


oleh Yuki Hana · 24 Bab
"Kita di mana? Kenapa jalan ini tidak pernah ada di peta?" Saat ingatan yang kabur mulai kembali, tabrakan, mobil jungkir balik, dan tubuh yang remuk. Ya, itu semua seperti pita film zaman dulu, yang berputar di benak Adrian dan Anggi saat mulai memahami satu kenyataan mengerikan bahwa mereka bukan lagi bagian dari dunia yang nyata. Namun, jalan itu belum selesai dengan mereka berdua. Masih ada rahasia yang harus diungkap. Sebuah dosa masa lalu yang menghantui. Adrian dan Anggi bukan satu-satunya jiwa yang tersesat di sana. Jalan misterius ini akan menemukanmu saat tiba waktunya.
Alunan musik di dalam mobil yang dikemudikan Adrian mengentak-entak adrenalin wanita cantik bernama Anggi yang duduk di sampingnya. Kedua pasangan itu baru saja check out dari sebuah hotel bintang lima. Sisa-sisa kelelahan masih terpancar jelas di wajah mereka, tapi keduanya harus pulang malam ini juga karena ada tugas lain yang telah menanti.
“Capek?” tanya Adrian sambil sesekali melayangkan pandangannya ke arah Anggi.
“Nggak, aku malah ingin tempur lagi.”
Entah bertempur seperti apa yang dimaksud Anggi, tapi berhasil membuat Adrian duduk dengan gelisah. Tangan satunya dengan nakal meremas paha wanita yang telah meluluhkan hatinya itu.
“Memangnya belum cukup juga, ya?” celetuk Adrian dengan wajah yang tadinya unyu-unyu, kini terlihat penuh nafsu dunia akhirat.
“Mana cukup sekali kalau tempur sama kamu, aku malah mau lagi dan lagi.”
“Eheeem!” Adrian berusaha membasahi tenggorokannya yang kering karena hasrat liarnya yang sudah mencapai batang leher, eh ubun-ubun maksudnya.
Anggi menunduk sambil mengulum senyum, dia tahu strateginya selalu berhasil. Pria seperti Adrian yang mempunyai libodo seperti kuda pacu abis minum kopi tubruk dan bisa ngebut tanpa rem, hanya perlu kata-kata tanpa sentuhan saja. Itu sudah membuatnya seperti cacing yang dipanggang. Bosan ah pakai kata ‘cacing kepanasan’, sekalian aja dipanggang biar kriuk, kriuk, krenyes.
Adrian memaksakan diri untuk kembali konsentrasi pada jalan di depannya. Dia melirik ke arah mesin GPS. Pada layar yang cukup lebar itu, tertera kalau perjalanan yang akan mereka tempuh membutuhkan waktu dua jam lagi.
Itu waktu yang cukup lama bagi Adrian untuk menahan kobaran api yang sudah dinyalakan oleh Anggi. Semua berawal dari kata-kata saja, ujung-ujungnya dia kepanasan kayak tahu bulat digoreng dadakan di tengah matahari terik.
‘Sial,’ rutuk Adrian dalam hati.
Tangan Anggi meremas paha kanan Adrian dengan lembut, senyum genit menghiasi kedua pipinya yang memerah karena overdosis memakai pemerah pipi.
“Babe, jangan mulai deh kalau kamu tidak berniat mengakhirinya,” keluh Adrian.
“Siapa juga yang mau mengakhiri, mulai aja belum, kok,” goda Anggi semakin menjadi-jadi. Tangannya bukan hanya bermain di daerah paha kali ini, tapi ….”
“Stop!” pekik Adrian berusaha menghentikan tangan nakal Anggi walaupun dia tidak rela sebenarnya.
“Kenapa? Kamu nggak suka, ya?” tanya Anggi pura-pura bego, dia berusaha dengan kuat menahan senyumnya.
“Bukan nggak suka, tangan kamu tuh udah kayak Google Maps,” goda Adrian.
“Kok Google Maps sih?”
“Hmm, soalnya sudah merambah ke mana-mana kayak lagi update wilayah baru, dan kadang buatku tersesat.”
Anggi langsung tergelak, bukan karena lucu, tapi karena dia nggak nyangka ada manusia yang bisa ngeluarin lawakan sekering daun jatuh musim kemarau, yang bikin jangkrik pun minta pensiun. Mendengar tawa Anggi yang palsu, Adrian pun nyengir tak jelas, senyum lebar, mata melotot, ekspresi kayak figuran sinetron yang lagi bingung harus menangis atau joget.
“Eh, sejak kapan jalan ini bercabang?” ucap Adrian tiba-tiba. Tangannya mencengkeram setir mobil sambil memicingkan matanya, berusaha untuk melihat lebih jelas ke depan. Kakinya menginjak pedal rem untuk memperlambat laju mobil. Beruntung tidak ada mobil lain di belakang kendaraan mereka.
“Lah, bukannya jalan ini udah bercabang dari zaman GPS masih pake insting?,” sanggah Anggi cuek sambil ngelirik kuku-kukunya yang berkilau seperti piring hadiah arisan ibu-ibu RT.
“Nggak, Babe. Aku sering lewati jalan ini, tapi ….”
Beeeeep! Belum sempat Adrian menyelesaikan kalimatnya, monitor GPS di depan mereka berbunyi cukup nyaring seakan memaksa mereka untuk memeriksa pesan yang tertera. Sontak mereka berdua menatap layar itu dengan wajah penasaran.
Pilih jalan sebelah kiri untuk mempercepat tujuan kalian!
Begitu pesan yang tertera pada layar tersebut disertai dengan tanda seru berwarna merah yang berkedip-kedip dengan cepat.
“Wah, kebetulan nih, kamu kan pengen cepat-cepat pulang agar bisa eng-ing-ong lagi sama aku,” goda Anggi dengan senyum nakal ala cewek FYP Toktok yang tahu semua rahasia cowok, tapi pura-pura nggak tahu.
“Kamu yakin?” tanya Adrian yang juga sudah tidak sanggup lagi kalau menahan hasrat cukup lama.
Mereka berdua saling pandang, senyum-senyum nggak jelas, kayak dua orang yang baru sadar mereka mikirin adegan liar yang sama, pikirannya nyambung, nafsu udah kayak sinyal 5G, cepat, panas, dan susah dimatikan.
Alih-alih menjawab, Anggi melepas sabuk pengamannya dengan gaya elegan kayak tokoh utama sinetron jam 9 pagi. Lalu, bim salabim kiss kiss boom, dia melabuhkan ciuman maut di bibir Adrian. Bibir yang dari tadi udah gersang karena nafsu, sampai nyaris ngelupas kayak dinding kamar belum dicat ulang.
Adrian kaku, bukannya membalas, tapi karena belum siap, CPU otaknya nge-lag! Anggi selalu tahu kelemahannya. Wanita ini selalu berhasil mengobarkan libido kudanya.
“Kita pilih jalur kiri,” desis Adrian cepat, napasnya udah kayak kipas angin rusak, bunyi kenceng tapi anginnya nggak keluar. Kalau bukan karena mereka lagi di jalan raya, kemungkinan besar pakaian Anggi udah sobek-sobek, sampai mirip kostum cosplay gembel modern, limited edition, sobeknya nggak simetris tapi penuh hasrat.
“Kenapa bukan jalur kanan?” Anggi masih terus menggoda Adrian.
“Nggak, soalnya jalur kanan terlalu dekat sama akhlak,” balas Adrian sambil kembali melahap bibir ramun di depannya.
Kali ini Anggi tidak membalas, dia menghentikan ciuman Adrian, lalu mendorong dada bidang milik Adrian. Dengan wajah imut tanpa dosa setelah selesai menggoda Adrian, dia kembali duduk manis dan memakai sabuk pengamannya dengan gaya manja.
“Kita lanjut nanti, ya!”
Adrian mendengus pelan, tapi bukan lagi karena kesal, melainkan karena ada sesuatu yang menekan dadanya. Desakan liar penuh nafsu dalam dirinya kini berubah menjadi kegelisahan yang tak bisa dijelaskan. Dengan wajah muram dan rahang mengeras, ia menginjak pedal gas, membawa mobil mereka perlahan masuk ke jalur kiri.
Jalan itu sempit, sunyi, dan seolah menyerap cahaya dari lampu mobil. Meski tampak seperti jalan biasa, ada sesuatu yang tak wajar menyelimuti setiap sudutnya. Pepohonan menjulang tinggi dengan cabang-cabang bengkok seperti tangan yang ingin mencengkeram.
Semak belukar tumbuh liar, menutupi batas jalan dan seolah berbisik dalam kegelapan. Udara terasa lebih dingin, dan entah kenapa, sunyi itu terasa ... terlalu sunyi.
Adrian merasa, satu-satunya sumber kehidupan hanya berasal dari mereka berdua. Suara mesin mobilnya memecah kesunyian, tapi Adrian tidak nyaman dengan semua itu.
Anggi sendiri tetap kalem. Bahkan di tengah suasana mencekam, dia malah sibuk merapikan alisnya yang udah baris rapi kayak pasukan ulat bulu upacara 17 Agustus. Saking fokusnya, kalau ada pocong nebeng di kaca belakang pun, dia cuma bilang, “Sabar ya, Mas. Aku lagi ngerapihin frame alis dulu.”
“Kenapa di sini gelap banget?” Adrian berucap lirih sambil menatap jalanan lurus yang tampak tak berujung.
“Hah? Kamu bilang apa?”
Anggi masih terus sibuk merapikan ulat bulu, eh, alis matanya, yang menurutnya masih miring kayak parkiran motor di trotoar. Mulutnya sampai membentuk huruf O, saking fokusnya, mirip emoji yang baru sadar pulsa tinggal seratus perak.
Adrian tidak menjawab. Pandangannya lurus ke depan, serius seperti pengawas ujian SIM liatin peserta yang grogi. Tapi bukan karena fokus, lebih karena otaknya tiba-tiba nge-freeze.
Namun, mereka berdua tak menyadari, di sana terdapat sebuah papan kayu tua yang hampir lapuk berdiri miring di tepi jalan sebelah kanan, dan tertutup jaring laba-laba tebal. Tulisan di papan itu nyaris tak terbaca, samar, tapi masih bisa dilihat jika cukup jeli.
“This is a no turning back way.”
Ini adalah jalan tanpa jalan kembali.
Mereka tak berhenti. Roda terus berputar. Dan entah bagaimana, rasanya jalan itu semakin menelan mereka masuk.
Bersambung ....

Yuki Hana
28 Pengikut · 1 Novel