


oleh Echa · 8 Bab
Tepat di hari pernikahannya, Alea Queenara ditinggalkan oleh calon suaminya. Demi menyelamatkan kehormatan keluarga, Alea mau menikah dengan seorang pria asing, Xander Zavier Zein. Siapa sangka, melalui pernikahan itu Xander merencanakan pembalasan dendam atas kematian kekasihnya yang tertabrak oleh Alea. Bukan hanya itu, kedua orang tua mereka rupanya pernah berselisih, membuat kedua orang tua Xander meninggal dan itu karena Jordan, ayah Alea. Alea yang tidak percaya memilih untuk bertahan dengan pernikahan itu. Selain untuk menebus kesalahannya, ia juga bermaksud membuktikan jika orang tuanya tidak bersalah. Akankah Alea mampu melakukan itu atau memilih menyerah?
Pernikahan merupakan hal yang paling dinanti oleh setiap pasangan. Sama halnya dengan Alea Queenara, perempuan cantik berusia dua puluh empat tahun, seorang pengusaha di bidang fashion.
Dua bulan yang lalu, kekasihnya, Evan Geraldo melamarnya. Kini keduanya sepakat untuk melakukan sumpah untuk sehidup semati, menyatukan hubungan mereka dalam ikatan yang suci.
Waktu sudah menunjukkan pukul sembilan pagi, Alea tengah duduk di dalam kamarnya bersama asisten pribadinya dan seorang make-up artis yang sedang meriasnya. Bahagia? Sangat.
Bola mata cokelat dengan bulu mata yang lentik, tidak berhenti menatap pantulan dirinya sendiri pada cermin yang ada di hadapannya, sesekali melirik waktu pada jam yang tergantung pada dinding di ruangan itu. Dua jam lagi ia akan resmi menyandang gelar sebagai nyonya Evan Geraldo.
Senyum membingkai di wajah Alea. Senyuman yang begitu merekah, seolah sedang mengumumkan kebahagiaannya. Jantungnya berdegup kencang, tangannya berkeringat menunjukkan kegugupannya.
“Anda terlihat sangat cantik, Nona Alea,” puji seorang make-up artis yang sedang mendandaninya.
“Terima kasih untuk pujiannya. Ini juga berkat Anda yang sudah membuat saya seperti ini,” balas Alea.
Alea memerhatikan wajahnya di cermin yang ada di hadapannya. Merasa puas dengan hasil riasan wajahnya. Dirinya sangat ingin tampil sempurna pada hari yang sangat spesial itu.
Tok ... tok ... tok ....
Semua orang sama-sama menolehkan pandangan mereka ke arah pintu. Bertanya dalam hati masing-masing, siapa kiranya yang ada di balik pintu itu.
“Biar saya saja yang membukanya,” ucap asisten pribadi Alea, yang bernama Prily.
Alea mengangguk untuk merespon perkataan Prilly. Pandangan Alea kembali mengarah pada cermin yang ada di hadapannya.
“Alea kau sudah siap untuk pergi ke altar pernikahanmu?” tanya Venya kepada putri tunggalnya.
Alea menolehkan pandangannya ke asal suara, melihat sang ibu baru saja masuk ke ruangan itu.
“Sudah, Bu,” sahut Alea.
“Kau terlihat sangat cantik, Sayang” puji Venya “Terima kasih, Bu.”
Venya mengulas senyum sembari menatap putrinya yang terlihat begitu cantik. Akan tetapi, saat melihat waktu pada jam yang melingkar di pergelangan tangannya, Venya terpaksa harus berhenti untuk mengagumi putrinya.
“Ayo, kita harus segera pergi. Jangan biarkan Evan menunggumu begitu lama,” ucap Venya. Alea mengangguk diikuti senyum bahagianya. “Iya, Bu.”
Ia lantas berdiri dengan dibantu oleh Prilly lantas berbalik, menghadap ke arah Venya. “Aku sangat gugup, Ibu,” ucap Alea.
“Itu wajar, Sayang,” ucap Venya.
Untuk meredam rasa gugup, Alea menarik napasnya dalam-dalam lalu mengembuskannya. Ia melakukannya secara berulang-ulang, sampai rasa gugupnya mereda.
“Ayo, Bu. Aku sudah siap,” ucap Alea.
Saat Alea akan melangkah keluar dari kamar, seorang pelayan datang. Ia mengatakan jika Ben, asisten pribadi Evan sedang menunggunya di bawah. Alea dengan segera keluar untuk menemui Ben.
Alea berjalan dengan hati-hati di anak tangga. Di belakangnya ada Prily dan satu orang pelayan yang membantu memegangi ekor gaunnya. Pandangannya menemukan keberadaan Ben. Pria itu sedang duduk di ruang tamu.
“Ayo, Ben kita berangkat!" ajak Alea.
Ben menoleh ke asal suara, ia lantas berdiri, berhadapan langsung dengan Alea.
"Ayo, Ben." Alea melangkah melewati Ben, tetapi kembali terhenti saat Ben tidak bergeming dari tempatnya. "Kenapa, Ben?"
Ben menundukkan wajahnya seraya menggelengkan kepalanya.
“Nona Alea, saya ke sini bukan untuk menjemput Anda. Tapi ... untuk memberikan pesan dari Tuan Evan.” Ben memberikan selembar kertas yang sudah ia lipat kepada Alea.
“Dari Evan?” Alea bertanya untuk kembali memastikan jika pendengarannya tidak salah. “Iya, Nona,” sahut Ben.
Alea tersenyum seraya membuka kertas itu. Dalam hatinya ia bertanya, ada apa Evan memberikan ia surat. Jika ingin bicara bukankah dia bisa meneleponnya. Namun, senyum itu luntur saat Alea membaca tulisan dalam pesan yang diberikan oleh calon suaminya.
“Maaf Alea, aku harus pergi. Aku tidak bisa menikahimu, aku sudah tidak mencintaimu, aku mencintai perempuan lain dan aku akan menikah dengannya.” Evan.
Jangan ditanya seberapa Alea terkejut setelahnya. Perkataan Evan dalam pesan itu tidak bisa Alea terima. Kenapa harus saat ini, saat pernikahan sudah di depan mata.
Pikirannya tiba-tiba limbung. Kakinya menjadi lemas tidak bisa lagi menopang berat tubuhnya.
Alea merosot dan terduduk di lantai. Matanya memerah karena menahan tangis
“Alea ... ada apa?” Venya langsung menghampiri putrinya. Wanita itu terkejut melihat putrinya terduduk di lantai.
“Ibu ... Evan.” Rasa sesak di dalam dada Alea membuatnya kesulitan untuk bicara.
“Alea, ada apa?” Venya panik melihat kondisi Alea. "Alea."
Venya menoleh ke asal suara. Jordan, sang suami berjalan menghampiri mereka. "Ada apa ini?" tanya Jordan.
“Dia meninggalkan aku.” Alea menjawab dengan suara yang terbata-bata.
“Apa? Siapa yang meninggalkanmu?” tanya Jordan.
Alea menyerahkan kertas yang ia genggam kepada ibunya. Venya menerima selembar kertas itu dan mulai membacanya. Emosi dalam dirinya memuncak saat membaca pesan yang ditulis oleh calon menantunya.
“Evan?" Ekspresi Venya sama dengan Alea ketika membaca pesan itu. “Ben ... ke mana Evan?” Venya melihat ke arah Evan, meminta penjelasan dari laki-laki itu.
“Saya tidak tahu, Nyonya,” jawab Ben dengan wajah yang tertunduk.
“Tidak mungkin. Bagaimana bisa dia membatalkan pernikahan ini secara sepihak!” Jordan berdiri lantas menarik jas yang Ben pakai.
"Maaf, Tuan. Itu di luar kendali saya,” ucap Ben.
Alea memejam mata dibarengi dengan tetesan cairan bening dari matanya. Perempuan itu meraung-raung, tidak terima dengan keputusan sepihak Evan.
“Tidak mungkin! Pasti terjadi sesuatu,” batin Alea.
Alea berdiri lalu mencengkeram kerah kemeja Ben, menatap laki-laki itu dengan tajam lantas memaksa Ben untuk mengatakan hal yang sebenarnya.
“Katakan padaku apa yang sebenarnya terjadi?” Alea bertanya pada Ben dengan berteriak.
“Saya benar tidak tahu, Nona. Tuan Evan hanya menyuruh saya untuk memberikan pesan itu pada Anda,” jawab Ben.
Alea menggeram. Dengan kesal Alea melepaskan cengkeraman tangannya, lalu mendorong tubuh Ben.
“Aku harus meminta penjelasan dari Evan sendiri,” ucap Alea.
Alea meminta telepon genggamnya pada Prily untuk menghubungi Evan. Beberapa kali Alea mencobanya dan hasilnya nihil. Hanya operator yang merespon panggilannya.
Amarah dalam diri Alea memuncak, membuat perempuan itu melempar telepon genggamnya ke sembarangan tempat. Benda pipih itu remuk dalam sekejap.
“Alea, kau mau ke mana?” tanya Venya saat Alea berjalan ke arah luar.
“Aku harus bertemu dengan Evan, Bu. Aku harus meminta penjelasan untuk ini. Dia tidak bisa memperlakukan aku seperti ini,” jawab Alea.
Alea terus berjalan, tanpa alas kaki, juga tidak peduli dengan gaunnya yang berat. Alea hanya memikirkan satu hal yaitu meminta penjelasan dari Evan.
“Alea tunggu, Nak!” teriak Venya.
Alea tidak memedulikan panggilan dari Venya juga Jordan. Ia terus berlari dengan air mata yang terus mengalir. Sampai di garasi, Alea langsung masuk ke mobil, lantas pergi dari rumah itu.

Echa
2 Pengikut · 1 Novel