


oleh Ookamisanti_ · 108 Bab
“Kode apa ini?” “Lebih baik kita cari tahu!” Zevan, barista yang bekerja di KutuBuku Coffee menemukan sebuah kode rahasia tersembunyi di antara halaman buku yang ditinggalkan Revi, sang pelanggan setia. Merasa tertarik dengan hal itu, dia pun menyelidikinya. Bersama dengan sang teman, dan dibantu Revi, Zevan mencari tahu tentang kode-kode tersebut. Namun, semakin dia menemukan kebenaran, semakin besar bahaya yang mengancam. Bahkan nama dia tertera di salah satu halaman buku. Berhasilkah Zevan mengungkapkan kode tersebut?
“Permisi!” seru Revi kepada salah satu pekerja di KutuBuku Coffee. Dengan sigap, Zevan langsung menghampiri seraya membawa order pad.
“Mau pesan apa?” tanya Zevan kepada sang pelanggan.
“Caramel Macchiato satu,” pesan Revi. Zevan mencatat pesanan.
“Ada yang lain?” Setelah mendapat gelengan dari Revi, Zevan beranjak dari sana. Dia langsung melaksanakan tugasnya yaitu membuat kopi pesanan perempuan itu.
Kebetulan kedai kopi sedang sepi, tak banyak pengunjung yang datang, hanya bisa dihitung oleh jari. Kopi perlahan mengalir dari mesin ke cangkir, dengan sabar Zevan menunggu seraya melihat ke seluruh ruangan. Semua orang tampak sibuk dengan aktivitas masing-masing, termasuk Revi yang kini sedang membaca buku. Entah kenapa, dia tertarik untuk memperhatikannya.
Beberapa menit kemudian, Zevan meracik Caramel Macchiato yang dipesan oleh Revi. Seusai itu, dia pun membawanya kepada perempuan tersebut. Seraya menaruh pesanan di atas meja, dia berkata, “Caramel Macchiato satu.” Dia memastikan kalau apa yang dia buat sudah benar. Revi menoleh lalu mengangguk.
“Terima kasih,” ucap Revi sambil menggeser cangkir. Namun, Zevan tak segera kembali ke meja bar, dia malah melihat aktivitas Revi. Risih dengan keberadaan sang barista, perempuan itu menoleh. “Ada apa?”
“Ah, tidak, hanya penasaran saja. Sedari tadi kamu membaca buku itu, dan terlihat fokus sekali.”
Revi terlihat kebingungan untuk menanggapi perkataan dari barista itu. Kelihatannya dia tidak biasa berbicara dengan orang asing, pikir Zevan. Dirinya memutuskan untuk tidak lanjut bertanya. Lelaki ini berpamitan, hendak kembali ke meja bar.
“Ehm ... tunggu!” seru Revi membuat Zevan mengurungkan niat. Lelaki ini kembali menghadapkan tubuhnya ke arah si pelanggan. “Kamu ... suka baca buku?”
“Ya, hampir semua buku di sini pernah aku baca saat luang, termasuk buku yang kamu baca sekarang. Kelihatan tidak asing bagi aku.” Jawaban panjang Zevan membingungkan Revi. Dia tidak pernah berinteraksi dengan orang sepertinya, tapi penasaran karena Zevan suka baca buku. Ada sesuatu yang membuat Revi tertarik berbicara dengan barista itu.
Melihat kegelisahan Revi, akhirnya Zevan mengajukan pertanyaan. “Ada yang mau kamu tanyakan? Siapa tahu kamu penasaran dengan buku-buku yang ada di sini. Karena seingat aku, tidak semua orang suka membaca.” Senyuman ramah Zevan membuat Revi tersenyum tipis, merasa bisa berbicara dengannya.
“Kamu tahu buku Hening Setelah Rintik ini?” tanya Revi. Sebelum menjawab, Zevan sempat meminta izin untuk duduk di depan sang pelanggan. Dia merasa kalau pembahasan dengan perempuan ini cukup menarik, apalagi membicarakan tentang buku.
“Ya, aku tahu. Berulang kali aku membaca buku itu.”
“Bagaimana menurutmu?”
“Rumit, aku sampai baca ulang karena misterinya masih belum terpecahkan. Banyak hal yang tersembunyi, yang tidak aku mengerti.” Revi tampak manggut-manggut mendengar jawaban Zevan. Ketika dia hendak melanjutkan, tiba-tiba saja Arsenio, teman Zevan yang bekerja sebagai pelayan menyerukan nama dia. Memintanya agar membuatkan kopi dari pengunjung lain.
Sangat disayangkan, obrolan terpaksa dihentikan karena Zevan harus kembali bekerja. Lelaki itu berpamitan lagi lalu menghampiri Arsenio. Revi yang melihat sang barista ada di sana, hanya bisa memandanginya. Padahal banyak hal yang ingin dia sampaikan, tapi Zevan tampak sibuk.
Seketika saja kedai KutuBuku coffee kedatangan banyak pengunjung. Hal ini membuat Revi mengurungkan niat untuk berbicara lebih banyak dengan Zevan. Seusai kopi dia habis, dirinya menyimpan buku di rak lalu beranjak dari tempat itu. Mungkin lain kali bisa mengobrol dengan lelaki itu, pikir dia. Di sisi lain, Zevan masih sempat memperhatikan kepergian Revi.
Keesokan harinya, perempuan tersebut kembali datang. Dia duduk di tempat yang sama. Dengan cepat Zevan menghampiri. “Mau pesan apa?”
“Caramel Macchiato satu,” jawab Revi.
“Ada yang lain?” Lagi-lagi hanya gelengan kepala. Zevan yang keheranan hanya bisa mengernyitkan dahi. Merasa dejavu dengan momen ini. Padahal baru kemarin dia bertemu dengan Revi, tapi sang pelanggan kelihatan asing. Seolah-olah sekarang adalah pertemuan pertama mereka.
Tak ingin memikirkan hal tersebut, dia kembali ke meja bar. Zevan pun mulai membuat kopi untuk Revi, sesekali memperhatikan perempuan itu yang kini sedang membaca buku yang sama seperti yang dibacanya kemarin. “Hening Setelah Rintik,” gumam Zevan. Dia teringat dengan sesuatu. “Mungkinkah dia penggemar buku itu?”
“Van, kenapa kamu bicara sendiri? Nanti kerasukan, loh!” ejek Arsenio sambil menyenggol lengan Zevan.
“Mustahil aku kerasukan, tubuhku kebal.”
“Kebal? Kamu dukun?” Mendengar ejekan itu, Zevan hanya melengos. Tiba-tiba saja Arsenio membuang napas berat membuat sang barista meliriknya. Terlihat raut wajah kebosanan di sana.
“Ada apa?”
“Jika hari biasa, kedai ini sepi sekali. Hanya ada beberapa orang yang datang, satu ... dua ... ck! Tidak sampai 10 orang. Kalau saja bos mau berevolusi, pasti kedai akan ramai,” keluh Arsenio seraya menyandar ke meja bar, membelakangi para pengunjung yang sibuk dengan aktivitas masing-masing.
“Aku lebih suka sepi, kalau ramai kita kewalahan. Ingat! Hanya kita berdua yang bekerja di sini. Karyawan lain memutuskan resign karena kedai sepi,” sahut Zevan membuat Arsenio tertawa.
“Miris sekali hidup kita, terkekang oleh permintaan bos buat bertahan. Tidak tahu alasannya apa, tapi untungnya kita tetap digaji.”
Arsenio merasa lucu dengan hidupnya sendiri. Dia ingin bekerja di tempat lain, sayangnya tidak diperbolehkan oleh bosnya. Meski digaji dengan jumlah yang lumayan, tapi dia merasa sangat bosan. Belum lagi kalau kedai sepi, keduanya tidak melakukan apa-apa selain menunggu pengunjung datang.
Mendengar keluhan temannya itu, Zevan hanya bisa menggelengkan kepala keheranan. Dia tidak menyangkal karena memang benar adanya.
Seusai meracik Caramel Macchiato, Zevan meminta Arsenio untuk mengantarkan pesanan ke meja di mana Revi duduk. Namun, sang pelayan kedai ini menolak dengan alasan ingin pergi ke kamar mandi. Melihat reaksi menyebalkan dari sang teman, Zevan memutuskan untuk mengantarnya sendiri.
“Caramel Macchiato satu.” Dia mengulangi pesanan untuk memastikan benar atau tidaknya. Revi menoleh lalu mengangguk.
Tiba-tiba saja Zevan bertanya, “Kamu penggemar buku Hening Setelah Rintik karya Vieraheta?”
Revi terkejut mendengar pertanyaan Zevan yang terdengar tiba-tiba. Zevan sempat meminta maaf sampai akhirnya dia mengulangi pertanyaan dengan nada lebih pelan. Alih-alih menjawab, Revi malah tertawa. “Kamu tidak perlu sampai mengulang begitu, aku dengar, kok.”
“Hehehe maaf! Aku terlalu semangat. Karya Vieraheta cukup bagus, aku selalu terhanyut oleh cerita-cerita yang dia buat, termasuk Hening Setelah Rintik,” balas Zevan sambil menunjuk ke buku yang dipegang Revi, kini dia sedang membaca buku itu. Perempuan tersebut sempat melihat ke arah benda yang dia pegang lalu mengangguk, menyetujui apa yang dibilang Zevan.
“Sayangnya ...,” kata Revi tertahan membuat Zevan mengernyitkan dahi. “Ada sesuatu yang tidak kamu sadari.”
Bersambung ...

Ookamisanti_
103 Pengikut · 13 Novel