


oleh sweetchocosin · 214 Bab
Sekar cuma rakyat jelata. Karena punya aura keemasan, ia menikah dengan Putra Mahkota. Sejak saat itu, kata 'stres' melekat permanen sebagai nama belakangnya. Lebih buruk lagi, pangeran itu masih terobsesi pada cinta pertamanya yang sudah mati. Situasi Sekar sampai saat ini tidak bagus. Dipaksa menjadi istri yang sempurna, diwajibkan tunduk pada aturan kerajaan, dan bekerja sama dengan suami–yang kepribadiannya sedingin Gua Antaboga–demi menyelamatkan Mataram dari serangan pemberontak. Sekar selalu membayangkan hidupnya menjadi penari yang hobi petantang-petenteng di bawah pohon trembesi, bukan malah terjebak dalam prahara rumah tangga bersama titisan naga bawah tanah!
Salah satu cerita yang kusukai adalah kisah cinta putri dan pangeran. Misalnya seperti kau bisa dengan mudah menemukan cinta sejati hanya berbekal pengalaman nyaris dicium kepiting dan berlumuran kotoran sapi.
Sayangnya, kisahku tak seindah nasib Klenting Kuning, padahal aku tak harus berhadapan dengan kepiting.
"Tuan Putri telah memasuki aula," teriak penjaga.
Aku melangkah melewati lubang pintu yang tingginya seukuran pohon beringin di alun-alun. Seperti yang sudah diajarkan Nyai, aku mengangkat dagu dan tersenyum, seolah sedang berjalan di atas tumpukan manisan carica. Dalam hati aku berdoa agar tidak menampilkan adegan yang tidak perlu: tersandung, misalnya.
"Itukah istri Pangeran Wirasena?" Aku menangkap bisikan seseorang, di sela lantunan musik yang mendayu.
"Cantik, sih, tapi sayang bukan bangsawan."
"Karena itu ya dia sempat dilatih?"
"Memangnya mengikuti pelatihan sudah cukup membuatmu punya kelas? Jangan bercanda."
"Kalau aku jadi Pangeran, aku juga tidak akan peduli dengan statusnya. Menurutku, dia sudah cukup cantik."
"Akan lebih menakjubkan kalau yang menjadi putri mahkota adalah Nona Galuh. Bukankah dia kandidat terkuat sebelum aura keemasan itu muncul?"
Rasanya aku ingin membubuhi mereka dengan bubuk merica agar tidak bicara lagi. Jujur, aku sudah kebal. Aku tidak peduli lagi perkara kelas sosial yang konyol. Toh mau setinggi apa pun status mereka, kalau buang air tetap bau, kalau perutnya kembung pasti kentut. Tapi hari ini aku merasa jengah. Apalagi saat perasaanku sudah campur aduk ingin segera melahap apa saja.
Di ujung altar, terdapat dua singgasana yang agung. Tampak seorang pria dan wanita paruh baya duduk berdampingan dengan pakaian necis. Seperti yang sudah diajarkan Nyai selama bertahun-tahun, aku mengambil kedua sudut rok gaunku dan membungkuk di hadapan mereka.
"Salam, Paduka. Sekar menghadap."
Aku mendengar dengkus bahagia dari mulut Sang Raja—atau yang bakal kaukenal sebagai mertuaku.
"Putri Sekar, kini kau sudah menjadi bagian dari keluarga istana. Angkat wajahmu."
Sambil tetap tersenyum, aku kembali menegakkan badan. Tangan Paduka terangkat, mempersilakan para tamu undangan untuk kembali menikmati pesta.
"Anakku, kudengar pagi ini kau tidak banyak makan. Di sini ada beberapa menu yang khusus dibuat sesuai dengan seleramu." Permaisuri dengan lembut mengajakku bicara, tapi matanya menatapku awas. "Makanlah yang banyak. Bersenang-senanglah di pesta ini."
Kalau aku lupa diri, aku pasti akan melompat kegirangan dan mengambil seluruh makanan yang tersedia. Aku baru saja mendapati pukis cokelat yang berjejer di suatu sudut, di samping jenang dan wingko bakar. Perutku tentu saja bergejolak. Sayang, peraturan menjadi putri mahkota sialan ini melarangku berbuat banyak. Aku harus menelan ludah dan mengangguk—dengan gaya anggun yang memuakkan.
"Sena, ajak istrimu keliling aula," Paduka melirik putranya—suamiku, yang berdiri di samping singgasana. "Sapalah beberapa kenalan agar Sekar bisa cepat beradaptasi. Kau harus banyak membantu."
Pangeran membungkuk dan tersenyum tipis. Setelah itu, ia mengulurkan tangannya padaku. Tangan yang dingin.
"Mari, Putri."
Aku tidak banyak bicara. Pangeran lebih banyak mengoceh soal keluarga mana yang harus kuhafalkan, dan kepada siapa aku nantinya meminta bantuan. Beberapa rekannya juga ikut menyapa. Aku kewalahan meladeni satu persatu, sampai nyaris membuat sudut bibirku kebas.
"Anda kuliah di mana, Tuan Putri?" tanya salah seorang dari mereka.
"Di Universitas—"
"Di Universitas Mandhala," potong Pangeran. "Dia baru selesai koas."
"Ah, pantas saja kalian baru menikah pagi ini," sahut yang lain. "Menjadi seorang dokter memang butuh waktu sewindu."
Entah ini firasat jelek atau karena aku sedang kelaparan, kurasa Pangeran tidak terlalu ingin aku banyak bicara. Apakah aku seharusnya berterima kasih? Tapi dilihat dari caranya memandangku lewat sudut matanya itu, jelas ia tampak jijik dengan keberadaanku, seolah aku termasuk spesies tungau kasur yang semestinya menjadi tanggung jawab para pembasmi hama.
Saat Pangeran sedang asyik berbincang dengan beberapa rekannya, diam-diam aku menarik diri. Kudapati pukis-pukis itu masih berada di tempatnya, walaupun hanya tersisa tiga biji. Aku menghela napas lega. Setidaknya aku masih bisa makan enak di sini.
"Laparnya ...." Baru kali ini aku terharu melihat pukis yang gemuk-gemuk.
Namun, belum sempat aku melahap pukis itu, seseorang menarik tanganku dengan kasar. Pukisku terpental dan jatuh ke lantai, berakhir terinjak salah satu pelayan pembawa baki minuman. Kutatap pukis yang kini mati sia-sia dari jauh sambil menahan tangis.
Aku nyaris memprotes pada orang yang dengan asal-asalan merebut jam makan malamku.
"Jangan banyak bicara. Ikut saja!" Mulutku terkatup rapat. Pangeran tampak tak ingin dibantah sama sekali.
Setelah berjalan beberapa waktu, kami pun tiba di depan sebuah bangunan. Dengan dagunya, ia mengisyaratkanku agar masuk ke dalam. Kalau sudah begitu, aku terpaksa harus menurutinya, kan?
Bangunan itu lebih luas dari rumahku. Terdapat sepasang sofa antik dan meja kayu berukiran rumit yang menyambut kami. Wangi mawar menyelimuti ruangan, cahaya kuning berpendar hangat. Di tengah ruangan terdapat kamar tidur besar, lengkap dengan hiasan bunga.
Wajahku memanas. Bukankah ini kamar pengantin?
"Kau tidak perlu bersusah payah."
Aku pun memutar tubuh. Berkat keindahan dekorasi, aku sampai lupa kalau ada orang lain di sini. "Ya?"
Pangeran lantas mendekat, membuatku merasa terpojok. Sejak tadi, hawa dingin tidak enak memang sudah menusuk tengkukku saat kami bersama. Sudah kuduga kalau firasatku ternyata benar. Orang ini tidak seperti menatap istrinya. Ia memperlakukanku seolah-olah aku adalah musuh yang hendak menikamnya.
Ekspresi Pangeran tak terbaca. Ia meletakkan satu tangannya pada dinding di belakangku. Embusan napasnya yang berbau anggur, menerpa kedua pipiku. Lututku gemetaran tanpa alasan.
"Kau cuma rakyat jelata," ucapnya, sambil membelai wajahku dengan jari-jari dinginnya. "Pernikahan ini tidak akan pernah berhasil."
"Apa maksud—"
"Kau dan aura keemasanmu itu." Senyum Pangeran mengembang. Kelihatannya seperti mengolok-olok, seolah istana meninggalkan lubang menganga semenjak aku berada di sini. "Aku tidak percaya pada takhayul."
"Tapi Mataram adalah negeri sihir—"
Pria itu mendengkus dan menarik diri. Tawa kecilnya seperti memaksa tubuhku bekerja keras melawan gravitasi.
"Buka matamu. Kita hidup di zaman modern. Sihir cuma omong kosong yang sudah usang."
Ia berjalan mengitari kamar, sambil menyentuh beberapa pernak-pernik. Setelah itu, ia memutar tubuhnya dan berjalan menjauh. Saat mencapai pintu, ia berhenti sejenak tanpa menoleh sedikit pun.
"Kau boleh hidup di sini dan berlagak menjadi seorang putri semaumu, asalkan tidak menggangguku," ucapnya, kedengarannya seperti sedang bertitah. "Aku tidak ingin kita sering bertemu. Kau mengerti maksudku, kan?"
Setelah pintu ditutup, keheningan membuatku tersentak. Sedari tadi aku sudah menahan napas, kini perutku benar-benar mual.
"Waduh." Aku menepuk keningku cukup keras, kalau-kalau yang kulihat adalah mimpi di siang bolong.
Anu, sebenarnya aku juga dalam kondisi yang tidak tahu harus bersikap bagaimana. Meskipun pernikahan ini sudah dipersiapkan sejak aku berusia 11 tahun, tapi aku tidak pernah benar-benar mengenal suamiku. Bagiku, menjadi putri mahkota adalah pekerjaan yang dipaksakan. Pilihannya antara aku menjadi istri pangeran, atau kepala seluruh keluargaku terpenggal sebab dituduh menjadi pemberontak—menentang titah raja sama dengan bunuh diri. Kalau kau jadi aku, kau pasti akan pilih yang termudah, kan?
Sayangnya, keningku benar-benar sakit. Aku sedang menghadapi kenyataan betulan. Sebenarnya, kekacauan apa yang akan kuhadapi di dalam istana ini? Apa semua cerita romantis putri dan pangeran benar-benar cuma fiksi?
"Apa aku salah pilih, ya?"
Tok! Tok! Tok!
Belum sempat aku mengelola keterkejutanku, seseorang mengetuk pintu. Aku terlonjak, nyaris saja membuat tatanan mawar di atas tempat tidur mengotori lantai. Siapa, sih, yang punya ide merepotkan seperti ini?
Di balik pintu, seorang pelayan istana menundukkan kepalanya sambil membawa baki berisi pukis-pukis gemuk beserta makanan-makanan manis lain, dan segelas wedhang—seduhan—jahe. Senyumku pun mengembang.
"Pangeran mengutus saya, Tuan Putri," ucapnya. "Biar saya letakkan di dalam. Permisi."
Eh?
Mataku mengerjap saat pelayan itu menerobos masuk. Tubuhku rasanya terpaku di tempat, sampai-sampai lupa harus mengucapkan terima kasih.

sweetchocosin
106 Pengikut · 13 Novel