Lapangan basket Sekolah Internasional Alvens (SIA), salah satu SMA swasta yang terkenal di Jakarta, tenggelam dalam sorak-sorai siswa-siswi yang menonton pertandingan basket antar kelas. Pertandingan olahraga di awal tahun pelajaran adalah bagian dari Pekan Keakraban, yaitu salah satu tradisi untuk membina kebersamaan seluruh warga sekolah.
Suara peluit dan tepuk tangan menutup pertandingan antara kelas XI-A1 dengan kelas X1-A6. Tahun ini pun tim basket kelas XI-A1 sukses maju ke babak final. Lawan mereka adalah tim basket kelas XII-A3 yang terkenal akan kehebatannya.
“Arthie! Arthie!” Tim pemenang berseru gembira. Sang kapten diangkat dan diarak keliling lapangan. Setelah puas merayakan, semua bubar untuk berganti pakaian.
“Arthie, handuk kamu!” seru Sherly manis. Tangan gadis cantik blasteran Amerika-Indonesia itu mengulurkan handuk berwarna biru ke arah Arthie, sang kapten tim basket XI-A1.
Arthie, remaja dengan tinggi badan 180 sentimeter, wajah blasteran dan rambut hitam yang terpangkas rapi, hanya menyeringai. Sherly diabaikannya begitu saja. Ia melempar bola basket ke arah Rio, teman satu timnya, lalu bergegas ke ruang ganti dengan Heru dan Dino.
“Gila! Si Sherly dicuekin begitu? Man, pacarin aja terus pinjemin deh ke cowok keren ini,” ucap Heru konyol sambil menepuk dadanya.
“Kau kira aku apa?” Arthie mendelik sambil meniru Abigail, asisten Ibu Kantin, yang melambai ceria dan aslinya bernama Abdul.
“Jijay banget! Masa sih gak sedikit pun ada rasa suka sama si Sherly? Cium-cium dikit boleh kali,” ucap Dino penasaran.
“Cium-cium?” Arthie menutup keras pintu lokernya kemudian mendesah. Ia berbalik dan menunjuk wajah Heru dan Dino bergantian. “Aku pengen banget sumpahin kamu berdua biar kepincut sama si Abigail,” ucapnya dengan seringai jahat. “Jangan pernah usik urusan pribadiku. Paham?” tanya Arthie galak.
“Paham, Kapten!” sahut Heru dan Dino kompak. Selain Arthie adalah kapten basket mereka, ia juga satu-satunya siswa yang disegani oleh kakak-kakak kelas mereka yang sembilan puluh persen kurang waras.
“Minggir! Aku ada kencan!” Arthie masuk ke salah satu kamar mandi dan membersihkan badannya. Siulan ceria dan senandung tak jelas keluar dari bibirnya. Kencan! Kencan! Yuhuuu!
Heru dan Dino terkekeh geli. Kapten basket mereka itu memang aneh. Bukannya memacari Sherly sang idola sekolah yang cantik, kaya dan dari keluarga terpandang, ia malah sibuk mengejar gadis cupu dari SMA Swasta Putra Naratama (SPN). Karena tidak bisa berkata apa-apa, keduanya memilih sibuk membongkar loker masing-masing.
Usai mandi tersingkat dalam sejarah hidupnya, Arthie Naryatama berganti pakaian. Selama pekan olahraga para siswa diizinkan mengenakan pakaian bebas. Sudah jadi rahasia di antara siswa-siswi di sana untuk memaksimalkan usaha berburu pacar di pekan itu demi terhindar dari status “Jomlo Ngenes”.
Arthie sampai di lantai dua gedung selatan. Gedung itu adalah gedung utama tempat ruang manajemen dan administrasi sekolah. Remaja tampan itu tidak sedang mengincar salah seorang gurunya. Ia sedang mengejar gadis pujaannya yang untuk saat ini hanya bisa ia temui lewat lantai dua gedung utama.
“Check ... check,” ucap Arthie. Ia serius memeriksa suaranya sendiri. “Menurut cewek-cewek, suara Pangeran Arthie terseksi,” gumamnya percaya diri.
Arthie berdiri di dekat terali pengaman lantai dua yang sedikit lebih tinggi dari pinggangnya. Kedua matanya menyorot ke arah timur. Mana, ya? Mestinya ada!
Ada! Yes! Pemuda tanggung yang masuk daftar sepuluh besar siswa favorit di sekolahnya itu hampir melompat-lompat karena terlalu gembira.
“Hai, Cy! Cyan! Lihat ke atas sini dong!” teriak Arthie penuh semangat pada sosok yang ada di taman dekat tembok sekolahnya. Gedung utama kosong karena semua orang masih tumpah ruah di lapangan basket, jadi Arthie tidak ragu berteriak sesukanya.
Orang yang dipanggil oleh Arthie adalah gadis berambut panjang sepinggang dan berkacamata. Gadis itu mendongak, lalu tersenyum tipis dan melambai.
“Aaah, gak kuat nih! Kenapa sih kamu manis banget, Cy?” ucap Arthie pelan.
Sudah tiga hari Arthie patroli di lantai dua gedung itu demi bisa melihat Cyan, siswi SPN yang ia incar. Ya, sekolah Arthie dan Cyan bertetangga dan hanya dipisahkan oleh dinding setinggi tiga meter. Arthie tidak punya kesempatan untuk mendatangi Cyan karena sekolahnya pulang satu jam lebih lama dibandingkan sekolah gadis itu.
Arthie teringat sesuatu. Ia menarik tongkat pramuka yang sudah lama teronggok di dekat kakinya. Setelah mengikat ujung satunya dengan tali rafia dan ujung tali lainnya melilit kuat gagang sebuah keranjang piknik kecil dari plastik, Arthie menjulurkan tongkat itu ke seberang tembok sekolahnya.
“Cy! Untuk kamu!” seru Arthie. “Please, ambil!”
Cyan meletakkan buku di atas bangku lalu berdiri. Bukannya mendekat, Cyan malah duduk lagi. Gadis itu tersenyum geli.
Napas Arthie tertahan sesaat. Ia syok karena penolakan Cyan. Apa? Segitu recehnya pesonaku?
Tarikan pelan yang kemudian semakin keras membuat Arthie tersadar, menunduk dan buru-buru menarik tongkatnya. Mulutnya terbuka melihat keranjang kecil yang diikatnya tadi sudah lenyap. “Ap-ap-apaan?” serunya heran.
“Wooi! Thanks, ya!” seru seorang remaja berseragam putih abu dari halaman SMA sebelah. Ia berdiri di dekat Cyan sambil menggoyang-goyangkan keranjang kecil milik Arthie. Seringai jahil menghias wajahnya.
“Oniks oon! Balikin sesajen cintaku!” teriak Arthie gusar. Oniks adalah musuh bebuyutannya. Remaja tengil itu adalah lawan tanding basketnya. Bad Boy SPN, itulah julukan orang-orang untuknya.
“Sorry, Man! Barang yang sudah lewat tembok gak bisa dibalikin!” sahut Oniks diakhiri tawa jahat. “Kamu pikir si Cyan setan sampai harus dikasi sesajen,” gumamnya geli. Ia menyerahkan keranjang kecil itu pada Cyan.
“Ini—” Cyan menatap keranjang yang sudah pindah ke tangannya. Keranjang itu berisi cokelat, boneka beruang kecil dan satu set ikat rambut berbahan satin. Mewah sekali! Untukku?
“Ah, aku lupa!” Oniks mengambil paksa keranjang itu dari tangan Cyan, lalu meletakkannya di tanah. Ia melompati keranjang itu tiga kali dengan wajah serius. Setelah selesai ia mengembalikannya pada Cyan. “Kata Nenek, wajib dilangkahi. Kali aja ada jampi-jampi dari cowok belagu itu,” ucapnya santai.
Cyan tertawa geli. Oniks ada-ada saja, pikirnya.
“Aaaarghhh!” seru Arthie gondok setengah mati melihat aksi Oniks barusan. Ia refleks melepas sepatunya yang sebelah kanan dan melemparnya ke arah Oniks. Umpatan pelan terlontar dari mulutnya karena lemparannya berhasil dihindari oleh Oniks. “Oon, awas kamu! Tunggu pembalasanku!”
“Aku tunggu! Bye, Arthie!” balas Oniks. Ia menarik Cyan pergi dari taman, mengabaikan Arthie yang merah padam karena marah.
“Cy-Cyan,” panggil Arthie pelan dengan suara serak dan hati yang retak-retak. Oniks sialan! Seenaknya aja tarik-tarik calon pacarku.
Seperti mendengar panggilan Arthie, Cyan membalik badannya. Ia tersenyum dan melambai ke arah Arthie. “Terima kasih,” ucapnya pelan. Ia tidak mungkin berteriak keras seperti Oniks. Suaranya juga tidak akan sampai ke telinga Arthie.
“Cyan mau terima keranjangnya! Yes! Yeees!” Arthie melompat gembira. Hatinya yang retak-retak seketika pulih sempurna karena senyum Cyan. “Misi kali ini sukses!” seru Arthie bahagia diikuti lompatan gembira.
Satu hembusan napas lega mengakhiri keseruan Arthie di lantai dua. Ia menarik tali rafia lain yang terikat di pergelangan kakinya. Sebentar kemudian ia sudah memegang sepatu mahal yang tadi ia lempar ke Oniks.
“Orang cerdas selalu belajar dari pengalaman,” ucap Arthie bangga. Sepatunya cepat-cepat ia pasang. Arthie tersenyum lebar kemudian pergi dari gedung utama.
Ketika Arthie tidak terlihat lagi, di taman tempat Cyan dan Oniks tadi, seorang remaja laki-laki berdiri menghadap ke lantai dua gedung utama Sekolah Internasional Alvens. Keningnya sedikit berkerut. Ia memperbaiki posisi kacamatanya yang sedikit miring.
“Ivan! Woiii! Pulang!” seru seseorang tidak begitu jauh di belakang remaja itu.
Ivan menoleh. Ia meringis melihat Farid. Temannya yang berbadan subur itu sedang menunggunya untuk pulang bersama.
Hawa dingin yang tiba-tiba terasa di lehernya memaksa Ivan memutar badan ke arah gedung sekolah sebelah. Ivan menatap serius bangunan itu, kemudian langit biru di atasnya. Sepertinya aman, pikirnya. Untuk saat ini!