


oleh Dina0505 · 52 Bab
Valerri Hilton mengira hidupnya penuh kebahagiaan. Memiliki suami penyayang seperti Davin Baskara dan sahabat setia seperti Bianca adalah anugerah terbesar dalam hidupnya, terutama saat mereka hamil di waktu yang bersamaan. Namun, di balik senyum manis Bianca dan pelukan hangat Davin, tersimpan rencana busuk yang telah lama mereka susun. Mereka tidak hanya berbagi ranjang di belakang Valerri, tapi juga berencana merampas seluruh masa depan sang ahli waris keluarga Hilton. Davin dan Bianca melancarkan aksi keji mereka, yaitu menukar bayi kandung mereka dengan putri Valerri. Mereka ingin anak haram mereka tumbuh dalam kemewahan, sementara putri kandung Valerri menderita. Mampukah Vallery menggagalkan permainan busuk mereka?
Davin adalah kebahagiaan Valleri, seorang pria yang dia cintai semenjak kuliah sampai sama-sama sukses dan akhirnya mereka memutuskan untuk menikah.
Tujuh tahun menikah dengan Davin Baskara, dan sama-sama memiliki karir yang sukses, Valleri menjadi seorang pengacara ternama begitu pun Davin yang sukses sebagai seorang pengusaha dan memenangkan tender. Namun, kebahagiaan mereka belum utuh.
"Mas, apa kamu nggak merasa rumah kita ini kosong?" tanya Valleri pada suaminya saat mereka menghabiskan waktu bersama di kamar.
"Apa maksudmu, Sayang? Di sini ada aku yang selalu bersamamu, apa masih belum cukup?" Davin mengusap pelan pucuk kepala istrinya.
"Bukan begitu maksudku, Mas. Apa kamu nggak merasa ada sesuatu yang kurang?"
Davin mensejajarkan wajahnya dengan wajah sang istri, menatap mata indah itu dengan lembut. "Coba katakan padaku kamu mau apa? Aku pasti akan memberikan apa pun yang kamu inginkan."
"Aku tidak menginginkan apa-apa. Aku cuma mau memiliki anak yang bisa membuat rumah ini lebih ramai dan kelak jika kita sudah menua mereka yang akan menjaga kita."
"Bersabarlah, Sayang. Kita sudah berusaha mungkin Tuhan masih menyimpan doa-doa kita."
Pembicaraan malam itu pun berakhir. Deduanya terlelap saling melepas penat.
---
Keesokan harinya, Valleri bekerja seperti biasa. Akan tetapi, kali ini dia harus menangani kasus dari kliennya dan seperti biasa yang terjadi Valleri selalu memenangkan kasusnya.
Satu hal yang dia rasakan saat keluar dari ruang pengadilan. "Argh, kenapa kepalaku pusing sekali? Apa karena aku kurang tidur? Semuanya terasa berputar-putar."
Valleri pun akhirnya tumbang dan tak sadarkan diri.
---
Dunia bisnis properti yang digeluti Davin Baskara baru saja memberinya kemenangan besar dalam rapat kolaborasi bersama para kolega pagi itu. Namun, kepuasan profesional itu seketika menguap ketika asisten pribadinya masuk dengan wajah pucat, membisikkan bahwa Valerri Hilton baru saja dilarikan ke Rumah Sakit St. Jude setelah pingsan di kantornya.
Tanpa menunggu jasnya tersampir sempurna, Davin memacu mobilnya membelah kemacetan kota. Pikirannya kalut. Valerri adalah segalanya-istri, rekan strategis, dan pusat semestanya.
Setibanya di rumah sakit, Davin tidak perlu bertanya pada resepsionis. Aroma steril rumah sakit yang tajam tiba-tiba bercampur dengan wangi oud dan jasmine-parfum mahal khas milik Valerri Hilton yang begitu ia hafal. Jejak aroma itu membimbingnya langsung menuju sebuah ruangan VIP di ujung koridor.
Pintu terbuka, dan di sana Valerri sedang duduk di tepi ranjang, wajahnya masih sedikit pucat. Namun, matanya berbinar dengan cara yang tidak biasa.
"Davin, kau di sini," bisik Valerri.
Sebelum Davin sempat menghujani istrinya dengan pertanyaan, seorang dokter senior mendekat dengan senyum lebar yang tak biasa bagi seorang praktisi medis.
Dokter itu menjabat tangan Davin dengan mantap. "Selamat, Tuan Baskara. Berdasarkan pemeriksaan awal dan gejala klinisnya, kami memprediksi istri Anda tengah mengandung."
Dunia seolah berhenti berputar. Davin terpaku, menatap Valerri yang kini juga tampak terkesiap. "Hamil? Dokter, apa Anda yakin?" tanya Davin, suaranya terdengar jauh lebih rendah dari biasanya.
"Semua indikasi mengarah ke sana. Namun, untuk kepastian absolut, saya menyarankan Anda berdua segera melakukan tes kehamilan formal saat ini juga," saran dokter tersebut sembari memberikan peralatan yang dibutuhkan.
---
Di dalam keheningan kamar mandi VIP, waktu terasa melambat. Tangan Valerri gemetar hebat saat memegang alat kecil tersebut. Namun, itu bukan getaran ketakutan. Ini adalah akumulasi dari rasa harap yang telah ia pupuk selama bertahun-tahun.
Di luar, Davin mondar-mandir seperti harimau dalam sangkar. Detak jantungnya berpacu dengan detik jam dinding.
Sudah tujuh tahun mereka melewati malam-malam penuh doa yang dilempar ke langit, mencoba berbagai pengobatan, dan menghadapi tatapan bertanya dari keluarga besar Hilton.
Tiba-tiba, pintu terbuka perlahan. Valerri muncul dengan air mata yang sudah membasahi pipinya. Di layar kecil test pack itu, dua garis merah menatap mereka balik. Jelas. Hidup. Tak terbantahkan.
"Davin," bisiknya dengan suara yang nyaris hilang karena tercekat emosi, "kita berhasil."
Hari ini, langit tidak hanya menjawab, tapi memberikan jawaban yang paling indah. Tujuh tahun mereka bertahan dari sindiran tajam keluarga besar soal keturunan. Tujuh tahun Valleri selalu menenangkannya dengan berkata, "Nggak apa-apa Mas, kita fokus karier dulu." Dan malam ini, Davin yakin Tuhan akhirnya menjawab doa-doa sunyinya.
Davin yang semula penuh kecemasan, seketika tawanya pecah. Itu adalah tawa paling jujur yang pernah didengar Valerri seumur hidup mereka. Davin merengkuh Valerri ke dalam pelukannya, menciumi kening istrinya berkali-kali. "Aku akan menjadi seorang ayah, Valerri. Akhirnya ... doa kita. Jaga anak kita baik-baik, aku mohon."
"Anak kita." Dua kata itu berulang di kepala Valerri seperti melodi lagu favorit yang tak ingin ia hentikan. Ia melepaskan pelukan Davin sejenak, lalu perlahan mengelus perutnya yang masih rata dengan penuh rasa khidmat.
"Tenang ya, Sayang," bisiknya dalam hati, seolah berkomunikasi dengan nyawa kecil di dalamnya. "Mama bakal jadi rumah paling aman buat kamu. Tidak akan ada yang boleh menyakitimu."
---
Davin ingin memberikan kejutan pada keluarga besarnya, tepat pada saat makan malam di kediaman besar keluarga Baskara. Namun, suasana di ruang makan masih saja terasa kaku dan dingin, seperti biasanya.
Valleri duduk di samping Davin, mencoba mengabaikan tatapan tajam dari ibu mertuanya dan bisik-bisik sepupu Davin yang selalu mempertanyakan kapan "pewaris" keluarga akan hadir. Selama tujuh tahun, Valleri telah menjadi sasaran empuk cemoohan karena belum juga memberikan keturunan bagi keluarga besar Baskara.
Davin berdeham, meletakkan sendok peraknya ke atas piring porselen. Suara dentingan itu membuat meja makan mendadak senyap.
"Ada sesuatu yang ingin kami sampaikan," ujar Davin dengan nada suara yang berwibawa. Ia melirik Valleri, memberikan senyuman penguat yang jarang ia tunjukkan di depan umum. "Valleri sedang mengandung. Aku akan segera menjadi seorang ayah."
Viona, ibu Davin, meletakkan gelas kristalnya dengan kasar, bibirnya menyunggingkan senyum skeptis. "Mengandung? Davin, sudah tujuh tahun kalian mencoba dan selalu gagal. Jangan-jangan ini hanya akal-akalan istrimu agar tidak lagi kami tegur."
Saudara perempuan Davin, yaitu Thrisna, menimpali dengan tawa kecil yang meremehkan. "Mungkin hanya efek telat datang bulan saja, Ma. Valleri kan memang sering kelelahan karena urusan pekerjaannya."
Wajah Valleri memucat, tangannya yang gemetar merogoh tas tangannya. Ia mengeluarkan sebuah map medis dan sebuah testpack yang menunjukkan dua garis merah yang sangat jelas.
"Ini hasil tes laboratorium dari rumah sakit pagi tadi." Suara Valleri terdengar tenang dan tegas. "Dokter menyatakan usia kandungan saya sudah memasuki minggu keenam."
Davin mengambil map itu dan meletakkannya di tengah meja. "Dokter senior di sana sendiri yang memberikan ucapan selamat kepada kami."
Satu per satu anggota keluarga Baskara bergantian memeriksa surat dokter dan alat tes tersebut. Keheningan yang canggung menyelimuti ruangan. Ibu Davin terdiam, matanya menatap lekat pada dua garis merah yang menjadi simbol jawaban atas doa tujuh tahun lamanya.
"Dua garis merah ... jelas sekali," gumam Viona. Perlahan dia mengangkat kepalanya, menatap Valleri dengan binar mata yang berubah total. Tidak ada lagi sinis, hanya ada rasa takjub yang mendalam. "Tujuh tahun. Akhirnya langit menjawab doa keluarga kita".
Suasana yang tadinya penuh intimidasi berubah menjadi hangat. Keluarga yang tadinya meremehkan kini mulai berebut memberikan perhatian, menawarkan makanan terbaik, dan memastikan Valleri merasa nyaman.
Bagi Valleri, ini bukan sekadar tentang kehamilan, tapi tentang kemenangannya mendapatkan pengakuan di rumah yang selama ini terasa asing baginya.

Dina0505
113 Pengikut · 12 Novel