“Lembur lagi, Rian?” Suara itu lembut, renyah seperti kepingan biskuit.
Rian menoleh. Maya berdiri di sampingnya dengan tas ransel menggantung di bahu. Senyum hangatnya membuat ruang kantor yang dingin terasa sedikit lebih hidup.
“Ah, hanya revisi kecil,” jawab Rian. Ia menahan suara seraknya sambil menutup map di meja.
Maya mendekat, jemarinya menyentuh tumpukan kertas. “Kamu butuh istirahat. Nanti malah jatuh sakit.”
Tatapan cokelatnya sarat perhatian. Rian menelan ludah, merasa bersalah sekaligus hangat. Bagaimana mungkin seorang kuyang membiarkan dirinya dekat dengan gadis sebaik ini?
“Aku tidak bisa sakit,” gumam Rian lirih, hampir seperti berbicara pada dirinya sendiri.
Maya mengernyit. “Apa maksudmu?”
Cepat-cepat Rian mengalihkan topik. “Kalau kamu sendiri? Sudah selesai?”
“Sudah sejak tadi,” jawab Maya sambil menunjuk jam dinding. “Lihat, sudah pukul delapan. Pulang sekarang?”
Rian menghela napas panjang. Dari jendela, lautan lampu kota berkilau. Malam sudah sempurna. “Iya, aku ikut.”
Mereka berjalan menuju lift. Suasana canggung, tapi tidak menekan. Rian bisa merasakan jarak Maya hanya sejengkal darinya, cukup untuk membuat dadanya menegang.
“Kamu gemetar.” Maya melirik, keningnya berkerut. “Kedinginan?”
“Tidak, hanya lelah,” sahut Rian cepat, merapikan dasinya sebagai alasan.
Begitu pintu lift terbuka di lobi, bisikan asing langsung menembus pikirannya. Bukan suara manusia, melainkan dengung samar yang menusuk naluri. Ia refleks menajamkan pendengaran.
Maya menyentuh lengannya. “Kamu yakin baik-baik saja?”
“Aku hanya merasakan sesuatu yang janggal.” Rian menepis halus tangannya, matanya menyapu ruangan. Aroma sate bakar, asap kendaraan, dan parfum malam bercampur dengan wangi tanah basah serta darah segar.
Ia tidak bisa menjelaskan lebih jauh. Karena itu, ia memilih mengantar Maya pulang.
Saat Maya tiba di depan apartemennya, Rian agak lega.
“Hati-hati, ya. Kamu kelihatan pucat,” ucap Maya khawatir, menggenggam talinya tas.
“Aku baik-baik saja.” Rian memaksakan senyum, meski tubuhnya menegang.
Begitu Maya masuk, ia berbalik. Nalurinya sudah menjerit. Bisikan itu berasal dari proyek bangunan tua tak jauh dari situ.
“Keluar!” seru Rian, suaranya bergema di antara tiang-tiang beton. “Aku tahu kamu di sini!”
Hening.
Lalu, tawa lirih pecah dari balik gelap.
“Aku tahu kau bukan pemburu,” bisik suara itu, lirih, tapi menusuk. “Aromamu sama sepertiku. Bedanya, kau pengecut. Kau takut menjadi dirimu sendiri.”
Rian mengepalkan tangan. “Aku tidak takut. Aku hanya tak mau ada kekacauan di sini.”
Makhluk itu terkekeh, suaranya melengking bagai besi beradu. “Seorang arsitek kuyang. Betapa lucu. Kau membangun sesuatu yang tak pernah bisa kau miliki. Kau menipu dirimu sendiri, Rian.”
Dari atap, sebuah kepala melesat turun. Rambut panjang kusut berayun, organ-organ dalam menggantung, dan jantung merah pekat masih berdetak.
Rian bergidik.
“Kau lapar,” ucapnya pelan.
Mata merah itu menyipit, berkilat. “Kau juga. Kau bisa bersembunyi di balik jas dan dasi, tapi tubuhmu tetap berteriak minta makan. Kau sama busuknya denganku.”
Rian merasakan panas menjalar dari tenggorokan hingga perut. Naluri itu menggelihat, mendesak keluar. Ia menahan giginya yang bergetar.
“Aku berbeda,” desisnya, rahang mengeras.
Makhluk itu melayang mendekat, rambutnya menyapu udara. “Berbeda? Kau pikir hanya dengan menyembunyikan organmu, kau jadi suci? Kau lahir untuk memburu.”
Rian mundur setapak. Pelipisnya berkeringat, jemarinya menegang. Kalau aku kehilangan kendali malam ini, semua kebohongan akan runtuh. Maya akan tahu. Semua orang akan tahu.
“Kau salah satu dari kami,” bisik makhluk itu, nadanya seperti racun yang merayap langsung ke otak.
“Cepat atau lambat, kau akan kembali.”
Angin malam mendadak berputar kencang. Debu beterbangan, kertas-kertas proyek melayang liar. Dunia di sekitar mereka seolah tercerabut dari riuh kota.
Rian mengatupkan bibir. Ia tahu tak bisa lagi diam. Jika ia kalah, manusia pertama yang ditemui makhluk itu akan jadi korban.
Dengan suara serak, ia berbisik pada dirinya sendiri, “Aku harus melindungi mereka. Walau harus melawan diriku sendiri.”
Mata merah itu kembali menyala. Makhluk itu melesat, organ-organnya berayun liar, menebar bau darah yang menusuk hidung.
Rian mengangkat tangannya, menahan gemetar yang hampir meledak. Malam di atas Jakarta pun pecah, bukan hanya oleh cahaya lampu kota, melainkan juga oleh pertempuran rahasia antara dua makhluk yang tak seharusnya ada.
***
Udara bergetar ketika kuyang itu menukik. Rambut panjangnya berdesir seperti cambuk, organ-organ yang menggantung berayun liar, memercikkan cairan lengket ke lantai semen. Bau amis darah langsung menusuk hidung Rian.
Rian menghindar ke samping, pundaknya membentur tiang beton yang setengah runtuh. Debu jatuh menimpa jasnya.
Makhluk itu terkekeh. “Kau lincah untuk seseorang yang pura-pura manusia.”
Rian menahan napas, lalu melangkah ke depan. Matanya berubah menjadi warna putih matanya memerah samar, tanda nalurinya bangkit. Ia tahu, sekali ia lepaskan wujud aslinya, rahasia hidup normalnya akan hancur.
“Aku tidak mau melawanmu,” kata Rian, suaranya berat, bergetar oleh dorongan yang ia tahan.
“Pergilah dari sini sebelum aku kehilangan kendali.”
Kuyang itu menunduk, menatapnya dengan pandangan lapar. Jantung yang menggantung di dadanya berdetak cepat. “Kau bicara seperti manusia, tapi aku bisa mencium lapar itu.”
Ia melesat lagi. Kali ini, kuku tajamnya menyambar. Rian menangkis dengan lengan, lalu mendorong keras. Tubuh makhluk itu terbanting ke dinding semen, meninggalkan retakan lebar.
Untuk sesaat, suasana senyap. Hanya suara napas berat Rian yang terdengar, bercampur dengan detak jantung yang berpacu terlalu cepat.
Kendalikan diri. Jangan lepaskan. Namun, kuyang itu bangkit dengan senyum melebar. “Aku bisa membantu kau menerima dirimu, Rian. Kau hanya perlu menyerah.”
Ia melayang lebih dekat, bisikannya menusuk telinga. “Bayangkan rasanya, darah hangat manusia segar di tenggorokanmu. Bayangkan kau tidak lagi pura-pura.”
Rian menutup mata sejenak. Bayangan itu begitu nyata—terlalu nyata. Ia bisa mencium wangi darah, merasakan sensasi logam di lidahnya.
Tiba-tiba, suara samar lain merobek pikirannya.
“Rian?”
Ia tersentak. Dari kejauhan, di balik pagar proyek, Maya berdiri. Ia menatap ke arah mereka dengan wajah pucat, tampak bingung.
“Maya?!” Rian terbelalak. Darahnya terasa dingin.
Kuyang itu tertawa keras. “Sempurna. Makan malam sudah datang sendiri.”
“Minggir!” Rian mendesis, berdiri di antara Maya dan makhluk itu. Rahangnya mengeras, matanya kini berkilau merah penuh.
Naluri yang ia tekan pecah dalam sekejap. Organ-organ di tubuhnya mulai bergetar, seperti ingin melompat keluar.
Maya memanggil lagi, suaranya gemetar, “Rian, apa yang terjadi?”
Jantung Rian berdegup kencang. Ia tahu, dalam hitungan detik, rahasianya akan terbongkar.
Di sanalah, di bawah lampu jalan redup, Jakarta malam menjadi saksi. Pilihan mustahil antara menjaga ilusi manusia atau menunjukkan monster yang sebenarnya.