


oleh Ookamisanti_ · 144 Bab
Tim Lentera –Lensa Telusur Angker– melakukan perjalanan ke gua Jepang untuk membuat konten horor terbaru. Dalam perjalanan, tak sengaja mereka menemukan gereja tua terbengkalai. Salah satu anggota tim mengambil patung aneh walau Pastor Yonas melarangnya. Sejak saat itu kejadian aneh mengganggu mereka. Di gua Jepang, mereka menemukan handycam berisi video ritual pemanggilan arwah yang direkam diam-diam. Semakin mereka menggali tentang video itu, teror gaib semakin parah hingga salah satu di antara mereka kerasukan. Pastor Yonas melakukan eksorsis dengan ritual khusus. Mampukah Pastor Yonas mengeluarkan roh jahat yang merasuki salah satu member Tim Lentera?
“Halooo, Guys!” Avilio menyapa dengan senyum lebar, kamera menangkap wajahnya yang tampak bahagia. “Malam ini kita bakalan menelusuri pabrik terbengkalai, yang katanya ada penampakan setan.”
Avilio memutar kamera untuk memperlihatkan ruangan yang kini dia masuki. Tampak kosong, gelap dan tak berpenghuni. Banyak kotoran di mana-mana beserta sarang laba-laba. Akar pohon berada di pojokan ruangan, menambah kesan menakutkan.
Suara langkah Avilio menggema di ruangan yang kosong itu.
“Aku sama tim mau ngebuktiin hal itu sekarang juga. Persiapan kita udah matang, tinggal eksekusinya aja. Kalian udah siap buat menonton video ini? Ingat! Jangan nonton sendirian!” imbuh Avilio kepada kamera yang dia pegang.
Ketiga temannya duduk bersila di lantai yang sudah dibersihkan. Beberapa lentera diletakkan di dekat mereka sebagai penerangan tambahan. Di tengah-tengah mereka, tergeletak sebuah boneka berkepala batok kelapa. Apa lagi kalau bukan jelangkung?
Avilio meletakkan kamera di atas tripod. Dia sengaja mengarahkan lensa kamera ke arah teman-temannya. Setelah itu, Avilio menyusul, duduk di tempat yang kosong di dekat mereka.
“Kalian udah siap?” tanya Grieta kepada ketiga temannya. Mereka serempak mengangguk. Dia pun mengintruksikan mereka agar memegang ujung boneka jelangkung.
Setelah itu, mereka membaca mantra. “Jelangkung, jelangkung, di sini ada pesta. Datang tak dijemput, pulang tak diantar.”
Mantra yang dibacakan terdengar nyaring, menggema ke seluruh ruangan. Percobaan pertama, tak ada pergerakan dari boneka itu. Mereka kembali membaca mantranya sampai tiga kali, barulah boneka terasa bergerak sendiri. Hal tersebut membuat mereka panik.
“L-loh kok ... itu barusan-“ Grieta melepaskan genggamannya dari boneka jelangkung setelah merasakan getaran aneh. “Kamu yang gerakin ya, Yo?” tuduhnya kepada Avilio. Suaranya terdengar bergetar. Dia ketakutan.
“Enak aja. Sama kamu, kali.” Avilio membantah tidak terima.
“Bukan aku. Aku enggak gerakin.” Mereka saling tuduh satu sama lain, mengira salah satu yang menggerakkan boneka tersebut.
Getaran di boneka itu semakin menjadi-jadi. Ekspresi panik pun tampak di wajah keempat insan itu. Ditambah suasana yang tadi biasa saja berubah menegangkan.
Lentera di dekat Avilio dan yang lainnya mulai padam satu persatu, padahal tak ada embusan angin. Ruangan berubah remang-remang, menyisakan cahaya redup dari lampu kamera, satu-satunya sumber penerangan yang tersisa.
“AARRGGHH AKU TAKUT! Aku gak mau main ini,” rengek Livia ketakutan. Dia hendak melepaskan genggaman pada boneka itu, tapi tidak bisa. Livia menjadi panik sendiri. “Loh?! Kok gak bisa dilepas? Ini gimana? Aku gak ma-“
“Berisik, Livia! Kita fokus dulu,” tukas Virga yang sedari tadi memperhatikan boneka itu dengan saksama. Matanya tak lepas dari gerakan demi gerakan yang terjadi.
Tiba-tiba, boneka itu terbang ke atas. Genggaman pada ujung kayu boneka pun terlepas begitu saja akibat kepanikan yang terjadi. Mereka menjerit ketakutan. Tak lama, jelangkung bergerak sendiri, mengarah ke salah satu member Tim Lentera.
Napas mereka memburu, seiring dengan detak jantung yang berdegup cepat. Peluh membasahi dahi keempat insan itu. Tubuh mereka bergemetar hebat, tak menyangka kalau boneka tersebut bisa bergerak bebas. Seolah-olah ada arwah yang merasukinya.
Belum sempat Grieta membuka mulut untuk bicara, tiba-tiba boneka jelangkung menyerang Livia. Perempuan itu menjerit ketakutan, membuat suasana menjadi semakin tegang.
Sontak Livia bangkit dari duduk lalu melarikan diri keluar ruangan, mengejutkan semua orang yang ada di sana. Di saat bersamaan, boneka tersebut mengejar Livia dengan gerakan cepat.
“Virga, bawa kamera! Kita kejar Livia!” teriak Avilio kepada Virga. Lelaki itu langsung mengambil kamera yang terletak di atas tripod. Mereka pun pergi menyusul Livia yang sudah menghilang entah ke mana.
Kini mereka mencari Livia di lorong pabrik terbengkalai. Lorong tersebut sangat sepi dan gelap. Mereka hanya bisa mengandalkan penerangan dari kamera yang dibawa Virga.
“LIVIA!” Avilio berteriak kencang, memanggil nama temannya. Sayang sekali, tak ada sahutan dari si pemilik nama. Ke mana Livia pergi? Mungkinkah dia pergi terlalu jauh?
Grieta juga sempat berseru, tetap saja tak ada jawaban. Seolah Livia tak ada di sekitar tempat ini.
“Dia larinya cepet banget,” kata Avilio.
Grieta mengangguk. “Ke mana dia pergi ya? Aku khawatir. Takut dia kenapa-kenapa.”
Tiba-tiba, suara berderak terdengar dari ujung lorong. Ketiganya –Avilio, Grieta, Virga– berhenti berjalan, mereka saling pandang sambil mendengarkan lagi suara itu. Benar saja, arahnya dari depan sana.
“Kita cek ke sana. Siapa tau itu Livia,” bisik Avilio. Grieta mengangguk.
Mereka bertiga berjalan pelan menuju ke sumber suara. Ternyata suara tersebut berasal dari salah satu ruangan, yang tak lain ruang operator. Perlahan, mereka masuk ke dalam.
Banyak barang tak terpakai di sana, bau debu pun menyeruak. Mereka tak bisa melihat seluruh ruangan karena lampu kamera hanya menyorot apa yang ada di depannya.
“Liv!” seru Grieta, mencoba memanggil nama temannya yang mungkin saja ada di ruangan ini.
Avilio berbisik, “Kalian sadar enggak, sih? Pas kita masuk ke sini, suaranya berhenti.” Mereka hanya mengangguk tanpa berkata apa-apa.
Suara benda terjatuh seketika mengejutkan mereka. Virga langsung mengarahkan kamera ke sumber suara.
Sorot lampu mengarah ke sana, terlihatlah sesosok perempuan membelakangi Tim Lentera. Rambutnya panjang menjuntai sampai punggung dan dia memakai terusan berwarna putih. Dalam sekejap, ketiga insan itu mematung.
Jantung mereka berdebar cepat, tubuh pun menggigil ketakutan. Perlahan, sosok tersebut berbalik. Wajahnya tak terlihat karena tertutup rambutnya yang panjang dan kusut.
Tiba-tiba saja dia cekikikan. “Hihihi ....”
Tim Lentera menjerit, mereka langsung lari terbirit-birit dari ruang operator. Menjauhkan diri dari sosok menyeramkan itu.
“AARRGHHH!” teriak Grieta ketakutan.
“Astaghfirullah! Astaghfirullah!”
“Allahu Akbar! Allahu Akbar!”
Ketiganya berlari-lari di lorong. Sesekali menoleh ke belakang, memastikan kalau hantu tersebut tidak mengejar mereka.
Merasa sudah cukup jauh dari ruangan tadi, mereka memutuskan untuk berhenti. Mengatur napas yang memburu akibat berlari. Ketiganya terdiam, masih mencerna apa yang baru saja terjadi.
“Kita closing aja. Aku gak mau lama-lama di sini,” usul Avilio. Mereka mengangguk.
Meski seluruh tubuh gemetar, Virga tetap merekam. Dia mengarahkan kamera ke Avilio dan Grieta.
“Kita udahin video hari ini. Situasinya chaos banget, kita gak bisa bertahan lama,” ucap Grieta pada kamera. Wajahnya tampak masih panik, sesekali melihat ke sana kemari, mengawasi setiap sudut lorong.
Giliran Virga yang berbicara. “Sorry, Guys! Kita gak bisa lanjutin. Sekarang kita mau cari Livia dulu habis itu langsung pulang. Pokoknya tetap tonton channel kita, jangan lupa subscribe, like dan comment-nya ya. Salam LENTERA! Lensa Telusur Angker ... JANGAN NONTON SENDIRIII!”
Virga pun mematikan kamera.
Tiba-tiba saja mereka tertawa terbahak-bahak. Merasa lucu dengan apa yang baru saja mereka lakukan. Ya, semua itu hanya settingan, bukan kejadian yang benar-benar terjadi. Sudah direncanakan sejak awal sebelum kamera dinyalakan.
“Hei! Udahan, nih?” tanya seseorang. Mereka menoleh bersamaan. Livia sudah kembali, dengan pakaian khas hantu perempuan yang ternama itu. Dia melepaskan wig yang dipakainya. “Gatel banget. Beli di mana, sih?”
“Ya maaf, namanya juga wig murah,” jawab Grieta. Livia hanya cemberut.
Ketika hendak melanjutkan obrolan, tiba-tiba boneka jelangkung lewat di hadapan mereka. Dengan tali tipis yang diikatkan ke drone yang tengah terbang.
“Aku malah ditinggal, mana gelap banget. Untung bawa senter,” omel lelaki lainnya yang baru saja tiba.
“Ya gimana, dong? Kita kan harus ngejar Livia biar ketegangan di konten kita bisa dirasain sama viewer,” balas Avilio kepada Zaviero yang sedang memegang remote kendali drone.
Zaviero hanya menggelengkan kepala. Dia pun menyarankan mereka agar menonton hasil rekaman tadi.
Mereka tertawa melihat betapa paniknya Tim Lentera menghadapi hantu yang mereka lihat. Ekspresi yang dibuat-buat menampilkan kesan seolah kejadian itu benar-benar terjadi.
Tiba-tiba, terdengar suara pintu mengayun keras dari arah belakang. Mengejutkan semua orang yang ada di lorong ini. Mereka langsung berhenti tertawa.
Salah satu di antara mereka berbisik, “Siapa yang nutup pintu?”
Bersambung.

Ookamisanti_
103 Pengikut · 13 Novel