


oleh Queen_Dyy · 10 Bab
Satu cewek. Dua cowok. Satu sekolah yang nggak pernah kehabisan gosip. Brigita pikir jadi panitia pensi cuma soal ngejar deadline dan dekorasi aula. Tapi sejak Raynard, ketua OSIS paling cool sejagat SMA Dirgantara, mulai sering ngeliatin dia pas rapat, dan Gilang, kapten basket paling tengil, makin sering nyari alasan buat ngobrol, semuanya jadi nggak sesimpel dulu. Pensi berubah jadi medan perang. Rapat OSIS jadi ajang tatap-tatapan menegangkan. Dan Brigita? Ia terjebak di tengah cinta segitiga paling viral seangkatan. Siapa yang akan memenangkan hati Brigita?
“Brigita Azzahra, kamu saya tunjuk sebagai ketua panitia pensi tahun ini.”
Suara Bu Agnes terdengar jelas, udara di ruang guru terasa panas dan pengap. Tapi saat kalimat itu meluncur, tubuh Brigita justru terasa dingin, seperti baru dilempar ke kolam tanpa aba-aba. Keringat dingin mulai muncul di belakang lehernya.
Brigita berdiri tegak di depan meja Bu Agnes, mencoba memroses apa yang baru saja ia dengar. Otaknya seperti tersendat.
“Maaf, Bu?” tanyanya pelan, hampir seperti bisikan. “Saya, saya bukan anak OSIS.”
“Justru itu, Brigita.” Bu Agnes menyandarkan punggung ke kursi, tangan menyilang di dada. “Kamu nggak terlibat macam-macam. Aman. Fokus. Nggak ikut geng mana pun, dan saya tahu kamu orangnya bisa kerja.”
Brigita membuka mulut, lalu menutupnya lagi. Ia bukan tipe siswa yang suka menonjol. Selama ini, ia cukup senang duduk di barisan tengah, mengerjakan tugas, pulang tepat waktu, dan sesekali menghindari keramaian.
“Kenapa bukan Nayla aja, Bu?” tanyanya lagi. “Dia kan aktif dan lebih sering ikut kegiatan.”
“Nayla sudah pegang pensi tahun lalu.” Bu Agnes menjawab cepat. “Sekarang giliran kamu. Jangan terlalu banyak mikir. Ini kesempatan juga buat kamu keluar dari zona nyaman, ya, kan?”
Brigita menggigit bibir. Otaknya masih berusaha mencari celah, tapi entah kenapa, tiap kali hendak bicara, argumennya selalu terdengar lemah bahkan di dalam kepalanya sendiri.
“Bu, saya nggak ngerti cara ngurusin acara kayak gitu,” kata Brigita jujur. “Saya bahkan belum pernah jadi panitia sekalipun.”
“Kamu nggak sendiri,” jawab Bu Agnes tenang. “Ada tim. Ada anak-anak OSIS, ekstrakurikuler, tapi tetap, kamu yang mimpin. Ini bukan permintaan, ini penunjukan.”
Brigita menunduk, memandangi sepatu sekolahnya. Rasanya seperti baru saja dapat tugas presentasi dadakan di depan kelas, bedanya ini skalanya satu sekolah.
“Saya bisa mikir dulu, Bu?” tanyanya pelan, hampir putus harapan.
Bu Agnes mengangkat alis. “Besok pagi rapat pertama jam sembilan. Di ruang OSIS. Saya dampingi, tapi kamu yang bicara.”
Brigita memandangnya, dan tahu, permintaannya tadi barusan diabaikan sepenuhnya. Ia tidak diberi waktu berpikir. Ini sudah keputusan akhir.
“Kalau saya nggak sanggup, Bu?” tanya Brigita lagi, pelan.
“Kamu belum nyoba kok udah bilang nggak sanggup?” Bu Agnes menghela napas singkat, lalu menatapnya lebih lembut. “Saya lihat kamu itu teliti, nggak neko-neko, dan kamu tahu batas. Itu modal penting. Masalah teknis, nanti bisa dipelajari.”
Brigita masih diam. Rasanya seperti sedang ditarik pelan-pelan ke dalam pusaran air yang tidak kelihatan ujungnya.
Bu Agnes kemudian berdiri, mengambil beberapa berkas, lalu menaruhnya ke dalam map biru.
“Nih, rundown kegiatan tahun lalu. Kamu baca-baca malam ini. Buat bayangan awal aja.”
Dengan ragu, Brigita menerima map itu. Ia bahkan belum yakin sepenuhnya akan menjalani ini, tapi map itu sudah ada di tangannya.
“Terima kasih, Bu,” katanya pelan, entah atas apa.
Bu Agnes hanya mengangguk, lalu kembali duduk. “Saya percaya kamu bisa. Jangan terlalu takut salah. Yang penting, kamu tanggung jawab. Sisanya belajar sambil jalan.”
“Kalau begitu saya pamit dulu, Bu,” katanya akhirnya, pelan.
Bu Agnes kembali sibuk dengan kertas-kertas di mejanya. “Silakan.”
Brigita melangkah pelan ke arah pintu. Langkahnya seperti terseret, bukan berjalan.
Saat tangannya menyentuh gagang pintu, ia menoleh sebentar.Bu Agnes tak lagi menatapnya. Perempuan paruh baya itu sudah fokus dengan pekerjaannya lagi, seolah perbincangan barusan hanya hal kecil.
Brigita membuka pintu, dan derit engsel tua menyambutnya. Angin dari koridor tak terlalu sejuk, tapi setidaknya membuat dadanya sedikit lega. Ia melangkah keluar tanpa menoleh lagi.
***
Begitu keluar dari gedung sekolah, mata Brigita langsung menyipit menahan cahaya matahari sore yang terik. Langit tampak cerah, tapi panasnya masih menyengat.
Di dekat pagar sekolah, Nayla berdiri menyender di tiang besi sambil memainkan ujung tali ranselnya. Wajahnya langsung cerah begitu melihat Brigita keluar.
“Eh, lama banget! Kupikir kamu diculik buat rapat guru,” celetuk Nayla sambil menghampiri.
Brigita hanya menanggapi dengan senyum lelah. Langkahnya pelan, seolah beban di bahunya bertambah dua kilo.
“Udah kelar?” tanya Nayla lagi.
“Iya, kelar sih,” gumam Brigita.
Mereka mulai melangkah meninggalkan sekolah, menyusuri trotoar sempit yang retak-retak. Jalanan depan sekolah sudah agak sepi. Hanya terdengar suara kendaraan lewat dan teriakan penjual siomay dari kejauhan.
“Terus, kamu ngapain di ruang guru?” tanya Nayla sambil melirik ke arah temannya.
Brigita menghela napas, lalu menjawab pelan, “Aku dipanggil Bu Agnes.”
Nayla langsung menoleh cepat. “Hah? Dipanggil? Emang kamu ngapain?”
“Bukan gitu.” Brigita menggigit bibir. “Aku, ditunjuk jadi ketua panitia pensi.”
Langkah Nayla langsung terhenti sejenak. “Hah? Sumpah!”
Brigita mengangguk pelan. “Sumpah. Tadi barusan banget. Aku kira cuma disuruh bantu-bantu eh, malah ditunjuk jadi ketua.”
Nayla terdiam beberapa detik sebelum akhirnya tertawa kecil, meski terdengar setengah tidak percaya. “Kok bisa kamu? Kamu kan bukan anak OSIS, bukan juga anak ekstrakurikuler yang suka tampil.”
“Justru itu kata Bu Agnes. Karena aku netral, nggak banyak drama, bisa kerja katanya.” Brigita mengulang ucapan tadi sambil menghela napas lagi.
Mereka berbelok di ujung jalan, menyusuri gang kecil yang biasa mereka lewati tiap hari sepulang sekolah. Jalanan itu penuh bayangan pepohonan dari rumah-rumah warga.
Nayla nyengir. “Wah, selamat ya, Ketua Pensi!”
“Jangan ngatain deh, Nay,” keluh Brigita. “Aku panik banget ini. Kenapa harus aku, sih?”
“Tapi kamu bisa, kok,” kata Nayla sambil mengangkat bahu. “Serius. Emang sih kamu nggak pernah keliatan aktif, tapi kamu itu telaten. Tipe yang rapi dan bisa ngatur.”
“Bisa ngatur urusan sendiri iya, tapi ngatur satu acara segede itu?” Brigita menggeleng. “Aku bahkan belum pernah jadi panitia pensi. Nonton aja jarang.”
Nayla terkekeh. “Jangan lebay. Tahun lalu aja kamu nonton. Inget nggak, yang ada band kelas sebelah nyanyi lagu Dewa tapi vokalnya fals?”
Brigita akhirnya ikut tertawa pelan. “Iya sih, tapi nonton dan jadi ketua tuh beda, Nay.”
Mereka melewati tukang es keliling yang lewat mendorong gerobak. Nayla sempat melirik, tapi memutuskan untuk tidak beli. Udara memang panas, tapi pembicaraan lebih seru dari es sirup.
“Terus kamu harus ngapain dulu sekarang?” tanya Nayla.
“Besok pagi rapat pertama. Di ruang OSIS. Aku disuruh buka rapat,” jawab Brigita. “Baru dikasih rundown tahun lalu buat dibaca.”
Nayla memutar bola matanya. “Wah, padahal besok tuh aku rencana mau bangun siang. Tapi ya sudahlah, demi Ketua Pensi.”
Brigita mendesah. “Nggak usah ledek, sumpah. Aku pengin nolak tapi udah nggak bisa. Bu Agnes tuh kalo udah nunjuk, susah banget ditolak.”
“Iya, aku tahu banget,” Nayla mengangguk. “Tapi Bu Agnes biasanya nggak sembarangan milih orang, lho. Kalau dia nunjuk kamu, berarti dia lihat kamu mampu.”
Brigita diam. Kalimat itu masuk ke telinga, tapi belum cukup untuk menenangkan.
“Nanti aku bantu, deh,” Nayla menambahkan. “Aku kan udah pernah jadi panitia. Setidaknya bisa bantu kamu nggak kelabakan pas awal-awal.”
Brigita menoleh cepat. “Serius?”
“Seriuslah. Masa sahabat sendiri jadi ketua pensi, aku diem aja? Lagian, siapa lagi yang bisa tahan denger kamu ngeluh kalau bukan aku?”
Brigita tersenyum, kali ini lebih lega. Ada sedikit kehangatan yang menenangkan di tengah kekacauan pikirannya.
Langkah mereka makin dekat ke rumah. Rumah mereka memang hanya beda dua gang, tapi sering kali mereka pulang bareng—bahkan sejak SD.
“Jadi, kamu siap, Bu Ketua?” goda Nayla sambil menyikut pelan lengan Brigita.
Brigita menatap langit yang mulai memerah. Matahari mulai turun perlahan, dan udara sore perlahan mulai sejuk.
“Belum siap sih,” katanya jujur. “Tapi, mungkin bisa dicoba dulu.”
Nayla tersenyum. “Nah, gitu dong. Jangan takut duluan. Siapa tahu seru.”
Brigita menarik napas dalam-dalam. “Semoga aja aku nggak bikin acara ini berantakan.”
“Kalau pun berantakan, minimal kamu punya cerita buat dikenang pas reuni nanti,” canda Nayla sambil tertawa.

Queen_Dyy
2 Pengikut · 1 Novel