Aku merasa diriku sepenuhnya gagal, kalah, dan tertinggal dari orang-orang seusiaku. Aku bahkan berpikir bahwa sudah pasti kalah telak dalam bersaing. Akhir-akhir ini aku selalu memikirkan satu hal, tentang apakah pada akhirnya manusia memang harus menjadi realistis dan begitu saja mengubur mimpinya?
Namaku Nara Adrian.
Aku seorang pria berusia 23 tahun, aku tinggal di kota yang serba cepat, sedikit saja berleha-leha akan sangat tertinggal jauh dari orang-orang di sekitarku. Ambisiku telah tumbuh merekah di kota ini, bercita-cita menjadi penyanyi bintang ternama.
Aku gemar bernyanyi sedari kecil, bernyanyi adalah ungkapan setiap perasaan yang tak bisa kuucapkan secara langsung. Namun, saat ini aku berhenti bernyanyi, setelah gagal meraih gelar juara dari audisi-audisi yang aku ikuti.
Akhirnya aku memilih untuk bekerja di tempat yang sedikitpun tak pernah kuharapkan. Aku berusaha menikmatinya, memasang wajah dengan senyum yang persis sama sejak satu setengah tahun yang lalu, terasa palsu dan kehilangan irama hidup. Dari seorang yang bercita-cita menjadi bintang musisi, berbelot menjadi staff IT. Cukup menyebalkan.
Saat ini, aku terduduk tenang di ruangan kerjaku, merapikan meja dari beberapa benda yang berserakkan, lalu memandangi langit-langit ruangan sembari menghela napas. Sesekali aku melihat ke arah dinding kaca yang sedikit-sedikit mempertontonkan lalu lintas jalanan.
Kini pasang mataku kualihkan pada lapisan pekerjaan, kuhitung ada satu sampai dua pekerjaan yang harus kuselesaikan. Setelah memahaminya aku bergegas menyimpan jemariku baik-baik di atas keyboard komputer, siap untuk mulai bekerja.
Mentari terus merengsek turun, seolah akan bersembunyi di balik gedung-gedung. Aku pun berusaha bergerak dengan ritme cepat, berharap secepat mungkin menyelesaikan pekerjaan sebelum cahaya mentari benar-benar berwarna kuning keemasan. Sekali-kali aku mengintip jam yang bersandar di lenganku, berharap waktu menunjukkan saatnya untuk pulang.
"Hei, Nara!" sapa seseorang di tengah pekerjaanku.
"Eh, Deya! ada apa?" tanyaku.
"sepuluh hari lagi tim marketing mau ngadain acara konser. Sekalian buat promosiin produk kita yang terbaru." jawab Deya.
Aku menatap Deya beberapa detik sebelum berkata, "Wah, seru tuh."
"Nanti Nara nyanyi, ya. Soalnya selain penampilan dari penyanyi yang kita undang, atasan kita minta salah satu staff kita buat tampil," ucap pelan Deya lalu berhenti bicara cukup lama sembari menatapku. "Mau, ya. Please," tambahnya sembari sedikit memohon.
Aku termangu mendengar tawaran Deya, sejenak mengambil jeda untuk menimbang. Deya teman sepekerjaanku, ia satu-satunya perempuan yang sering berbincang denganku. Bahkan dulu dia sempat membaca lirik-lirik lagu buatanku. ya, meskipun lagu-lagu itu sudah aku buang begitu jauh dari hidupku.
"Aku pikir-pikir dulu deh, ya. Besok aku kabarin bisa apa enggaknya," jawabku setelah beberapa jeda waktu.
"Oke, deh," timpal Deya sembari sedikit memasang wajah kecewa, "atau nanti pulang kerja mau ngobrol dulu? Siapa tahu aku bisa bantu kamu buat yakin bernyanyi lagi, Nar," sambungnya.
"Boleh aja, sih. Pulang kerja sambil makan di tempat biasa, ya," jawabku pelan.
"Oke, deh," ucap Deya sembari siap-siap bergegas kembali ke ruangan divisi kerjanya.
"Gas-in." Singkatku sambil melambai lembut kepada Deya yang sudah mulai bergegas ke luar ruangan divisi kerjaku.
Selepas Deya pergi, aku kembali menenggelamkan diri pada pekerjaan yang harus kuselesaikan. Memperbaiki sistem aplikasi surat menyurat antar divisi yang terdapat bug dan mendesain arsitektur jaringan untuk di ruangan kerja yang baru.
Tugas demi tugas sudah kuselesaikan. Jam menunjukkan pukul 17.00, waktu yang pas untuk segera bergegas dari ruangan kerja ini. Tanpa berlama-lama aku merapikan meja kerja, melipat-lipat setiap peralatan kerja yang perlu kubawa pulang, kemudian bergegas setelah semuanya selesai dibereskan.
Meja dengan perangkat komputer di atasnya berganti dengan meja bundar kecil yang tersuguh dua cangkir kopi dan dua piring cemilan di Titik Temu Coffee Shop. Tempat yang aku dan Deya pilih untuk membicarakan topik-topik yang menarik untuk kami bahas. Di sini, aku dan Deya memiliki kebiasaan untuk saling bertukar pandangan. Kami berusaha menemukan titik temu, diantara salah makna yang seringkali beredar.
Di Titik Temu Coffee Shop kami duduk dengan tenang berteman kopi dan cemilan. Aku sangat menikmati konsep indoor forest tempat ini, terkesan sejuk dengan dekorasi-dekorasi tanaman hijau, ditambah dinding kaca yang menampilkan jalanan dan segarnya bukit-bukit hijau.
"Nara. Apa alasan kamu berhenti bernyanyi?" Deya membuka perbincangan di antara kami.
"Aku ngerasa bahwa udah gak ada lagi kemungkinan buat aku berhasil jadi penyanyi, Dey," jawabku sembari perlahan menunduk, "aku mulai merasa realistis dengan semua keadaan ini."
"Hmm, baik. Sekarang beri aku jawaban, kamu ngerasa cukup cuma aku dengar atau kamu mau aku juga ngasih pandangan aku tentang masalah kamu?" Deya menatap kedua mataku.
"Ya, tentu pandangan kamu salah satu suguhan di sini, Dey. Jadi, apa pandangan kamu tentang rasa pesimisku?" Aku bertanya balik.
"Pertama, aku gak akan bahas dulu bahwa kamu salah karena menjadi pesimistis. Kenapa? Karena yang paling penting menurutku adalah kamu udah jadi budak dari kegagalan kamu sendiri," sanggah Deya.
"Apa maksud dari aku jadi budak kegagalanku sendiri Dey?" Aku bertanya sambil mengerutkan dahiku.
"Karena kamu didikte oleh waktu lampaumu sendiri, Nara!" sahut tegas Deya, "kamu bilang kamu ngerasa bahwa udah gak ada lagi kemungkinan buat kamu berhasil jadi penyanyi. Pernyataan kamu yang kayak gitu nunjukin kalau kamu gak lagi menikmati nyanyianmu sendiri karena kamu pernah gagal. Apa kamu perlu lebih jelas tentang itu?" Deya berusaha memperjelas.
"Ya, tolong lebih beri tahu aku lebih jelas, apa maksud dari aku didikte waktu lampauku sendiri dan apa maksud dari aku tidak menikmati nyanyianku lagi!" ucapku sedikit memohon.
Deya meminum kopinya sejenak, lalu bertutur, "Sebutlah audisi terakhir kamu di ajang nasional satu setengah tahun yang lalu. Kamu pernah bilang, itu audisi terakhir kamu. Dan semenjak hari audisi itu sampai sekarang, kamu mengecap diri kamu sebagai orang yang akan gagal, persis kayak kamu di waktu satu setengah tahun yang lalu. Itu maksud aku bahwa kamu didikte masa lampaumu sendiri. Kamu berpandangan seolah-olah masa lalu kamu sepenuhnya jadi penyebab kamu yang sekarang. Nara! Kamu gak berarti sebab dari masa lalu kamu, kamu cuma salah memaknai."
"Jadi menurut kamu, masa lampau aku gak harus jadi acuan aku sekarang, gitu?" tanyaku.
"Ya, betul. Ga harus, Nara. Rasa trauma kamu itu gak akan pernah bisa kamu ilangin selagi kamu gak bisa menafsirkan itu dengan makna yang lain." Deya berhenti sejenak, mengunyah beberapa cemilan dan meminum kopinya. "Rasa trauma itu hadir karena kita sebagai manusia cenderung berpikir ada sebab maka ada akibat, seakan-akan jalur takdir telah menjadi gagal hanya karena di masa lampau kita pernah gagal," sambungnya.
"Jadi, maksud kamu aku harus kembali menafsirkan kegagalan-kegagalan yang pernah aku alamin, karena kalau gak menafsirkan kegagalan-kegagalan itu menjadi suatu makna yang lain dan lebih, berarti aku akan selalu merasa takut buat nyoba sesuatu lagi?" Aku bertanya kembali untuk memperjelas.
"Ya, betul. Kamu harus kembali menafsirkan apa yang udah kamu lakuin jadi suatu makna yang bisa bikin hidup kamu bernyanyi lagi, Nar," sahut Deya.
Aku Nara. Waktu berbisik padaku malam ini, di Titik Temu Coffee Shop, bahwa manusia bukan budak sebuah sebab yang terjadi di masa lampau kita. Manusia akan selalu bertumbuh apabila dapat memaknai secara bijak hal-hal yang telah dilaluinya.
"Jadi, siap buat nyanyi di event nanti, Nar?" tanya Deya kembali tentang konser yang sudah kami bicarakan di kantor tadi.
"Buat jawabannya, besok, ya. Soalnya ada yang aku mau bahas lagi," sahutku.
"Hmm." Deya hanya bergumam tanpa merespon lanjut.
Aku mengambil napas sejenak, mengamati sekeliling yang mulai terasa ramai.
Ada beragam ekspresi di antara para pengunjung lainnya, tetapi kulihat lamat-lamat ada lebih banyak sekali ekspresi yang menyiratkan putus asa.
Tentang itu aku sudah lama memiliki sebuah pertanyaan, apakah sebenarnya manusia merasa gagal justru karena rasa optimisme?