


oleh kiara · 7 Bab
Bagaimana rasanya terbangun dalam tubuh orang lain? Kiara, Kinara, dan Kurumi tak pernah menyangka satu malam mengubah segalanya. Kiara kini menjadi Kanaya, gadis yang ditakdirkan mati di tangan mafia. Kinara terperangkap sebagai Aurora, model terkenal dalam dunia penuh bahaya. Kurumi hidup sebagai Rachelia, tokoh yang terseret intrik politik mematikan. Mereka tahu akhir kisah ini: kematian. Tapi bisakah mereka mengubah takdir? Di dunia yang dipenuhi cinta, pengkhianatan, dan rahasia gelap, bertahan hidup adalah satu-satunya pilihan.
Malam itu, hujan tipis membasahi jendela apartemen kecil yang ditempati Kiara. Gemericik air yang jatuh di luar berpadu dengan suara kipas angin yang berputar pelan, menciptakan suasana nyaman dalam kamar bercahaya temaram.
Di atas ranjangnya, Kiara bersandar dengan nyaman, selimut menutupi sebagian tubuhnya, sementara sorot matanya terpaku pada layar ponsel.
Di sana, sebuah cerita berjudul Man & His Dark World terpampang. Jemarinya dengan lincah menggulir halaman demi halaman, matanya terus bergerak membaca setiap kata dengan antusias.
Sesekali, ekspresinya berubah dahi mengernyit, bibir mengerucut kesal, lalu kembali lurus seiring alur cerita berlanjut.
Namun, semakin mendekati akhir, ekspresinya semakin suram. Mata yang awalnya berbinar kini menyipit tajam, bibirnya tertarik dalam seringai tak percaya.
Dan ketika kalimat terakhir terbaca, Kiara membeku sejenak. Hening.
“Hah?! Apa-apaan ini?! Ending-nya begini doang? Seriusan?! Cerita macam apa ini?! Aku bisa membuat yang lebih keren tahu! Ending-nya juga lebih memuaskan!!” serunya frustrasi. Hampir saja ponsel di tangannya ia banting ke kasur karena terlalu kesal.
Gadis itu mengacak-acak rambutnya dengan kesal. Rasanya ia baru saja melewati perjalanan emosional panjang, hanya untuk dihantam dengan akhir yang begitu mengecewakan.
Napasnya sedikit memburu, sisa-sisa emosi bercampur antara marah dan tidak terima masih menggumpal di dadanya.
Tanpa pikir panjang, ia segera membuka grup chat dan mulai mengetik dengan penuh semangat, seolah harus melampiaskan amarahnya secepat mungkin.
"Minna, aku habis baca novel online. Sumpah nyebelin banget, masa ending-nya kayak gitu!"
Ya, ini Kiara. Gadis 20 tahun yang bekerja sebagai supervisor di salah satu perusahaan di Jakarta, tapi tetap setia pada dunia fiksi di waktu luangnya.
Selain menjadi supervisor, ia adalah novelis kecil yang kerap dikenal dengan nama pena Kiara Payung Senja.
Pesan terkirim. Kini ia menunggu respons dari teman-temannya, berharap mereka bisa ikut merasakan penderitaan yang sama.
Di tempat lain, ponsel Kurumi bergetar di meja. Kurumi sedang asyik menata lukisannya. Ia melirik layar sebelum mengambilnya dan membaca pesan dari Kiara. Senyum tipis terukir di wajahnya.
"Nee? Apa tuh? Coba sini," balas Kurumi, rasa penasarannya terpancing.
Kurumi, seorang seniman muda yang sebaya dengan Kiara hanya selisih empat bulan, melirik sekilas ke arah lukisannya sebelum kembali mengetik.
Sementara itu, Kinara yang tengah sibuk menilai tugas murid-muridnya mendengar notifikasi masuk. Dengan helaan napas ringan, ia meletakkan penanya dan meraih ponsel.
"Spill link dong," tulisnya singkat, dengan perasaan antusias di dalam hati.
Tak butuh waktu lama, Kiara mengirim tautan platform nulis tersebut. Jarinya mengetik cepat, melampiaskan emosinya.
"Tuh, baca deh! Sumpah ngeselin banget! Awas aja Yana Toboso! Kalau ketemu, kupicek dia!" serunya heboh, diikuti serangkaian pesan penuh makian terhadap sang penulis.
Kurumi membaca pesan itu, terkekeh pelan sebelum mengunduh aplikasi platform nulis. Ia memberi reaksi love pink pada pesan terakhir Kiara, lalu mulai membaca cerita yang membuat temannya begitu emosional.
Kiara menyalakan fitur pesan suara. “Btw, kita jadi ketemuan besok, kan?” Suaranya terdengar imut, tapi penuh semangat.
"Jadi, kalau kuingat," jawab Kinara santai melalui pesan suara.
"Di tempat pertemuan ada cosplayer nggak sih?" Kurumi mengetik, membayangkan kemungkinan itu.
Tanpa pikir panjang, Kiara langsung membalas dengan nada tinggi di pesan suara.
“Berhenti halu, kak kuru! Kinara, awas kalau kamu nggak datang! Kusantet kau!”
"Canda kok. Aku bakal datang," sahut Kinara ringan.
Kiara mengerutkan kening saat mendengar suara Kinara yang kecil di pesan suara. Ia menempelkan ponselnya lebih dekat ke telinga, bergumam kesal, “Please, volume suara Kinara selalu kecil kalau pesan suara. HP-ku harus benar-benar nempel di kuping biar kedengeran.”
Lelah setelah seharian beraktivitas, Kiara akhirnya meletakkan ponselnya dan menarik selimut. Dalam hitungan menit, ia pun terlelap.
Keesokan harinya, setelah salat Asar, mereka bertiga bertemu di warung bakso Bangkit. Namun, alih-alih memesan bakso, mereka justru memesan nasi goreng dari warung sebelah dan menikmatinya di warung bakso.
Seperti biasa, Kurumi yang sedikit unik membawa boneka beruang kecil kesayangannya.
"Ini kita digebukin yang jualan nggak sih?" ucap Kurumi sambil memainkan bonekanya seperti sedang berbicara.
Kiara menoleh ke arah penjual bakso yang melirik tajam sambil memegang panci. "Kayaknya nggak," jawabnya santai, menyeringai kecil.
Kurumi merasa sedikit bersalah. Ia memutuskan untuk membungkus nasi gorengnya dan ikut memesan bakso di tempat itu.
"Hmm, Kiara, aku bungkus aja nasi gorengnya. Pengen makan bakso di sini saja," ujarnya pelan sambil melirik Kiara dengan ragu.
Kinara, yang sejak tadi diam memperhatikan, hanya mengangguk kecil sebelum akhirnya ikut memesan bakso, diikuti oleh Kiara yang ikut memesan bakso juga biar solid.
Sambil menyeruput mi baksonya, Kiara melanjutkan obrolan. “Eh, ngomong-ngomong, aku kesal banget sama Yana Toboso.”
"Kenapa? Dia punya karakter seganteng Sebastian gitu, bisa-bisanya kamu kesal, loh," sahut Kurumi sambil mengunyah es batu.
"Bukan yang itu, loh. platform nulis yang kukasih ke kalian. Dia yang buat," jawab Kiara kesal.
Kinara tersenyum tipis. “Ujung-ujungnya nyakitin diri. Namanya juga cerita fiksi. Berarti dia penulis yang hebat.”
Kiara mendengus kesal. Ia berdiri dengan ekspresi cemberut. “Malah dibelain! Au ah!” Lalu, ia berjalan menuju kamar mandi.
Saat di kamar mandi, ponselnya bergetar. Nama abangnya, Otoha, tertera di layar. Namun, Kiara hanya menatap ponsel itu tanpa berniat menjawab.
“Pasti mau minta uang lagi,” gumamnya pelan, menghela napas panjang.
Kurumi, yang melihat Kiara pergi, hanya bisa menghela napas. Ia menepuk bahu Kinara, mencoba menenangkan. “Yang sabar, Kinara.”
Tak lama, Kiara kembali dengan senyum yang terlihat dipaksakan. “Guys, aku duluan ya. Tiba-tiba ada kerjaan.”
Kinara mengangkat alis. “Eh, kok? Ini punya kamu belum habis. Apa ada masalah?”
"Kau baik-baik saja?" tanya Kurumi cemas.
"Aman kok. Sudah ya, aku pergi dulu," jawab Kiara dengan senyum kecil.
Dan sejak saat itu, tak ada yang tahu malam terakhir yang hangat itu akan menjadi perpisahan mereka.
Langit malam masih diguyur gerimis saat Kiara melajukan motornya menyusuri jalanan ibu kota yang padat.
Cahaya lampu jalan berpendar di genangan air, menciptakan refleksi keemasan yang berkilauan. Ia menarik napas panjang, berusaha menenangkan diri dari perasaan gelisah yang mendadak menghantuinya sejak telepon dari otoha masuk.
Tangannya sedikit gemetar di atas stang motor. Sudah terlalu sering ia menghadapi situasi seperti ini. Telepon dari abangnya hampir selalu berarti satu hal: permintaan uang.
Kiara tidak pernah keberatan membantu keluarga, tapi kali ini, ia benar-benar sudah di ambang batas. Uangnya pas-pasan, cukup untuk bertahan hidup di Jakarta dengan gaji supervisornya. Lagipula, bukankah otoha sudah cukup dewasa untuk mengurus dirinya sendiri?
"Kenapa aku terus yang harus mikirin dia?" gumam Kiara lirih, menggigit bibirnya dengan frustrasi.
Setelah menempuh perjalanan sekitar dua puluh menit, ia tiba di kosannya yang berada di lantai empat sebuah bangunan tua.
Dengan enggan, ia memarkir motornya dan berjalan menaiki tangga.
Namun, sebelum ia sempat mencapai pintu kamarnya, sosok otoha sudah berdiri di ujung lorong, menunggunya dengan ekspresi penuh amarah.

kiara
0 Pengikut · 1 Novel