Suara mesin pesawat yang mendarat masih bergema di telinga Bima ketika ia melangkah keluar dari pintu kedatangan. Udara hangat sore itu menyambutnya, bercampur aroma khas bandara yang membuatnya menghela napas panjang. Tiga tahun bekerja di luar kota demi mengumpulkan modal menikahi Neilla, segala lelahnya seolah terbayar hanya dengan membayangkan senyum gadis itu.
Ia menarik koper hitamnya sambil merogoh ponsel. Jemarinya mengetik cepat.
Bima: “Aku sudah di bandara. Nanti ketemu di tempat biasa, ya.”
Beberapa menit, tidak ada balasan. Bima menatap layar, menunggu. Mungkin dia sedang sibuk, pikirnya sambil tersenyum kecil.
Setengah jam kemudian, mobilnya berhenti di depan sebuah kafe yang dulu sering mereka datangi. Lampu-lampu temaram memantulkan cahaya hangat di kaca jendela.
Saat ia melangkah masuk, Bima sempat menatap jam tangannya. Neilla biasanya datang lebih dulu. Namun, langkahnya terhenti.
Di sudut kafe, ia melihat Neilla. Duduk berhadapan dengan seseorang yang sangat dikenalnya, yaitu Axel. Sahabatnya sejak SMA. Keduanya terlihat begitu akrab. Axel menyentuh tangan Neilla di atas meja, dan Neilla tidak menariknya. Malah tersenyum.
Bima berdiri terpaku. Jantungnya berdegup keras, seperti dipukul dari dalam.
“Neilla.” Suaranya nyaris tak terdengar.
Neilla menoleh, matanya membesar. “Bima?” Ia berdiri tergesa, melepaskan tangannya dari Axel. “Aku ini–”
“Bukan seperti yang kamu pikirkan,” sela Axel, tapi matanya sedikit gelisah.
Bima menatap keduanya, pandangannya berpindah dari Neilla ke Axel. “Bukan seperti yang aku pikirkan? Aku baru pulang, berharap ketemu tunanganku, tapi ternyata tunanganku duduk berduaan dengan sahabatku. Pegangan tangan pula.”
Neilla menggigit bibirnya, menunduk. “Bima, aku mau jelasin.”
“Jelaskan?” Bima tertawa hambar. “Sejak kapan kalian–”
“Bima, cukup!” Neilla memotong, suaranya tegang. “Aku … aku akan menikah dengan Axel.”
Kalimat itu menghantam Bima seperti badai. Ia mengerjap, mencoba memastikan ia tak salah dengar. “Menikah? Dengan Axel?” Nadanya meninggi. “Neilla, kita ini sudah bertahun-tahun merencanakan–”
“Aku minta maaf,” potong Neilla lagi. “Semua ini terjadi begitu saja.”
Bima terdiam. Axel berdiri, mencoba menepuk bahunya, tapi Bima mundur setapak. “Jangan sentuh aku.”
Ia berbalik, meninggalkan kafe tanpa menoleh lagi. Udara malam yang menusuk kulit tak mampu mendinginkan amarahnya.
Di rumah, Herlina ibunya sedang duduk di ruang tamu. Senyumnya merekah begitu melihat Bima. “Nak, akhirnya pulang juga. Ibu sudah siapkan makan malam.”
Bima berusaha tersenyum, tapi suaranya berat. “Bu, aku nggak mau bahas Neilla.”
Herlina terdiam, lalu menarik napas. “Ibu memang ingin bicara. Bima, Ibu sudah carikan calon untukmu.”
Bima mengangkat wajah. “Calon?”
“Namanya Alara. Gadis yatim piatu yang Ibu kenal dari teman lama. Dia baik, sopan, dan Ibu yakin dia bisa membahagiakanmu.”
Bima menatap ibunya, hatinya masih panas karena kejadian di kafe.
“Baiklah, Bu,” ucapnya akhirnya.
“Kalau itu mau Ibu, aku terima.”
Herlina tersenyum lega, tak menyadari bahwa keputusan anaknya lahir dari hati yang sedang retak, bukan dari cinta.
Di sudut kota yang lain, Alara duduk di kamar kontrakannya yang sederhana. Surat perjodohan dari keluarga Herlina tergeletak di meja. Ia menggenggamnya erat, bibirnya membentuk senyum tipis.
“Aku akan menjaga dia sebaik yang aku bisa,” batinnya. Tanpa tahu, lelaki itu belum siap membuka hatinya.
***
Malam semakin larut, dan Bima tak kunjung bisa memejamkan mata. Di kamarnya, ia duduk di tepi ranjang dengan ponsel yang sejak tadi hanya menampilkan satu chat terakhir dari Neilla.
“Maaf, Bim.” Tidak ada penjelasan lebih, tidak ada alasan yang bisa ia pegang.
Ia mengetuk-ngetuk layar ponselnya dengan jari, menahan keinginan untuk menghubungi Axel, tapi pikirannya sudah penuh dengan adegan di kafe tadi. Dengan tatapan lembut Axel pada Neilla, senyum Neilla yang dulu hanya untuknya.
“Apakah selama ini mereka? Tidak. Jangan berpikir sejauh itu, tapi kalau bukan, kenapa?”
Pintu kamar diketuk pelan. “Bima? Sudah tidur?” Suara ibunya terdengar dari luar.
Bima menghela napas, lalu membuka pintu. “Belum, Bu.”
Herlina masuk dengan secangkir teh hangat. “Minum ini dulu. Ibu tahu kamu lelah, tapi, Nak, jangan biarkan hal yang buruk merusak hatimu terlalu lama.”
Bima menerima cangkir itu, mencoba tersenyum tipis. “Bu, kalau aku terima perjodohan itu, kapan aku harus ketemu dia?”
“Kalau kamu mau, besok sore. Ibu sudah bicara sama keluarganya. Eh, maksud Ibu, sama wali yang mengurus dia,” jelas Herlina sambil duduk di kursi dekat meja belajar. “Alara itu anak yang sederhana. Dia tidak punya siapa-siapa lagi. Ibu yakin dia akan menghargai kamu.”
Bima hanya mengangguk. Dalam hati, ia tidak benar-benar memikirkan sosok Alara. Baginya, ini seperti kesepakatan untuk melupakan Neilla, meski ia tahu, rasa itu tak akan hilang secepat itu.
Keesokan sore, Bima datang ke sebuah rumah bergaya klasik di pinggir kota. Halamannya bersih, dengan pot bunga berbaris rapi. Di teras, seorang wanita paruh baya menyambutnya dengan ramah.
“Kamu pasti Bima, ya?” sapanya. “Silakan masuk, Nak. Alara sebentar lagi keluar.”
Bima melangkah masuk, matanya menyapu ruang tamu yang hangat dan sederhana. Ia duduk di sofa, menunggu. Tak lama kemudian, langkah pelan terdengar dari arah koridor.
Alara muncul dengan berbaju sederhana, rambut hitamnya tergerai, dan sepasang mata yang jernih menatapnya. Senyum kecil tersungging di bibirnya. “Selamat sore, Mas Bima.”
Bima mengangguk singkat. “Sore.”
Ada jeda canggung beberapa detik sebelum wanita paruh baya itu mempersilakan mereka berbincang di halaman belakang. Udara sore terasa sejuk, tapi percakapan mereka terasa kaku.
“Bu Herlina sudah cerita soal perjodohan ini,” kata Alara pelan. “Kalau Mas Bima keberatan, tidak apa. Aku tidak mau memaksa.”
Bima menatapnya sejenak. Wajah Alara begitu tulus, berbeda jauh dari tatapan penuh rahasia yang ia lihat di mata Neilla kemarin. Namun, hatinya masih terikat pada luka.
“Tidak. Aku setuju,” jawab Bima singkat. “Kita jalani saja.”
Alara tersenyum tipis, meski dalam hatinya bertanya-tanya, mengapa suara Bima terdengar begitu datar? Seolah pernikahan ini hanyalah sebuah kewajiban, bukan pilihan.
Di sudut pikirannya, Bima berjanji pada dirinya sendiri, kalau ia tidak bisa bahagia, setidaknya ia bisa membuat Neilla menyesal. Alara mungkin akan menjadi bagian dari rencana itu.