"Oper, Dika! Jangan egois, nanti kena atap rumah Pak RT lagi, habislah kita!" teriak Rian lantang di tengah lapangan tanah yang lebih mirip hamparan debu daripada lapangan sepak bola.
Dika, seorang bocah berusia sepuluh tahun dengan kaus yang sudah kehilangan warna aslinya, tidak menggubris. Matanya terkunci pada bola plastik yang sudah penyok di beberapa sisi, bola yang lebih sering ia tambal dengan lakban hitam daripada ia ganti dengan yang baru.
Dengan kelincahan yang tidak masuk akal untuk ukuran anak seumurannya, ia melakukan gerak tipu yang membuat Rian mati langkah.
Dika tidak mengoper. Ia justru melakukan akselerasi pendek, menari di antara sisa-sisa batako yang berserakan, lalu dengan satu sentuhan kaki kanan yang presisi, bola itu meluncur deras menuju gawang darurat yang ditandai dengan dua pasang sandal jepit usang.
Plak!
Bola menghantam sandal jepit kanan, tanda gol sah. Dika bersorak, meluncur dengan lutut di atas permukaan tanah yang kering dan kasar, membiarkan debu menempel di celana pendeknya yang sudah bertambal di bagian lutut.
"Itu namanya penyelesaian akhir, Rian! Bukan egois, tapi insting," seru Dika sambil terengah-engah, menghapus keringat di dahi dengan punggung tangan yang kotor.
Rian, yang hanya bisa berdiri mematung, mendengkus.
"Insting kepalamu! Itu bola sudah hampir pecah, Dika. Kalau pecah, kita mau main pakai apa? Pakai batu?"
Dika hanya tertawa renyah. Baginya, bola plastik itu adalah segalanya. Di gang sempit kawasan padat penduduk ini, di mana suara klakson motor dan teriakan pedagang kaki lima menjadi musik latar setiap hari, lapangan tanah ini adalah satu-satunya tempat di mana ia merasa menjadi raja.
Tidak ada dinding beton yang menahannya, tidak ada atap yang terlalu rendah. Hanya ada dia, bola, dan impian yang terkadang terasa jauh lebih besar daripada gang tempat ia tinggal.
Siang itu, matahari sedang berada tepat di atas kepala, membakar apa saja yang ada di bawahnya. Namun, rasa haus dan lelah tidak mampu mengalahkan hasrat Dika. Ia memungut kembali bola plastiknya, meraba bagian yang penyok, lalu mencoba membetulkannya dengan jari-jemarinya yang kurus.
"Dika! Pulang! Ibu sudah masak nasi goreng!" sebuah teriakan dari ujung gang memecah konsentrasi Dika. Itu suara Ibunya.
Dika menghela napas panjang. Ia menatap lapangan tanah itu sekali lagi, seolah sedang berpamitan dengan sebuah stadion megah yang hanya ada dalam bayangannya.
"Besok lagi, Rian. Kita latihan tendangan bebas," kata Dika sambil berlari kecil meninggalkan lapangan.
Dalam perjalanan pulang, Dika melewati bengkel kecil milik Pak Darman. Pak Darman adalah seorang mantan pemain sepak bola daerah yang kini menghabiskan masa tuanya memperbaiki rantai motor yang putus.
Pak Darman sering memperhatikan Dika dari kejauhan. Baginya, gerak kaki bocah itu memiliki ritme yang jarang ia lihat pada anak-anak lain.
"Dika!" panggil Pak Darman dengan suara beratnya yang serak.
Dika berhenti, lalu menoleh.
"Ya, Pak Darman? Ada yang bisa saya bantu?"
Pak Darman menyeka tangannya yang berlumuran oli dengan lap lusuh. Ia berjalan perlahan mendekati Dika, matanya yang tajam menatap bola plastik yang dibawa bocah itu.
"Sudah berapa lama kau main pakai bola plastik itu?"
Dika tersenyum malu.
"Sudah lama, Pak. Memangnya kenapa? Bola ini masih enak dipakai, kok."
Pak Darman menggeleng pelan.
"Bola plastik tidak akan pernah mengajarkanmu cara mengontrol bola yang sebenarnya. Ia terlalu ringan, terlalu liar. Jika kau terus mengandalkan keberuntungan, teknikmu tidak akan pernah terasah sempurna."
Dika terdiam. Kata-kata itu menohoknya. Ia sering merasa kesulitan saat harus bermain di lapangan sekolah yang menggunakan bola kulit asli, bola itu terasa terlalu berat dan tidak bisa melengkung semudah bola plastiknya.
"Lalu, saya harus bagaimana, Pak?" tanya Dika dengan nada yang mulai serius.
Pak Darman merogoh saku celananya, mengeluarkan sebuah kunci bengkel, lalu menatap Dika dengan tatapan yang sulit diartikan.
"Datanglah ke lapangan kota besok pagi sebelum matahari terbit. Bawa sepatumu. Akan kutunjukkan satu hal."
Tanpa menunggu jawaban, Pak Darman berbalik kembali ke bengkelnya, meninggalkan Dika yang terpaku di tengah gang. Dika menatap bola plastiknya, lalu menatap punggung Pak Darman yang mulai menghilang di balik bayang-bayang bengkel.
Besok pagi? Sebelum matahari terbit? Itu berarti ia harus bangun sebelum adzan subuh, sesuatu yang biasanya hanya ia lakukan saat hari raya.
Sesampainya di rumah, Dika tidak bisa fokus makan. Bayangan tentang latihan bersama Pak Darman memenuhi kepalanya.
Ia membayangkan dirinya berlari di lapangan rumput yang hijau, bukan lagi tanah yang berdebu. Ia membayangkan mengenakan sepatu sepak bola yang sebenarnya, bukan sepatu sekolah yang solnya sudah mulai mengelupas.
Malam harinya, Dika merebahkan diri di atas tikar pandan. Rumahnya yang kecil dan pengap terasa menyesakkan.
Di luar, hujan mulai turun, membentur seng atap dengan bunyi berisik yang tidak beraturan. Dika memeluk bola plastiknya, matanya menerawang ke langit-langit kamar yang penuh dengan bercak noda air.
Apakah ini awal dari segalanya? pikirnya.
Saat ia mulai memejamkan mata, sebuah suara ketukan pintu yang keras dan tergesa-gesa memecah keheningan malam. Bukan ketukan yang sopan, melainkan dobrakan yang membuat pintu kayu rumahnya bergetar hebat.
Ibu Dika berteriak dari dalam kamar, suaranya penuh ketakutan. Dika bangkit dengan jantung yang berdegup kencang.
Ia mengintip dari celah jendela yang rusak dan melihat sekelompok pria berbadan tegap dengan jaket kulit hitam sedang berdiri di depan rumahnya, memegang selembar kertas yang terlihat seperti surat penggusuran paksa.
Dika mematung. Impiannya untuk latihan besok pagi seolah sirna dalam sekejap ketika ia mendengar suara pria di luar berteriak.
"Waktunya habis! Kalian harus angkat kaki dari tanah ini sekarang juga, atau rumah ini akan kami ratakan dengan tanah malam ini juga!"