


oleh Strawberry_pink🍓 · 102 Bab
Terlahir sebagai seorang anak perempuan adalah penyiksaan terbesar dalam hidup Aerys Careenata Garlen. Bukan dia yang diinginkan oleh pasangan konglomerat Garlen. Bukan anak perempuan yang mereka nantikan untuk menjadi penerus keluarga. Hanya karena takdir Tuhan yang melahirkannya sebagai anak perempuan, Careen harus menanggung bebannya untuk menjadi sempurna seperti yang orang tuanya inginkan. Namun, menjadi sempurna belum bisa membuat orang tuanya puas. Terlebih Luella Garlen--ibu Careen yang tak bisa lagi memiliki anak membuat suaminya--Joyshin Garlen berselingkuh. Bahkan sang ayah mendesaknya untuk bertunangan dengan sahabat laki-lakinya yang juga berasal dari keluarga konglomerat. Kehidupan Careen semakin hancur saat mengetahui sesuatu yang tak pernah terbayangkan dalam hidupnya. Bagaimana kehidupan Careen setelah itu? Apakah ia akan menjalani penderitaan yang lebih dalam, atau sebaliknya? IG :_deiy00.1m
Di Washington, Amerika Serikat, tepatnya di SMA Vanham, sekolah elite yang menjadi ajang perkumpulan anak-anak konglomerat Amerika.
Ramai para siswa terduduk di kursi masing-masing, menyaksikan acara yang diadakan setiap dua tahun sekali. Acara besar yang diselenggarakan tiap usainya semester, dan kini, menjadi akhir semester dua bagi seorang Aerys Careenata Garlen.
Gadis cantik, yang merupakan anak tunggal dari pasangan konglomerat Korea. Keluarga Garlen terkenal dengan kekayaan yang dimiliki.
Namun, tak diketahui jika garis keturunan mereka adalah seorang anak perempuan sehingga keberadaannya disembunyikan dari publik.
Bahkan, meski namanya memiliki marga Garlen, orang-orang hanya mengenalnya sebagai Aerys Careenata saja.
Garlen adalah konglomerat Korea nomor satu, yang memiliki kekayaan dari hasil kerja gelap mereka. Dikenal dengan pepatah mereka "Mengusik Garlen, sama saja dengan menentang Tuhan". Bahkan tak diketahui, jika istri Garlen memiliki komunitas mafia yang dibangun secara ilegal. Disusul oleh Gilbert, lalu konglomerat nomor tiga dari keluarga Yordan yang sangat menjaga privasi mereka.
Careen duduk bersebelahan dengan beberapa teman satu kelasnya. Tak sabar menanti pengumuman peringkat kelas setiap angkatan. Jantungnya berdegup kencang, takut jika apa yang didapatkannya tak sesuai keinginan.
Se-berjalannya acara, di mana setiap siswa-siswi menyaksikan dengan penuh ketenangan dan canda tawa, Careen justru diselimuti ketegangan serta ketakutan yang tiada henti. Ia mencengkeram roknya kuat, memperhatikan pembawa acara yang masih berdiri di atas panggung mengumumkan peringkat.
Sesekali kepalanya menoleh pada kamera yang menyiarkan acara secara langsung. Ia menelan salivanya susah payah, sangat yakin jika orang yang begitu dikenalnya di luar sana menonton tanpa luput dari tempatnya.
“Angkatan 25, kelas sebelas. Peringkat tiga, diraih oleh Fallen Horf dari kelas 11#4.”
“Huh,” Careen menghela napasnya lega. Mendengar bahwa ia tak mendapat peringkat tiga dari seluruh anak kelas sebelas.
Namun, degup jantungnya masih berdetak kencang. Sorak-sorai yang diiringi dengan tepukan tangan meriah membuatnya semakin kalut dalam kekhawatiran.
“Peringkat dua, diraih oleh Aerys Careenata dari kelas 11#1.”
“Woaaahh!!!”
Deg!
Keringat dingin bercucuran di sekitar wajahnya. Ia terdiam mematung menatap sang pembawa acara dengan tatapan tak percaya.
“Peringkat satu, diraih oleh Martha Barlon dari kelas 11#3. Hanya selisih nilai 0,5 dengan Aerys Careenata.”
Prok! Prok! Prok!
“Woah ….”
“Nggak … nggak mungkin,” batinnya tak percaya. Saking terkejutnya, ia sampai tak mendengar berbagai pujian yang terlontar dari mulut teman-temannya.
“Careen, selamat, ya.”
“Keren banget!”
“Nggak nyangka, deh, kita punya sahabat sepintar dan secantik Careen.”
“Lihat, kan? Udah aku duga Careen bakal masuk peringkat tiga besar angkatan kelas sebelas tahun ini.”
Bukannya menggubris, Careen justru kembali menoleh pada kamera di sana. Ia tersenyum kecut. Bahkan cairan bening tampak membendung di pelupuk matanya.
“Reen, kamu kenapa?” tanya Jamie, salah satu sahabat laki-laki Careen.
Gadis itu kontan beralih menatap Jamie. Ia menggeleng kecil hampir tak terlihat. Namun, ekspresinya tak mampu menyembunyikan ketakutan apa yang dialami.
“Reen, kamu beneran baik-baik aja?”
“Aku–”
Kalimatnya terhenti kala sebuah panggilan masuk. Careen mengambil ponselnya dari dalam saku rok, dilihatnya nama seseorang yang begitu familiar.
Ia mengangkat pandangannya pada Jamie, sebelum akhirnya angkat kaki dari sekumpulan siswa-siswi di sana.
“Halo, Pah?” sapanya pada orang di seberang sana, sosok yang sebelumnya menelepon hingga membuat Careen gemetaran.
“Pulang sekarang.”
“Ma-maksud Papah?”
“Pulang sekarang!” bentaknya membuat Careen tersentak kaget.
Cairan yang sebelumnya membendung di matanya, menyatu menjadi butiran air mata yang dengan bebasnya mengalir membasahi wajah cantik Careen. Gadis itu menangis, mengerti apa yang dimaksud pulang oleh ayahnya.
“Pah, aku minta maaf. A-aku … hiks ….”
“Kita bicarakan setelah kamu kembali ke Korea.”
TUT*
Panggilan diakhiri sepihak oleh sang ayah. Careen terduduk di lemas di rerumputan yang berada di taman sekolahnya. Ia melihat sisi kanan dan kiri, sebelum akhirnya menangis tersedu-sedu.
“Hiks … hiks …, kenapa aku sebodoh ini? Kenapa aku harus jadi gadis bodoh?!” Careen memukuli kepalanya kesal.
Ia menyembunyikan wajahnya di balik telapak tangan. Tak ingin seorang pun melihat tangisnya yang menyedihkan.
Setelah semua usahanya digapai hingga akhirnya berhasil bebas dari kediaman bak neraka, sekarang ia diharuskan kembali ke Korea hanya karena nilainya yang selisih angka 0,5 saja.
Careen tak ingin kembali ke negaranya. Dia tak mau mendapat kekerasan dari orang tuanya lagi. Begitu lulus sekolah menengah pertama dengan nilai paling tinggi di sekolahnya, ia dikirim ke Amerika untuk melanjutkan pendidikan sekolah menengah atas. Tentu karena permintaan darinya.
Pasangan konglomerat Garlen yang memang ingin menyembunyikan putrinya dari publik, setuju, karena memang SMA Vanham adalah SMA terbaik di Amerika Serikat.
Namun, ia melakukan kesalahan besar. Di mana seharusnya mendapat peringkat pertama di semester dua angkatan dua puluh lima ini, ia justru mendapat peringkat dua. Bagi orang tuanya, hal sekecil ini adalah aib bagi keluarga. Aib yang tak boleh diketahui oleh siapa pun termasuk kerabat mereka sendiri.
Careen menatap langit biru yang begitu cerah. Lengkungan di bibirnya membentuk senyum yang begitu lebar.
Kenapa yang dilihatnya tak sesuai dengan apa yang dirasakannya kali ini. Dia merasa kesal, padahal tak ada sangkut-pautnya dengan hidup yang dijalani.
Perlahan Careen bangkit, berbalik hendak kembali ke jajaran para siswa-siswi di lapangan utama. Namun, baru selangkah berjalan, ia sudah dipertemukan dengan pemilik wajah tampan yang tak lain adalah sahabatnya, Jamie.
Remaja itu berlari kecil menghampiri Careen. Menangkap kedua bahunya.
“Reen, kamu kenapa? Kamu habis nangis?” tanyanya khawatir. Melihat mata indahnya yang memerah seolah baru saja menangis tersedu-sedu.
Sebelum menjawab, gadis itu mengalihkan pandangannya ke arah lain. Ia mengusap ingusnya.
“Reen, jawab aku! Jangan cuman diem aja!”
“Nggak usah ikut campur!” tukasnya langsung menepis tangan Jamie.
Gadis itu berjalan mendahului, tak ingin memperlihatkan wajahnya yang mungkin tampak kacau. Sementara Jamie, ia menunduk, mengamati tangannya yang baru saja ditepis dengan kasar. Sejak kapan Careen jadi bersikap seperti ini?
***
Tak melanjutkan acara perayaan di sekolah, Careen lebih memilih untuk pulang ke rumahnya. Biarpun ia mengetahui bahwa besok akan meninggalkan Amerika untuk selamanya, tapi ia bahkan tak berpamitan pada siapa pun.
Ia yakin, jika mengatakan kepergiannya, sahabat-sahabat yang dimiliki terutama Jamie tak akan mengijznkannya dengan mudah.
Careen tersenyum lebar sembari menginjakkan kakinya masuk ke sebuah bangunan besar. Salah satu bangunan mewah milik keluarga Garlen yang ada di Amerika.
Baru beberapa langkah ditekuni, ia dihadapkan pada lima koper yang diletakkan berjajaran tak jauh dari pintu masuk.
Beralih Careen menatap seorang maid yang berdiri di sebelah koper tersebut.
“Bi, ini ….”
“Tuan meminta saya menyiapkan semuanya.”
“Tapi 'kan aku baru pulang.”
“Nona nggak perlu khawatir. Tuan sudah memesan tiket pesawat ke Korea. Jadi Nona bisa pergi sekarang.”
“Bi, jangan becanda! Apa aku harus pulang sekarang ju–”
“Ini perintah dari Tuan.”
Careen memang seorang nona dari keluarga kaya raya yang posisinya diinginkan oleh semua orang. Namun, meski posisinya sebagai gadis yang memiliki segala kelebihan, sosoknya adalah anugerah Tuhan yang tak diinginkan oleh pasangan Garlen.
Seringkali ia berpikir, jika kelahirannya adalah sebuah kesalahan yang tak diinginkan oleh orang tuanya, kenapa pula ia harus diberi tempat tinggal sebagus ini.
Bangunan yang mewah dan megahnya tak bisa hanya diucapkan dengan kata-kata, dan hanya ditinggali oleh seorang gadis yang bahkan tak dianggap sebagai anak.
Aneh, bukan? Pasangan Garlen tak menginginkannya, tapi mereka juga yang menghidupi dengan membesarkannya penuh kemewahan.

Strawberry_pink🍓
71 Pengikut · 3 Novel