


oleh Ayang WahyuApril · 25 Bab
Sebuah kabar duka tentang gugurnya seorang pilot membawa seorang dokter kembali pada kenangan yang tak pernah pudar. Di pedalaman Papua, ia pernah menyaksikan seorang anak yang tubuhnya sakit menggendong ibunya selama dua hari menembus hutan demi mencari pengobatan. Sejak saat itu, ia memahami bahwa kemiskinan terbesar bukanlah kekurangan harta, melainkan terputusnya akses menuju harapan. Ketika pesawat menjadi satu-satunya jalan, setiap penerbangan adalah pertaruhan nyawa, dan bagi mereka yang tinggal jauh dari dunia luar, suara baling-baling yang mendarat selalu berarti satu hal. Harapan.
Hujan turun tipis di atas landasan pendek yang membelah hamparan hijau tanpa ujung.
Di kejauhan, deretan pegunungan berdiri seperti tembok raksasa yang menjaga rahasia pedalaman Papua selama berabad-abad. Kabut menggantung rendah, menelan sebagian puncak gunung hingga tampak seperti pulau-pulau yang mengambang di langit.
Di depan bangunan puskesmas sederhana, Dokter Nara menatap langit yang semakin kelabu.
Ia melirik jam tangannya.
"Seharusnya pesawat sudah datang satu jam lalu," gumamnya.
Perawat Lusi yang sedang menyusun kardus obat mengangkat kepala. "Cuaca buruk lagi?"
"Mungkin."
"Mudah-mudahan cuma terlambat."
Nara tidak menjawab.
Entah mengapa, sejak bangun pagi tadi dadanya terasa sesak. Bukan karena sakit. Hanya firasat yang sulit dijelaskan.
Dari dalam ruang perawatan terdengar suara seorang lelaki tua.
"Dokter!"
Nara segera masuk.
Seorang pria berusia sekitar enam puluh tahun sedang berbaring di ranjang kayu.
Namanya Markus. Ia mengalami infeksi paru-paru yang cukup berat.
"Waktu pesawat datang?" tanyanya pelan.
"Belum tahu, Bapak."
"Waduh."
Markus menghela napas panjang.
Kalau tidak segera dirujuk ke rumah sakit kabupaten, kondisinya bisa semakin memburuk.
Nara memahami kecemasan itu.
Di tempat seperti ini, pesawat bukan sekadar alat transportasi.
Pesawat adalah kesempatan kedua. Kadang kesempatan terakhir.
Pintu ruang perawatan terbuka.
Seorang pemuda berlari masuk sambil terengah-engah. "Dokter!"
Nara menoleh. Pemuda itu bernama Yafet. Guru SD satu-satunya di kampung tersebut.
"Ada apa?" tanya Nara.
"Radio panggil."
Nara mengernyit. "Bandara?"
Yafet mengangguk cepat. "Wajah Pak Elias pucat sekali."
Pak Elias adalah petugas radio lapangan terbang.
Kalau sampai wajahnya pucat, berarti sesuatu tidak beres.
Nara segera berjalan keluar.
Langkahnya cepat melewati jalan setapak yang licin.
Yafet mengikuti di belakangnya.
"Ada kabar apa?" tanya Nara.
"Tidak tahu."
"Pesawat hilang kontak?"
"Mudah-mudahan bukan."
Mereka tiba di bangunan kecil yang berfungsi sebagai menara komunikasi.
Pak Elias berdiri di depan radio tua. Wajahnya memang terlihat tegang.
Saat melihat Nara datang, ia langsung berkata, "Dokter, dengarkan ini."
Radio itu mengeluarkan suara berdesis.
Lalu terdengar suara lelaki yang terputus-putus. "Ulangi ... ulangi."
Suara itu dipenuhi gangguan.
Pak Elias memutar tombol frekuensi. Desisan semakin keras. Kemudian terdengar lagi.
"Pendaratan darurat."
Ruangan mendadak sunyi. Yafet menelan ludah.
"Pendaratan darurat?"
Pak Elias mengangguk pelan. "Itu suara Pilot Arman."
Nara merasa jantungnya berdetak lebih cepat.
Pilot Arman sudah bertahun-tahun melayani rute pedalaman.
Ia mengenal setiap gunung, lembah, dan jalur awan di wilayah itu.
Kalau sampai Arman meminta pendaratan darurat, berarti masalahnya serius.
Suara radio kembali terdengar.
"Jika tidak berhasil."
Lalu hening. Sinyal menghilang. Semua orang saling berpandangan.
"Apa maksudnya?" tanya Yafet.
"Tidak tahu," jawab Pak Elias.
Nara mendekati meja radio. "Bisa hubungi lagi?"
"Saya sudah coba."
"Tidak ada jawaban?"
Pak Elias menggeleng.
Untuk beberapa saat hanya suara hujan yang terdengar.
Lalu seorang pria masuk tergesa-gesa. Namanya Samuel, kepala kampung.
"Aku dengar kabar dari radio."
Pak Elias mengangguk.
Samuel memandang satu per satu wajah di ruangan itu. "Lalu?"
"Tidak ada kontak lagi."
Samuel menarik napas panjang.
Situasi seperti ini bukan hal yang biasa.
Kalau pesawat tidak tiba, kampung akan kehilangan pasokan obat yang sangat dibutuhkan.
Lebih dari itu, ada tiga pasien yang menunggu rujukan.
Termasuk Markus.
"Harus ada yang mencari," kata Samuel.
"Ke mana?" tanya Yafet.
"Itu masalahnya."
Tak seorang pun tahu lokasi terakhir pesawat.
Nara memandang peta yang tergantung di dinding.
Wilayah pegunungan itu begitu luas. Ratusan lembah. Ribuan kilometer hutan.
Mencari satu pesawat kecil di sana seperti mencari jarum di tengah lautan. Namun, sesuatu mengganggunya.
Kalimat terakhir yang terdengar dari radio.
"Jika tidak berhasil."
Berhasil apa? Pendaratan? Menghindari sesuatu? Atau ada masalah lain?
"Dokter?" Suara Samuel membuyarkan lamunannya.
Nara menoleh. "Apa?"
"Kau terlihat memikirkan sesuatu."
Nara ragu-ragu. "Ada yang aneh."
"Apanya?"
"Pilot Arman."
Pak Elias mengernyit. "Maksudmu?"
"Dia selalu tenang saat berbicara di radio."
"Benar."
"Tadi suaranya berbeda."
Samuel menyilangkan tangan. "Karena pesawat bermasalah?"
"Mungkin."
Nara terdiam. Namun, nalurinya mengatakan ada sesuatu yang lebih besar.
Sesuatu yang belum mereka pahami.
Tiba-tiba radio berbunyi lagi.
Krakkk.
Semua orang tersentak.
Pak Elias segera meraih radio. "Arman?"
Tidak ada jawaban. Hanya suara statis.
Lalu terdengar suara sangat pelan hingga mereka hampir tidak yakin apakah itu benar-benar suara manusia.
"Jangan.”
Semua membeku.
Suara itu muncul lagi. "Percaya."
Yafet menatap radio. "Apa?"
Pak Elias menaikkan volume.
"Jangan percaya peta."
Ruangan mendadak sunyi.
Nara merasakan bulu kuduknya berdiri.
Jangan percaya peta? Apa maksudnya?
Samuel maju selangkah. "Siapa itu?"
Tak ada jawaban. Radio kembali berdesis.
Lalu suara yang sama muncul sekali lagi. Lebih lemah.
"Mereka ada di bawah."
Krekkkk.
Sinyal hilang.
Untuk beberapa detik tak seorang pun berbicara.
Yafet menjadi orang pertama yang memecah keheningan.
"Aku tidak mengerti."
"Aku juga," sahut Pak Elias.
Samuel mengalihkan pandangan kepada Nara. "Dokter?"
Nara menelan ludah. Kepalanya dipenuhi pertanyaan.
Jangan percaya peta. Mereka ada di bawah.
Kalimat itu terdengar seperti pesan.
Atau peringatan. Namun, peringatan tentang apa?
Di luar, hujan semakin deras. Langit berubah gelap meski hari masih siang. Seolah alam ikut menyembunyikan sesuatu.
Tiba-tiba pintu terbuka.
Seorang anak laki-laki masuk sambil terengah-engah. "Pak Kepala Kampung!"
Samuel menoleh. "Ada apa?"
Anak itu menunjuk ke arah bukit. "Warga lihat cahaya."
"Di mana?"
"Gunung sebelah timur."
Pak Elias mengernyit. "Itu tidak mungkin."
"Kenapa?"
"Tidak ada kampung di sana."
Anak itu mengangguk cepat. "Mereka lihat asap juga."
Nara dan Samuel saling berpandangan.
Asap. Di arah yang sama dengan jalur penerbangan.
Jantung Nara berdegup semakin cepat.
Apakah itu pesawat Arman? Ataukah sesuatu yang lain?
Samuel langsung mengambil keputusan. "Kita berangkat."
"Sekarang?" tanya Yafet.
"Ya."
"Hujan deras."
"Kalau benar pesawat jatuh, kita tidak punya banyak waktu."
Nara mengangguk setuju. "Benar."
Pak Elias tampak ragu. "Gunung itu berbahaya."
"Kita tetap harus pergi."
Samuel menyapu pandangan ke seluruh ruangan. "Kita bentuk tim kecil."
"Aku ikut," kata Yafet.
"Aku juga," sambung Nara.
Anak kecil tadi mengangkat tangan. "Aku tahu jalurnya."
Samuel tersenyum tipis.

Ayang WahyuApril
169 Pengikut · 45 Novel