


oleh Serenity · 21 Bab
Dunia telah berubah semenjak munculnya retakan. Peperangan antara manusia dan mayat hidup terjadi di mana-mana. Di tengah kekacauan itu turunlah Wahyu, utusan dari dewa. Wahyu berkata kalau perang yang sebenarnya belum dimulai. Tugasnya di sini untuk membantu pihak yang terpilih. Wahyu turun di Kerajaan Amora. Kerajaan yang berhasil bertahan dari ‘gelombang pertama’. Kerajaan yang dalam perangnya di pimpin oleh putri sulung mereka. Putri Zaprilia Van Amor. Bagaimana kelanjutan perang itu? Bisakah putri April dan Wahyu mengubah dunia? Putri dengan masalahnya dan Utusan yang menjalankan tugasnya. Bisakah mereka bekerja sama atau justru lebih dari itu? Akan seperti apakah hubungan mereka?
Suatu hari muncul sebuah retakan di dunia. Awalnya retakan itu hanyalah celah dengan energi dimensi yang berbeda. Tidak ada yang menganggap serius itu.
Sampai ada yang keluar dari celah itu. Sesosok yang mirip dengan manusia namun mereka tidak hidup juga tidak mati. Mereka disebut mayat hidup.
Makhluk yang tidak mempunyai akal, dan akan menyerang apa saja yang ada di depannya. Seperti itulah mayat hidup.
Keberadaan mereka tidak berbahaya karena pihak kerajaan yang masih bisa menanganinya. Tapi bagaimana jika jumlah retakan yang ada bertambah banyak atau mayat hidup yang keluar yang bertambah?
Maka akan terjadi sebuah peperangan. Peperangan antara manusia dan mayat hidup yang terjadi di seluruh benua. Perang yang memakan ribuan korban jiwa dan tak tentu kapan akan berakhirnya.
‘Gelombang pertama’. Itu adalah peristiwa serangan mayat hidup yang berhasil menghilangkan separuh kerajaan dari suatu benua. Terlebih lagi kerajaan kecil. Itu adalah awal mula dari peperangan.
Kerajaan kecil yang kehabisan sumber daya baik manusia, makanan, maupun alamnya. Mereka akan hancur. Lalu itu adalah akibat dari peperangan ini.
Namun berbeda dengan kerajaan kecil lainnya. Ada satu kerajaan kecil yang mampu mempertahankan setengah penduduknya dari ‘gelombang pertama’. Di mana itu seharusnya adalah hal yang mustahil.
Seolah tak cukup dengan itu. Kerajaan satu ini kembali menggemparkan benua dengan perangnya. Alih-alih seorang raja, pangeran, marquess perang, maupun jenderal yang memimpin peperangan.
Dalam perangnya, kerajaan itu dipimpin oleh putri sulung mereka. Putri Zaprilia Van Amor. Putri April, bulan dari Kerajaan Amora. Yang dengan kharismanya di medan perang itu, ia sudah mengguncang peperangan dengan keberadaannya di garda depan.
Lalu tak terasa waktu sudah berlalu dengan begitu cepat. Perang yang mengerikan itu sudah berlalu selama lima tahun lamanya.
****
Kerajaan Amora 696, kalender Deinde.
Lautan mayat hidup yang tergenang oleh darah mereka sendiri. Perbatasan yang dipenuhi tebing batu yang gersang lagi curam itu, semakin melengkapi suasana mencekam yang ada.
Peluh yang membanjiri dahinya, rambut ikal yang kini berantakan entah ke mana tali yang mengikatnya tadi, tak lupa dengan tangan dan pedang yang bermandikan darah hitam dari para mayat hidup.
Seperti itulah penampilan biasa putri kita saat ada di medan perang. April rasa dirinya memang sudah terbiasa di medan perang alih-alih di ruang jamuan sebuah pesta.
Ia bahkan mulai hafal dengan jadwalnya dalam membasmi mayat hidup ini. Pertarungan ini adalah yang terakhir untuk hari yang masih dingin ini.
Tapi sudah selama apapun berada di medan perang dan sehafal apapun dengan musuh yang ada, kecelakan seperti luka ringan, berat, bahkan sampai kehilangan seseorang bukanlah hal yang bisa dihindari. Sepertinya awal musim semi kali ini juga bukanlah akhir dari segalanya.
Berpayungkan dengan langit yang berwarna jingga, juga matahari yang mulai terbenam. Kini April dan satu pasukan batalionnya mulai kembali ke Delici. Ibu Kota Amora.
****
Pagi datang bersama dengan matahari yang mulai menyingsing keluar menebarkan sinarnya. Udara yang ada masih dingin walau ini adalah awal musim semi.
Di pagi yang dingin ini, Kerajaan Amora sudah diramaikan oleh kabar ramalan yang ada. Hal ini tidak terjadi sekali dua kali, tapi sudah sering kali terjadi di Amora.
Semua itu tidak lepas dari pendeta kita ini. Pendeta Ren, dia sering kali berkata kalau mendapatkan ramalan tapi ramalannya ternyata hampir sebagian kosong. Jadi apapun yang ia katakan sekarang April tidak akan percaya.
Lagi pula ia tidak akan bisa pergi ke kuil kota sekarang ini. Bagaimana tidak! Di pagi yang dingin ini seharusnya seseorang masih bergelung manja di bawah selimut tebal dan kasur hangatnya.
Tapi itu bukanlah takdir manis dari putri kita. Karena di pagi yang dingin ini, April sudah harus bergelut dengan dokumen kerajaan. Kertas-kertas yang banyak itu sampai membuat April tidak terlihat karena tingginya tumpukan dokumen yang ada.
Apa April akan mengerjakan semua itu?
Tentunya tidak!! Cukup sudah dirinya berperang dengan para mayat hidup itu. Jangan sampai ia juga harus berperang dengan benda mati apalagi kertas-kertas ini. Siapa yang mau mengurusi kertas merepotkan ini di tengah peperangan!
Dia tengah melakukannya. Lupakan.
Jadi siapa yang mengerjakan semua dokumen itu? Dia adalah…
Tok tok tok.
‘’Masuk!!’’ April tak perlu menanyakan siapa itu. Karena ia sudah tahu siapa yang berani mengganggu waktunya di pagi-pagi buta kalau bukan tangan kanannya. Jhon.
‘’Ada kiriman surat dari gereja kota, pendeta Ren berpesan untuk segera membacanya,’’ ujar Jhon tanpa basa basi. Entah sudah sejak kapan ia berada di depan April. Seperti hantu saja.
‘'Terima kasih Jhon, kau bisa kembali ke ruanganmu,’’ balas April canggung. Entahlah ia selalu saja seperti itu jika berhadapan dengan paman satu ini.
Mungkin karena dulu paman ini adalah bawahan ayahnya. Berhubung raja terdahulu, ayah dari April sudah tiada karena peristiwa ‘gelombang pertama’. Raja dan ratu Amora mengorbankan diri untuk melindungi kerajaannya.
Karena itulah Jhon yang kembali mengabdi pada kerajaan memilih untuk menjadi bawahan sang putri, penguasa Amora saat ini.
Lupakan paman itu, sekarang mari kita lihat apa yang ditulis oleh pendeta kita ini. April sudah punya tebakan kalau isi surat itu tak akan jauh-jauh dari isi ramalan.
Untuk Nonaku yang sibuk.
Baru membaca baris pertama saja April sudah punya firasat buruk untuk ini. Ia merasa kalau hari ini tidak akan berjalan dengan mudah. Haruskah ia menulis surat wasiat?
Tidak! Itu tidak bisa terjadi! bagaimana dengan nasib dari batalion pasukannya, Amora rumahnya, juga orang-orang miliknya.
April segera mengenyahkan pikirannya itu. Mari kita teruskan membaca suratnya saja.
Karena Putri sekarang pasti tengah terjebak bersama dengan tumpukan dokumen milik paman Jhon itu. Putri tidak akan bisa pergi ke kuil.
Berhubung dengan itu, aku akan menuliskannya melewati surat ini saja. Putri pasti sudah mendengar kabar tentangku yang mendapatkan ramalan lagi.
Kali ini aku bisa menjamin kebenaran ramalan ini. Karena bukan hanya saya saja yang mendapatkan ramalan ini. Tiga pendeta kenalanku juga mendapat ramalan yang sama. Jadi Putri harus peduli sekarang!
Anggap saja kejadian yang lalu itu adalah kesalahan teknis dalam menangkap sinyal ramalan. Karena kali ini aku pendeta Ren yang agung sudah mempertaruhkan namaku bersama ramalan ini.
Putri harus menaikan jabatanku menjadi pendeta agung jika aku benar ya.
Ramalan itu berisi ….
‘Akan ada utusan dewa yang turun, dia akan menjadi lilin penuntun di gelapnya jalanan perang.’
Seperti itulah yang aku dapatkan. Jika Putri tidak percaya, tunggulah sampai tiga puluh menit. Akan ada kabar yang Putri terima.
Salam sayang
Pendeta cantik Kota Delici.
Seperti itulah isi surat yang ada. Percaya tidak percaya biarlah waktu yang menjawabnya.
Lalu soal jabatan, jika meramal bisa menaikan jabatan pasti sudah banyak orang yang meramal di luar sana, tak peduli walau hanya ramalan cuaca.
Nah ayo kembali pada kertas menyebalkan ini pikir April malas. Ia benar-benar ingin keluar sekarang.
Tuk tuk tuk.
Suara itu datang dari jendela ruangannya. Sepertinya ada merpati pos yang datang. Mungkin laporan bulanan yang harus ia terima sekarang.
Begitu April membuka jendela itu, dengan cepat merpati itu terbang masuk. Ada pita berwarna biru di kakinya. Pita itu menjadi penanda dari setiap pos penjagaan. Biru adalah gerbang perbatasan.
‘Lapor Ketua!
Kami menemukan seorang pria yang tidak sadarkan diri di luar gerbang, sekarang ini dia ada di tempat dokter utama.
~Pos satu’
Seperti itulah isi suratnya. Siapa sangka ramalan itu benar ini bahkan belum lima menit. Apa ia harus menaikan jabatan Ren? Tidak. Kerajaan Amora bahkan tidak cukup kaya untuk menggajinya. Mereka itu miskin, harus sadar diri!!
Nah ayo sekarang kita kunjungi dokter casanova ini, sudah lama April tidak berkunjung ke sana. Selamat tinggal kertas.

Serenity
26 Pengikut · 2 Novel