


oleh Cats Whitening · 100 Bab
Diandra pernah mencintai dengan sepenuh hati, tetapi Robert, kekasih masa sekolahnya, justru meninggalkan luka yang sulit terobati. Ketika ia berusaha bangkit, takdir mempertemukannya dengan Louis, pria Jerman yang membawa kehangatan dan cinta yang tak pernah ia duga. Namun, melupakan masa lalu tidak semudah membalik halaman. Diandra harus memilih: terus terjebak dalam bayang-bayang cinta lama, atau membuka hatinya untuk kebahagiaan baru. Apakah cinta sejati benar-benar bisa menyembuhkan luka terdalam?
Ketika menapaki kampung halaman, hati gadis cantik ini gamang. Seribu satu macam perasaan bercampur aduk. Sudah benarkah langkah yang ditempuhnya saat ini? Ia kembali ke masa lalunya. Bandung.
Tempat kelahirannya, tempat ia tumbuh menjadi gadis yang sangat cantik dan dewasa. Tempat yang membawa duka yang tak berkesudahan. Lima tahun berlalu. Tiba-tiba Diandra merasa deras waktu menyeretnya kembali.
Pesawat telah sedari tadi lepas landas. Aktivitas di bandara juga sudah semakin berkurang. Dua tiga orang terlihat masih mondar-mandir mendorong kereta barang.
Diandra masih termangu di ruang tunggu. Entah apa yang ia pikirkan. Air matanya tiba-tiba menetes. Ia berusaha menghapus bulir air mata yang masih membasahi wajah cantiknya.
Sejak tadi matanya berkeliling, mengamati setiap sudut bandara. Sudah banyak yang berubah. Diandra meneliti setiap orang yang berlalu-lalang. Tak ada satu pun orang yang ia kenali atau mengenalinya. Semua terasa sangat asing.
“Taksi, Mbak?” tegur seorang sopir taksi dengan sangat ramah.
Diandra memandangi sekilas sopir taksi tersebut. Mungkin ia merupakan sopir taksi yang keduapuluh yang menghampirinya. Karena tak tega, akhirnya Diandra menganggukkan kepalanya. Sopir taksi itu berkumis tebal, memiliki postur tubuh yang kurus, dan sudah tua.
Ia lalu mengekori langkah kaki sopir tersebut yang tampak kerepotan mengangkat barang bawaannya. Diandra sengaja tak memberitahukan kepulangannya yang mendadak kepada ibunya.
Ia ingin membuat kejutan kecil. Sudah lama sang Bunda memintanya pulang, tetapi Diandra selalu menolak dengan berbagai alasan.
Padahal, semuanya hanya bermuara pada satu alasan saja: Robert! Setelah peristiwa itu, Diandra masih belum mampu melupakan kenangan yang menyakitkan. Tiba-tiba hatinya merasakan sesak.
Taksi berjalan agak lambat. Gerimis jatuh satu per satu. Lewat kaca mobil yang buram, Diandra menikmati suasana di luar sana.
Semua sudah nampak berubah. Satu, dua gedung pencakar langit tampak meramaikan kota. Jalanan yang dulu lengang, kini terlihat sangat padat. Macet mulai mengisi di mana-mana.
“Di depan belok kanan atau kiri, Mbak?” tanya sopir taksi tersebut dengan ramah, melirik Diandra melalui kaca spion.
“Kiri, Pak. Rumah yang gradasi hijau itu!”
Taksi berhenti di depan rumah bergradasi hijau dengan pekarangan yang sangat luas.
“Ini, Pak. Makasih,” ucap Diandra, menyodorkan uang lima puluh ribuan.
Diandra melangkahi anak tangga dari batu. Dulu, ratusan kali sudah ia melangkahi anak tangga tiga tingkat itu. Bahkan, pernah saat ia buru-buru berangkat sekolah, ia hampir terjatuh di tangga itu. Semua begitu jelas, walaupun sudah lima tahun berlalu.
Diandra terpaku tepat di depan teras. Rumah di hadapannya juga sudah berubah. Di sampingnya ada taman kecil penuh dengan bunga mawar aneka warna.
Teras itu sendiri menghadap ke halaman luas. Di halaman itu, tampak ada pohon mangga, pohon pisang, dan pohon salak.
Beberapa rumpun bunga kana menghiasi tepi pagar. Rimbunnya pepohonan yang menutupi teras membuat suasana menjadi teduh dan nyaman.
“Nyari siapa, Mbak?” tanya seorang perempuan yang jauh lebih muda, kira-kira lebih muda darinya.
Dengan tersenyum, gadis muda tersebut menghampirinya.
Diandra mengerutkan kening. “Ini rumahnya Ibu Nita, kan?”
“Mbak ini …?”
“Aku Diandra, putrinya.”
“Ohh, Mbak Diandra. Saya Santi, pembantu baru di sini.”
“Bu … Ibu …!” teriak Santi. “Mbak Diandra pulang!”
Seorang wanita tua tergopoh-gopoh keluar. Diandra terpaku menatap wanita tua di hadapannya.
Garis-garis tampak jelas di wajahnya, membuatnya terlihat sangat tua. Diandra berlari menyongsong wanita itu, mengecup punggung tangannya, dan memeluknya erat.
“Kenapa nggak ngomong dulu, Nak, kalau kamu mau pulang?” tanya wanita itu ketika pelukan terlepas.
“Kalau ngomong, bukan surprise namanya.”
“Akhirnya, kamu pulang juga, Nak.”
Mata tuanya berkaca-kaca. “Kalau tahu bakalan pulang hari ini, kan bisa dijemput.”
“Nggak apa-apa, Bunda.”
“Itu bawaanmu?” Bunda menunjuk koper dan barang-barang lain yang masih berserakan di teras. “Banyak banget.”
“Saya bawa masuk ya, Mbak.” Santi yang tadi diam kini bergerak menuju barang-barang Diandra.
“Berat, loh. Biarin aja. Nanti kita angkat sama-sama,” sahut Diandra.
“Jangan, Mbak,” Santi buru-buru mencegahnya. “Kebetulan ada Mas Jamil. Biar dia saja yang mengangkat bawaan Mbak Diandra.”
“Jamil?”
“Dia suami saya, Mbak,” jelas Santi yang terlihat agak malu.
Diandra sedikit kaget. Perempuan muda seperti Santi rupanya sudah menikah. Padahal, jika dibandingkan dengannya, usia Santi terbilang sangat belia.
Namun, Diandra memaklumi semua itu. Para perempuan desa biasanya tidak terlalu banyak pertimbangan dalam memilih calon suami untuk kemudian menikah.
Di kalangan perempuan desa, biasanya ada mitos turun-temurun yang diyakini.
Misalnya, jika perempuan tersebut menolak lamaran laki-laki yang datang melamarnya, dia akan menjadi perawan tua.
Jadi, seperti apa pun laki-laki yang datang melamarnya, gadis tersebut wajib menerimanya.
Perempuan tak berhak memilih atau mengambil keputusan sendiri pasangan hidupnya.
Bagi perempuan desa, saat mengalami haid pertama, itu tandanya mereka harus menikah sesegera mungkin. Berbeda sekali dengan perempuan kota.
Banyak pertimbangan sebelum memutuskan mengikat diri dalam ikatan pernikahan.
Masa penjajakan yang cukup, materi yang matang, kecocokan latar belakang keluarga, dan hal-hal lainnya.
Belum lagi, ketakutan-ketakutan yang sangat beralasan dan terkesan dibuat-buat.
Seorang pemuda tanggung datang menghampiri mereka.
“Ini suamimu?” Diandra memandangi Santi yang mengangguk sungkan.
“Ini barangnya, Mbak?” tanya Jamil sambil menunjuk barang-barang bawaan Diandra. “Dibawa ke mana, Mbak?”
“Ohh … bawa ke kamarku yang dahulu saja.”
“Kamarnya Diandra yang di pojok ruang tengah itu,” jelas Bunda.
Diandra memperhatikan pemuda yang tampak gesit membawa barang-barangnya itu. Kira-kira usianya masih sangat belia. Pasangan belia. Diandra merasa sangat tua jika berhadapan dengan mereka berdua.
“Ayah di mana?”
“Masih di kantor. Mungkin, sebentar lagi pulang. Udah nggak usah nunggu ayahmu. Kamu makan saja dulu, Nak. Kebetulan, tadi bunda memasak tumis pare dan oseng tempe. Kamu masih doyan, kan?”
“Bunda, kok rumahnya sepi? Mas Dellon mana?”
Tiba-tiba wajah Bunda menjadi mendung.
“Kakak kamu nggak tinggal di sini lagi.”
“Kenapa?”
“Perusahaannya sudah berkembang. Dia sudah membeli rumah sendiri, Nak. Terus, baru seminggu ini dia pindah dari rumah. Ditambah lagi dia menjalin hubungan dengan gadis yang berbeda agama dengan kita. Karena Bunda marahi, dia nggak terima. Dasar anak nggak tahu diri. Sudah dididik dan dibesarkan, setelah jadi orang sukses, malah seperti ini balasannya,” gerutu Bunda.
Diandra terdiam, ternyata Bunda masih sama seperti dulu. Masih suka mengomel untuk menumpahkan kekesalannya. Sangat emosional sekali. Diandra ingat, Bunda memang sangat keras dalam hal mendidik anak-anaknya sehingga terkesan otoriter.
Sejak dulu, bukan hanya Mas Dellon, Mbak Dina, dan Dilla sering kali ingin minggat dari rumah.
Tiba-tiba Bunda menitikkan air matanya. Diandra langsung memeluk dan menenangkan Bundanya.
“Bunda kenapa menangis?” tanya Diandra menatap bundanya dengan penuh keheranan.

Cats Whitening
69 Pengikut · 100 Novel