


oleh Vya Kim · 24 Bab
Di saat Bin dan Ayu harus berpisah sementara, Iky hadir sebagai seseorang yang selalu Ayu andalkan. Lantas bagaimana Ayu harus bersikap? Baca kisah lengkapnya di sini.
Akhirnya, motor berhenti tepat di depan rumah. Aku turun dengan berat hati, sementara Bin ikut mematikan mesin dan turun juga.
Begitu masuk, ibu yang lagi duduk di ruang tamu langsung berdiri menyambut kami hangat, seperti biasanya.
Bin dan aku duduk di seberang ibu sekarang, "Bu, Bin mau bicara hal penting ...," katanya, bikin ibu bertanya lebih serius.
"Ibu, Ayu sama saya sementara harus pisah dulu."
Ibu mengerutkan kening, matanya berpindah-pindah antara aku dan Bin, seolah berusaha memahami maksudnya.
"Bukan karena kita ada masalah, Bu," lanjutnya cepat, seakan nggak mau ibu salah paham. "Tapi ini semua demi kebaikan kita. Biar kita bisa fokus dulu sama ujian, terus fokus masuk kuliah ..., saya kayaknya harus ambil ujian dari rumah ..., saya juga butuh ketenangan setelah semua ini."
Aku menunduk, mendengarkan dia bicara dengan penuh ketulusan. Bin nggak pernah berubah, selalu memikirkan masa depan aku lebih dari dirinya sendiri. Tapi juga sekaligus aku nyeri denger batinnya yang ternyata nggak baik-baik aja.
Kehadiranku aja nggak cukup untuk membalut luka yang dia punya.
Dia menghela napas sebelum melanjutkan, "Sekali-kali, saya pasti kasih kabar. Saya mau bebenah dulu, Bu ... biar bisa membangun kehidupan sama Ayu yang lebih baik di masa depan."
Kata-katanya menusuk hatiku dalam-dalam. Rasanya, aku jatuh cinta lagi untuk kedua kalinya sama dia.
Bin yang ada di depanku sekarang bukan sekadar cowok berandalan yang suka kebut-kebutan di jalan. Dia udah berubah. Dia bukan lagi anak geng yang cuma hidup untuk kebebasan sesaat. Dia dewasa, bertanggung jawab, dan tahu apa yang dia mau.
Mungkin keadaan yang memaksa dia jadi begini. Mungkin karena semua yang terjadi selama ini bikin dia sadar bahwa ada hal-hal yang lebih penting dari sekadar mencari kebebasan.
Ibu mengangguk pelan. Ada gurat kesedihan di wajahnya, tapi dia tersenyum kecil.
"Ibu ngerti, Nak," katanya dengan suara bergetar. "Kita akan tetap membuka pintu buat kamu kapan aja."
Mata ibu mulai basah, dan dia menyeka air matanya dengan ujung jarinya. "Ibu udah anggap kamu jadi anak ibu juga, Bin ..."
Aku nggak tahan. Air mata yang dari tadi aku tahan akhirnya jatuh juga.
Bin menatap ibu dengan penuh rasa hormat, lalu mengangguk mantap. "Terima kasih, Bu."
Dia nggak banyak bicara lagi setelah itu. Hanya menatap aku sebentar, lalu menggenggam tanganku erat untuk terakhir kalinya sebelum dia benar-benar ...
Pergi ...
**
Hari-hari aku jalani tanpa melihat Bin, baik di sekolah maupun di rumah.
Setiap pagi, aku masuk kelas dan mendapati bangku kosong di belakangku, bekas tempat Bin duduk bersama Nunu.
Rasanya ada yang hilang, ada yang sepi. Aku nggak terbiasa dengan ini. Biasanya, aku bisa dengerin suara tawa kecil mereka, atau ngerasa gangguan kecil dari Bin yang suka nyolek punggung aku Cuma buat godain. Sekarang, bangku itu kosong, jadi saksi bisu kepergian Bin.
Hari ini, setelah pelajaran selesai, aku nggak tahan lagi. Aku noleh ke belakang, ke arah Nunu yang lagi sibuk ngeluarin buku dari tasnya.
“Nu, kamu masih sering ketemu Bin nggak?” tanyaku, berharap setidaknya dia punya kabar tentang Bin.
Nunu berhenti sejenak, lalu menghela napas. “Sekarang nggak ..., dia juga udah bilang ke kita, dia mau break dulu dari semua. Dia nggak ke basecamp, nongol di grup chat juga enggak,” katanya pelan.
Aku lihat wajahnya juga nggak jauh beda dari aku, sama-sama sedih, sama-sama kehilangan.
“Iya ....” Aku mengangguk kecil, berusaha terlihat tenang. “Ya udah, kita biarin dia fokus dulu ...”
Padahal dalam hati, aku nyesek banget. Kangen Bin.
Hari-hariku terus berjalan dengan rutinitas yang sama. Aku belajar bareng Siska, Arum, dan anak-anak GGS lain. Kita sering ngumpul buat belajar kelompok di pinggir lapangan sekolah, tempat terakhir aku bareng Bin sebelum dia pergi.
Tapi setiap kali kita break dari belajar, aku pasti duduk di sudut yang sama, nyeruput susu kotak yang biasa aku beli bareng Bin.
Aku nggak tahu kenapa, tapi rasanya kayak aku lagi nunggu sesuatu yang nggak pasti.
Waktu terus berjalan, tapi hatiku selalu berhenti di momen terakhir itu, di detik-detik terakhir aku bareng Bin.
Hari itu, aku duduk di pinggir lapangan, mataku menatap kosong ke arah rumput yang mulai kecokelatan karena kemarau. Iky duduk di sebelahku, sama-sama menerawang ke arah lapangan yang kosong.
Dia nggak langsung ngomong apa-apa, Cuma menarik napas panjang lalu membuangnya perlahan. Kayak ngelepasin beban yang selama ini dia tahan.
“Aku tahu kamu kangen dia ...,” katanya akhirnya. Suaranya pelan, tapi jelas.
“Jangan risau. Dia pergi untuk kembali ... Kamu cuma harus sabar.”
Aku nggak langsung jawab. Aku masih diam, masih membiarkan angin sore menerpa wajahku. Mataku tetap terpaku ke lapangan, tapi pikiranku melayang jauh.
“Ya, aku tahu ....” Akhirnya aku membuka suara, tapi terdengar lirih. “Yang bikin aku sedih itu, aku nggak tahu pasti sampai kapan aku harus nunggu dia ...”
Dan itu yang paling nyakitin. Bukan perpisahan, tapi ketidakpastian.
“Guys!”
Teriakan Iky tiba-tiba memecah suasana sedih tadi, menggema di antara mereka yang masih sibuk sama buku-buku di pangkuan. Spontan, kita semua noleh ke arahnya.
“Udah dulu belajarnya, otak kita juga perlu refresh! Ayo main! Seneng-seneng sebelum ujian!” katanya dengan penuh semangat.
Aku yang awalnya masih nyesek tadi langsung senyum kecil. Iky berdiri, lalu mulai tepuk tangan keras-keras, seolah mau membakar semangat kita semua.
“LET’S GO!” dia teriak kayak suporter bola yang lagi dukung timnya di final Piala Dunia.
Dan gilanya lagi, Bang M langsung nyahut dengan suara lebih kenceng, “WOHOOOO!” suaranya melengking nggak jelas, beneran kayak orang utan lagi adu suara di Ragunan.

Vya Kim
41 Pengikut · 6 Novel