

Arkana dan Renita berteman sejak kecil. Mereka bertetangga. Setelah dewasa mereka bertemu kembali di kota lain. Arkana bekerja, Renita kuliah. Rasa sayang Arkana berubah jadi cinta. Namun, tidak demikian dengan Renita. Dia telah menambatkan hatinya pada pemuda lain. Karena beda paham akhirnya Renita dan Arkana saling menjauh. Namun, justru ibu-ibu mereka ingin menjodohkan keduanya. Lalu bagaimana kelanjutan hubungan Arkana dan Renita?
“Bu, waktunya sudah tiba,” panggil Renita dengan suara gemetar.
“Apa sudah bisa dicek, Nduk?”
“Iya, Bu. Ini tinggal klik lihat hasil.”
“Ya Allah, semoga hasilnya baik,” doa Bu Lastri sambil berdiri di samping putrinya.
Renita menarik napas panjang, lalu menggerakkan kursor ke tombol “Lihat Hasil.” Dengan satu klik, layar berubah, menampilkan tulisan besar-besar.
“Selamat! Anda dinyatakan lulus seleksi di Universitas Nusantara, Program Studi Ilmu Peternakan.”
“Bu! Aku lolos! Aku diterima!”
Bu Lastri langsung memekik bahagia. “Alhamdulillah! Gusti, terima kasih! Renita, kamu berhasil, Nduk! Ibu bangga sekali!”
Renita berdiri, memeluk ibunya erat. “Ini semua berkat doa Ibu dan Bapak. Aku nggak mungkin bisa tanpa kalian.”
“Cepat, kita kasih tahu bapakmu!” seru Bu Lastri sambil menarik tangan Renita.
Pak Sastro menoleh ketika mendengar langkah tergesa-gesa mereka. “Ada apa, Bu? Renita? Kok kelihatan senang sekali?”
“Pak, Renita diterima di universitas negeri!” seru Bu Lastri dengan wajah berseri-seri.
“Diterima? Betul itu, Nduk?”
“Betul, Pak."
“Alhamdulillah, Nak."
“Bapak bangga padamu. Kamu sudah membuat keluarga kita bahagia. Kamu harus ingat, ini baru awal, Nduk,” ucap Pak Sastro dengan lembut. ”Kamu harus lebih bersemangat belajar!"
“Aku janji, Pak. Aku akan belajar lebih giat lagi.”
Berita gembira itu tidak hanya membuat keluarga Renita bersuka-cita, tetapi juga sampai ke telinga Arkana, seorang pemuda yang diam-diam ikut merasa lega mendengar kabar tersebut. Arkana telah menjadi bagian penting dalam perjalanan Renita menuju keberhasilannya.
Sore itu, setelah mendapat kabar dari ayah Renita, Arkana langsung mengambil ponselnya. dan menelepon.
"Assalamualaikum, Renita!" seru Arkana dengan nada penuh semangat ketika panggilannya diangkat.
"Waalaikumsalam, Mas Arka!" jawab Renita, suaranya terdengar ceria.
"Selamat, ya! Aku dengar dari bapakmu, kamu lolos tes," kata Arkana dengan nada tulus.
"Iya, alhamdulillah. Terima kasih ya, Mas. Kalau nggak ada kamu yang nganterin ke sana-sini dan bantu kasih semangat, aku mungkin nggak akan setenang ini waktu tes."
"Ah, nggaklah. Itu semua usaha dan doa kamu sendiri. Aku cuma jadi sopir dadakan."
"Sopir? Kalau nggak ada 'sopir', aku bisa terlambat ke lokasi tes waktu itu. Bukankah kamu bahkan rela nemenin aku belajar sampai malam di rumah?"
"Yang penting sekarang kamu sudah berhasil, Ren."
Arkana pulang kampung dan menyempatkan main ke rumah Renita.
Dia sedang duduk santai di beranda rumah Renita, menikmati segelas teh hangat yang disuguhkan ibu Renita.
Renita keluar dari dalam rumah sambil membawa sepiring pisang goreng.
"Aduh, senangnya yang lolos tes PTN," ucap Arkana tiba-tiba, suaranya ringan tapi penuh arti. "Selamat ya, Dek!"
"Terima kasih, Mas. Kalau nggak ada Mas Arkana, mungkin aku nggak akan seberhasil ini."
"Ah, itu semua karena usaha kamu sendiri. Aku cuma bantu sedikit aja," jawab Arkana sambil mengangkat gelas tehnya.
"Sedikit? Mas Arkana tuh yang nganterin aku ke mana-mana waktu itu. Kalau nggak ada Mas, aku nggak tahu gimana caranya cari lokasi ujian, belum lagi rasanya grogi kalau nggak ada yang nemenin."
Arkana tertawa kecil. "Ya wajarlah kalo aku bantu, bukankah kita sudah berteman dari kecil."
"Kalau gitu nanti anterin aku lagi ya, Mas, cari kos-kosan!" ujar Renita, nada suaranya seperti anak kecil yang meminta sesuatu dengan penuh antusias.
"Iya, siap! Kalau buat Renita mah, apa sih yang nggak?" kata Arkana sambil tersenyum, membuat Renita sedikit salah tingkah.
"Makasih, Mas. Aku belum tahu harus mulai dari mana nanti. Surabaya itu besar, beda sama di sini," kata Renita pelan, seolah berbicara pada dirinya sendiri.
Arkana menatap Renita dengan lembut. "Nggak usah khawatir. Bukankah Mas sudah tinggal lama di sana. Kita bisa cari tempat yang aman, dekat kampus juga."
"Mau ke Surabaya kapan, Mas?" tanya Renita, mencoba mengalihkan perasaan canggungnya.
"Besok aku balik ke Surabaya," jawab Arkana.
Renata tampak berpikir sejenak, lalu tersenyum kecil. "Ya deh, bareng kalau gitu. Aku belum berani naik bis sendiri."
Arkana mengangguk mantap. "Siap, bareng. Nanti kita berangkat pagi ya, biar nggak terlalu siang sampai sana."
"Nak Arkana, maaf ya jadi ngerepotin lagi. Nitip Renata, kalo di sana dia bertingkah macem-macem jewer aja kupingnya," kata Bu Lastri.
"Ih ... apaan sih Ibu ini. Emang aku anak kecil yang masih nakal, pakai dijewer segala."
"Iya, kamu tuh suka bertindak semau kamu sendiri. Kalo sudah punya keinginan keras kepala, susah untuk dibilangin. Untung otakmu encer, masih ada yang bisa dibanggakan," ujar ibu Renita.
Arkana dan Renata telah berada di Surabaya.
"Ini, Dek, kos-kosannya," kata Arkana sambil mematikan mesin motor. "Ayo turun, kita masuk."
"Mas, tempat ini jauh nggak dari rumah Mas Arkana?" tanya Renita, memecah keheningan. "Kalau ada apa-apa, gimana?"
"Nggak jauh kok, Dek. Nanti tiap minggu Mas bakal tengok ke sini, jadi kamu nggak usah khawatir."
Renita mengangguk, meski wajahnya masih tampak ragu. "Bener ya? Jangan sampai ganggu Mas Arkana kerja."
"Nggak, Dek," jawab Arkana tegas. "Bukankah Mas sudah janji sama bapakmu buat jaga kamu di sini."
Hati Renata sedikit tenang mendengar jawaban itu. Namun, perasaan sungkan mulai muncul. "Ya deh. Udah, Mas. Kalau mau pulang, pulang aja. Makasih banyak ya udah bantuin aku sampai sini."
Arkana tertawa kecil, menyadari nada Renata yang seolah ingin mengusirnya secara halus. "Aku diusir nih?" tanyanya sambil memasang wajah pura-pura sedih.
"Hehehe ... bukan begitu, Mas," jawab Renita sambil tersenyum canggung. "Mas Arkana kan juga harus kerja. Masa ngurusin aku terus? Aku nggak enak sama keluarga Mas Arkana."
Arkana menghela napas panjang, lalu berdiri tegak. "Ya udah, kalau gitu aku pulang. Tapi inget, kalau ada apa-apa, langsung telepon Mas ya, Dek."
Renata mengangguk pelan. "Iya, Mas. Makasih ya, sekali lagi."
Arkana melangkah keluar kamar, lalu menoleh sejenak sebelum pergi. "Assalamualaikum, Renita. Jaga diri baik-baik."
"Waalaikumsalam," jawab Renita pelan, memandangi Arkana yang berjalan ke arah motornya.
Di dalam hati, ia berbisik penuh syukur, "Terima kasih, Mas Arkana. Semoga aku bisa mandiri dan nggak merepotkanmu lagi."
Malam itu, suara motor Arkana berhenti di depan pagar kos Renita. Ia menurunkan standar motornya dan mengedarkan pandangan ke sekitar.
Bangunan kos terlihat sepi, hanya beberapa lampu kamar yang masih menyala. Ia melangkah ke pintu kos dan mengetuk pelan.
Renita muncul dari dalam, wajahnya terlihat cerah meski sedikit bingung. "Eh, Mas Arkana sudah ada di sini. Ini malam Minggu, lho. Nggak ngapel ta?" tanyanya polos.
Arkana tersenyum, mengangkat alis sambil menjawab santai, "Lha ini aku udah ngapel."
"Ye ... masa ngapel ke sini? Ya ke pacarnya Mas Arkana dong," balas Renita sambil nyengir.
Arkana tertawa kecil. Ia meletakkan helm di atas motor dan menatap Renita dengan tatapan penuh canda. "Ayo, Dek, kita jalan-jalan. Bukankah kamu belum pernah lihat suasana kota malam hari?"
Renita tampak ragu sejenak. "Nggak apa-apa ta? Aku nggak merepotkan Mas Arkana? Tapi sebenarnya aku juga pengen sih jalan-jalan. Suntuk di kamar terus."
Arkana mengangguk mantap. "Makanya buruan siap-siap! Pakai jaket, kalau perlu kaus kaki juga."
Renita tertawa mendengar perintah itu. Ia tahu Arkana sangat paham kondisinya yang tidak tahan angin malam. "Ya, Mas, tungguin. Aku ambil dulu."
Renita bergegas masuk ke kamarnya, mengambil jaket dan sepasang kaus kaki. Dengan cepat ia memakainya di depan Arkana yang menunggu di teras kos. Ia tampak bersemangat, seperti anak kecil yang hendak pergi ke taman bermain.
"Udah siap, Mas," katanya sambil merapikan jaketnya.
"Yuk!" Arkana menyerahkan helm pada Renita. "Naik yang benar ya, biar nggak jatuh. Mas nggak mau tanggung jawab kalau kamu lecet-lecet."
Ia merasa sangat nyaman bersama Arkana. Perhatian yang diberikan Arkana terasa tulus, seperti seorang kakak yang selalu menjaga adiknya.
Bahkan, teman-teman kosnya sering mengira Arkana adalah kakak Renita, karena Renita memang memperkenalkan Arkana pada teman-temannya seperti itu.

Titian
7 Pengikut · 2 Novel