“Ayo, Gugi! Lihat, air sungainya sedang segar sekali hari ini. Jangan hanya berdiri di situ, bergabunglah dengan kami!” teriak Bimo, seekor anak gajah yang lincah, sambil memercikkan air ke udara dengan belalainya yang mungil.
Gugi hanya bisa mengerjapkan mata bulatnya. Ia berdiri mematung di bawah naungan pohon mahoni yang rindang, jauh dari keriuhan teman-temannya yang sedang asyik bermain di tepi sungai.
Tubuhnya yang gemuk disembunyikan sedapat mungkin di balik kaki belakang ibunya yang kokoh. Ia menjawab ajakan Bimo dengan gumaman kecil yang hampir tidak terdengar, lalu menundukkan kepala.
Telinganya yang lebar terkulai layu, seolah-olah ia sedang berharap tubuhnya bisa menciut dan menghilang dari pandangan dunia.
“Dia masih belum berani, Bimo,” ujar Ibu Gajah dengan nada lembut, sambil mengelus punggung Gugi dengan belalainya yang hangat.
“Biarkan saja, mungkin dia butuh waktu lebih banyak untuk menyesuaikan diri.”
Matahari bersinar terik, menciptakan pantulan cahaya yang menyilaukan di permukaan sungai yang mengalir tenang. Di hutan rimba ini, kehidupan bagi kawanan gajah biasanya penuh dengan keriangan.
Mereka adalah keluarga besar yang saling menjaga. Namun, bagi Gugi, keramaian adalah hal yang paling menciutkan nyali. Ia merasa setiap langkah kakinya yang berat akan menarik perhatian seluruh penghuni hutan.
Ia takut suaranya terlalu cempreng, takut langkahnya membuat tanah bergetar, dan yang paling membuatnya cemas adalah ketika ia harus berinteraksi dengan hewan-hewan lain di luar kawanannya.
Gugi memperhatikan dari kejauhan bagaimana kawan-kawannya saling dorong, dan bercanda. Ia melihat bagaimana mereka tidak merasa risih dengan ukuran tubuh mereka.
Mengapa ia merasa sangat berbeda? Mengapa baginya, menjadi seekor anak gajah adalah sebuah beban yang menuntut keberanian yang tidak ia miliki?
“Gugi, sayang,” Ibu berbisik, menyadarkannya dari lamunan.
“Lihatlah sekelilingmu. Hutan ini adalah rumah kita. Tidak ada yang akan menertawakanmu. Kamu anak yang hebat, hanya perlu sedikit keyakinan pada dirimu sendiri.”
Gugi hanya bisa tersenyum tipis, sebuah senyum yang dipaksakan.
“Aku hanya, aku merasa terlalu besar, Bu. Setiap kali aku bergerak, aku merasa merusak ketenangan sekitar. Lihat saja, saat aku berjalan, rumput-rumput di bawah kakiku menjadi rata, dan burung-burung di dahan pohon pun terbang karena terkejut.”
Ibu Gajah tidak menjawab dengan kata-kata, melainkan dengan dekapan belalai yang lebih erat. Ia tahu bahwa rasa percaya diri adalah sesuatu yang tidak bisa dipaksakan tumbuh dalam semalam. Gugi adalah anak yang perasa, ia memiliki hati yang lembut di dalam tubuh yang sedang tumbuh dengan cepat.
Sore itu, suasana hutan masih tampak damai. Namun, di balik kerimbunan pepohonan, Gugi merasa ada sesuatu yang janggal.
Biasanya, pada jam seperti ini, sekawanan monyet akan bergelantungan sambil berceloteh riang di atas dahan pohon beringin yang tinggi. Namun, hari ini, hutan terasa tidak wajar. Langit yang sedari tadi cerah tiba-tiba mulai tertutup oleh gumpalan awan gelap yang bergerak sangat cepat dari arah ufuk barat.
Burung-burung yang biasanya berkicau merdu kini terdiam. Mereka terbang berhamburan ke arah yang berlawanan dengan arah datangnya awan.
Keheningan yang tidak biasa mulai menyelimuti hutan, sebuah ketenangan yang terasa mencekam, seolah-olah alam sedang menahan napas sebelum sebuah peristiwa besar terjadi.
Gugi merasakan bulu di tengkuknya berdiri. Ia mendekat ke samping ibunya, merasa ada bahaya yang tidak kasatmata sedang merayap mendekati tempat tinggal mereka.
Ia mencoba melihat ke arah sungai, tempat teman-temannya bermain. Bimo dan yang lainnya tampaknya belum menyadari perubahan cuaca yang drastis ini, mereka masih sibuk saling menyiram air, tertawa lepas tanpa beban.
“Ibu, lihat awan itu,” bisik Gugi dengan suara gemetar.
“Kenapa warnanya berubah menjadi sangat gelap? Lalu, kenapa hutan menjadi sediam ini?”
Ibu Gajah mengangkat belalainya, mengendus udara dengan tajam. Ekspresi wajahnya yang semula tenang kini berubah menjadi serius.
“Masuklah ke dalam kawanan, Gugi. Jangan jauh-jauh dari Ibu,” perintahnya dengan suara rendah yang tegas.
Gugi menuruti perintah itu tanpa bertanya lagi. Ia melangkah perlahan, tiba-tiba, sebuah kilatan petir yang sangat terang menyambar di kejauhan, diikuti oleh suara guntur yang menggelegar dahsyat hingga membuat tanah yang mereka pijak terasa berguncang hebat. Sontak, kawanan gajah yang semula tenang menjadi panik.
Di saat bersamaan, sebuah suara aneh terdengar dari kejauhan, suara debuman keras, seolah-olah ada sesuatu yang sedang patah dan runtuh dengan kekuatan yang sangat besar, disusul oleh suara gemuruh air yang meluap tidak terkendali.
Gugi menoleh ke arah sungai, matanya membelalak lebar melihat pemandangan yang membuat jantungnya seakan berhenti berdetak.
Jembatan kayu tua yang selama ini menjadi satu-satunya jalur penghubung di atas sungai besar itu kini tidak lagi berbentuk. Kayu-kayunya tercabut dari akarnya dan terseret arus yang tiba-tiba berubah menjadi cokelat pekat dan sangat deras.
Yang lebih mengerikan, di sisi seberang jembatan, terlihat sekawanan hewan-hewan kecil, tupai, kelinci, dan beberapa anak monyet, terjebak di sebuah gundukan tanah yang mulai terkikis oleh terjangan air bah yang datang secara mendadak.
Gugi terpaku. Ia tidak bisa bergerak, kakinya terasa seberat batu gunung. Di tengah keriuhan suara badai yang mulai mengamuk, ia mendengar teriakan panik dari seberang sungai yang semakin tenggelam oleh derasnya arus.
“Ibu, apakah aku harus melangkah sekeras itu? Lihat, tanahnya sampai bergetar setiap kali kakiku menyentuh bumi,” tanya Gugi dengan nada cemas, suaranya nyaris tenggelam oleh deru angin yang mulai menderu di kejauhan.