


oleh RyeoNae · 11 Bab
Vanilia Agatha kesulitan membayar uang kuliahnya saat masuk ke semester enam. Dia juga diselingkuhi oleh kekasihnya. Tak ingin mengecewakan ibunya di kampung, Vanilia berbohong soal beasiswa yang masih ada. Nureka, pria yang hendak dijodohkan oleh orang tuanya, tahu masalah Vanilia. Pria itu memberikan tawaran bersedia membayar uang semesternya. Akan tetapi, Vanilla harus menjadi pacar pura-pura Nureka. Apakah Vanilia mau menerimanya? Mungkinkah cinta mereka menjadi nyata atau memang hanya sekedar saling mengambil keuntungan?
Ayah : Ayah gak punya uang. Adik kamu juga harus bayar uang semesteran.
Dua puluh juta.
Vanilia menghela napas begitu mendapati balasan pesan dari ayahnya tadi.
Vanilia : Vani cuma minta lima juta saja, Yah. Lebih sedikit ketimbang dua puluh juta.
Tidak sampai satu menit, centang pada pesan WhatsApp-nya telah berganti tanda menjadi biru.
Ayah : Kalau Ayah bilang gak punya, ya, gak. Kuliah adik kamu lebih penting. Dia kuliah kedokteran, kelak akan membantu orang banyak.
Tangan Vanilia meremas kuat ponsel di tangannya begitu baris pesan itu ia baca. Dadanya bergemuruh hebat. Tenggorokannya tercekat, seolah ada sesuatu yang menghalanginya untuk menelan. Lagi-lagi gadis itu menggigit bibir kuat-kuat.
Vanilia : Tapi Vani juga anak Ayah. Anak kandung.
Vanilia mengetik tujuh kata itu dengan perasaan marah dan sedih yang bercampur menjadi satu. Begitu menekan tombol kirim, teko untuk menjerang air berdesis nyaring dan Vanilia segera menaruh ponselnya ke dalam kantong celananya tanpa berniat untuk melihat apakah pesan itu sudah terbaca apa belum. Lebih tepatnya ia belum siap membaca pesan balasan dari ayahnya lagi.
“AKHH!!!”
“Van!!! Kamu ngelamun, ya?!”
Pekikan Ayana yang baru saja datang dari ruangan sebelah membuat Vanilia yang kini tengah membasuh tangannya di bawah guyuran air mengalir tersentak. Vanilia hanya bisa tertawa rikuh sembari meringis begitu mendapati wajah Ayana yang masam.
Akibat terburu-buru menuangkan air panas ke dalam gelas, tangan Vanilia tidak sengaja terkena air panas. Beruntung tidak melepuh.
“Kamu lagi mikirin apa sih?” tanya Ayana yang sigap mengambil salep pereda nyeri di kotak P3k kemudian menyerahkannya kepada Vanilia.
Vanilia belum menjawab, ia masih sibuk mengolesi tangannya yang kebas dengan obat. “Biasa, Mbak. Lagi mikirin nilai yang belum keluar. Kayaknya semester ini IP aku turun.” Vanilia beralasan. Padahal sedari tadi pikirannya berisik bukan karena itu.
Ayana berdecak. “Dasar mahasiswa rajin dan maniak angka.” Gadis itu kemudian terkekeh lagi. “Pulang sana! Jam kerja kamu sudah habis.”
Vanilia menatap jam dinding yang telah menunjukkan pukul sembilan malam. Benar yang dikatakan Ayana.
“Aku pulang duluan, ya, Mbak,” tukas Vanilia sambil beranjak menuju ruang ganti untuk meletakkan topi kerja dan mengambil tasnya. Sebelum keluar dari dapur, ia bisa mendengar suara Ayana yang menyuruhnya hati-hati. Vanilia mengangguk dan berlalu pergi.
Dream Kafe menjadi tempat Vanilia untuk kerja part time. Ia melihat lowongan waitress di laman Instagram kafe tersebut delapan bulan yang lalu yang membuatnya tertarik untuk bekerja di sana.
Motivasi Vanilia cuma satu. Ia butuh uang tambahan untuk hidup di rantauan, sebab uang bekal yang diberikan ibunya—kalau boleh jujur—sangatlah kurang. Terlebih lagi untuk tahun ini masa berlaku beasiswanya sudah habis karena Vanilia hanya mendapat jatah beasiswa untuk setahun saja dan kebutuhan kuliahnya semakin naik semester semakin banyak.
Tiga puluh menit kemudian Vanilia telah sampai di indekos. Suara tembakan yang terdengar dari kamar sebelah mengurungkan niat Vanilia untuk masuk ke dalam kamar dan memilih untuk melipir sebentar ke sumber suara.
“Kamu belum tidur, La?” Suara Vanilia beradu dengan suara tembakan yang berasal dari laptop.
“Kamu sudah pulang Van?” Nila yang tengah asik bermain game membalas dengan pertanyaan lain tanpa membalikkan tubuh. Gadis itu duduk di kursi gaming sambil menaikkan satu kakinya ke atas. Jemari lentiknya tidak kalah gesit beradu di atas mouse yang menghasilkan suara detikan yang konstan.
Vanilia memutuskan untuk masuk ke dalam dan menjatuhkan bokongnya di atas tempat tidur Nila yang empuk. Pantas saja Nila bisa membalas pertanyaannya, rupanya telinga gadis itu tidak disumpal dengan headphone.
Vanilia menatap Nila dalam. Teman satu kos-an yang berbeda jurusan dengannya tersebut dilihat dari samping saja sudah sangat cantik, apalagi dari depan. Garis rahangnya tegas, hidungnya mancung, bulu matanya lentik seperti mengenakan eyelash.
Nila lahir dari keluarga yang sangat berkecukupan. Tugasnya cuma satu yakni belajar. Dia tidak pernah memikirkan untuk menghemat pengeluaran. Mau makan apa saja, langsung cuss. Mau belanja apa pun, tinggal gesek. Kalau uang habis, langsung telepon orang rumah. Kalau bosan tinggal di indekos, cari hotel atau motel untuk pindah tidur.
Hidup kadang nggak adil, yah!
“Kamu ngapain ngelihatin aku kayak gitu? Naksir?” celetuk Nila yang telah memiringkan kursi gaming-nya agar bisa melihat ke arah Vanilia dengan jelas.
“Emang,” balas Vanilia sambil terkekeh begitu mendapati bola mata Nila yang membesar. “Ye elah! Zaman sekarang cewek itu lebih senang lihat cewek cantik ketimbang cowok ganteng, tahu! Tapi aku masih lurus, kok! Masih suka lakik!” celetuk Vanilia lagi.
“Tangan kamu kenapa?!” Nila berseru dengan panik begitu mendapati tangan sahabatnya yang merah.
“Namanya juga manusia yang kerja, pasti pernah kecelakaan kerja. Aku bukan Jang Joo Woon yang bisa menyembuhkan diri dengan cepat.”
Jang Joo Woon adalah salah satu karakter dari drama Korea ‘Moving’ yang baru saja mereka tonton seminggu yang lalu.
Nila hanya mendengus sembari geleng-geleng kepala. Ia mengambil ponsel dan mengotak-atik sesuatu di sana. “Untung saja ada apotek dua puluh empat jam. Aku sudah order salep dan antibiotik buat kamu. Sebentar lagi pasti datang.”
Vanilia tidak pernah bisa membenci Nila. Gadis itu terlalu baik dan peduli. Tidak hanya kepada dirinya saja, semua penghuni kos di sini juga sama. Kalau boleh jujur, menurut Vanilia, Nila itu cocok masuk di jurusan akuntansi, dokter atau bagian administrasi gitu. Aura keibuannya membuat dia juga pantas untuk kuliah di PG-PAUD atau PG-SD.
Namun, asalkan kalian tahu, alih-alih mengambil jurusan yang Vanilia sebutkan di atas, Nila justru memilih menenggelamkan dirinya menjadi anak teknik. Lebih tepatnya Teknik Informatika.
Menurut penuturannya, Nila sempat berencana untuk masuk ke teknik mesin, sayangnya nggak diterima. Mungkin Tuhan tahu kali, ya, wajah mulus Nila tidak boleh terkena oli atau semacamnya.
Alasan gadis itu masuk teknik membuat Vanilia terkesan. Dia ingin membuktikan kepada keluarga besarnya kalau anak perempuan bisa menjadi apa yang mereka inginkan. Kebetulan Nila ini gamers sejati dan berkeinginan untuk menciptakan game.
“Batas ngisi Kartu Rencana Studi dua minggu lagi, kan? Kamu sudah?” tanya Nila membuat Vanilia kembali tersadar dari lamunannya.
“Kamu sudah?” Vanilia memilih untuk bertanya alih-alih menjawab.
“Kamu ya! Kebiasaan banget, aku nanya, kamu malah balik nanya,” gerutu Nila. Kendati demikian ia tetap mengangguk cepat tanpa mengalihkan pandangan dari layar ponsel. Sepertinya ia tengah chat-an dengan sang pacar.
“Aku mah santai saja dulu. Sudah bosan jadi anak rajin, kali ini mau jadi anak malas dulu. Palingan dua tiga hari sebelum penutupan aku nyusun KRS-an,” tukas Vanilia disertai kekehan.
Sahabatnya itu hanya memberi reaksi dengan cibiran.
Nila hanya tidak tahu, jangannya menyusun KRS, membayar uang semesteran saja Vanilia masih bingung mendapatkan uang dari mana.
Vanilia kembali merogoh ponsel dari dalam tas. Sayangnya, tidak ada balasan apa pun lagi dari ayahnya. Centang pada bubble chat-nya belum berubah warna. Pria itu jelas mengabaikan dirinya.
Ia tidak mungkin memberitahukan sahabatnya itu, sebab Nila sudah sering membantunya. Vanilia tidak bisa menghubungi ibunya di kampung dan membuat wanita itu khawatir.
Saat mendengar helaan napas lega dan sorakan kegembiraan ibunya tahun lalu begitu ia mengabari kalau mendapat beasiswa, seketika itu pula Vanilia terpaksa berbohong kalau beasiswanya akan meng-cover uang kuliahnya sampai lulus. Gadis itu tidak sampai hati jika harus mendengar suara ibunya yang cemas.
Ketika harapan satu-satunya yang ia miliki yakni meminta bantuan kepada ayahnya, kepada pria yang katanya adalah cinta pertama bagi anak perempuannya, pria itu justru menikam dalam satu tebasan dan membuat dadanya perih.
Pria itu memilih untuk membantu putra selingkuhannya dibandingkan anak kandungnya sendiri.
“Ya Tuhan … lima juta itu banyak, loh! Vanilia harus cari di mana dalam waktu dua minggu?”

RyeoNae
0 Pengikut · 1 Novel