"Ini ulasan paling kejam yang pernah kau tulis, Elara." Suara Renata, sang editor, terdengar datar dari ujung telepon. "Apa kau yakin tidak mau melunakkan sedikit?"
Elara tertawa kecil, suara renyahnya bergaung di apartemen minimalisnya yang sunyi. "Melunakkan? Renata, novel itu ibarat kumpulan omong kosong berbalut klise murahan. Tokoh utama prianya, Duke Adrian, adalah tipikal alpha male yang mengintimidasi, tanpa kedalaman karakter. Pemeran utama wanitanya, Lady Annelise, hanyalah gadis polos yang pasrah pada takdir buruknya. Astaga, dia bahkan mati dengan cara paling konyol di bab kesepuluh! Aku bahkan tidak bisa melanjutkan membaca setelah itu. Mengapa aku harus berbohong pada pembaca?"
"Rating bintang satu, Elara? Ini akan memicu keributan. Penulisnya bisa saja menyerang balik."
"Biarkan saja," sahut Elara dingin, jari-jemarinya mengetuk-ngetuk meja kaca di depannya. Layar komputernya menampilkan paragraf terakhir ulasan pedasnya. "Pada akhirnya, 'Romansa Bangsawan Yang Terlupakan' hanyalah sebuah naskah sampah yang mengotori rak buku. Plot yang berlubang, karakter datar, dan dialog yang memuakkan membuat pembaca merasa ditipu. Sebuah buang-buang waktu yang sempurna, layak mendapat satu bintang dan kemudian dilupakan selamanya."
"Itu adalah tanggung jawabku sebagai kritikus, Renata," lanjut Elara. "Aku tidak sedang mencari popularitas, aku mencari kebenaran sastra, dan kebenaran untuk novel ini adalah, ia sangat buruk. Jika penulisnya tidak suka, mungkin ia harus menulis lebih baik."
Helaan napas lelah terdengar dari Renata. "Baiklah, Elara, tapi jangan katakan aku tidak memperingatkanmu. Publikasi akan naik besok pagi."
"Aku tidak sabar menunggu drama yang akan terjadi," balas Elara, sudut bibirnya terangkat membentuk seringai tipis.
Setelah sambungan terputus, ia menyandarkan diri pada kursi putarnya, menatap siluet kota Jakarta dari balik jendela. Hujan rintik-rintik mulai membasahi kaca, menciptakan garis-garis buram yang melukiskan kesan melankolis. Namun, hati Elara justru dipenuhi kepuasan. Ia telah melakukan tugasnya dengan baik, menyingkap kepalsuan yang bersembunyi di balik sampul menarik.
Pikirannya melayang kembali pada novel picisan itu. Betapa menjengkelkan klise yang terus diulang-ulang. Lady Annelise yang malang, seorang figuran tanpa daya yang hanya berfungsi sebagai katalisator emosi Duke Adrian.
Kematiannya di bab kesepuluh terasa begitu dipaksakan, sebuah trik murahan untuk memicu rasa bersalah sang duke dan memperkenalkan pemeran utama wanita yang sebenarnya. Elara menggeleng-gelengkan kepala. Mengapa ada orang yang mau membaca hal seperti itu?
Ia memejamkan mata sejenak, membayangkan karakter-karakter itu. Duke Adrian dengan tatapan tajamnya yang konon "mematikan", Lady Annelise dengan gaun-gaun pucatnya yang selalu menekankan kerapuhannya. Otaknya, yang terbiasa menganalisis struktur narasi dan motivasi karakter, merasa terhina. Bahkan dalam fiksi, logika harus tetap berjalan.
Tiba-tiba, ia merasakan pening yang luar biasa. Bukan pening biasa setelah berjam-jam menatap layar, melainkan sensasi seperti otaknya diputar paksa di dalam tengkoraknya.
Ruangan mulai berputar, lampu di langit-langit berkedip-kedip tak beraturan, memancarkan cahaya yang menyilaukan dan kemudian meredup. Warna-warna di sekitarnya tampak memudar, lalu kembali dengan intensitas yang berlebihan, seperti lukisan cat minyak yang baru saja ditimpa palet warna acak.
Elara mencoba meraih pegangan meja, tetapi tangannya meleset. Seluruh tubuhnya terasa ditarik oleh kekuatan tak kasatmata, seperti terhisap ke dalam pusaran air.
Ia bisa mendengar detak jantungnya sendiri berdebar-debar kencang di telinganya, secepat balap kuda yang tak terkendali. Suara gemuruh memenuhi indra pendengaran, seperti ribuan halaman buku yang dirobek secara bersamaan, atau mungkin jutaan kata yang terlempar dari tempatnya.
Pandangannya kabur. Bentuk-bentuk di apartemennya – rak buku, sofa, jendela besar dan mulai melebur menjadi satu gumpalan warna yang tak dapat dikenali. Rasa mual yang kuat menyerang, membuat isi perutnya bergejolak. Udara di sekitarnya menjadi berat dan tebal, sulit untuk dihirup, seperti ia sedang tenggelam di dalam tinta.
Sebuah kilatan cahaya putih yang menyakitkan muncul dari layar komputernya, seolah-olah seluruh isi ulasannya, setiap huruf dan tanda baca, meledak menjadi energi murni. Cahaya itu bukan hanya menerangi ruangan, tetapi juga menusuk retina matanya, memaksa Elara memejamkan mata rapat-rapat. Namun, sensasi terhisap itu tidak berhenti.
Tubuhnya terasa menipis, memanjang, lalu memendek secara abnormal. Ia seolah ditarik paksa melewati sebuah lorong sempit yang tak berujung, diseret oleh arus yang tak terlihat.
Teriakan kecil tertahan di tenggorokannya. Ini bukan mimpi buruk, ia bisa merasakannya. Sensasi nyata dari tubuhnya yang ditarik, indranya yang diserang, dan pikirannya yang mulai kacau balau. Ketakutan yang asing merayap, rasa ngeri yang belum pernah ia alami sepanjang hidupnya sebagai kritikus yang rasional. Apa yang sebenarnya sedang terjadi?
Kegelapan menelannya sepenuhnya, diikuti oleh keheningan yang memekakkan telinga. Tidak ada lagi gemuruh, tidak ada lagi cahaya yang menyilaukan, hanya ketiadaan. Lalu, sebuah kejutan dingin menyentuh kulitnya, disusul oleh aroma lavender yang kuat dan kain sutra yang lembut.
Elara merasakan dirinya terbaring di atas sesuatu yang empuk. Perlahan, ia membuka matanya. Langit-langit di atasnya bukan lagi beton abu-abu apartemennya, melainkan ukiran kayu gelap dengan hiasan emas yang rumit.
Cahaya matahari masuk melalui jendela tinggi yang ditutupi tirai beludru tebal. Udara terasa lebih segar, lebih bersih, dengan sentuhan wangi bunga yang samar.
Ia mencoba menggerakkan tangannya. Ada sesuatu yang berbeda. Jemarinya terasa lebih ramping, kulitnya lebih halus. Gaun tidur yang ia kenakan sekarang bukan kaus katun lamanya, melainkan kain sutra yang sangat halus, dengan renda di pergelangan tangan. Elara mendudukkan dirinya, menatap sekeliling.
Ini bukan apartemennya. Ini adalah kamar tidur yang sangat mewah, dengan furnitur antik, karpet Persia tebal, dan cermin berbingkai emas yang memantulkan sosok asing.
Sosok yang ia lihat di cermin bukanlah dirinya. Itu adalah seorang wanita muda dengan rambut pirang ikal yang jatuh terurai di bahu, mata biru bening, dan wajah tirus yang dihiasi bintik-bintik halus. Wanita itu mengenakan gaun tidur sutra berwarna krem, persis seperti yang sedang ia pakai.
Jantung Elara mencelos. Ia mengenali wajah itu.
Wajah Lady Annelise. Tokoh figuran yang ditakdirkan mati di bab kesepuluh novel picisan yang baru saja ia beri ulasan bintang satu.
"Tidak mungkin," bisiknya, suaranya terdengar lebih halus, lebih muda, dan bukan suaranya sendiri. "Aku terjebak."