


oleh khilda baiti · 21 Bab
Menempati rumah kosong yang lama telantar sebagai posko KKN adalah kesalahan terbesar bagi Ratna, Suci, dan Yanti. Alih-alih fokus pada tugas kuliah, ketiganya justru terjebak dalam rentetan teror gaib. Di balik dinding rumah yang mencekam, sebuah tragedi masa lalu yang berdarah perlahan mulai terkuak. Di saat kedua temannya didera ketakutan dan ingin segera melarikan diri, Ratna justru ditarik masuk ke area makam tua di bawah pohon beringin. Di sanalah sebuah rahasia besar terbongkar, memicu lahirnya persahabatan dari dimensi yang berbeda. Tragedi berdarah apa yang pernah terjadi di dalam posko tua itu hingga mengorbankan nyawa seorang gadis tak berdosa?
"Jangan melamun! Cepat tutup jendelanya!"
Teriakan Ratna memecah kesunyian sore. Di ambang jendela kayu, Yanti bergeming. Ia berdiri kaku, bersedekap, dengan pandangan lurus menembus kegelapan yang perlahan menyelimuti halaman luar posko KKN mereka.
Angin sore berembus, membawa aroma tanah basah dan samar-samar bau wangi bunga kamboja yang memuakkan. Karena panggilannya diabaikan, rasa penasaran sekaligus jengkel mulai dirasakan Ratna. Langkah kakinya berderit di atas lantai papan saat ia mendekat.
Ia melongok dari balik bahu Yanti, mencoba mencari tahu apa yang menyita perhatian temannya itu. Tidak ada apa-apa di luar sana. Hanya ada siluet pohon beringin tua yang bergerak terkena angin sore.
Ratna menepuk pundak Yanti dengan agak keras. “Kamu lihat apa sih, Yan? Serius banget.”
Yanti tersentak. Napasnya memburu sesaat sebelum ia menoleh ke arah Ratna. “Eh, sejak kapan kamu di sini, Rat?”
“Lah, kamu nggak nyadar aku dari tadi teriak-teriak di belakangmu?” tanya Ratna, kerutan di dahinya semakin dalam.
Yanti hanya menggeleng pelan, bibirnya terkatung rapat tanpa niat memberikan penjelasan lebih lanjut.
“Udah, nggak usah dipikirin lagi. Sekarang tutup jendelanya. Udah mau maghrib ini. Kata warga desa, kalau sudah dengar tarhim, pintu sama jendela harus ditutup rapat,” ucap Ratna, mencoba mengusir rasa cemas yang tiba-tiba menggerogoti hatinya.
“Oke,” jawab Yanti pendek. Dengan gerakan yang terkesan buru-buru, ia menarik daun jendela kayu itu.
Ratna tidak ingin berlama-lama di ruang tengah. Ia segera berbalik dan berjalan cepat menuju dapur. Di sana, Suci sedang sibuk di depan kompor, membolak-balik masakan di atas wajan.
“Itu si Yanti kenapa sih? Sikapnya aneh banget dari tadi. Merinding aku lihatnya,” bisik Ratna langsung saat sampai di samping Suci.
“Ssst! Jangan keras-keras, Rat,” ucap Suci dengan suara yang sangat lirih. Ia menoleh ke arah pintu dapur, memastikan Yanti tidak mengikutinya. “Ratna, kamu memangnya beneran nggak tahu tentang dia?”
Ratna menggeleng cepat, wajahnya menuntut jawaban. “Tahu soal apa?”
“Dia itu ... kayaknya indigo,” lanjut Suci, volumenya kian mengecil. “Soalnya waktu aku sekelompok sama dia di semester lalu, dia tuh sering banget ketahuan ngomong sendiri. Tatapannya kosong, persis kayak orang lagi ngobrol sama seseorang yang nggak bisa kita lihat.”
“Heh, Ci, yang bener kamu? Jangan nakut-nakutin deh!” tanya Ratna dengan ekspresi kaget yang tidak bisa disembunyikan. Jantungnya mulai berdegup dua kali lebih cepat.
“Aku nggak bisa mastiin seratus persen sih, tapi gelagatnya emang selalu begitu. Kalau kamu kepo banget, ya tanya aja langsung sama orangnya sana,” balas Suci yang kembali memfokuskan perhatiannya pada tempe yang digoreng.
Mendengar hal itu, tubuh Ratna tiba-tiba terasa merinding hebat. Perlahan, bulu-bulu halus di lengannya berdiri tegak.
Ini adalah hari pertama mereka menempati rumah tua ini untuk keperluan Kuliah Kerja Nyata (KKN). Rumah ini sudah kosong bertahun-tahun.
Bayangan harus menghabiskan malam-malam ke depan bersama seorang indigo di tempat seperti ini mendadak menjadi hal menakutkan bagi Ratna.
Tak lama kemudian, langkah kaki terdengar mendekati dapur. Yanti muncul di ambang pintu dengan senyum tipis. “Eh, Suci, kamu lagi masak apa? Wanginya sampai ke depan, tahu.”
Suci mencoba mencairkan suasana. “Lagi buat kering tempe buat makan kita nanti. Lumayan juga makanan ini kan awet, jadi bisa untuk stok makan kita beberapa hari ke depan biar nggak repot masak terus.”
“Wihh, makasih banyak ya, Ci, udah mau repot-repot masakin buat kita,” balas Yanti.
Ratna memandangi Yanti. Setelah menarik napas dalam-dalam untuk mengumpulkan keberanian, ia akhirnya membuka suara.
“Yanti, aku mau tanya sesuatu sama kamu. Boleh?” ucap Ratna dengan nada sehati-hati mungkin. Ia tidak ingin menyinggung perasaan temannya, tapi rasa ingin tahunya sangat besar.
Yanti menoleh. “Ya silakan, tanya ya tinggal tanya aja, Rat. Kayak sama siapa aja.”
“Apa benar kalau kamu itu indigo?” tanya Ratna, suaranya agak bergetar di ujung kalimat.
Yanti tidak langsung menjawab. Ia justru terkekeh pelan. “Lho, kenapa tiba-tiba kamu tanya begitu? Kalau semisal aku bilang iya, emangnya kenapa? Kamu mau minta tolong dilihatin ada apa di belakangmu sekarang?”
Mendengar gurauan itu, wajah Ratna seketika memucat. “Yanti, yang benar apa! Jangan bercanda deh, bikin orang jantungan aja,” seru Ratna yang semakin merasa tidak nyaman.
“Nanti kalau aku kasih tahu yang sebenarnya, kamu malah jadi takut dan nggak bisa tidur. Mending nggak usah tahu deh,” balas Yanti, sengaja memancing emosi Ratna sambil meledek.
“Ih, jangan gitu dong! Aku udah penasaran banget ini. Kasih tahu aja kenapa sih,” balas Ratna dengan nada merengek, mencoba menutupi rasa takutnya.
Suci yang sejak tadi menyimak akhirnya ikut menimpali, “Udah, kasih tahu aja, Yan. Daripada dia penasaran terus nanti malah ngigo malam-malam.”
Yanti menghela napas panjang, lalu melipat kedua tangannya di dada. Tatapan matanya mendadak berubah menjadi sangat serius, mengunci pandangan Ratna. “Oke deh, oke, aku kasih tahu. Sebenarnya aku tuh memang bisa melihat hal-hal yang nggak bisa dilihat orang biasa. Sejak aku SMP, setelah aku sempat koma karena kecelakaan.”
Suasana dapur mendadak hening. Hanya ada bunyi minyak goreng yang meletup-letup kecil di atas wajan.
“Wow, pengalaman bagus nih,” ucap Suci memecah keheningan. “Ini pengalaman pertamaku bisa serumah bareng orang indigo. Pasti bakalan seru nih.”
Berbeda dengan Suci yang mencoba bersikap santai, Ratna justru merasa hawa dingin di sekitarnya semakin mencekik. Isi kepalanya mulai dipenuhi pikiran-pikiran buruk. "Kalau nanti aku ketularan gimana?" batinnya.
Suci yang menyadari perubahan ekspresi temannya langsung menunjuk wajah Ratna sambil tertawa. “Hahaha! Tuh, lihat wajah Ratna! Dia udah ketakutan duluan, mukanya sampai pucat!”
Tawa Suci rupanya menyenggol harga diri Ratna. Sebagai anak kota yang selalu menggembar-gemborkan dirinya sebagai orang yang pemberani, Ratna merasa kesal diledek seperti itu. Rasa gengsinya langsung bergejolak, menutupi rasa takutnya.
“Heh, kata siapa aku takut, hah?!” balas Ratna dengan nada tinggi dan ketus, matanya melotot tajam ke arah Suci. “Aku nggak takut sama orang indigo! Bahkan kalau hantunya sendiri yang datang berdiri di depanku, aku nggak akan lari!”
Suci dan Yanti saling berpandangan sejenak, lalu keduanya terkekeh bersamaan.
“Yakin kamu nggak takut?” tanya Yanti. Ia melangkah lebih dekat ke arah Ratna. “Aku yang tiap hari lihat mereka aja kadang masih suka kaget. Orang kayak kamu, aku jamin sekalinya melihat wujud mereka, pasti langsung nangis jerit-jerit minta ketemu mamamu.”
Tawa Suci semakin mengeras mendengar ejekan Yanti.
Merasa dipojokkan, Ratna benar-benar kesal. “Terserah kalian mau ngomong apa! Aku nggak akan pernah takut!” balas Ratna dengan tegas.

khilda baiti
5 Pengikut · 4 Novel