


oleh khilda baiti · 31 Bab
"Dia memborong takjil untuk mencuri perhatian orang-orang." Talita adalah sang "Ratu Konten" pemuja angka. Di tangannya, takjil hanyalah alat tukar demi ribuan likes. Namun, keegoisannya menjadi bumerang. Timnya bubar, reputasinya hancur, dan ia dikucilkan oleh realita. Di titik nadir, topeng kesombongannya retak saat ia bersentuhan dengan wajah-wajah tulus di pinggir jalan. Kini, Talita ingin menebus dosanya. Mampukah Talita membuktikan bahwa senja kali ini benar-benar mengajarkannya arti berbagi yang sesungguhnya, ataukah ia akan tenggelam selamanya oleh bayang-bayang masa lalunya sendiri yang belum tuntas?
Mentari menggantung rendah di cakrawala, menyebarkan rona jingga yang hangat di atas plafon kamar Talita Haura.
Gadis itu baru saja menginjak usia lima belas tahun. Talita adalah sosok yang aktif di media sosial. Ia dikenal sebagai pengikut setia berbagai tantangan daring.
Pada awal tahun 2026 ini, ia baru saja merayakan kemenangannya menyelesaikan tantangan memakan ramen dengan tingkat kepedasan maksimal. Meski perutnya sempat melilit selama dua hari, rasa bangga saat melihat jumlah likes dan komentar di unggahannya mampu menghapus rasa sakit itu.
Sambil bersandar di sofa empuk ruang tamu, jempolnya lincah mengusap layar ponselnya. Matanya tiba-tiba berbinar saat menemukan sebuah poster digital berwarna pastel dengan tipografi estetik.
"Challenge Takjil Ramadhan: Temukan Takjil Terenak Selama Bulan Suci," gumamnya membaca judul pamflet tersebut.
Talita menggigit bibir bawahnya, menimbang-nimbang. "Hmm, ikut nggak, ya?" tanyanya pada keheningan ruangan.
Ia membaca detail instruksinya dengan teliti. "Kalau di keterangan, pilihannya bisa beli takjil atau membuat takjil terenak. Dari kedua kategori itu, jelas aku pilih beli. Untuk apa susah-susah membuat sendiri? Males banget kalau harus berurusan dengan dapur yang panas," ucapnya penuh percaya diri.
"Ma," panggil Talita dengan suara melengking.
"Hmm, apa, Sayang?" jawab Eva, ibunya, yang muncul dari arah dapur.
Talita segera menyodorkan ponselnya, memperlihatkan layar yang terang itu tepat di depan wajah sang ibu. "Ma, lihat! Ada challenge baru yang aku temukan."
Eva mendekatkan wajah ke layar untuk melihat lebih jelas. "Menarik sih, Sayang. Tapi coba baca lagi syaratnya. Di sini tertulis kamu harus membentuk tim yang beranggotakan lima orang. Memangnya kalau kamu ikut, kamu mau mengajak siapa?" tanya Eva.
Talita terdiam cukup lama. Otaknya mulai berputar. Namun, belum sempat ia menjawab, Eva melanjutkan kalimatnya dengan nada yang lebih serius dan tetap lembut. "Saran Mama, kamu tidak usah ikut. Bukan apa-apa, Nak, tapi kamu ini dari dulu hampir tidak pernah puasa penuh. Untuk apa orang yang tidak ikut puasa malah sibuk ikut challenge ini?" ujar Eva jujur.
Wajah Talita memerah karena kesal. "Kok Mama malah ngomong gitu, sih! Mama meremehkan aku?"
"Lha, memang kenyataannya begitu, kan? Kemarin saja kamu bilang ke Mama kalau tahun ini malas puasa karena cuaca sedang panas-panasnya. Hayoo, masih ingat tidak?" goda Eva sambil tersenyum simpul.
"Iya sih, Ma. Itu kan kemarin! Tapi sekarang aku sudah berubah pikiran. Aku ini sudah gede, aku mau membuktikan kalau aku bisa puasa penuh tahun ini, Ma. Dan challenge ini akan jadi penyemangatku," ucap Talita dengan nada tinggi, mencoba meyakinkan dirinya sendiri dan ibunya.
Eva menaikkan sebelah alisnya. "Yakin?"
Talita mengangguk dengan semangat yang meluap-luap. "Yakin, Ma!"
Talita langsung bangkit dari sofa dan berlari menuju kamarnya tanpa menoleh lagi.
"Siapa yang harus aku ajak?" gumamnya sambil mondar-mandir di dalam kamarnya.
"Oh, iya! Firman! Dia juga suka ikut challenge online. Dia pasti mau," pikirnya.
Firman adalah teman sekelasnya yang juga menggemari tantangan daring. "Tapi baru dua orang. Aku butuh tiga lagi. Siapa, ya?"
Tak lama, terdengar suara pintu depan terbuka.
"Assalamu'alaikum."
Suara bariton itu adalah milik Reza, ayah Talita. Tanpa membuang waktu, Talita berlari keluar kamar dan langsung menghambur memeluk ayahnya. "Yes, Papa sudah pulang!"
"Gimana sekolahnya tadi?" tanya Reza sambil mengusap kepala putrinya.
"Baik, Pa," jawab Talita cepat. Ia menunggu ayahnya duduk di sofa sebelum mulai melancarkan aksinya.
"Pa, lihat ini," ucapnya sambil menunjukkan poster challenge tadi.
Reza membaca sekilas, lalu menghela napas panjang. "Kamu mau ikut?"
Talita mengangguk.
"Udahlah, Papa sebenarnya kurang suka melihatmu mengikuti challenge-challenge seperti ini. Apalagi kemarin-kemarin kamu melakukan hal yang aneh dan berbahaya seperti makan pedas berlebihan. Apa manfaatnya?" ujar Reza dengan nada yang cukup tegas.
Seketika, senyum di wajah Talita lenyap. Kata-kata ayahnya terasa seperti siraman air es yang mematikan semangatnya.
"Mas, kok kamu malah ngomong gitu, sih? Ini kan hal positif," tegur Eva yang baru datang dari dapur membawa minuman.
Melihat mata putrinya yang mulai berkaca-kaca, Reza merasa menyesal. Ia segera melunakkan suaranya. "Maafkan ucapan Papa tadi, ya."
Talita tidak merespon. Tanpa berkata sepatah kata pun, ia beranjak pergi meninggalkan ruang tamu.
"Dia pasti sangat tersinggung," bisik Eva pada suaminya.
Talita melangkah keluar rumah dengan perasaan dongkol. Ia membuka gerbang perlahan, membiarkan angin sore menerpa wajahnya.
"Papa jahat. Apa salahnya mencoba sesuatu yang baru?" ucap lirihnya sambil menendang kerikil.
Ramadan tinggal hitungan hari. Aroma bulan suci sudah begitu terasa.
"Eh, Tal, lagi ngapain di situ?"
Sebuah suara mengagetkannya. Itu Isti, teman dekat sekaligus tetangganya.
Talita mencoba tersenyum meski terpaksa. "Lagi bosan saja di rumah."
"Eh, kamu tahu kan besok malam sudah mulai tarawih? Kita berangkat tarawih bareng, yuk!" ajak Isti dengan antusias.
"Ayok! Boleh banget!" sahut Talita dengan nada yang jauh lebih ceria.
"Nah, kalau gitu kamu siap-siap lebih awal besok malam. Jangan dandan kelamaan," canda Isti.
"Siap, aman deh pokoknya," balas Talita.
"Ngomong-ngomong, Ramadan besok kamu bakal puasa penuh, kan?" tanya Isti menyelidiki.
"Iya dong!" jawab Talita cepat, meski ada sedikit rasa gugup di hatinya.
Setelah itu, Talita sibuk dengan ponselnya. Ia berpose dengan latar belakang matahari terbenam, mengabadikan momen itu untuk para pengikutnya di media sosial.
Isti yang melihat tingkah temannya hanya bisa menggelengkan kepala dan memilih pergi diam-diam.
"Is, lihat! Bagus tidak foto yang ini?" tanya Talita tanpa menoleh. Namun, saat ia berpaling, Isti sudah tidak ada. "Ih, nyebelin banget! Pergi tidak bilang-bilang," gerutunya.
Talita kembali ke rumah dengan perasaan campur aduk. Setibanya di kamar, ia langsung merebahkan diri di tempat tidur. Pikirannya kembali ke syarat challenge itu.
"Baru ada aku dan mungkin Firman. Siapa lagi?" gumamnya.
Ketukan di pintu membuyarkan lamunannya. "Sayang, kamu lagi apa di dalam?" Itu suara Eva.
Talita tetap diam.
"Makan dulu, yuk. Ini Budhe Asiyah barusan bikin masakan enak, ada opor ayam kesukaanmu," lanjut Eva membujuk.
Talita benar-benar sedang tidak ingin bicara dengan siapa pun. Namun, ibunya tak menyerah dan terus mengetuk.
"Aku tidak lapar, Ma!" teriak Talita akhirnya. Ia menutup telinganya dengan bantal.
Saat ia terbangun, jam di dinding sudah menunjukkan pukul empat sore lewat sedikit. Perutnya bunyi keroncongan.
Dengan langkah gontai, ia keluar menuju ruang makan. Di sana, piring berisi opor ayam masih tertutup rapi. Ia duduk dan mulai makan dengan lahap.
Ia memang punya makanan di depannya, tapi ia belum punya ‘pasukan’ untuk memenangkan challenge takjil itu.

khilda baiti
5 Pengikut · 4 Novel