulang dulu dan akan kembali sehari sebelum puasa tiba,” jawab Azkya.
“Alhamdulillah, Bu Nyai bisa lega jika kalian puasa di sini. Bagaimana jika kalian juga melanjutkan tugasan di sini?”
“Ngapunten, Bu Nyai, masalah itu kami hanya menunggu keputusan dari pondok karena kami juga harus ngabdi satu di sana.”
Bu Nyai Fatimah hanya mengangguk, memang tahun ini baru pertama kali mengambil guru tugasan dari pondok lain karena madrasah naungannya kekurangan ustadzah mengajar apalagi pondok itu memang pondok modern.
“Baiklah. Semoga setelah ini madrasah bisa mendapatkan pengganti kalian ya, Bu Nyai begitu sulit melepaskan kalian karena sikap mengayomi kalian membuat madrasah ini semakin maju, tidak sekolah umumnya saja. Bu Nyai bangga kepada kalian.”
“Matur nuwun, Bu Nyai!”
Setelah berbincang sebentar dengan pemilik pondok, mereka berpamitan untuk membereskan beberapa hal sebelum mereka pulang. Bu Nyai mempersilahkan karena banyak yang memang harus mereka lakukan.
Di saat semuanya sibuk membereskan barang-barang di kantor, pintu diketuk meskipun pintu tersebut terbuka tetapi sang pemilik suara permisi.
“Ngge, Gus, ada yang bisa kami bantu?” sahut Ririn.
“Umi ada?” tanya Gus Saif.
Ririn mempersilahkan gus muda itu memasuki ruangan kantor.
“Assalamualaikum, Umi, di tunggu abii di ndalem katanya ada tamu,” ujar Gus Saif.
“Waalaikumsalam.” Bu Nyai langsung bangkit dan tak lupa digandeng oleh sang putra untuk menuju ndalem.
Sebelum pergi, Bu Nyai Fatima tak lupa berpamitan kepada guru tugasan.
“Ya Allah, sweet banget Gus Saif. Sama uminya saja begitu apalagi sama istrinya nanti, kan menjadi meleleh diriku ….” Decakkan kagum terucap di bibir Laila. Ia tersenyum membayangkan jika sang gus memperlakukan dirinya dengan sweet, jika dia menjadi istrinya.
“Sudah, gak usah halu. Ayo, cepat bereskan semua. Kebiasan deh selalu seperti itu kalau lihat laki-laki spek pangeran,” lontar Ririn.
“Biarin. Namanya juga usaha, mana tahu nanti haluanku bisa kenyataan,” sahut Laila tak mau kalah.
“Idih, si Laila majnun berharap boleh tapi jangan sampai kebablasan takutnya kalau sudah terjun bakal sakit tak terkira. Takutnya sih jadi orang setengah gila.”
“Enak saja ngatain aku setengah gila. Tahu ah, Ririn gak bisa diajak ngehalu. Aku sama Azkya saja kita ngehalu Gus Saif sama-sama.”
Sementara Azkya tersenyum tipis geleng-geleng melihat kedua temannya berdebat tentang Gus Saif. Sejujurnya, setelah kedatangan gus muda itu jantungnya tak berhenti berdetak, irama melodi menjadi tabir sendiri dalam diamnya.
“Kamu kenapa, Kya? Kok melamun!” Laila menepuk pundaknya.
Azkya menoleh dan menggeleng, walaupun dia sedikit gelagapan tapi ia hanya tersenyum menanggapi pertanyaan Laila.
***
Hari kepulangan tiba, setelah membereskan barang-barang mereka. Azkya dan yang lainnya berpamitan menuju ndalem. Mobil jemputan juga sudah datang dan tak berapa lama mereka sudah berada di dalam mobil.
“Aku akan merindukan kamu, Azkya. Semoga suatu saat Allah menakdirkan kita,” ucap seseorang mengintip melalui jendela kamarnya.
Bibirnya tersenyum dan selalu berdoa untuk dia yang mulai menjauh dari pelantaran pondok. Harapannya cuma satu semoga Tuhan memang menakdirkan bersama.
Sedari tadi, ia memang mencuri pandang ketika Azkya dan kedua temannya berpamitan di ndalem. Wajah kalem dan suara lembutnya membuat ia merasakan detak jantung yang berbeda. Tepat pertemuannya setahun yang lalu ketika Azkya mulai menginjakkan kakinya di pesantren ini. Ia hanya bisa melangitkan nama perempuan itu dalam setiap doanya dan selalu bermunajat atas nama sang perempuan yang bisa mencuri hatinya setelah sekian lama kosong.

Lifha az zhafa
139 Pengikut · 13 Novel