“Selamat, Dirga. Pilihan kurasi ‘Mitos dan Modernitas’ memang brilian. Galeri Nusantara berutang besar padamu.”
“Ah, ini semua berkat tim yang solid, Pak Doni. Terima kasih banyak.” Dirga, seorang kurator senior yang licin, menyeringai lebar. Cahaya lampu sorot pameran memantul dari dasi sutranya yang mahal. Ia memegang gelas champagne dengan gestur kemenangan, sementara tepukan dan pujian dari para petinggi Galeri Nusantara berdatangan seperti ombak pasang.
Di sudut ruangan, Risa gadis berusia 28 tahun, berdiri mematung. Jantungnya berdebar, bukan karena kegembiraan, melainkan karena amarah yang dingin. Malam itu adalah malam pembukaan pameran yang seharusnya menjadi puncak kariernya dan seharusnya pameran kurasinya berjudul “Arkeologi Estetika.” Konsep itu, sketsa itu, visi itu, semua lahir dari keringat dan begadang Risa selama enam bulan.
Dua minggu lalu, Direktur Galeri secara mendadak mengumumkan perubahan. Proyek Risa dianggap terlalu intelektual dan kurang menjual. Tiga hari kemudian, Dirga muncul dengan proposal baru yang identik dengan konsep Risa, hanya saja namanya diubah dan diberi sentuhan glamor murahan.
Risa mendekati Dirga, menjaga senyum profesionalnya tetap terpasang, sebuah topeng tipis di tengah kemeriahan. "Selamat, Dirga. Pamerannya spektakuler," katanya, nadanya datar.
Dirga menoleh, matanya berkilat mengejek. "Oh, Risa. Kau di sini. Tentu saja, kau kan bagian dari tim. Kau tahu, idemu yang awal itu bagus, tapi kurang bagaimana ya, kurang ‘nendang’ untuk pasar kolektor kelas atas. Sedikit modifikasi dan voilà! Hasilnya di luar dugaan, kan?"
"Modifikasi, atau kloning yang berhasil?" Risa membalas cepat. Senyumnya sedikit retak.
Dirga terkekeh pelan, tawa yang meremehkan. "Jangan terlalu sensitif, Risa. Kurasi itu bisnis. Kadang, kita harus tahu kapan saatnya ide kita perlu disempurnakan oleh tangan yang lebih berpengalaman. Toh, nama Galeri Nusantara yang terangkat." Ia menyesap minumannya, seolah Risa hanyalah gangguan kecil yang perlu diusir.
Risa mengepalkan tangan di balik gaun malamnya. Di galeri ini, ambisi dan kompetensi saja tidak cukup. Dibutuhkan koneksi, pengakuan, dan yang terpenting, aura. Risa, dengan segala kecerdasannya, selalu merasa transparan, seperti hantu yang mengamati pesta mewah dari kejauhan.
Matanya menyapu kerumunan, mencari satu sosok yang menjadi penentu segalanya. Rangga Dewantara.
Rangga adalah ikon dalam lingkaran kolektor muda Jakarta. Kaya, berpendidikan tinggi di luar negeri, dan memiliki selera seni yang tak terbantahkan. Memenangkan perhatian Rangga berarti memenangkan legitimasi.
Selama setahun terakhir, Risa telah merencanakan strategi untuk menarik perhatian Rangga, berharap Rangga akan mendukung kurasinya.
Impiannya adalah agar Rangga melihat potensi Risa, bukan hanya sebagai staf galeri yang bekerja keras, tapi sebagai otak seni yang revolusioner.
Rangga sedang berdiri di depan lukisan abstrak, berbincang santai dengan Direktur Galeri. Postur tubuhnya tegak, tatapannya tajam, penuh karisma alami yang membuat Risa menahan napas sejenak.
Ini kesempatannya. Sekarang atau tidak sama sekali.
Risa melangkah mendekat, mengumpulkan semua keberanian yang tersisa. Ia memotong percakapan itu dengan sopan, tapi tegas. "Selamat malam, Bapak Rangga. Saya Risa, kurator di sini. Saya senang Anda bisa hadir."
Rangga menoleh, senyumnya ramah, tapi cepat berlalu. Matanya tidak berlama-lama pada Risa. Ia hanya melihat sekilas, seperti melihat pelayan yang mengantar hidangan pembuka.
"Ah, Risa. Tentu saja. Pamerannya luar biasa. Konsep yang sangat segar," kata Rangga, suaranya halus dan profesional.
"Terima kasih. Sebenarnya, konsep ini …." Risa mencoba membuka celah, ingin menjelaskan bahwa ide aslinya jauh lebih mendalam, lebih orisinal.
Direktur Galeri menyela dengan lancar, "Ya, ide brilian Dirga. Dia benar-benar tahu cara menyajikan narasi yang menarik. Rangga, saya yakin Anda akan tertarik dengan karya baru dari S. Wibowo ini. Biar Dirga yang jelaskan detail kuratorialnya."
Rangga mengangguk, tanpa menunjukkan minat lebih lanjut pada Risa. "Tentu, Dirga, mari kita lihat."
Risa ditinggalkan. Teronggok di tengah hiruk pikuk pujian dan tawa, seolah-olah percakapan itu adalah air dan Risa hanyalah batu yang tenggelam.
Rangga berjalan pergi, bahunya menyentuh bahu Dirga dengan akrab, sementara Dirga menyunggingkan senyum kemenangan ganda.
Rasanya seperti ditampar di depan ratusan orang tanpa suara. Kebisuan Risa di tengah keramaian galeri yang ramai adalah penindasan yang paling brutal. Ia bukan hanya diabaikan; ia dilenyapkan.
Frustrasi itu melilit perutnya seperti kawat baja. Risa segera meninggalkan lantai pameran yang kini terasa mencekik. Ia tidak tahan lagi mendengar pujian yang seharusnya dialamatkan padanya.
Ia melangkah cepat menyusuri koridor belakang yang remang-remang menuju kantor kuratorialnya yang kecil. Begitu pintu tertutup, Risa menyandarkan punggung ke pintu kayu, mengambil napas dalam-dalam, mencoba menenangkan gemuruh di dadanya.
Tidak adil. Selama ini ia bekerja lebih keras, lebih cerdas, lebih jujur. Namun, Dirga selalu menang. Rangga selalu melihat Dirga.
"Mereka tidak melihatku," bisik Risa ke ruangan kosong. "Mereka tidak akan pernah melihatku."
Ia berjalan menuju mejanya, yang berantakan dengan cetak biru dan catatan kurasi lama. Di sana, di bawah tumpukan buku, terdapat map tebal bertuliskan tangan. "Arkeologi Estetika - Konsep Asli."
Map itu berisi seluruh jiwa dan ambisi Risa. Ada cetak biru tata letak, risalah filosofis yang ia tulis, dan yang paling menyakitkan, sketsa kasar dirinya berdiri di sebelah Rangga, membayangkan konferensi pers di mana ia menjadi sorotan utama.
Risa menarik napas kasar. Ia meraih map itu, lalu dengan gerakan tiba-tiba yang dipenuhi amarah murni, ia mencengkeram semua isinya cetak biru, risalah, sketsa impian yang kini terasa konyol dan membawanya ke dada.
Semua ambisi yang gagal, semua jam tidur yang hilang, semua penolakan Rangga dan Dirga, semuanya mendidih menjadi satu titik keputusasaan.
Risa mencengkeram tumpukan kertas itu dengan begitu erat hingga buku-buku jarinya memutih. Matanya terpejam. Ia merasa seperti pecundang yang menyedihkan, berdiri di kantor kecilnya sementara dunia yang seharusnya menjadi miliknya dirayakan oleh orang lain.
Cukup. Ia tidak akan membiarkan dirinya diabaikan lagi.
Dengan suara gemeretak yang memilukan, Risa mulai merobek map itu. Sobekan pertama adalah lambang kekalahan di galeri yang kompetitif ini. Sobekan kedua adalah penolakan Rangga yang dingin, dan sobekan ketiga, yang paling keras, adalah janji yang ia ukir untuk dirinya sendiri, jika pengakuan tidak datang secara jujur, ia akan mendapatkannya dengan cara apa pun.
Suara kertas yang robek memenuhi keheningan kantor, tajam dan final, seperti sumpah yang tak bisa ditarik kembali.