


oleh Maharani Asmaranala · 21 Bab
Menyandang julukan sebagai Anak Sukerto membuat Maharani Asmaranala tak pernah beruntung dalam urusan asmara. Ia kerap menuai cibiran dan cemooh jika kelahirannya membawa sial. Di satu hari yang tak terduga, ia menemukan secarik surat di dalam laci meja Neneknya. Di dalam surat itu sang Nenek menulis bahwa hanya sang penerima suratlah yang bisa membantu Maharani, agar gadis itu terlepas dari belenggu iblis yang mengikatnya selama ini. Dengan berbekal tekad serta keingintahuan yang kuat, Maharani berusaha mencari alamat orang misterius tersebut, meski pada akhirnya ia harus menempuh perjalanan spiritual yang benar-benar gila. Lantas, mampukah Maharani terlepas dari belenggu iblis tersebut?
“Mbak Rani, hari ini cantik sekali. Saya saja sampai pangling lho.”
Suara Mbok Lasmi memecah sunyi. Ia berjalan mendekati Maharani, yang baru saja selesai berhias. Sementara itu, manik matanya terus-menerus mengarah ke pantulan kaca, menatap penuh kekaguman.
Wanita yang berusia sekitar lima puluh tahun itu tidak bisa menyembunyikan rasa kagum saat anak majikannya, yang ia rawat sejak Belia, telah tumbuh menjadi gadis cantik jelita.
Namun, di balik kekaguman itu, Mbok Lasmi merasa ada sesuatu yang tampak berbeda. Wajah Maharani terlihat muram, sorot matanya kosong, dengan pandangan lurus ke depan. Entah apa yang sedang memikirkan Maharani, atau justru memang tidak ada sedikit pun isi dalam lamunannya.
Maka, dengan penuh kepedulian, Mbok Lasmi mengusap lembut pundak Maharani sambil bertanya, “Mbak Rani, baik-baik saja?”
Sentuhan hangat yang dirasakan gadis itu pun seketika membuyarkan lamunannya, disertai dengan seulas senyum tipis yang sedikit dipaksakan.
“Saya baik-baik saja, Mbok. Saya hanya kurang istirahat. Semalam saya kurang tidur.”
Mbok Lasmi mengangguk ragu. Lalu, dengan penuh keyakinan, wanita sepuh itu kembali menyyahut, “Saya itu kenal Mbak Rani bukan sehari dua hari. Bahkan saya tahu kapan Mbak Rani senang dan kapan Mbak Rani sedih. Ayo, cerita sama Simbok.”
Untuk sesaat, Maharani bergeming. Ia menatap Mbok Lasmi yang masih dengan setia duduk menemaninya. Lambat laun, rasa sesak kembali memenuhi rongga dadanya, mengingat betapa hidupnya dibalut dengan kemewahan dan gelimang harta.
"Mbok, apakah saya ini ditakdirkan menjadi gadis tua? Semua teman saya sudah berkeluarga. Sedangkan saya, tidak ada satu pun pria yang mau mendekati saya karena Ibu," ucap Rani dengan nada pilu.
Ia tak mampu menahan udara mata yang menggenang di sudut matanya. Sudah sejak lama ia memendam semuanya dan diam, karena semua yang ia lakukan di atas dasar kepatuhan. Namun, di sisi lain, hatinya meronta, terikat oleh aturan yang ada.
Aturan dan tradisi yang mengikat Maharani memang sangat ketat. Orang tua Maharani menentang hubungan asmaranya, dengan dalih bahwa lelaki pilihan Maharani tidak memenuhi kriteria. Sedangkan usianya saat ini sudah tidak lagi remaja.
Hatinya yang dingin dan beku, terkadang mendambakan kehangatan yang lebih dari sekedar teman.
"Kemarin, Ibu melihat saya diantar seorang pria. Bahkan, pria itu belum sempat menyatakan cinta kepada saya, tapi Ibu sudah murka. Ibu mengatakan kepada pria itu, jika dia masih berani mendekati saya, maka dapat dipastikan dia akan menerima kemalangan. Sebenarnya Ibu kenapa, Mbok? Saya ini kurang patuh bagaimana? Kenapa, di saat saya ingin mencari kebahagiaan sendiri, Ibu justru terkesan mengganggu? Apa jangan-jangan saya ini bukan saudara? Atau, sebenarnya saya adalah saudara Simbok?"
Antara kasihan dan geli, kemarahan Maharani justru membuat Mbok Lasmi terkikik. Dengan penuh kasih sayang, ia mengusap punggung tangan Maharani sebagai bentuk dukungan yang tak terucap, sekaligus menunjukkan kedekatan tanpa batas.
“Kalau Mbak Rani menganggap Simbok ini sebagai ibu, maka dengan senang hati Simbok juga akan menganggap Mbak Rani sebagai anak. Karena status Simbok dan Mbak Rani tidak lebih dari emban dan majikan. Seluruh pembantu di rumah ini juga tahu bagaimana Ndoro Ibu mengandung dan melahirkan cah ayu ini. Jadi, dapat dipastikan bahwa Mbak Rani adalah putri kandung Ndoro Ibu.”
Penuturan Mbok Lasmi agaknya sedikit melegakan hati Maharani. Namun, dengan rasa penasaran, ia kembali bertanya, “Apakah kelahiran saya itu membawa kesialan, Mbok? Banyak yang bilang bahwa kemalangan yang dimaksud itu berkaitan dengan takdir saya sebagai anak Sukerto.”
“Siapa yang bilang, Mbak? Nanti biar Simbok remas mulutnya.”
Maharani terkikik geli saat melihat Mbok Lasmi memanyunkan bibir sambil mengayunkan tangan seperti hendak mencubit.
“Ada, Mbok. Teman saya. Katanya salah satu kerabatnya punya putra yang lahir sebagai anak Sukerto seperti saya. Tapi, dia tidak pernah diruwat. Saat menginjak usia tiga tahun, anak itu meninggal dunia. Mendengar penjelasan teman saya, saya jadi berpikir, seandainya saya tidak diruwat, mungkinkah saya tidak akan hidup sampai sekarang? Sekalipun Gusti Pangeran memberi saya kehidupan, mungkinkah kesialan juga turut membersamai hidup saya? Kenapa takdir begitu kejam dengan saya, Mbok?”
“Tidak ada bayi yang lahir membawa sial, Mbak. Percaya sama Simbok. Semua bayi yang lahir membawa keberuntungan. Tinggal bagaimana takdir menentukan nasib masing-masing. Karena syarat mati itu bukan sakit ataupun tua. Gusti Pangeran bisa mengambil nyawa kita kapan saja.
Ruwatan yang dilakukan Ndoro Ibu semata-mata untuk meminta perlindungan kepada Gusti, agar keluarga Ndoro Ibu senantiasa diberi keselamatan, dengan cara berbagi kesenangan kepada warga.
Coba lihat ke luar, Mbak. Warga begitu antusias ingin menyaksikan pagelaran wayang kulit. Coba kalau Ndoro Ibu tidak mengadakan pesta ruwatan seperti ini, mana mungkin warga desa bisa menikmati tontonan gratis?”
Maharani mengangguk ringan. Ia membenarkan ucapan Mbok Lasmi. Bahkan, upacara ruwatan yang diadakan keluarga Maharani selalu menjadi momentum yang ditunggu-tunggu.
Selama 25 tahun terakhir, warga akan berbondong-bondong memenuhi halaman rumahnya yang luas untuk menyaksikan pagelaran wayang.
Kendati, setelah acara usai, Kang Kasmujo—tukang kebun di rumah itu—harus bekerja ekstra karena rumput yang ia rawat menjadi rusak akibat terinjak-injak warga.
“Simbok benar. Setidaknya, dengan adanya ruwatan ini, saya bisa berbagi kebahagiaan dengan warga. Ayo, Mbok, kita keluar. Ibu pasti sudah menunggu saya.”
Seulas senyum kembali tersungging, mengaburkan kesedihan yang sebelumnya sempat meraja. Kendati rasa gundah belum hilang sepenuhnya, malam ini Maharani harus kembali memasang topeng kebahagiaan yang palsu, sebab ia akan bertemu dengan banyak warga dan para tamu undangan lainnya.
Baru saja Maharani hendak bangkit dan berdiri, derak pintu menggema berkali-kali, seolah baru saja terjadi peristiwa genting.
Maka, buru-buru Mbok Lasmi berjalan mendekati pintu untuk membukanya.
“Oalah, kamu toh, Kas. Sebentar lagi kami keluar. Mbak Rani baru saja selesai didandani,” ucap Mbok Lasmi kepada Kasmujo, tukang kebun keluarga itu.
“Anu, Las. Aku mau menyampaikan kabar. Dalang yang sudah diundang Ndoro Ibu mengalami kecelakaan.”
Kabar itu sontak membuat bola mata Mbok Lasmi membulat sempurna.
“Lho, kok bisa?!”

Maharani Asmaranala
3 Pengikut · 1 Novel