


oleh Zeinomena_real · 31 Bab
Lenuh bukan gadis biasa. Nama aslinya Leni Saraswati, tapi semua orang memanggilnya Lenuh karena sikapnya yang sok tahu dan bikin kesal. Hidupnya berubah total ketika kipas angin tua peninggalan leluhurnya, yang berisiknya kayak mesin rusak, ternyata bisa mewujudkan keinginannya jika diucapkan dengan penuh emosi. Dari kamar kos sempit, ribut dengan tetangga, sampai berhadapan dengan organisasi rahasia pemburu benda warisan, Lenuh harus belajar mengendalikan dirinya sendiri. Jika tidak, satu teriakan kesal saja bisa menghancurkan dunia di sekitarnya.
"PELAN-PELAAAAAN ... SAJAAAAA ... !!!"
Seorang gadis langsing tapi agak berlebihan berat badannya sedang menutup lagu band Kotak yang berjudul 'Pelan-Pelan Saja'.
Dan di saat yang bersamaan.
DUAR!
PRANG!!!
BOOM!!!
"ALLAHU AKBAR!!!" teriak warga yang langsung terbangun dari tidur nyenyak.
Semua orang di Kecamatan Cingambreng, Jakarta, panik karena ledakan datang dari kos seorang wanita muda.
Mereka keluar dari rumah masing-masing dan menatap arah suara ledakan.
"Ada apa ini?!" tanya Pak Topo sambil melotot.
"Saya juga nggak tahu, Pak Topo. Sepertinya dari kamar kosnya Mbak Leni!" jawab Pak Suryo sambil ketakutan.
Pak Topo langsung mengajak beberapa warga mendobrak kamar kos itu.
"DOBRAK!!!" teriaknya.
"Saya hitung sampai tiga, siap semuanya?!"
"SATUUU!!!"
"DUAAAA!!!"
"TIGAAAAA!!!"
"SERAAAANGGG!!!"
Pak Topo yang memerintahkan untuk mendobrak pintu, awalnya berada di barisan belakang warga.
Tanpa terasa, semangatnya membuat dia berlari ke depan, hingga berada di posisi terdepan.
Sambil berlari melewati warga, dia menoleh sejenak.
"Dasar payah! Aku yang sudah 73 tahun saja masih bisa mengalahkan kalian semua kalau adu lari!" pikirnya dalam hati dengan perasaan bangga.
Rasa bangga membuat Pak Topo terlalu berpikir berlebihan pada dirinya sendiri.
Dengan gerakan yang 'sangat lincah', dia melesat lebih cepat dan tiba-tiba melakukan koprol ke depan, meninggalkan warga yang terkejut di belakangnya.
Jika gerakan koprol Pak Topo difilmkan dengan efek CGI, adegannya mungkin akan tampak dramatis dan sekaligus konyol.
Seorang kakek 73 tahun sedang terbang melintasi barisan semesta warga sambil melakukan koprol sempurna.
Pak Topo berteriak keras saat melayang menendang pintu, "TERIMA INI, WAHAI PINTU SIALAN!!! BERSIAPLAH MENERIMA AMARAH DARI TOPO SANG PENJAHIT!!!"
Banyak warga yang panik melihat aksi dramatis Pak Topo.
"Tidak, Pak Topo! Jangan!!" teriak salah satu ibu-ibu berdaster yang memakai masker wajah.
Warga lainnya ikut berteriak memperingatkan.
Istri Pak Topo, Bu Yanti, berteriak histeris, "NOOOO!! DON'T DO THAT, DEAR!!!"
Bu Yanti spontan langsung berlutut di tanah, pasrah dalam nasibnya.
Pak Topo yang kalap mengabaikan semua peringatan.
"Tidak usah khawatir! Tulangku masih kuat! Ini kan cuma pintu!" jawab Pak Topo sambil menatap pintu seolah dia adalah seorang karakter kuat di novel fantasi yang penuh percaya diri.
Beberapa saat kemudian.
DUGGG!!!
Suara hantaman keras terdengar. Tapi pintu tetap tidak terbuka.
Kaki Pak Topo masih menempel di pintu selama beberapa detik.
Pak Topo heran, lalu menatap warga, "Kok tidak terbuka pintunya?" ucapnya bingung.
Warga hanya menghela napas sambil menggelengkan kepala, lalu pulang satu per satu.
Pak Suryo melambaikan tangan ke arah Pak Topo, "Pak Topo, saya pulang dulu, ya? Semoga cepat sembuh!" ucapnya.
Pak Suryo lalu berbisik ke istrinya, "Besok kita kasih amplop berapa banyak ke Pak Topo? Sudah pasti dirawat di rumah sakit itu!"
Istri Pak Suryo menjawab, "Sudah jangan banyak-banyak. Sepuluh ribu saja! Suruh siapa sok jadi karakter kuat di novel fantasi! Rasain sendiri 'kan akibatnya!"
Pak Topo bingung, lalu menatap istrinya yang masih berlutut di tanah.
"Bu, kok mereka pada pulang?!" tanyanya.
Bu Yanti menangis, lalu berteriak keras, "Pak! Sudah tua, jangan sok-sokan kuat!"
"Memangnya kenapa sih, Bu?!" tanya Pak Topo kebingungan.
Kaki Pak Topo masih menempel di daun pintu dan belum turun.
Dia bingung kenapa dirinya terus menempel di pintu.
Pak Topo berusaha menarik kakinya dari pintu, tapi tidak berhasil juga.
Beberapa menit kemudian, Leni yang menempati kos membuka pintu.
Bukan dari pintu yang tadi ditendang oleh Pak Topo, tetapi dari arah kanannya yang berjarak sekitar dua setengah meter.
Leni yang tadi sempat mendengar suara-suara gaduh dari luar, langsung membuka pintu dan melihat Pak Topo masih menempel seperti spiderman kena lem.
"Lho, Kakek Topo! Kok lagi nempel di situ? Sudah malam, lagi ngapain sih?" tanya Leni.
Pak Topo menoleh, "Eh, Leni. Iya nih, Kakek tadi dengar suara ledakan di tempatmu. Makanya Kakek mau dobrak pintu. Kakek khawatir ada apa-apa sama Leni. Tapi kok aneh, pintunya nggak terbuka, ya?" jawabnya.
Leni mengerutkan keningnya, "Kek, kan pintunya di sini! Kok malah dobraknya di situ. Itu kan tembok, Kek," ucapnya.
Pak Topo terkejut, "Hah? Ini tembok? Tapi ini kok bentuknya kayak pintu, Len?" tanyanya.
Leni menjawab sambil tertawa, "Itu cuma poster pintu, Kek. Itu buat ditempel di rumah makan tempat Leni kerja. Kan banyak maling, jadinya mau jebak pakai ini."
"Awalnya Leni tidak tahu ini efektif atau tidak, tapi sepertinya sih efektif. Kakek jadi orang pertama yang kejebak kan? Haha!"
"Apa?!! Jadi ini cuma poster di tembok?! Kalau begitu .... " Pak Topo tidak menyelesaikan ucapannya dan masih menempel kaku di poster pintu.
Pak Topo baru sadar akan hal itu.
Saraf otaknya langsung memproses informasi, seolah berkata, "Kok kamu pea sekali sih, Topo? Aku yang jadi saraf otak sampai malu!"
Sinyal itu langsung dikomandokan ke saraf-saraf motorik untuk mengatur otot-ototnya, meski kaki dan tubuhnya tetap menempel di poster pintu.
"Perhatian, perhatian! Akan ada kekacauan dari pemilik tubuh ini! Harap waspada!" kata ketua sel saraf memberi pengumuman melalui mic.
Saraf sensorik menerima pesan itu, lalu segera mengirimkan informasi ke otak bahwa ada tekanan kuat di kaki, lutut, dan pinggang.
"Mayday! Mayday! Informasi darurat! Ganti!"
Sel-sel di ruang kontrol otak langsung menerima pesan itu, "Diterima! Kami akan segera meluncurkan torpedo rasa sakit! Harap ditunggu! Silakan duduk di ruang tunggu!"
Sel-sel otak segera memprosesnya sebagai rasa sakit dan mengirimkan sinyal nyeri ke seluruh tubuh.
Pak Topo mendadak langsung merasakan sakit di telapak kaki, lutut, pinggang, dan punggung, sekaligus bingung kenapa kakinya masih menempel di poster pintu.
Semua saraf dan ototnya bekerja secara otomatis dan bersama, hingga membuat Pak Topo akhirnya meringis, menjerit, dan seketika baru jatuh ke lantai.
"TOLOOOOONGGG!!!" teriak Pak Topo dengan suara melengking sambil terkapar di lantai.
"Nyeri!!!" lanjutnya sambil memegangi kaki yang baru saja menghantam tembok keras di balik poster pintu.
Pak Topo menoleh ke arah Leni sambil meringis kesakitan.
Dia merengek-rengek, "Leni, tolong kakek!"
Perkataan Pak Topo begitu sangat mendramatisasi.
Leni melihat jam di pergelangan tangannya, "Ini sudah jam 12 malam lebih, Kek. Aku mau lanjut karaoke dulu, ya. Dadah!" katanya santai sambil menutup pintu.
Pak Topo merasa kesal dan frustrasi saat mendengar perkataan Leni.
Dia berteriak keras setelahnya, "Dasar perempuan kurang ajar!"
Suara Leni terdengar dari dalam kamar kos dan sedang menyanyikan bagian reff dari band Angkasa yang berjudul 'Luka'.
Tentu saja lirik lagu itu sudah diubah oleh Leni sesuai dengan kondisi Pak Topo.
"LUKAAA, DARIMUUU, KAN MEMBEKUUU!"
"SAKIIIT, KAKIKUUU, MENGHAJAR SI PINTUUU!"
Suara Leni terdengar jelas, seolah sengaja meledek Pak Topo yang masih kesakitan di luar.
"KURANG AJAAARRR!!!" teriak Pak Topo super melengking hingga menyentuh 10 oktaf.

Zeinomena_real
7 Pengikut · 3 Novel