"Jangan pernah sekali-kali kamu injakkan kaki di luar pekarangan kalau langit sudah semburat merah, Gas. Apalagi kalau azan magrib sudah berkumandang. Ingat itu baik-baik," ujar Nenek Rahma. Suaranya yang serak terdengar berat, bergetar bersama uap teh hangat yang baru saja diletakkannya di atas meja kayu yang mulai lapuk.
Bagas tidak segera menjawab. Tangannya masih sibuk mengusap layar ponsel, memeriksa sinyal seluler yang sejak pagi tadi enggan memunculkan satu batang pun. Remaja berusia tujuh belas tahun itu hanya mengembuskan napas panjang, menunjukkan rasa jenuh yang nyata.
"Nenek ini ada-ada saja. Di kota dulu, kalau magrib justru waktunya anak-anak keluar pergi ke masjid atau minimarket depan kompleks. Kenapa di desa ini semuanya harus mengunci pintu seperti sedang ada jam malam?" balas Bagas tanpa menoleh. Nada suaranya berbaur antara jengkel dan meremehkan.
Nenek Rahma menghentikan langkahnya yang hendak menuju dapur. Wanita tua dengan rambut yang seluruhnya telah memutih itu membalikkan badan.
Sorot matanya yang biasanya teduh mendadak berubah menjadi sangat tajam, menusuk tepat pada manik mata cucu tertuanya.
"Kota dan desa ini berbeda, Bagas! Kamu dan adikmu itu baru tiga hari tinggal di sini. Jangan bawa tabiat kota yang serba bebas ke kampung yang masih dijaga oleh hal-hal yang tidak kasatmata. Di sini, saat matahari tergelincir dan langit berubah warna menjadi sewarna darah, itu bukan lagi waktu milik manusia. Itu waktu milik mereka yang kelaparan."
Mendengar kalimat terakhir sang nenek, bulu kuduk Bagas sempat meremang selama beberapa detik. Namun, rasionalitas masa mudanya segera menepis rasa ngeri tersebut.
Dia menganggap semua ucapan itu hanyalah mitos kuno khas pedesaan yang sengaja dirawat untuk menakut-nakuti anak kecil agar tidak keluyuran.
Baginya, bahaya terbesar di desa terpencil ini hanyalah gigitan nyamuk kebun atau terperosok ke dalam parit, bukan makhluk halus.
Desa Randu Alas, tempat mereka beralih hidup setelah kedua orang tua mereka tiada, memang terletak di daerah yang sangat terisolasi.
Rumah nenek mereka berdiri di ujung paling barat desa, berbatasan langsung dengan hamparan hutan randu alas yang lebat dan tampak selalu gelap, bahkan di siang hari yang terik sekalipun.
Pohon-pohon raksasa dengan batang berduri dan akar yang mencuat ke permukaan tanah itu seolah membentuk benteng alam yang memisahkan kehidupan beradab dengan misteri yang tak terjamah.
Di sudut ruangan, Dani, sang adik yang baru menginjak usia tujuh tahun, sedang asyik menyusun beberapa mobil mainan plastik di atas lantai semen yang dingin. Bocah laki-laki itu tampak tidak memedulikan ketegangan kecil yang terjadi antara kakak dan neneknya. Dani terlalu polos untuk memahami makna dari raut wajah ketakutan yang kerap ditunjukkan oleh orang-orang tua di desa ini setiap kali senja mulai menjelang.
"Sudahlah, Nek. Bagas tahu cara menjaga diri dan Dani," kata Bagas akhirnya, berusaha memutus perdebatan yang dirasanya tidak penting. Dia meletakkan ponselnya yang sama sekali tidak berguna di atas meja.
"Bagas mau ke sumur belakang dulu, mau cuci muka."
***
Nenek Rahma hanya mampu menghela napas panjang melihat kedegilan cucunya. Dengan langkah yang diseret, wanita tua itu kembali melanjutkan langkahnya ke dapur untuk menyiapkan makan malam, sembari mulutnya komat-kamit merapalkan doa-doa keselamatan.
Bagas melangkah ke pintu belakang yang terbuat dari jalinan bambu. Saat dia membukanya, embusan angin sore langsung menerpa wajahnya.
Udara di desa ini terasa jauh lebih dingin dibandingkan di kota, tetapi sore ini ada sesuatu yang terasa ganjil.
Angin yang berembus tidak membawa kesegaran tanah basah yang biasa dia hirup, melainkan membawa semacam aroma yang asing, samar, agak langu, dan berat.
Bagas berjalan menuju sumur timba yang terletak beberapa meter dari pintu dapur. Dia mengerek ember sekuat tenaga, membiarkan bunyi derit katrol besi memecah kesunyian sore yang kian mencekam.
Sambil membasuh wajahnya dengan air sumur yang sedingin es, pandangan Bagas beralih ke arah hutan randu alas yang berada tepat di balik pagar bambu pekarangan rumah.
Matahari mulai tenggelam di balik cakrawala, meninggalkan semburat warna jingga kemerahan yang pekat di langit barat. Semburat merah itu perlahan-lahan merayap naik, menyelimuti puncak-puncak pohon randu alas.
Siluet pohon-pohon raksasa itu kini tampak seperti deretan raksasa hitam yang sedang berdiri tegak, mengawasi setiap jengkal tanah di bawahnya.
Suasana sekitar mendadak menjadi sangat sunyi. Tidak ada suara jangkrik, tidak ada kicau burung yang kembali ke sarang. Keheningan itu terasa begitu pekat, seolah-olah alam sedang menahan napasnya demi menyambut sesuatu yang mengerikan.
Bagas mengeringkan wajahnya dengan kaos yang dia kenakan. Tepat pada saat itu, telinganya menangkap sebuah suara yang sangat halus, datang dari arah semak-semak yang membatasi pekarangan dengan hutan.
Sreeek sreeek
Bagas menajamkan pendengarannya. Dia mengira itu hanyalah seekor ayam hutan atau musang yang sedang mencari makan. Namun, gesekan itu terdengar berirama, seolah ada sesuatu yang berukuran cukup besar sedang merayap perlahan, menyusuri batas pagar bambu rumah mereka.
“Siapa di sana?” seru Bagas, berusaha mengeraskan suaranya demi mengusir rasa gentar yang tiba-tiba merayap di dadanya.
Tidak ada jawaban. Angin sore kembali berembus, kali ini membawa aroma busuk yang lebih pekat dari sebelumnya, membuat Bagas terbatuk kecil dan harus menutup hidungnya.
Bau itu persis seperti bau bangkai hewan yang sudah membusuk selama berhari-hari di bawah terik matahari.