Bab 1
Pagi itu, suasana sekolah terasa ramai. Para siswa berjalan menyusuri lorong sambil bercanda, membicarakan tugas, atau bergegas menuju kelas sebelum pelajaran dimulai. Di tengah keramaian tersebut, Alina berjalan seorang diri sambil memeluk beberapa buku di depan dada. Sesekali ia menundukkan wajah ketika berpapasan dengan siswa lain. Sejak dulu, Alina memang dikenal sebagai gadis pemalu dan pendiam yang lebih nyaman mendengarkan daripada memulai percakapan.
Ia tidak memiliki banyak teman. Hanya Keisha dan Deby yang benar-benar dekat dengannya. Bagi Alina, dua sahabat yang mampu menerima dirinya tanpa menuntutnya berubah sudah lebih dari cukup.
Pagi itu, saat mengikuti pelajaran Bahasa Inggris, Alina mengangkat tangan untuk meminta izin kepada gurunya.
“Bu, Alina izin ke toilet. Saya sudah selesai mengerjakan tugas.”
Guru yang duduk di depan kelas mengangguk.
“Iya, silakan. Jangan terlalu lama, karena sebentar lagi kita akan membahas soal bersama.”
Alina mengangguk kecil, lalu keluar kelas dan berjalan menyusuri lorong sekolah. Ketika melewati kelas IPS 3 yang berada di sebelah kelasnya, langkah Alina mendadak melambat. Seorang cowok berdiri di depan pintu kelas tersebut. Seragamnya rapi, rambutnya tertata, dan wajahnya terlihat tenang ketika berbicara dengan beberapa siswa.
Alina belum pernah melihatnya sebelumnya.
“Siapa dia?” pikirnya.
Tanpa sadar, Alina memperhatikan cowok itu selama beberapa detik. Begitu menyadari dirinya terlalu lama memandang, ia segera mengalihkan pandangan dan melanjutkan langkah menuju toilet. Setelah selesai, Alina kembali melewati kelas IPS 3. Cowok tadi masih berdiri di depan pintu. Sebelum Alina sempat mengalihkan pandangan, mata mereka bertemu.
Jantung Alina mendadak berdebar lebih cepat. Ia buru-buru menundukkan wajah dan mempercepat langkah menuju kelas.
Kenapa aku jadi gugup begini?
Alina berusaha menganggap kejadian itu sebagai pertemuan biasa. Ia belum mengetahui bahwa tatapan singkat tersebut akan menjadi awal dari kisah panjang yang sulit dilupakannya.
Bel istirahat berbunyi. Keisha dan Deby segera menghampiri meja Alina.
“Lin, kita ke kantin, yuk. Aku sudah lapar banget,” ajak Keisha.
Alina merapikan bukunya, lalu mengangguk. Mereka bertiga berjalan keluar kelas sambil berbincang santai. Namun, baru beberapa langkah meninggalkan kelas, seseorang memanggil dari belakang.
“Permisi.”
Alina menoleh dan langsung terdiam. Cowok yang tadi dilihatnya di depan kelas IPS 3 kini berdiri tidak jauh darinya.
Cowok itu tersenyum ramah.
“Namamu Alina, kan? Aku tidak salah orang?”
“I-iya. Namaku Alina,” jawabnya gugup.
“Aku Vendo. Aku sudah beberapa kali melihat kamu sejak tadi, jadi kupikir sekalian saja kita kenalan.”
Alina tersenyum kecil.
“Senang kenal denganmu,” ucapnya pelan.
Vendo tertawa ringan. “Mulai sekarang kita teman, ya? Jadi, kalau bertemu di sekolah, kita tidak perlu merasa seperti orang asing.”
“Iya. Kita teman.”
“Kalau begitu, jangan lupa menyapa kalau bertemu lagi.”
Alina mengangguk. Vendo kemudian berpamitan dan berjalan menemui teman-temannya.
Keisha langsung menyenggol lengan Alina.
“Lin, kamu sudah kenal sama dia?”
“Baru kenal tadi.”
Deby tersenyum penuh arti. “Baru kenal, katanya. Terus kenapa wajahmu merah?”
Alina menyentuh pipinya sendiri.
“Enggak. Mukaku biasa saja.”
Keisha tertawa kecil. “Kamu kelihatan gugup banget waktu dia ngajak kenalan.”
“Sudah, ah. Jangan dibahas terus.”
Alina berjalan lebih dahulu menuju kantin, sementara kedua sahabatnya menyusul sambil menahan tawa.
Kantin sudah dipenuhi banyak siswa ketika mereka tiba. Keisha dan Deby sibuk memilih makanan, sedangkan Alina duduk sambil memainkan ujung tali tasnya. Tanpa disadari, pikirannya kembali tertuju pada cowok bernama Vendo.
“Lin, kamu dari tadi bengong,” tegur Keisha.
Alina tersentak. “Aku cuma capek.”
“Benarkah? Kenapa kamu malah senyum-senyum sendiri?” goda Deby.
“Aku enggak senyum.”
Kedua sahabatnya tertawa kecil. Alina memilih diam karena ia sendiri tidak memahami mengapa perkenalan singkat tadi terus terlintas dalam pikirannya.
Beberapa menit kemudian, saat mereka sedang makan, seseorang menghampiri meja mereka.
“Alina, boleh aku duduk di sini?”
Alina mendongak. Vendo berdiri bersama dua temannya sambil tersenyum.
“Boleh,” jawab Alina pelan.
Vendo menarik kursi di seberangnya, lalu menoleh kepada Keisha dan Deby.
“Aku juga boleh kenalan sama kalian, kan? Masa aku cuma kenal Alina?”
Keisha dan Deby memperkenalkan diri. Percakapan ringan pun dimulai hingga suasana terasa semakin akrab.
Vendo sesekali memperhatikan Alina yang lebih banyak diam sambil menyuapkan makanan.
“Alina memang pendiam seperti ini, ya?” tanyanya.
Keisha langsung mengangguk. “Banget. Kalau enggak diajak bicara, mungkin dia bisa diam seharian.”
“Keisha,” tegur Alina pelan.
“Aku cuma bilang yang sebenarnya,” jawab Keisha sambil tertawa.
Vendo tersenyum. “Enggak apa-apa. Justru aku jadi semakin penasaran sama Alina.”
Alina mengangkat wajahnya. “Penasaran apa?”
“Aku penasaran kenapa kamu selalu kelihatan serius setiap kali aku melihatmu. Padahal waktu kita kenalan, kamu kelihatan ramah.”
Alina terdiam sebentar sebelum menjawab, “Aku memang enggak terlalu pandai ngobrol sama orang yang baru dikenal.”
“Kalau begitu, aku harus lebih sering mengajakmu ngobrol supaya kamu terbiasa.”
Alina tersenyum kecil. “Memangnya kenapa kamu harus sering mengajakku ngobrol?”
Vendo menatapnya dengan senyum hangat.
“Karena aku ingin melihat kamu lebih sering tersenyum. Menurutku, kamu kelihatan berbeda ketika tersenyum.”
Kalimat sederhana itu membuat Alina kehilangan kata-kata. Ia menundukkan wajah untuk menyembunyikan perasaan hangat yang tiba-tiba muncul di hatinya. Ia tidak menyangka seseorang yang baru dikenalnya bisa membuatnya merasa begitu diperhatikan.
Tak lama kemudian, bel masuk berbunyi. Vendo berdiri dan merapikan seragamnya.
“Aku balik ke kelas dulu, ya. Nanti kalau bertemu lagi, jangan lupa menyapa.”
“Iya,” jawab Alina.
Vendo baru berjalan beberapa langkah ketika ia kembali menoleh.
“Oh iya, jangan pura-pura enggak kenal kalau besok bertemu denganku.”
Alina tersenyum kecil. “Aku enggak akan pura-pura.”
“Janji?”
“Janji.”
Vendo tersenyum puas sebelum akhirnya pergi.
Keisha segera mendekati Alina.
“Menurutku, ada seseorang yang mulai tertarik sama kamu.”
Alina langsung menggeleng. “Enggak mungkin. Kami baru saja kenal.”
Deby tersenyum. “Belum tentu dia suka, memang, tapi kelihatannya Vendo ingin mengenalmu lebih dekat.”
Alina tidak menjawab. Pandangannya masih tertuju pada lorong tempat Vendo menghilang.
Mereka memang baru berkenalan. Belum ada janji istimewa, apalagi perasaan yang bisa disebut cinta. Hanya percakapan sederhana dan senyuman yang mungkin mudah dilupakan.
Setidaknya, itulah yang Alina pikirkan saat itu.
Ia belum mengetahui bahwa Vendo akan semakin sering hadir dalam hari-harinya. Cowok itu akan menyapanya di lorong, menghampirinya di depan kelas, dan sesekali menemaninya mengobrol di kantin.
Perlahan, Alina mulai terbiasa dengan kehadiran Vendo. Bahkan, tanpa disadarinya, ia mulai menantikan pertemuan berikutnya. Hari-hari sekolah yang sebelumnya terasa biasa kini memiliki sesuatu yang membuatnya lebih berwarna.
Alina belum memahami perasaan yang tumbuh di dalam hatinya. Ia hanya tahu bahwa perkenalan sederhana itu membuatnya memikirkan seseorang lebih sering daripada biasanya.
Terkadang, seseorang datang ke dalam hidup kita tanpa direncanakan. Awalnya, ia hanya orang asing yang kebetulan kita temui. Kemudian, ia menjadi teman yang sering menyapa, hingga akhirnya kehadirannya terasa begitu berarti.
Bagi Alina, kisah itu baru saja dimulai.
Ia belum tahu bahwa pertemuannya dengan Vendo akan membawa mereka dalam perjalanan panjang yang dipenuhi kebahagiaan, air mata, dan berbagai rahasia yang kelak menguji perasaan serta kepercayaan mereka.
Sebab, di balik pertemuan sederhana itu, tersimpan kisah yang jauh lebih besar daripada yang pernah Alina bayangkan.