


oleh J.W Hasya · 60 Bab
Diusianya yang ke 24 tahun, Khadijah belum menikah, dan itu dianggap dosa oleh kampungnya. Ketika lima lelaki berlatar berbeda datang untuk meminangnya—seorang sarjana Filsafat yang suka debat dan haus falidasi, anak Pak Camat yang penuh gengsi, anak seorang blantik sapi yang sombong, anak juragan yang haus status, hingga tukang ojek yang nekat mendatangi dukun—Kahidah tetap teguh menjaga hatinya. Lalu, hadir Zulfikar, seorang nelayan yang dulu seorang santri. Lelaki keenam yang memenangkan hati Khadijah. Hingga, pria itu meregang nyawa saat menjelang dua hari pernikahan dengan Khadijah. Bagaimana kisah Khadijah selanjutnya. Ini kisah perjalanan salah satu pembaca setia Kutu Buku.
Kampung Sukoanyar—Bodowoso, pagi ini diselimuti kabut tipis yang menggantung rendah di atas sawah-sawah basah. Suara kokok ayam jantan bersahut-sahutan bersamaan dengan lantunan ayat suci Al-Quran dari sebuah masjid tua yang berada di ujung kampung, menciptakan suasana tenang yang hanya ditemukan di sebuah pedesaan. Namun, di balik ketenangan tersebut, di balik suara lenguh ibu-ibu di pasar, ada bisik-bisik lama yang memang tak kunjung benar-benar reda:
“Eh, si Khadijah kembang desa itu, kenapa kok belum nikah juga, ya?”
“Dia orangnya pilih-pilih, belum saja ketiban pulung. Kalau udah ketiban, salah pilih, malah dapat yang nggak sesuai.”
Mungkin obrolan semacam itu, setiap hari mereka lontarkan ketika sedang bergosip. Mereka bahkan terkadang memandang Khadijah seperti gadis sombong karena mempunyai wajah ayu bak bulan di malam purnama. Sempurna.
^^^
Khadijah duduk di beranda rumah panggung milik kedua orang tuanya, mengenakan gamis berwarna hitam, dipadukan dengan sebuah kerudung berwarna putih panjang yang disampirkannya santai.
Wajahnya yang begitu bersih tanpa bedak, matanya yang begitu jernih, bak danau di sebuah pegunungan, dengan bulu mata yang begitu lentik, mengalahkan bulu mata palsu milik salah satu artis tanah air—tak pernah gagal membuat para lelaki di kampung menundukkan pandangan—atau sekadar memanjangkan lamunan.
Namun, sayang, hari ini mata itu tampak kosong. Ia baru saja menolak lamaran kelima dalam satu tahun terakhir.
“Kenapa kamu tolak lagi, sih, Nduk?” Suara lembut sang ibu, Mak Piyah, memecah pagi dari balik pintu.
Khadijah menoleh pelan, tersenyum tipis sambil memainkan ujung kukunya. “Khadijah belum sreg, Mak.”
“Usia kamu sudah dua puluh empat tahun. Kakak-kakakmu menikah sebelum usianya dua puluh tahun. Nanti kalau orang-orang bilang kamu terlalu milah-milih, piye? Apa nggak takut dicap sebagai perawan tua?”
“Khadijah bukan pilah-pilih, kok, Mak. Hanya saja memang belum menemukan yang cocok saja. Nanti kalau terlalu grusa-grusu malah takut salah pilih.” Khadijah kembali menyimpulkan senyum.
Mak Piyah terdiam, kemudian ikut duduk di sebelahnya. Angin meniup rambut halus di sisi wajah Khadijah. Dari kejauhan, suara radio tetangga menyiarkan berita; harga beras dan bahan pokok lainnya naik, serta kabar dukun di sebuah desa sebelah yang ditangkap polisi karena praktik santet.
“Bapakmu mulai gelisah, Kha. Terlebih kamu anak bungsu. Bapakmu itu bukan hanya kepala keluarga. Dia juga tempat orang nanya ini-itu. Malu dia kalau anaknya yang jadi panutan malah dicap sombong sama warga.”
Khadijah tertunduk. Ia tahu benar siapa bapaknya—Haji Maksum—sesepuh adat sekaligus imam masjid, yang suaranya masih terdengar lantang ketika memberi petuah, tapi jadi lemah ketika di hadapan satu hal; anak gadisnya yang bernama Khadijah.
“Kalau Khadijah menikah hanya karena menjaga nama baik. Itu artinya, Khadijah menyerah, dong, Mak?”
“Ya, nggak gitu juga. Coba kamu renungkan sejenak. Memangnya laki-laki seperti apa yang kamu inginkan?”
Khadijah tampak mengerutkan dahinya, lalu menggeleng pelan. “Tidak ada, Mak. Khadijah tidak pernah mengharuskan calon suami Khadijah harus kayak ini dan itu. Cukup beriman dan takut sama Gusti Allah saja, sudah cukup.” Senyum simpul kembali menghiasi wajah ayu milik Khadijah.
^^^
Di warung depan madrasah, beberapa lelaki berkumpul mengobrol sambil minum kopi pahit dan menikmati rokok lintingan. Di antara asap rokok yang menguar di udara, nama Khadijah kembali menjadi topik pembahasan.
“Ferdi ngomong lagi ke saya kemarin, kalau dia masih minat tuh sama Khadijah, anaknya Haji Maksum,” ujar seorang bapak pemilik warung yang tengah mengaduk kopi pesanan para pemuda kampung.
“Kalau si Jeki, anaknya Pak Camat?”
“Ah, itu sih, cuma paksaan saja. Si Khadijah nggak bisa dibeli dengan gengsi.”
Dari kejauhan, Sahir lewat naik motor bebeknya, membawa dua kantong kresek belanjaan dari pasar. Pria itu menunduk ketika melintasi para pemuda yang duduk di warung. Tak satu pun yang menyapa, tapi dalam hati mereka tahu; jika Sahir sebetulnya sudah begitu lama menyukai Khadijah, tentu juga ingin memiliki hati gadis berparas ayu tersebut. Tukang ojek kampung itu, selalu menjadi andalan keluarga Haji Maksum tiap butuh bantuan. Tapi derajat sosial di kampung, tidak semudah itu untuk dilewati. Sahir harus mengakui jika dirinya kalah sebelum berperang. Terlebih lagi, deretan pria yang melamar Khadijah bukan sembarang pria, mereka bahkan berasal dari status sosial yang lumayan berada.
^^^
Di setiap harinya, kala langit tampak bersih dari awan, dan hanya bintang yang bicara diam-diam, Khadijah berdiri di halaman belakang, memandangi langit yang begitu luas tanpa ujung.
“Ya Allah,” gumamnya lirih. “Kalau memang jodoh itu ada di tangan-Mu, kenapa semua yang datang hanya ingin memaksa, bukan ingin memahami?”
Dari arah kejauhan, seekor burung dares bertengger di atas pohon nangka, tatapannya begitu tajam melihat ke arah Khadijah.
Di kampung Sukoanyar, para penduduk percaya; jika burung dares datang ke rumah seseorang, maka akan ada takdir besar yang berubah. Entah jodoh atau sebuah kematian.
Dari kejauhan, dua bola mata mengintai Khadijah, pemilik bola mata yang diam-diam selalu mengaguminya, bahkan terkadang harus menekan perasaan yang membuncah saat melihat senyum Khadijah menyimpul.
Di bawah langit malam, pemilik bola mata itu mengeraskan rahangnya, dia ingin sekali meminang sang pujaan, sama seperti laki-laki lain yang dengan gagah bertamu ke rumah Haji Maksum lalu mencoba untuk meminta sang putri untuk menjadi pasangannya, meskipun pada akhirnya; Khadijah lagi-lagi harus menolak lamaran para pemuda tersebut.
“Bagaimanapun caranya, aku harus bisa mendapatkanmu, Kha,” ujarnya dengan rahang begitu mengeras.

J.W Hasya
89 Pengikut · 4 Novel