


oleh Itha Irfansyah · 50 Bab
Yumna adalah gadis desa lugu yang selalu berkhayal ingin hijrah ke kota metropolitan, suatu hari dia bertemu dengan seorang wanita yang terlihat elegan sedang melancong ke desanya, wanita itu melihat Yumna dengan berbinar, kemudian dia pun mengajak Yumna ke kota. Yumna merasa ajakan ke kota itu merupakan impian terbesarnya karena selama 17 tahun, dia tak pernah sekalipun menginjakkan kaki di kota Metropolitan. Apa yang akan dilewati Yumna di kota Metropolitan? Langsung saja baca kisah Yumna selanjutnya guys🤗
Yumna menggigit bibirnya pelan sambil menatap jauh ke hamparan sawah yang hijau. Desir angin yang membelai wajahnya tak mampu menghapus gelombang khayalan yang memenuhi benaknya. Pikirannya melayang pada gemerlap kota yang sering ia lihat di televisi usang milik Pak RT. Gedung-gedung tinggi, mobil-mobil mewah, dan orang-orang dengan pakaian rapi—semua itu seperti dunia lain baginya.
Namun, ia sadar bahwa mimpi itu hanya sebatas khayalan. Bagaimana mungkin seorang gadis desa seperti dirinya bisa melangkahkan kaki ke kota metropolitan? Ayahnya, seorang petani sederhana, dan ibunya, penjahit rumahan, bahkan jarang keluar dari desa.
Semua berubah ketika suatu siang yang terik, sebuah mobil hitam mengkilap melintasi jalanan berdebu di desanya. Mobil itu berhenti di depan warung kecil tempat Yumna biasa membantu ibunya menjual jajanan tradisional.
Dari dalam mobil, seorang wanita elegan turun dengan langkah anggun. Kacamata hitam bertengger di hidung mancungnya, dan tas kulit mahal menggantung di lengannya. Wanita itu menarik perhatian semua orang di desa.
“Hei, siapa itu?” bisik warga desa di sekitar warung.
Yumna menatap takjub. Wanita itu seperti sosok dari majalah yang pernah ia temukan di gudang sekolah. Berbeda dengan wanita desa pada umumnya, penampilannya memancarkan aura berkelas.
Wanita itu tersenyum kecil saat melihat Yumna yang sedang memegang nampan penuh jajanan.
"Maaf, siapa namamu?" tanya wanita itu, suaranya halus tapi tegas.
"Y-Yumna, Bu," jawabnya dengan gugup.
Senyum wanita itu melebar. "Namaku Olivia. Aku sedang melakukan riset kecil untuk proyekku. Kamu terlihat menarik ... bagaimana kalau kamu membantuku selama beberapa waktu di kota?"
Yumna tertegun. "Di kota? Saya?"
"Ya, di kota. Kamu akan bekerja denganku. Gajinya lumayan, dan siapa tahu, kamu bisa belajar sesuatu di sana," Olivia menjelaskan, matanya berbinar penuh keyakinan.
Yumna tak mampu berkata-kata. Tawaran itu seperti mimpi yang menjadi nyata. Namun, hatinya berdebar. Meninggalkan desa, meninggalkan keluarganya—apakah ia benar-benar siap?
*****
Keputusan Yumna untuk ikut Olivia membawa perubahan besar dalam hidupnya. Perjalanan ke kota yang ditempuh berjam-jam membuatnya terpana. Jalan tol yang lurus, deretan gedung menjulang, dan lampu-lampu yang berkilauan saat malam tiba membuatnya seakan berada di dunia lain.
Olivia membawanya ke apartemen mewah dengan pemandangan kota yang luas. Bagi Yumna, apartemen itu terasa seperti istana. Tapi, Olivia mengingatkannya bahwa kota bukan hanya tentang kemewahan—ada sisi gelap yang harus ia hadapi.
"Di sini, kamu harus pintar bertahan hidup, Yumna. Jangan terlalu percaya pada orang, dan jangan pernah menunjukkan kelemahanmu," pesan Olivia.
Hari-hari Yumna dimulai dengan bekerja sebagai asisten pribadi Olivia. Ia membantu Olivia di kantor, sebuah perusahaan besar yang ternyata dipimpin oleh seorang direktur muda bernama Andra Wijaya. Andra dikenal sebagai pria tampan, cerdas, tapi dingin. Ia adalah tipe orang yang hanya tersenyum jika ada alasan penting.
Namun, yang tak Yumna ketahui, kantor itu bukan hanya tempat kerja biasa. Ada bisikan tentang persaingan sengit antar divisi, skandal rahasia, hingga mafia bisnis yang mengintai dari balik layar.
Olivia, meski terlihat sempurna, ternyata memiliki agenda tersembunyi. Ia bukan hanya seorang eksekutif, tapi juga salah satu pemain penting dalam perebutan kekuasaan di perusahaan itu.
Hari pertama Yumna bekerja di kantor penuh kejadian lucu dan memalukan. Ia salah memencet tombol lift, terjebak di pantry bersama office boy yang usil, dan hampir menumpahkan kopi ke baju bos besar, Andra. Tapi, yang paling mengejutkan, ia menangkap percakapan rahasia antara Olivia dan seorang pria asing di ruang rapat.
"Aku sudah atur semuanya. Direktur utama itu akan lengser bulan depan," bisik pria itu dengan suara rendah.
Yumna, yang sedang membawa dokumen, tak sengaja mendengar. Ia menahan napas, mencoba memahami apa yang sebenarnya terjadi. Olivia menyadari kehadirannya dan segera berbalik.
"Yumna, kamu dengar sesuatu?" tanya Olivia dengan senyum dingin.
Yumna menggeleng cepat, meski tangannya gemetar. "T-tidak, Bu. Saya hanya mau menyerahkan dokumen ini."
Olivia memperhatikan Yumna dengan tatapan tajam. "Bagus. Ingat, Yumna. Di kota ini, tidak semua yang terlihat itu seperti apa adanya. Kamu harus pandai-pandai menyimpan rahasia."
Di balik kesan mewah kota, Yumna mulai menyadari bahwa ia telah melangkah ke dunia yang penuh intrik dan bahaya. Akankah ia mampu bertahan? Atau justru terseret dalam pusaran konflik yang lebih besar.
*****
Malam itu, Yumna tidak bisa tidur. Kata-kata Olivia terus terngiang di kepalanya. "Kamu harus pandai-pandai menyimpan rahasia." Apa maksudnya? Rahasia apa yang sebenarnya disimpan oleh Olivia dan pria asing tadi?
Dengan penuh rasa ingin tahu, Yumna memutuskan untuk menyelidiki. Di sela-sela tugasnya di kantor, ia mulai memperhatikan detail kecil yang selama ini ia abaikan. Ia sering melihat Olivia menerima telepon dengan nada tegang atau bertemu pria berjas hitam di kafe yang jauh dari kantor.
Namun, semuanya memuncak ketika Yumna tak sengaja menemukan sebuah dokumen di meja Olivia. Dokumen itu berisi diagram rumit dengan nama-nama orang yang bekerja di perusahaan, termasuk nama Andra dan Olivia, dengan garis merah yang menghubungkan mereka. Ada satu nama yang dilingkari besar-besar: Leonard Wu.
"Siapa Leonard Wu?" Yumna bergumam pelan, mencoba mengingat-ingat. Nama itu belum pernah ia dengar sebelumnya. Namun, ia tidak punya waktu untuk berpikir lebih jauh. Suara pintu yang berderit membuatnya kaget. Olivia berdiri di ambang pintu, menatapnya tajam.
"Yumna, apa yang kamu lakukan di sini?" Olivia bertanya dengan nada datar, namun ada ketegangan dalam suaranya.
Yumna berusaha tenang. "S-saya hanya membereskan dokumen di meja, Bu Olivia. Maaf jika saya mengganggu."
Olivia berjalan mendekat, mengambil dokumen itu, dan menatap Yumna dengan tatapan yang sulit diartikan. "Kamu harus belajar satu hal, Yumna. Rasa ingin tahu yang berlebihan bisa berbahaya di kota ini."
Beberapa hari kemudian, hal aneh lainnya terjadi. Yumna menemukan sebuah amplop coklat di laci mejanya, meskipun ia tidak pernah menggunakannya. Di dalamnya, terdapat sebuah catatan kecil yang bertuliskan:
"Hati-hati dengan Olivia. Jangan percaya siapa pun di kantor ini. Jika kamu ingin tahu lebih banyak, temui aku di kafe dekat gedung ini, pukul 8 malam."
Yumna gemetar membaca catatan itu. Siapa yang meninggalkan pesan ini? Dan mengapa dia diperingatkan untuk tidak percaya pada Olivia? Namun, rasa penasarannya jauh lebih besar daripada ketakutannya.
Malam itu, dengan hati-hati, ia pergi ke kafe yang dimaksud. Kafe itu sepi, hanya ada beberapa pelanggan yang duduk di pojok. Seorang pria bertopi hitam melambai padanya dari salah satu meja.
"Yumna?" tanyanya.
"Ya ... Anda siapa?" Yumna bertanya dengan waspada.
Pria itu melepas topinya, memperlihatkan wajah yang tajam dan serius. "Namaku Ardan. Aku mantan karyawan di perusahaan Olivia. Dan aku di sini untuk memperingatkan mu."
"A-apa maksudnya?"
Ardan mendekatkan wajahnya, berbisik pelan. "Perusahaan itu hanya kedok. Ada operasi rahasia yang melibatkan mafia bisnis, pencucian uang, dan perebutan kekuasaan. Olivia salah satu pemainnya, tapi dia bukan satu-satunya. Direktur utama, Andra, sedang diawasi oleh mereka. Kalau kamu tidak hati-hati, kamu bisa terseret ke dalamnya."
Yumna tercengang. Rasanya ia seperti mendengar cerita dari film kriminal."Tapi ... kenapa saya? Saya hanya asisten kecil di sini."
Ardan tersenyum tipis. "Justru karena itu. Mereka pikir kamu tidak berbahaya. Tapi aku melihat potensimu, Yumna. Kamu bisa membantu membongkar ini semua."
Yumna menatap Ardan dengan penuh kebingungan. Membongkar? Dia bahkan tidak tahu harus mulai dari mana.

Itha Irfansyah
13 Pengikut · 1 Novel