“Dokter Laras Ayuningtyas?”
Suara perempuan muda berjas biru tua memecah kesunyian ruang tunggu Kementerian Kesehatan. Laras menoleh cepat, berdiri dari kursinya sambil merapikan map cokelat di pangkuannya.
“Saya,” sahutnya singkat.
“Silakan masuk. Bapak Hendra sudah menunggu.”
Laras mengangguk. Langkah kakinya mantap meski hatinya masih diselimuti tanda tanya. Sejak kemarin, ia menerima surat elektronik dari pusat yang meminta kehadirannya secara langsung. Tidak banyak penjelasan, hanya undangan pertemuan dengan Kepala Biro Sumber Daya Manusia.
Sebagai dokter muda yang baru menyelesaikan WKDS di Kalimantan, ia sempat berharap akan mendapat penempatan di Jakarta atau setidaknya kota besar, tapi mengapa harus dipanggil khusus?
Begitu masuk, Laras disambut ruangan luas dengan pendingin ruangan yang menusuk kulit. Dindingnya dihiasi peta sebaran fasilitas kesehatan se-Indonesia dan meja besar dengan tumpukan dokumen di tengah ruangan.
Di balik meja itu, duduk seorang pria paruh baya berjas dan berdasi abu-abu, membetulkan kacamatanya dan tersenyum kecil.
“Silakan duduk, Dokter Laras.”
“Terima kasih, Pak,” jawab Laras sambil duduk rapi, menjaga sikap. Map cokelat di pangkuannya terasa berat, seolah menyimpan beban yang belum ia pahami.
“Langsung saja, ya, Dokter.” Suara pria itu, Dokter Hendra, terdengar datar, tapi tegas.
“Kami mengapresiasi kerja keras Anda selama penugasan di Kapuas Hulu. Laporan Anda baik, dan hasil penilaian kami menunjukkan Anda termasuk tenaga medis dengan nilai tinggi dalam integritas dan ketahanan mental.”
Laras mengangguk kecil. Ia tidak tahu harus merespons apa. Pujian seperti itu jarang datang dari birokrasi.
“Kami punya satu proyek khusus. Tidak semua dokter akan kami ajukan, tapi kami rasa Anda tepat.”
“Proyek seperti apa, Pak?” Laras memberanikan diri bertanya.
Dokter Hendra membuka map di depannya. Ia menarik selembar foto bangunan besar, usang dengan cat dinding terkelupas dan semak liar menutupi sebagian halaman. Laras mengamati gambar itu dengan alis terangkat.
“Ini rumah sakit?”
“Betul. Rumah Sakit Wijaya Kusuma. Dulu rumah sakit besar, punya reputasi baik, tapi dua puluh tahun lalu, terjadi insiden. Belasan pasien meninggal dalam waktu berdekatan. Satu perawat gantung diri. Rumah sakit itu lalu ditutup secara permanen.”
Laras menahan napas. “Lalu sekarang?”
“Pemerintah daerah mengusulkan pembukaan kembali fasilitas ini karena mereka kekurangan layanan medis. Lokasi rumah sakit strategis dan bangunan sebenarnya masih bisa direnovasi.”
Dokter Hendra menatap Laras lurus-lurus. “Kami ingin Anda yang memimpin proyek revitalisasi ini.”
Sekejap ruangan terasa lebih dingin. Bukan karena AC, tapi karena kalimat itu datang tanpa peringatan. Laras membuka mulut, lalu menutupnya kembali.
Pikirannya sibuk memproses. Rumah sakit yang pernah jadi tempat kematian massal, kemudian terbengkalai selama dua dekade, kini diminta untuk “dihidupkan kembali” dan ia, seorang dokter muda, sendirian, dipilih untuk memimpin?
“Kenapa saya, Pak?” tanyanya hati-hati.
“Karena Anda bukan hanya kompeten, tapi juga punya sikap profesional yang tidak banyak dimiliki dokter muda lainnya. Anda tidak banyak menuntut, tidak manja, dan tahan tekanan. Kami butuh orang seperti Anda.”
“Maaf, tapi apakah tidak ada risiko hukum atau?”
“Sudah ditangani. Kasus lama itu tidak pernah terbukti kriminal. Tidak ada pelaku yang ditetapkan. Semua kematian disebut karena komplikasi penyakit, tapi masyarakat terlanjur percaya ada ‘kutukan’ atau hal-hal mistis di sana.”
Laras menelan ludah. Ini mulai masuk wilayah yang tidak nyaman.
“Kami tahu Anda rasional. Kami juga tahu Anda bukan tipe yang mudah terpengaruh cerita hantu.”
Laras mengangguk pelan. “Saya bukan orang yang percaya takhayul, Pak, tapi saya juga bukan orang bodoh yang menyepelekan trauma kolektif masyarakat.”
“Itulah sebabnya kenapa Anda cocok,” kata Dokter Hendra.
“Anda tidak menghindar, tapi Anda juga tidak gegabah. Kami akan beri Anda satu minggu untuk persiapan. Tim kecil akan kami bentuk perawat, teknisi, administrasi. Anda pimpin mereka. Tahap awal, observasi dan penilaian bangunan. Jika memungkinkan, lanjut ke tahap operasional terbatas.”
Laras menggigit bibir bawahnya. “Saya boleh bertanya, kenapa rumah sakit itu ditinggalkan begitu saja selama dua puluh tahun? Tidak ada yang mencoba menghidupkannya?”
Dokter Hendra bersandar ke kursinya. “Bukan tidak ada. Ada satu dokter, sekitar tahun 2009, yang ditugaskan juga, tapi hanya bertahan dua minggu. Setelah itu, ia mengajukan cuti medis karena alasan psikologis. Kami tidak mengangkat kembali kasus itu karena saat itu program revitalisasi dihentikan.”
Laras menarik napas dalam-dalam. Ia merasa seperti hendak menapaki jalan yang sudah ditinggalkan orang-orang sebelumnya. Jalan sunyi dan penuh bayangan.
“Ada laporan visual atau dokumentasi?” tanyanya.
Dokter Hendra menunjuk map di hadapannya. “Ada foto, peta lantai, dan ringkasan laporan arsitek. Anda boleh pelajari.”
Laras membuka map itu perlahan. Foto-foto ruangan tua, ruang bersalin dengan cat mengelupas, ranjang berkarat, dan satu foto ruang operasi dengan lampu gantung yang meneteskan air dari plafon bocor. Ada sesuatu yang mengganggu di mata Laras saat menatap foto itu terlalu lama.
“Semua ini akan Anda hadapi, tapi jangan khawatir, kami akan siapkan anggaran dan dukungan. Anda tidak sendiri.”
Laras menutup map itu. Tangannya dingin, tapi suaranya mantap. “Saya terima, Pak.”
Dokter Hendra tersenyum lebar untuk pertama kalinya. “Bagus. Saya senang Anda bisa dipercaya.”
Malam harinya, di kamar kosnya di daerah Salemba, Laras termenung di depan meja kecil. Map cokelat yang ia bawa masih tertutup, seolah berisi semacam kutukan yang belum siap ia buka.
Telepon genggamnya berbunyi. Nama di layar: Kakak Dimas. Laras mengangkatnya.
“Halo, Kak.”
“Gimana tadi di kementerian?”
“Dapat penugasan.”
“Di Jakarta?”
“Enggak. Di Sukamaju.”
“Hah? Di mana tuh?”
“Daerah pegunungan. Dekat hutan lindung.”
“Serius? Kok jauh amat. Rumah sakitnya bagus?”
Laras terdiam sebentar, lalu menjawab, “Rumah sakit tua. Udah dua puluh tahun tutup.”
“Loh?! Kamu ditugasin di tempat kayak gitu? Laras, kamu yakin? Aman nggak sih?”
“Aku belum tahu, tapi aku merasa harus coba.”
“Kamu dengerin ini baik-baik. Kalau sampai kamu ngerasa aneh atau nggak nyaman, kamu keluar. Jangan pikir soal reputasi atau nilai kerja.”
“Iya, Kak,” jawab Laras pelan.
Mereka mengobrol sebentar lagi sebelum telepon ditutup. Laras menatap foto ruang jenazah di map. Jendela kaca besar. Tirai putih, tapi di sudut bawah foto, ia baru sadar ada bekas tangan kotor menempel di kaca. Ia mencoba mengabaikannya.
Hari-hari berikutnya dipenuhi persiapan. Kementerian menunjuk tiga orang pendamping. Suster Nina, perawat senior yang pernah bertugas di puskesmas terpencil; Yanto, teknisi listrik dan bangunan; serta Satpam Giman, satpam tua yang dulunya bertugas di rumah sakit yang sama.