


oleh Clara Bloom · 9 Bab
Di tengah kegelapan yang menghancurkan dunia, pada malam malam purnama yang kedua puluh satu, lahir tiga bayi istimewa. Ketiganya ditakdirkan untuk membawa perdamaian. Dibesarkan dalam bayang-bayang rahasia, mereka tumbuh menjadi remaja tangguh dengan kekuatan super unik. Namun, kegelapan tak pernah jauh. Musuh misterius mengintai, berusaha menghancurkan mereka sebelum takdir mereka terwujud. Dengan bimbingan seorang guru bijaksana, mereka menghadapi perjalanan penuh tantangan, cinta, pengkhianatan, dan pertempuran sampai titik darah penghabisan di setiap langkah. Mampukah mereka menemukan kekuatan sejati dan menyelamatkan dunia? Atau akankah kegelapan menelan mereka? Apakah kisah tentang takdir, keberanian, dan persaudaraan ini akan berakhir seperti yang kita pikirkan? Ikuti perjalanan mereka dan bersiaplah dengan setiap kejutan di setiap akhir bab.
“Kang ..., bangun,” rintih Andini gelisah. Perempuan cantik berambut panjang itu memegang perut-nya yang terlihat sangat besar.
“Hmmm, ada apa istriku? Kakang lelah sekali hari ini,” lenguh pria yang berbaring di samping itu.
Mahendra, suami Andini, terlihat begitu mengantuk. Dia bahkan hampir tidak bisa membuka kedua bola matanya.
“Kang! Sepertinya aku akan melahirkan sekarang.”
Kata-kata Andini sontak membuat Mahendra langsung melompat dari tempat tidur reyot milik mereka berdua. Tempat tidur yang berbahan dasar dari bambu itu bergesek dan menciptakan bunyi decitan yang memilukan.
“Hah? Tengah malam seperti ini?”
“S-sakit sekali, Kang. Aku sudah tidak kuat lagi.”
Mahendra mengusap wajahnya dengan kasar. Dia panik, apalagi melihat istrinya yang merintih kesakitan sambil terus memegang perutnya.
“Aku akan pergi menjemput dukun beranak dulu,” putusnya.
“Tapi aku takut, Kang. Aku tidak berani sendirian di sini.”
Bukan tanpa alasan Andini merasa ketakutan. Sejak masa kehamilannya, dalam mimpi gadis itu, dia selalu didatangi seorang lelaki tua berambut panjang dan berjubah putih. Lelaki itu selalu mengatakan hal yang sama kepadanya, kalau dia mengandung lebih dari satu bayi.
“Kakang, jangan tinggalkan aku."
Mahendra semakin panik. Dia tidak tega meninggalkan istrinya seorang diri di gubuk reyot milik keluarga kecil mereka.
“Aku akan kembali dengan cepat, istriku.”
“Kang! Sakit!” jerit Andini lebih kencang lagi.
“Istriku, bertahanlah. Aku berangkat sekarang.”
Walaupun terdengar nada protes dari Andini, tapi Mahendra harus melakukan sesuatu untuk menolong istrinya. Dihapusnya bulir-bulir peluh yang menghiasi kening istrinya. Ya, gadis cantik yang baru dinikahinya setahun yang lalu.
Andini sendiri tidak pernah mengenal kedua orang tuanya. Dia ditemukan waktu masih bayi di pinggir sebuah telaga, dan dibesarkan oleh sebuah keluarga kecil.
"Aku pergi dulu, istriku."
Pria itu mengecup kening Andini dan berlalu dari sana. Ia yang sudah mempelajari ilmu ‘Berlari Kaki Seribu’ langsung mempergunakan ilmu tersebut agar segera tiba di tempat tujuan.
Sepeninggalan Mahendra, Andini mencoba untuk bangkit berdiri, tapi perutnya seakan diremas-remas oleh tangan tak kasat mata.
Tiupan angin dingin dari luar, terdengar begitu menyeramkan di telinga Andini. Ditambah lagi kata-kata pria tua dalam mimpinya terngiang-ngiang dalam benaknya.
‘Bayi-bayimu akan menjadi pendekar-pendekar sakti. Mereka akan lahir pada saat bulan purnama yang kedua puluh satu. Mereka telah dipilih oleh para Dewa dan Kuasa Kebenaran.'
Meskipun bingung dengan makna mimpi tersebut, Andini tidak terlalu menganggap pusing hal tersebut. Mahendra selalu mengatakan kepadanya bahwa itu mimpi hanyalah bunga tidur yang tidak akan pernah terwujud.
Andini memiringkan badannya dan berusaha untuk melihat melalui celah-celah dinding bambu gubuk mereka.
Cahaya bulan purnama terlihat begitu mempesona, memantulkan warna perak ke seluruh permukaan bumi. Mengubah kegelapan malam menjadi pemandangan yang memikat dan misterius. Dia belum pernah melihat hal seperti itu sebelumnya.
“Ya Gusti! Benarkah semua ini akan terjadi seperti mimpi yang hamba alami selama ini?” cicit Andini sambil berusaha merubah posisi tubuhnya.
Lampu pelita yang merupakan satu-satunya penerang dalam ruang kamar mereka, cahayanya kini semakin meredup. Entah kenapa, bulu kuduk Andini meremang. Dia merasa seperti sedang diperhatikan oleh sepasang mata.
Kegelisahan, rasa sakit dan ketakutan, menyergapnya dengan tiba-tiba.
Tiba-tiba, Andini tersentak kaget, suasana yang tadinya sunyi, berganti dengan suara pintu bambu yang dibuka oleh seseorang. Ia mengira bahwa suaminya sudah kembali dari menjemput dukun beranak.
“Kakang! Syukurlah kamu sudah kemb ….”
Kalimat Andini terputus saat ia melihat dua orang di depannya. Seorang lelaki tua dengan rambut berwarna keemasan berdiri di sana, di ruang kamarnya.
Pakaiannya yang terbuat dari kulit menunjukkan kalau ia adalah seorang pertapa sakti. Di samping-nya berdiri seorang wanita paruh baya yang membawa sebuah keranjang berisi kain-kain yang tersusun rapi dan sebuah ember berisi air panas yang mengepul.
“K-kalian siapa?” tanya Andini tergagap. Dia mendorong tubuhnya sekuat mungkin agar bisa berdiri. Namun, apa daya, tubuh dan otaknya tidak bisa diajak untuk bekerja sama saat itu.
“Tenang dan tetaplah berbaring di tempatmu, Nisanak,” pinta lelaki tua itu dengan tegas.
Andini melotot dan terus berusaha untuk bangkit. Sayangnya, perutnya yang besar menghalangi gerakannya.
“P-pergi dari sini sekarang juga!"
“Nisanak! Kami datang untuk membantumu.”
“Apakah kalian adalah dukun beranak yang dijemput suamiku?” selidik Andini sambil meringis menahan rasa sakit di antara celah pahanya. Seperti ada sesuatu yang hendak keluar dan merobek bagian intimnya. Rasa sakitnya meluluh-lantakkan tulang-tulang dan sendi-sendi tubuhnya.
“Kami akan membantumu melahirkan bayi-bayimu sekarang juga."
“Berhenti!!! Jangan pernah mendekatiku!!!” raung Andini memasang sikap siaga. Walaupun sedang dilanda kesakitan, dia masih belum menyerah.
“Bayi-bayimu akan lahir sebentar lagi. Kami harus menolongmu dengan segera.”
“Apa maksudmu dengan menyebut bayi-bayi, tua bangka?” teriak Andini kalap. Kata-kata pria tua itu terngiang kembali dalam pikirannya.
“Kamu hamil kembar tiga. Itulah yang membuat masa kehamilan ini sangat menyiksamu."
Andini hendak menjawab, tapi tubuhnya terserang kontraksi yang luar biasa hebat. Dia merasa sesuatu menerjang bagian bawah tubuhnya. Dengan napas terengah-engah, dia berusaha untuk menahan rasa sakit itu.
Pandangannya menjadi kabur. Samar-samar dia melihat wanita itu membuka pahanya dan membantunya melakukan persalinan.
“Tarik napas … buang, tarik napas lagi, buang lagi ....”
“Aaaaaaaaa!!!” raung Andini dalam kesakitan yang amat sangat. Dia merasa hampir mati saat itu juga.
“Berjuanglah, Nisanak. Ayo, dorong lebih kuat lagi.”
Ingin rasanya Andini memaki-maki wanita itu.
‘Apa dia tidak tahu sakitnya seperti apa?’
Namun, karena sudah terlalu sakit, Andini pun pasrah dan melakukan semuanya seperti yang diperintahkan mereka.
Proses persalinan pun mulai berlangsung dengan lancar. Setelah melalui semua hal yang melelahkan dan menyakitkan, tiga bayi mungil yang cantik dan tampan kini lahir ke dunia.
Tangisan mereka memecah kesunyian malam itu. Bulan purnama seakan ikut merayakan kelahiran mereka. Cahayanya menjadi lebih terang dari biasanya.
“Terima kasih, Gusti. Mereka bayi-bayi yang luar biasa.”
Pria tua itu tidak dapat menyembunyikan senyum kebahagiaan dari wajah keriputnya.
“Selamat datang calon murid-muridku. Demi keselamatan kalian, maka mulai hari ini kalian akan tinggal denganku.”
Andini yang sedang memejamkan mata untuk menghilangkan rasa letih dan sakit, langsung tersentak kaget.
Rasa sakit yang merajai tubuhnya sudah tidak diperdulikannya lagi. Wajahnya pucat pasi, ditambah lagi dia memang sudah kehilangan banyak darah karena proses persalinan tadi. Sedangkan wanita paruh baya yang membantunya tadi, kini sedang sibuk membersihkan jalan lahir miliknya.
“A-apa maksud kamu, Pak tua?”
“Maafkan kami, Nisanak. Anak-anak ini sudah ditakdirkan untuk menjadi murid-muridku.”
“L-lalu?”
“Kami akan membawa mereka sekarang juga.”
“A-apa?!” teriak Andini dengan suara meninggi. Urat-urat lehernya tercetak dengan jelas karena ketegangan yang menyergap tubuhnya.
“Tidak!!! Mereka darah dagingku. Tidak ada satu dari antara mereka yang akan kalian rampas dari dekapanku.”
“Nisanak, aku melakukan semua ini untuk keluarga kalian. Dan juga demi keselamatan anak-anak yang sangat berharga ini.”
“Mereka bayi-bayiku! Kembalikan mereka padaku.”
Air mata Andini tumpah ruah. Ruang hatinya tiba-tiba terasa kosong seakan cahaya kehidupannya direnggut dengan paksa darinya.
Pria tua itu menatap Andini dengan pandangan sendu. Lalu tanpa berkata apa-apa lagi, dia meletakkan bayi-bayi itu ke dalam keranjang yang telah mereka siapkan tadi.
Andini semakin panik. Tangisan bayi-bayinya kini terdengar menyayat hati seolah-olah mereka bisa merasakan perpisahan yang menyakitkan dengan ibu kandung mereka.
“Kita harus pergi sekarang, sebelum Dewa Kematian dan Kegelapan mengetahui bahwa bayi-bayi ini sudah lahir,” perintah laki-laki tua itu kepada wanita yang masih membantu Andini.
Andini yang masih terbaring lemas, menangis meraung-raung. Amarah memenuhi rongga dadanya. Dia menggulingkan tubuhnya ke pinggiran tempat tidur dan terjatuh dengan keras di atas tanah yang dingin.
Rasa sakit yang menyerangnya sudah tidak diperdulikannya lagi. Dia harus menyelamatkan anak-anaknya.
Sambil merangkak, dia berusaha meraih kaki pria tua itu, tapi gerakan mereka sangat cepat. Dalam sekejap, mereka sudah berada di balik pintu dan menghilang di kegelapan malam.

Clara Bloom
19 Pengikut · 2 Novel