Aula utama Mansion de Valois malam itu tampak seperti relik masa lalu yang dipoles paksa hingga mengilap. Lilin-lilin kristal menggantung statis, menjatuhkan cahaya kuning pucat di atas lantai marmer yang dingin.
Di sana, di tengah kepulan aroma parfum mahal dan obrolan berbisik yang dipenuhi basa-basi protokoler, berdiri Duke Alaric de Valois.
Alaric adalah definisi dari kekakuan yang elegan. Mengenakan setelan jas hitam dengan potongan tailored yang sempurna, ia berdiri dengan punggung tegak seolah-olah ada pedang tak terlihat yang menopang tulang belakangnya.
Wajahnya, yang sering kali disebut-sebut sebagai pahatan marmer oleh para Lady di ibu kota, tidak menunjukkan emosi apa pun. Baginya, resepsi tahunan ini hanyalah sebuah kewajiban, sebuah ritual kuno untuk memamerkan silsilah yang makin hari makin terasa mencekik.
“Anda terlihat sangat menikmati malam ini, Alaric,” sindir Baroness von Heist sambil mengipasi wajahnya.
Alaric hanya menundukkan kepala sekilas, sebuah gerakan minimalis yang nyaris menghina.
“Kewajiban adalah kepuasan tersendiri, Baroness,” jawabnya dengan suara bariton yang rendah dan datar.
Ia muak. Ia muak dengan tatanan yang menuntutnya untuk terus menjaga fasad keagungan sementara di balik pintu ruang kerjanya, dokumen-dokumen utang leluhur dan laporan wilayah yang stagnan menumpuk seperti rayap yang siap meruntuhkan fondasi Valois.
Tepat saat ia hendak meneguk champagne-nya, pintu ganda aula terbuka lebar. Kedatangan seseorang biasanya tidak akan mengalihkan perhatian Alaric, tapi atmosfer di ruangan itu tiba-tiba berubah. Ada pergeseran frekuensi.
Seorang wanita melangkah masuk. Ia tidak mengenakan gaun kembang-kembang dengan renda berlapis yang lazim dipakai para bangsawan.
Sebaliknya, ia mengenakan jumpsuit satin berwarna zamrud yang memeluk lekuk tubuhnya dengan sopan, tapi tegas, dipadukan dengan blazer terstruktur yang disampirkan di bahu. Rambutnya disanggul modern, menyisakan beberapa helai yang membingkai wajahnya yang tajam dan cerdas.
Itu adalah Casandra. CEO dari Nexus Core, wanita yang dalam tiga tahun terakhir berhasil mengacak-acak pasar teknologi dan logistik dengan kecepatan yang menakutkan bagi para tradisionalis.
“Siapa yang mengundang wanita pedagang itu ke sini?” bisik seorang Duke sepuh di dekat Alaric.
Alaric tidak menjawab. Matanya terkunci pada langkah kaki Casandra yang mantap. Wanita itu tidak berjalan seperti sedang meminta izin untuk berada di sana, ia berjalan seolah-olah ia sudah memiliki separuh dari ruangan tersebut.
Casandra mengabaikan tatapan sinis dan bisikan meremehkan. Baginya, pesta ini hanyalah sebuah ladang survei.
Ia butuh akses ke jaringan distribusi lama yang hanya dikuasai oleh keluarga-keluarga konservatif ini untuk meluaskan ekspansi digitalnya. Saat matanya menyapu ruangan, ia menemukan titik pusat dari segala kekakuan itu, Alaric de Valois.
Dengan langkah yang disengaja, Casandra berjalan lurus ke arah sang Duke.
“Duke de Valois,” ucap Casandra. Suaranya jernih, tanpa getaran gugup yang biasanya dialami orang saat berhadapan dengan Alaric.
“Terima kasih atas undangannya. Meskipun saya yakin, nama saya ada di daftar tamu karena kesalahan administrasi staf Anda yang ingin terlihat ‘inklusif’.”
Alaric meletakkan gelasnya di nampan pelayan yang lewat tanpa memalingkan wajah. Ia menatap Casandra dari ketinggian fisiknya yang dominan. Tatapannya dingin, setajam es di musim dingin Valois.
“Nona Casandra, saya asumsikan? Saya mendengar Anda membangun ‘kerajaan’ dari sebuah garasi kecil. Sangat efisien,” ujar Alaric, menekankan kata ‘efisien’ seolah itu adalah sebuah penghinaan terselubung bagi seorang bangsawan yang memuja kemewahan tanpa guna.
Casandra tersenyum tipis, sebuah senyuman yang tidak mencapai matanya yang penuh ambisi.
“Efisien adalah kata lain dari bertahan hidup, Duke. Sesuatu yang mungkin asing bagi seseorang yang mendapatkan segalanya hanya karena nama belakang yang menempel sejak lahir.”
Udara di sekitar mereka seolah membeku. Para tamu di dekat mereka mendadak diam, pura-pura asyik dengan kudapan mereka, tapi telinga mereka tertuju pada percikan api tersebut.
“Tradisi adalah akar yang menjaga pohon tetap tegak, Nona Casandra,” balas Alaric dingin. “Tanpa itu, Anda hanyalah semak belukar yang tumbuh liar dan akan segera layu saat musim berganti.”
“Akar yang sudah busuk hanya akan membuat pohonnya tumbang, Alaric,” tantang Casandra, menggunakan nama depan sang Duke tanpa gelar, sebuah pelanggaran etiket yang membuat beberapa orang terkesiap.
“Dunia luar sedang bergerak dengan kecepatan cahaya, sementara Anda di sini masih sibuk menghitung berapa banyak perak yang harus diletakkan di atas meja makan.”
Alaric melangkah satu tindak lebih dekat, menginvasi ruang pribadi Casandra. Aura otoritasnya menekan, Casandra tidak bergeming. Wanita itu justru mendongak, menatap langsung ke dalam manik mata Alaric yang gelap.
“Anda sangat lancang,” desis Alaric.
“Anda sangat sombong,” balas Casandra tenang. “Setidaknya, kelancangan saya membangun masa depan. Kesombongan Anda hanya memelihara debu.”
Untuk pertama kalinya dalam bertahun-tahun, Alaric merasakan sesuatu yang bukan kebosanan. Itu adalah kemarahan yang bercampur dengan rasa penasaran yang mengganggu.
Di hadapannya, berdiri seorang wanita yang secara terang-terangan meludahi tatanan yang ia bela mati-matian, tapi anehnya, ada kekuatan di balik mata wanita itu yang tidak bisa ia abaikan.
“Kita lihat saja, Nona Casandra,” kata Alaric akhirnya, suaranya kembali ke nada datar yang mematikan.
“Apakah visi Anda bisa bertahan di dunia di mana nama besar masih menjadi mata uang yang paling berharga.”
“Saya tidak butuh nama besar, Duke. Saya akan menciptakan nama saya sendiri hingga cukup besar untuk menelan dunia Anda.”
Casandra mengangkat gelasnya sedikit sebagai tanda penghormatan yang sarkastis, lalu berbalik dan pergi, meninggalkan Alaric yang berdiri terpaku. Sang Duke menatap punggung wanita itu dengan rahang yang mengeras.
Malam yang seharusnya berjalan membosankan itu kini terasa berbeda. Ada tantangan yang dilemparkan, dan Alaric tahu, ini bukanlah terakhir kalinya dunianya yang sunyi akan diguncang oleh badai bernama Casandra.