Sembilan ratus tahun merupakan waktu yang cukup lama untuk melupakan bagaimana rasanya menjadi manusia. Sudah lama dia terjebak dalam kehidupan abadi yang menyiksa.
Dia bukan siapa-siapa. Manusia? Bukan! Dialah Sang Iblis. Iblis yang lelah hidup selama ratusan tahun.
***
Kim Shin berdiri di balkon mansion yang menghadap ke utara di kota Seoul. Segelas anggur merah dipegang erat di tangannya yang tidak pernah gemetar. Malam musim dingin membawa angin yang menusuk hingga ke tulang, dan kulitnya bahkan tidak merinding. Dia sudah tidak merasakan dingin selama sembilan abad terakhir.
Hangat? Juga tidak. Dia tidak pernah merasakan apa pun yang membuat seseorang merasa hidup.
Mansionnya adalah bangunan tiga lantai dengan arsitektur gothic yang megah. Mansion itu berdiri terisolasi di perbukitan, dikelilingi pepohonan pinus tua yang sudah ada sejak ratusan tahun yang lalu.
Dari luar, tempat ini terlihat seperti kastil penyihir yang mirip seperti di negeri dongeng. Dari dalam, mansion ini adalah penjara yang dilapisi kemewahan.
Kim Shin meneguk anggurnya, merasakan cairan itu mengalir di tenggorokannya tanpa memberikan efek apa pun. Alkohol tidak memabukkan lagi baginya. Racun tidak bisa membunuhnya.
Bahkan belati yang pernah ditancapkan tepat ke jantungnya oleh seorang pembunuh bayaran tiga puluh tahun yang lalu hanya mampu membuatnya terdiam memendam kekesalan selama beberapa menit sebelum akhirnya luka di dadanya menutup sempurna.
Satu-satunya hal yang tetap ada, yang tidak pernah sembuh, adalah sebilah pedang yang secara tak kasat mata tertancap di dadanya.
Tangan Kim Shin bergerak refleks ke dadanya, merasakan bentuk gagang pedang yang menonjol di bawah kemeja sutra hitam yang dia pakai. Tidak ada darah.
Tidak ada luka yang terbuka. Hanya logam dingin yang tertanam, dan menembus jantungnya. Pedang itu tidak terlihat oleh mata manusia biasa, dan kehadirannya terasa nyata seperti napas yang tidak pernah dia butuhkan lagi.
Kutukan dari seorang dukun istana yang dendam padanya. Hadiah perpisahan dari seorang raja yang takut akan kehebatan dirinya. Kim Shin tersenyum pahit.
Meski sudah berlalu sembilan ratus tahun yang lalu, dia masih bisa mengingat dengan jelas wajah Raja Gojong, si lelaki pengecut yang memerintahkan eksekusi dirinya karena takut kekuatan, dan popularitas seorang jenderal muda bisa merebut tahtanya.
Kim Shin ingat bagaimana darah keluarganya mengalir di lantai istana marmer. Ingat bagaimana adik perempuannya yang berusia lima belas tahun menangis memohon ampun sebelum kepalanya dipenggal.
Ingat bagaimana pedang raja menusuk dadanya, tepat ke jantung, sementara mata-mata di istana hanya menunduk dengan pengecut. Dia ingat semuanya!
Hal yang paling menyakitkan adalah, Kim Shin teringat wajah DIA. Wanita yang pernah dia cintai, yang berdiri di samping raja, matanya berkaca-kaca dan tidak menangis, tidak berteriak, tidak melakukan apa pun untuk menghentikan pembantaian.
Pengkhianatan wanita itu terasa lebih dingin daripada kematian.
Kim Shin tidak mati. Tidak sepenuhnya!
Dukun istana yang merupakan seorang wanita tua dengan tatapan mata yang kosong, mengutuknya dengan mantra kuno tepat sebelum napas terakhir Kim Shin berembus.
"Kau akan hidup selamanya dengan pedang ini tertancap di dadamu," wanita itu berbisik dengan suara yang menggema. "Kau akan melihat semua yang kau cintai mati. Kau akan berjalan di bumi ini sendirian, abadi, sampai Sang Pengantin Takdir datang, dan mencabut pedang ini. Barulah kau bisa mati. Barulah kau bisa beristirahat dengan tenang."
Sejak saat itu, Kim Shin hidup, dan hidup, terus hidup.
Dia menyaksikan dinasti runtuh. Dia menyaksikan perang menghancurkan negara. Menyaksikan kota Seoul berubah dari kota kecil menjadi kota metropolis modern dengan gedung pencakar langit dan lampu neon.
Dia menyaksikan semua orang yang pernah dia kenal berubah menjadi debu. Namun, dia tetap sama. Tidak menua. Tidak mati.
"Tuan," suara rendah muncul dari balik pintu balkon yang terbuka.
Kang Jihoon. Seorang murid, dan satu-satunya manusia yang tahu tentang rahasia Kim Shin, berdiri dengan memegang tablet di tangannya. Wajah Jihoon menunjukkan ekspresi khawatir yang sudah biasa.
"Tuan, investigasi tentang arwah yang berkeliaran di distrik Gangnam sudah selesai. Seperti yang Tuan duga, ada portal kecil yang terbuka di area itu. Saya sudah menutupnya."
Kim Shin tidak berbalik. Dia bertanya, "Berapa korban?"
"Tiga orang mengalami kesurupan ringan. Tidak ada kematian," jelas Jihoon.
"Bagus!" Kim Shin meletakkan gelasnya di railing balkon. "Pastikan portal itu tidak terbuka lagi. Akhir-akhir ini, dunia arwah mulai gelisah."
"Ada yang berubah, Tuan?"
Kim Shin akhirnya berbalik, matanya yang berwarna cokelat gelap, tapi terkadang berkilau emas di bawah cahaya bulan, menatap tajam pada Jihoon.
Pemuda berusia dua puluh empat tahun itu adalah pewaris konglomerat Kang Group, dan lebih memilih menghabiskan waktunya membantu Kim Shin mengatur "masalah supernatural" di Seoul daripada duduk di ruang rapat.
"Kau merasakannya juga, kan?" tanya Kim Shin pelan. "Ada sesuatu yang aneh. Seperti alam sedang berantisipasi."
Jihoon mengangguk perlahan. "Dua minggu terakhir, arwah-arwah menjadi lebih agresif. Portal terbuka lebih sering. Kemudian, ada hal lain," Jihoon ragu sejenak. Namun, dia tetap harus memberitahu Kim Shin. "Ada rumor di antara para dukun bawah tanah."
"Rumor apa?"
"Mereka bilang, Pengantin Abadi sudah lahir."
Hening.
Kim Shin tidak bergerak, dan sesuatu di dalam dadanya, sesuatu yang sudah lama mati, berdetak. Sekali. Keras.
"Itu tidak mungkin!"