Nathan Satrio Bagaskara
tampak mengelap peluh yang menetes di dahinya setelah seharian bekerja
mengantar pesanan milik beberapa orang pelanggan dengan menggunakan motor matik
milik bosnya di bawah teriknya matahari.
"Hei, Nathan,
minumlah!" Sebastian melemparkan sebuah kaleng minuman dingin ke arah
Nathan, yang dengan sigap langsung menangkapnya.
"Hari ini ramai
sekali, banyak pelanggan yang memesan menu dari kafe kita," ujar Sebastian
sambil tersenyum puas.
"Kau senang kan,
Bos?" kata Nathan kepada Sebastian, yang merupakan sahabat sekaligus bos
di tempatnya bekerja saat ini.
Pria bernama lengkap
Sebastian Nugraha adalah bos pemilik usaha bernama Chillax Cafe and Catering.
Di sanalah juga Nathan kini harus mencari nafkah demi memenuhi kebutuhannya
sehari-hari sekaligus untuk membayar sewa apartemen kecilnya dan juga biaya kuliah
malamnya.
Nathan adalah karyawan
di bagian pengantaran, sedangkan Sebastian, selain posisinya sebagai bos, ia
juga terjun langsung ke dalam proses pembuatan menu makanan dan minuman di
dapurnya alias merangkap sebagai chef.
"Kau pasti lelah,
ya?" tanya Sebastian.
"Sudah tahu, pakai
nanya!" timpal Nathan malas.
Sebastian terkekeh. Ia
sama sekali tak tersinggung ataupun marah, karena ia sudah cukup mengenal
karakter dan sifat sahabat sekaligus karyawannya itu. Mereka memang sudah cukup
lama bersahabat. Sehingga tidak ada kecanggungan di antara mereka dalam berinteraksi
satu sama lain. Lagi pula Sebastian sebenarnya tak menganggap Nathan sebagai
bawahannya, melainkan tetap sebagai sahabatnya.
Kemudian, Sebastian
melihat ke arah jam dinding. "Eh, sudah jam lima sore tuh. Pulanglah, kau
kan harus pergi kuliah," kata Sebastian mengingatkan Nathan.
"Iya, kau benar.
Aku pulang ya," pamit Nathan sambil meraih tas ransel miliknya.
"Hem. Sampai ketemu
besok," timpal Sebastian.
Sebelum berangkat ke
kampus untuk mengikuti kuliah malam, ia biasanya memang pulang dulu ke
apartemen sederhananya untuk mengambil buku-buku pelajaran dan juga berganti
pakaian. Setelah itu barulah ia akan pergi ke kampusnya menggunakan bus.
***
Waktu telah menunjukkan
pukul 18.30 saat mata kuliah pertama dimulai. Semua mahasiswa yang mengikuti
kuliah malam ini memang rata-rata adalah para karyawan yang sudah bekerja.
Karena siang harinya mereka harus bekerja, maka mereka baru bisa berkuliah di malam
hari.
Di tengah mata kuliah
yang sedang berlangsung, Nathan malah sibuk memutar-mutar pulpen di tangannya
karena bosan mendengarkan dosen Bima yang sedang menerangkan di depan kelas.
Sesekali ia pun tampak menguap karena rasa lelah dan kantuknya setelah seharian
bekerja.
Saat seorang mahasiswi
cantik baru saja memasuki kelas, tiba-tiba saja matanya langsung terbuka lebar,
dan seketika kantuknya pun sirna begitu saja. "Akhirnya dia datang juga.
Syukurlah. Kupikir malam ini dia tak masuk kuliah," batin Nathan lega.
"Maaf, Pak. Saya
terlambat," ujar gadis itu di samping meja Dosen Bima.
"Iya tidak apa-apa,
Aleyra, tapi lain kali jangan diulangi, ya," kata Dosen Bima. "Untung
cantik," batin Dosen Bima.
"Iya, Pak. Saya
janji tidak akan mengulanginya lagi," kata gadis bernama Aleyra itu.
"Ya sudah, silakan
duduk," kata Dosen Bima. Dosen Bima memang terkenal sering berbaik hati,
terutama pada mahasiswi cantik seperti Aleyra.
Lalu, mahasiswi bernama
lengkap Aleyra Claudia Darmawan itu pun segera duduk di salah satu bangku yang
masih kosong, tak jauh dari tempat duduk Nathan.
Kini perhatian Nathan
pun beralih pada gadis itu. “Cantik banget, sih! Mana roknya mini banget, lagi.
Nggak takut masuk angin, apa?" batin Nathan.
Sesekali Nathan pun
mencuri-curi pandang ke arah Aleyra. Namun, ternyata Aleyra tampaknya menyadari
bahwa dirinya saat ini sedang diperhatikan oleh seseorang. Saat Aleyra menoleh
ke arah Nathan, Nathan pun langsung membuang muka ke arah lain, lalu berpura-pura
fokus pada Dosen Bima yang mulutnya masih sibuk menerangkan pelajaran.
"Gawat. Si Aleyra
pakai nengok segala, lagi. Ketahuan deh!" batin Nathan. Meski hatinya
panik, raut wajahnya tetap datar.
"Duh, maunya apa
sih dia itu? Jelas-jelas tadi dia diam-diam memandangku, tapi kalau aku pandang
balik, dia langsung buang muka. Uh, dasar menyebalkan!" batin Aleyra
kesal.
Kemudian, Aleyra kembali
fokus ke depan kelas, ke arah Dosen Bima.
Saat Nathan menyadari
hal itu, ia pun kembali memandangi Aleyra dari atas hingga bawah, lalu dari
bawah balik lagi ke atas, begitu terus sampai tiba-tiba Dosen Bima pun
berteriak dari depan kelas, "Nathan! Jaga matamu!"
Sontak seluruh kelas pun
melihat ke arah Nathan.
"Iya, Pak. Dari
kecil juga sudah saya jaga mata saya. Makanya masih tetap ada di wajah
saya," jawab Nathan sambil menunjuk ke kedua matanya.
"Ck! Kamu kalau
dibilangin, jawab terus!" kesal Dosen Bima.
"Kalau saya nggak
jawab, nanti disangka sombong?" timpal Nathan dengan santainya. Wajahnya
tetap terlihat tenang, tak tersirat rasa takut sedikit pun.
Terdengar cekikikan dari
beberapa mahasiswa karena jawaban Nathan barusan.
Dosen Bima tampak
menghela napas panjang sambil berucap dalam hatinya, "Sabar, sabar!"
"Ayo semuanya,
lihat ke depan kelas lagi!" titah Dosen Bima kemudian.
"Iya, Pak,"
jawab seluruh mahasiswa dan yang paling keras adalah suara dari Sean.
Sebelum kembali fokus
pada Dosen Bima, Sean pun sempat mengedipkan sebelah matanya ke arah Aleyra.
Namun, Aleyra malah merotasi matanya jengah.
Sean adalah merupakan
teman kuliah Aleyra dan Nathan, yang selama ini juga diam-diam menyukai Aleyra.
"Sean, mata kamu
kenapa kok kedip-kedip?" teriak Dosen Bima dari depan kelas.
"Kelilipan,
Pak," sahut Sean asal. "Duh, Pak Bima tahu saja, lagi, kalau aku lagi
nyuri-nyuri pandang ke Aleyra," batin Sean.
"Nathan, lihat ke
depan, bukan ke samping!" teriak Dosen Bima lagi pada Nathan.
"Iya, Pak,"
sahut Nathan dengan malas.
Pak Bima pun kembali
menerangkan pelajaran. Namun, sesekali matanya mengawasi Nathan dan Sean dengan
penuh selidik, takut jika kedua pemuda itu tak fokus ke arahnya.