Malam terakhir Ramadan jatuh dengan suasana yang tidak biasa di sebuah rumah tua di pinggir kota. Angin berdesir pelan, daun pisang bergesekan, dan lampu jalan berkedip seolah ragu menyala. Di teras rumah itu, Raras berdiri sambil melipat kain putihnya dengan wajah kusut.
“Lebaran kok malah bikin stres,” gumamnya.
Ia menoleh ke arah jam dinding tua di ruang tamu. Jarumnya nyaris menunjuk pukul dua belas malam. Takbir sudah terdengar dari kejauhan, bersahut-sahutan, membuat Raras refleks menutup telinga.
“Ya ampun, kenapa sih suara itu selalu bikin merinding?” keluhnya, padahal ia sendiri adalah kuntilanak.
Dari dalam rumah, muncul Bayu merupakan arwah penjaga rumah tua itu dengan ekspresi heran.
“Kamu serius mau mudik malam ini?”
Raras mengangguk mantap. “Serius. Ini Lebaran, Bayu. Masa aku enggak pulang kampung? Nanti dikira sombong sama leluhur.”
Bayu menghela napas panjang. “Tahun lalu kamu bilang begitu, ujung-ujungnya nyasar ke TPU sebelah dan minta dijemput.”
“Itu karena petunjuk jalannya berubah!” bantah Raras cepat.
“Lagian, sekarang aku sudah siap.”
“Siap apa?” Bayu menyipitkan mata.
Raras menunjuk tas anyaman yang tergantung di bahunya. “Ini, bekal mudik. Ada bunga tujuh rupa, sisir lama, sama plastik ketupat bekas.”
Bayu terdiam. “Kenapa plastik ketupat?”
“Buat bukti kalau aku niat Lebaran,” jawab Raras yakin.
Angin tiba-tiba bertiup lebih kencang. Daun-daun berputar, dan kain putih Raras berkibar tak terkendali hingga nyangkut di gagang pintu.
“Aduh!” Raras menarik kainnya. “Ini tanda alam mendukung aku berangkat.”
“Itu tanda kamu ceroboh,” sahut Bayu datar.
Tanpa menunggu lagi, Raras melayang naik, tubuhnya terangkat perlahan. Ia sempat menoleh ke Bayu.
“Kalau aku enggak balik sebelum subuh, siramkan rumah pakai air bunga, ya.”
“Kamu kira aku apa, dukun?” Bayu menggerutu.
Raras tertawa kecil lalu melesat ke udara. Namun, baru beberapa meter melayang, ia berhenti mendadak.
“Eh jalannya ke mana, ya?”
Ia menoleh kiri, kanan, atas, bawah. Jalanan gelap membentang, hanya diterangi lampu motor pemudik yang lewat satu per satu.
“Tenang, Raras. Kamu sudah sering ini,” batinnya mencoba menenangkan diri. “Ikuti insting.”
Ia terbang rendah mengikuti jalan raya. Masalahnya, malam itu jalanan penuh. Klakson bersahutan, motor berhenti mendadak, dan seorang pengendara tiba-tiba menunjuk ke arah Raras.
“Eh, lihat tuh!” teriaknya.
Raras panik. “Aduh, kelihatan!”
Ia refleks menutup wajah dengan rambut panjangnya dan terbang lebih tinggi. Sayangnya, kain putihnya tersangkut di antena rumah warga.
“Lepas! Lepas!” Raras menarik-narik kain itu.
Dari bawah, seorang bapak berpeci mendongak. “Mah, itu jemuran siapa terbang sendiri?”
Raras akhirnya berhasil melepaskan diri, tapi kehilangan keseimbangan. Ia terhuyung dan mendarat di atas pos ronda.
Di sana, sudah ada dua pocong sedang duduk santai.
“Eh?” Pocong pertama menoleh. “Penumpang baru?”
Raras mematung. “Aku cuma numpang lewat.”
Pocong kedua mengangguk. “Mudik juga?”
“Iya,” jawab Raras lega. “Kalian juga?”
“Enggak,” sahut pocong pertama. “Kami lagi piket. Gantian jaga kampung.”
Raras mengerjap. “Pocong piket?”
“Zaman sekarang semua harus terorganisir,” jawab pocong kedua bangga.
“Ini kampung bebas gentayangan liar.”
Raras tertawa kecil. “Wah, kampungku enggak gitu. Masih bebas.”
Tiba-tiba, suara sirene terdengar. Lampu senter menyapu sekitar pos ronda.
“Satpam!” bisik pocong pertama panik. “Sembunyi!”
Dua pocong itu langsung tiduran kaku. Raras kelabakan.
“Aku gimana?” bisiknya cepat.
“Pura-pura jadi tiang,” sahut pocong kedua pelan.
“Tiang dari mana?” Raras protes, tapi sudah terlambat.
Satpam mendekat, menyorotkan senter tepat ke wajah Raras.
“Lho?” Satpam mengerutkan kening. “Barusan ada apa, ya?”
Raras tersenyum kaku. “Hehehe selamat malam, Pak.”
Satpam terlonjak. “Astaga!”
Refleks, Raras terbang tinggi sambil berteriak kecil. Pocong-pocong itu ikut meloncat panik, kainnya berkibar-kibar tak beraturan.
“Ini semua salah kamu!” teriak pocong pertama.
“Lah, aku cuma mau Lebaran!” Raras membalas sambil terbang zig-zag.
Takbir kembali menggema, lebih keras. Raras menutup telinga lagi. Ia berputar arah tanpa sadar.
“Eh, kok balik lagi?” batinnya panik.
Ia berhenti di atas papan penunjuk jalan. Tulisan di sana membuatnya terdiam.
“Selamat Datang di Desa Sukamaju.”
Raras mengernyit. “Ini bukan kampungku.”
Ia menghela napas panjang. “Mudik kali ini bakal panjang.”
Dari kejauhan, suara tertawa pocong terdengar samar. Raras menatap langit malam, lalu tersenyum pasrah.
“Baiklah,” katanya pada diri sendiri. “Lebaran memang tidak pernah sederhana. Apalagi kalau kuntilanak yang pulang kampung.”
Angin kembali berembus, membawa Raras melayang pergi menuju kekacauan berikutnya.
***
Baru beberapa meter dari papan penunjuk jalan, ia mendengar suara riuh dari bawah. Lampu-lampu motor berhenti di sebuah warung kopi yang masih buka.
“Kenapa berhenti semua, sih?” gerutu Raras sambil melayang rendah.
“Macet saja sudah bikin pusing, ini tambah nongkrong.”
Ia menukik penasaran. Di depan warung, sekelompok pemuda duduk melingkar.
“Aku sumpah tadi lihat ada yang terbang!” kata salah satu pemuda.
“Ah, kamu kebanyakan minum es kopi,” sahut temannya.
Raras menyeringai. “Oh, jadi mau bukti?”
Ia menjatuhkan sehelai daun tepat di kepala pemuda yang bicara.
“Eh!” Pemuda itu melompat. “Tuh, kan! Ada yang iseng!”
Raras menahan tawa. “Seru juga.”
Tiba-tiba, seorang nenek keluar dari warung membawa termos. Matanya tajam menatap ke arah Raras.
“Kamu itu mau ke mana, Nduk?” tanya sang nenek tenang.
Raras membeku di udara. “Lho kelihatan?”
Nenek itu mengangguk pelan. “Dari tadi. Rambutmu kurang rapi.”
Raras refleks merapikan rambutnya. “Saya mau mudik, Nek.”
“Mudik?” Nenek itu tersenyum tipis. “Kampung mana?”
“Desa Karangwuni,” jawab Raras cepat.
Nenek itu tertawa kecil. “Kebalik dua kecamatan.”
“Apa?” Raras terlonjak. “Serius?”
“Iya. Kalau terus ke arah sana, kamu malah ke pantai.”
Raras menepuk dahinya sendiri. “Pantas saja anginnya bau asin.”
Ia mendekat sedikit. “Nek, jalannya ke mana?”
“Belok kiri di perempatan besar, lalu lurus sampai jembatan bambu,” jelas nenek itu.
“Hati-hati, banyak razia malam ini.”
“Razia?” Raras mengernyit.
“Iya. Warga lagi ronda besar-besaran. Katanya ada penampakan.”
Raras terdiam sesaat. “Penampakan itu … saya, ya?”
Nenek itu mengangkat bahu. “Bisa jadi.”
Dari kejauhan terdengar suara kentongan bertalu-talu.
“Ronda! Ronda!” teriak seseorang.
Raras panik. “Aduh, belum apa-apa sudah dicari.”
Nenek itu tersenyum lagi. “Kalau mau selamat, jangan terbang terlalu rendah.”
“Baik, Nek! Terima kasih!” Raras membungkuk sopan.
Ia melesat naik, kali ini mengikuti arah yang benar. Di udara, ia menggerutu pelan. “Razia segala. Lebaran kok tambah repot.”
Belum sampai perempatan, cahaya senter menyapu ke arahnya lagi.
“Eh, itu! Ada putih-putih!” teriak seorang warga.
Raras memutar arah cepat. “Kenapa sih malam ini semua orang penglihatannya tajam sekali?”
Ia mendarat mendadak di atas atap mushala. Di bawahnya, warga berlarian sambil membawa senter dan kentongan.
“Ke sana! Ke atas!” seru seseorang.
Raras menahan napas, walau sebenarnya ia tidak perlu bernapas. “Tenang, tenang jangan panik. Aku cuma mau pulang.”
Tiba-tiba seekor kucing meloncat ke sampingnya.
“Meong.”
Raras terkejut. “Astaga! Kamu bikin kaget saja.”
Kucing itu menatapnya datar.
“Kamu juga mau mudik?” tanya Raras iseng.
“Meong.”
“Ya sudah, doakan aku selamat,” lanjutnya.
Warga mulai naik ke tangga mushala.
“Kalau ketahuan, bisa panjang urusannya,” batin Raras.
Ia berdiri, menarik napas dalam-dalam, lalu berbisik pada diri sendiri, “Baiklah, Raras. Saatnya manuver cantik.”
Begitu warga sampai di atap, yang mereka temukan hanya kain putih tersangkut di antena dan suara tawa kecil yang menjauh terbawa angin.
“Hilaaaang!” teriak salah satu warga.
Di kejauhan, Raras terbang sambil terkekeh. “Mudik tahun ini benar-benar olahraga malam.”
Di depan sana, perempatan besar sudah terlihat dan lampu-lampu ronda berkumpul tepat di tengah jalan.
Raras menelan ludah. “Baik, tantangan berikutnya.”