“Kang, beras di gentong tinggal segenggam, dan lauk kemarin sudah berbau basi. Kalau anak kita nanti merengek minta makan siang, apa yang harus Kuberikan padanya?” Suara Safira bergetar, tertahan oleh kepedihan yang teramat sangat di rongga dadanya.
Zuned, suaminya, hanya diam mematung di sudut ruangan sempit itu. Pandangan matanya kosong, menatap lantai semen yang retak-retak dan berdebu. Di luar rumah, langit menggantung rendah dengan warna kelabu pekat, menumpahkan rintik hujan yang tak kunjung reda sejak subuh tadi.
Suara air menetes berirama konstan memenuhi ruangan.
Pluk, pluk, pluk.
Air hujan merembes melalui celah-celah genting yang sudah rapuh, menimpa lantai dan membentuk genangan kecil di dekat pintu utama. Rumah kontrakan petak berukuran tiga kali empat meter itu seakan menjadi saksi bisu atas kehancuran finansial keluarga kecil mereka. Setiap sudut ruangan memancarkan aroma lembap, bau tanah basah yang bercampur dengan keputusasaan yang pekat.
Safira mengusap pelipisnya yang terasa berdenyut nyeri. Sebagai seorang istri dan ibu, ia sudah melakukan segala cara untuk bertahan hidup. Piring-piring plastik kosong tertata rapi di atas rak kayu reyot, sementara panci di atas kompor minyak tanah hanya berisi sisa air rebusan kemarin malam. Tidak ada lagi barang berharga yang bisa digadaikan. Cincin pernikahan mereka yang sederhana sudah berpindah tangan ke pemilik warung sembako di ujung gang sejak bulan lalu demi menebus sekantong terigu dan minyak goreng.
Tekanan hidup ini terasa semakin menghimpit tatkala memikirkan tumpukan tagihan yang terus berdatangan tanpa ampun. Mulai dari iuran bulanan kontrakan yang sudah menunggak selama tiga bulan, utang pada rentenir keliling yang bunganya mencekik leher, hingga biaya sekolah anak mereka yang terancam macet total. Zuned, yang tadinya bekerja sebagai buruh pabrik harian lepas, telah kehilangan pekerjaannya akibat efisiensi massal setengah tahun lalu. Sejak saat itu, roda kehidupan mereka berputar terbalik, terjun bebas ke jurang kemiskinan ekstrem yang paling dasar.
“Aku sudah berusaha mencari pekerjaan ke sana ke mari, Safira,” ucap Zuned akhirnya dengan suara parau, nyaris berbisik. Ia memalingkan wajah, menghindari tatapan mata istrinya yang menyalang penuh tuntutan sekaligus kepedihan. “Tidak ada satu pun pabrik atau toko yang mau menerima tenaga kerjanya. Semua menolak dengan dalih usia atau kuota yang sudah penuh.”
“Hidup tidak bisa berhenti hanya karena alasan penolakan, Kang! Perut anak kita tidak bisa diajak kompromi dengan alasan klise seperti itu,” balas Safira dengan nada tinggi yang tertahan, berusaha agar suara tangisnya tidak pecah di hadapan suaminya. Ia merasa lelah, sangat lelah, menghadapi kenyataan hidup yang seolah tak pernah berpihak pada orang kecil seperti mereka.
Suasana kembali senyap, menyisakan deru angin sore yang menderu kencang di luar dinding bilik tripleks. Ketegangan finansial ini bukan sekadar masalah angka di atas secarik kertas tagihan, melainkan sebuah teror mental yang menggerogoti kewarasan mereka setiap detik. Setiap kali fajar menyingsing, beban pikiran tentang bagaimana cara mengisi perut di hari itu langsung menghantam kepala Safira bagaikan palu godam.
Safira melangkah pelan menuju dapur kecil di sudut ruangan. Ia membuka tudung saji plastik berwarna merah yang sudah kusam. Di dalamnya, hanya ada sisa nasi kemarin yang sudah mulai menguning dan dikerubungi semut hitam kecil. Hatinya terasa perih bagaikan disayat sembilu. Ia mengambil piring seng dan mulai memisahkan nasi yang masih layak makan, sementara sisanya ia buang ke tempat sampah dengan linangan air mata yang akhirnya tumpah juga di pipinya.
Kemiskinan ekstrem ini telah merenggut kebahagiaan sederhana mereka. Dulu, meskipun hidup pas-pasan, gelak tawa masih sering menghiasi meja makan kecil itu. Namun, sekarang, senyum telah berganti dengan garis-garis kecemasan yang terukir jelas di wajah Zuned dan Safira. Beban psikologis akibat himpitan utang membuat Zuned sering melamun berjam-jam, menatap dinding kosong dengan tatapan nanar yang menyimpan sejuta rahasia gelap.
Safira kembali mendekati suaminya, membawa piring berisi sisa nasi kemarin yang telah ia hangatkan seadanya di atas kompor sumbu. Ia menyodorkan piring itu dengan tangan gemetar. “Makanlah sedikit, Kang. Biar aku nanti mencari tetangga yang bisa dipinjami beras barang seliter.”
Zuned menggeleng pelan. Ia bangkit dari duduknya dengan gerakan gontai, merapikan jaket kainnya yang sudah kusam dan berbulu di bagian siku. “Tidak usah, Safira. Simpan saja untuk anak kita nanti siang. Aku mau keluar sebentar.”
“Mau ke mana, hujan-hujan begini? Hari sudah mulai petang, Kang,” cegah Safira dengan kening berkerut. Ada perasaan tidak enak yang tiba-tiba merayapi relung hatinya setiap kali Zuned berpamitan keluar rumah pada jam-jam rawan seperti itu belakangan sering dilakukannya.
Zuned tidak langsung menjawab. Ia mengenakan sandal jepitnya yang sudah tipis, lalu menatap Safira dengan sorot mata yang sulit diartikan, ada kilatan aneh, dingin, sekaligus penuh tekad yang tidak biasa. “Aku mau menemui seseorang. Seseorang yang mungkin bisa mengubah nasib sial kita malam ini juga.”
Pintu kayu tua itu berderit terbuka, menampilkan tirai air hujan yang turun semakin lebat di luar sana. Zuned melangkah keluar tanpa membawa payung, membiarkan tubuh kurusnya langsung diterpa angin malam yang dingin menusuk tulang. Safira terpaku di ambang pintu, menatap punggung suaminya yang perlahan-lahan menghilang ditelan kegelapan malam dan pekatnya kabut desa. Ada debar jantung yang tidak biasa, sebuah firasat buruk yang mendadak mencengkeram dadanya kuat-kuat saat mendengar tawa samar yang terbawa angin dari kejauhan.