Suara baling-baling helikopter memecah kesunyian pagi.
Kabut masih menggantung di antara perbukitan Papua. Matahari belum sepenuhnya muncul, tetapi halaman kecil Puskesmas Distrik Wamena sudah dipenuhi kesibukan. Beberapa petugas kesehatan mengangkat kotak obat, tabung oksigen, serta tas berisi perlengkapan medis ke atas kendaraan.
Dokter Aidan berdiri di beranda puskesmas.
Tatapannya terarah ke langit.
Enam bulan telah berlalu sejak misi terakhir yang mengubah hidupnya. Namun, setiap kali deru mesin pesawat terdengar, ingatannya selalu kembali pada wajah-wajah yang pernah ia temui di pedalaman.
Seorang perawat menghampirinya.
"Dok, semua perlengkapan sudah siap," katanya sambil menyerahkan sebuah map.
Aidan menerimanya. "Terima kasih, Siska."
Siska menatap wajah dokter itu beberapa saat. "Bapak belum tidur semalam?"
Aidan tersenyum tipis. "Sulit memejamkan mata."
"Masih kepikiran kejadian waktu itu?"
Aidan tidak langsung menjawab. Pandangannya tetap tertuju ke langit yang perlahan berubah kebiruan. "Kalau kita pernah kehilangan seseorang di tempat seperti ini," ujarnya pelan, "rasanya tidak mudah melupakan."
Siska mengangguk pelan. "Saya juga masih teringat Pilot Markus."
Nama itu seketika membuat suasana hening.
Pilot Markus adalah sosok yang selama bertahun-tahun menghubungkan kampung-kampung terpencil dengan dunia luar. Berkat keberaniannya menembus cuaca buruk, tak terhitung nyawa yang berhasil diselamatkan.
Aidan mengembuskan napas panjang. "Semoga penggantinya punya keberanian yang sama."
Belum sempat Siska menjawab, sebuah mobil berhenti di depan halaman puskesmas.
Seorang pria muda turun sambil memanggul ransel besar.
Seragam penerbang yang dikenakannya masih tampak baru.
Ia melangkah mendekat dengan tenang.
"Selamat pagi," sapanya ramah.
Aidan mengulurkan tangan. "Selamat pagi."
Pria itu membalas jabat tangannya. "Saya Elang Prasetyo."
"Aidan."
"Saya ditugaskan menggantikan Pilot Markus."
Aidan mengamati wajah pria itu.
Usianya mungkin belum genap tiga puluh tahun, tetapi sorot matanya memancarkan ketenangan yang jarang dimiliki orang seusianya.
"Baru pertama kali ke Papua?" tanya Aidan.
Elang mengangguk. "Iya."
"Tidak takut?"
Elang tersenyum kecil. "Kalau takut, saya tidak akan menerima penugasan ini."
Siska ikut tersenyum. "Jawaban yang bagus."
Elang menoleh kepadanya. "Saya masih harus banyak belajar."
Aidan menyukai jawaban itu.
Kesombongan sering menjadi awal dari bencana.
Sebaliknya, mereka yang mau terus belajar biasanya lebih mampu bertahan.
Seorang petugas radio keluar dari ruang komunikasi dengan langkah tergesa.
"Dokter Aidan!"
Aidan langsung menoleh. "Ada apa?"
"Kami baru menerima panggilan dari Kampung Yalome."
Kening Aidan berkerut. "Apa yang terjadi?"
Petugas itu menarik napas. "Ada seorang ibu yang akan melahirkan."
"Itu biasa."
"Masalahnya ...." Ia berhenti sesaat sebelum melanjutkan. "Bayinya sungsang."
Wajah Siska langsung memucat. "Sudah berapa lama?"
"Hampir dua belas jam."
Aidan menutup map di tangannya. "Kenapa baru sekarang memberi kabar?"
Petugas radio menggeleng. "Sinyalnya putus-putus."
Elang menyimak percakapan itu tanpa menyela.
Aidan berpikir cepat. "Kalau ditempuh lewat jalur darat?"
Petugas itu kembali menggeleng. "Tidak mungkin."
"Kenapa?"
"Jembatan gantung putus dua hari lalu."
Suasana kembali sunyi.
Semua memahami artinya.
Satu-satunya akses yang tersisa hanyalah lewat udara.
Aidan menoleh kepada Elang. "Pesawat sudah siap?"
Elang menjawab mantap. "Selalu siap."
"Kau bahkan belum melihat medannya."
Elang tersenyum tipis. "Kalau menunggu benar-benar siap, pasiennya bisa kehabisan waktu."
Jawaban itu membuat Aidan menatapnya beberapa detik.
Tanpa sadar, ia teringat Markus.
Pilot itu pernah mengucapkan kalimat yang hampir sama.
Siska memecah keheningan. "Dok, cuaca di arah timur mulai memburuk."
Petugas radio mengangguk membenarkan. "Awan hujan bergerak cepat."
Elang mengulurkan tangan. "Boleh saya lihat petanya?"
Aidan menyerahkan peta penerbangan.
Elang membentangkannya di atas meja. Jarinya menyusuri jalur pegunungan. "Kampung Yalome di sini?"
"Iya."
"Kalau lewat lembah sebelah utara?"
Aidan menggeleng. "Terlalu sempit."
"Sebelah selatan?"
"Sering tertutup kabut."
Elang berpikir sejenak. "Kalau jalur yang biasa dipakai Markus?"
Aidan menunjuk sebuah garis tipis. "Lewat Sungai Biru."
Elang mengangguk pelan. "Saya akan mencobanya."
Siska menatapnya cemas. "Jangan memaksakan diri."
Elang tersenyum ramah. "Saya akan membawa Dokter pulang."
Aidan menatap pria muda itu. "Kenapa memilih pekerjaan ini?"
Pertanyaan itu membuat Elang terdiam beberapa saat. Pandangannya beralih ke langit yang mulai dipenuhi awan.
"Dulu adik saya meninggal."
Aidan tetap diam, memberinya ruang untuk melanjutkan.
"Kami tinggal di daerah terpencil." Elang menarik napas panjang. "Waktu itu pesawat tidak bisa datang karena cuaca."
Siska menundukkan kepala. "Maaf."
Elang menggeleng pelan. "Sejak saat itu saya berpikir..." Ia tersenyum tipis. "Kalau suatu hari ada orang yang harus menerbangkan bantuan, saya ingin menjadi orang itu."
Tenggorokan Aidan terasa tercekat.
Kalimat sederhana itu menyimpan luka yang begitu dalam.
Ia kembali mengulurkan tangan. "Selamat datang di Papua."
Elang menjabatnya erat. "Terima kasih."
Belum sempat mereka melangkah menuju pesawat, suara teriakan terdengar dari gerbang puskesmas.
"Dokter!"
Semua serentak menoleh.
Seorang remaja laki-laki berlari sambil terengah-engah.
Pakaiannya dipenuhi lumpur.
Di punggungnya tergantung tas anyaman khas pegunungan.
Ia berhenti beberapa langkah di depan Aidan. "Tolong!"
Aidan segera menopang bahunya. "Tenang dulu."
Remaja itu berusaha mengatur napas. "Kami dari Kampung Mabel."
"Ada apa?"
Ia mengangkat wajah. Matanya dipenuhi kepanikan. "Guru kami tertembak."
Semua yang berada di halaman puskesmas mendadak terdiam.
Siska membelalakkan mata. "Tertembak?"
Remaja itu mengangguk cepat. "Semalam."
Aidan menatap Elang.
Elang membalas tatapannya.
Tanpa sepatah kata pun, keduanya memahami satu hal.
Misi yang baru mereka siapkan berubah dalam hitungan detik.
Kini bukan hanya seorang ibu yang mempertaruhkan nyawanya.
Ada korban lain yang juga membutuhkan pertolongan secepat mungkin.
Aidan memandang peta di tangannya, lalu mengangkat wajah ke langit yang semakin gelap.
Dalam hati ia bertanya, misi mana yang harus didahulukan ketika setiap nyawa memiliki nilai yang sama.
Sementara itu, jauh di balik pegunungan, suara sebuah pesawat kecil melintas.
Tak seorang pun di halaman puskesmas menyadari bahwa penerbangan itu bukan membawa bantuan.
Melainkan membawa seseorang yang sejak lama mencari alasan untuk menghentikan seluruh layanan kesehatan udara di pedalaman Papua.