


oleh Rusdianto · 31 Bab
Sepuluh tahun menghindar demi kejar karier jurnalis, Gista akhirnya pulang karena diagnosis demensia Ibu. Saat merawat Ibu yang perlahan jadi asing, Gista menemukan sebuah kotak berisi foto seorang pria misterius, kain penuh bercak darah, dan surat-surat tak terkirim. Insting jurnalisnya membawa Gista pada investigasi paling personal dalam hidupnya. Ia sadar sifat dingin ibunya bukan karena ketiadaan cinta, tetapi tameng untuk melindungi dari rahasia kelam di masa lalu. Kini, Gista harus berpacu dengan waktu. Saat misteri mulai terbuka, ingatan Ibu justru kian pudar. Sanggupkah Gista memberi maaf dan menemukan kembali sosok ibunya sebelum semua kenangan itu benar-benar menjadi abu?
Katanya, rumah itu tempat di mana kita tak perlu merasa malu untuk bersedih. Tapi buat aku, rumah di Jalan Kenanga nomor dua belas ini selalu punya cara sendiri untuk membuatku merasa seperti orang asing yang sedang bertamu. Bau kayu lapuk bercampur aroma minyak telon yang menguap di udara pagi itu menyambut kedatanganku. Tak ada pelukan hangat. Hanya suara TV dengan volume kecil menyiarkan berita pagi yang tanpa penonton.
Aku meletakkan koper di ruang tamu. Lantai tegel abu-abu ini masih terasa dingin di telapak kaki, persis seperti sepuluh tahun lalu saat aku memutuskan untuk pergi mengejar karier di Jakarta. Di atas kursi rotan yang anyamannya mulai lepas di beberapa bagian, Ibu duduk terdiam. Matanya menatap lurus ke arah jendela yang menampilkan rintik hujan sisa semalam.
"Ibu, Gista pulang," kataku pelan.
Ibu menoleh. Butuh waktu sekira lima detik sampai fokus matanya terkunci pada wajahku. Ada kekosongan di sana yang membuat dadaku terasa seperti diremas. Barangkali benar apa yang pernah ditulis oleh Seneca, bahwa hidup itu sangat singkat tapi kita sering menyia-nyiakannya dengan tidak hadir sepenuhnya. Di depan mataku, Ibu sedang kehilangan kehadirannya sendiri, sedikit demi sedikit, lewat sel-sel ingatannya yang mulai memudar.
"Gista? Wis mangan, Nduk?" tanya Ibu. Suaranya serak, tipis seperti kertas lama.
Itu pertanyaan template. Pertanyaan yang selalu ia ajukan sejak aku masih berseragam putih merah sampai aku sudah bisa membeli rumah sendiri. Di rumah ini, kasih sayang tidak pernah berbentuk pelukan atau kata-kata manis. Kasih sayang adalah sepiring nasi hangat dan perintah untuk segera mandi. Bagi Ibu, cinta bukan soal kata-kata puitis, melainkan soal memastikan perutku tidak berbunyi.
"Sudah, Bu. Tadi makan di stasiun," jawabku bohong. Sebenarnya perutku kosong, tapi aku tidak ingin membuatnya sibuk di dapur.
Ibu kembali menatap jendela. Ia seperti sedang membaca sesuatu yang tertulis di langit yang mendung. Aku mendekat, lalu duduk di kursi sebelah. Keheningan di antara kami bukanlah keheningan yang nyaman. Ini adalah jenis keheningan yang penuh dengan hal-hal yang tidak pernah diucapkan. Kami adalah dua orang yang tinggal di bawah sejarah yang sama namun memiliki ingatan yang berbeda tentang rasa sakit.
Tiba-tiba, tangan Ibu bergerak kasar. Ia meremas ujung daster batiknya sampai buku-buku jarinya memutih. Wajahnya yang tadi tenang berubah drastis menjadi tegang, seolah melihat hantu di balik tirai jendela.
"Ojo ... ojo neng kene. Lungo!" gumamnya dengan nada yang membuat bulu kudukku meremang.
"Ibu? Ada apa?" Aku menyentuh bahunya, mencoba menenangkan.
Ibu menepis tanganku dengan kekuatan yang tak terduga. Sorot matanya mendadak tajam dan penuh kebencian yang belum pernah kulihat sebelumnya. Ia menunjuk ke arah sudut ruangan yang kosong, tempat lemari kayu jati tua berdiri dengan angkuh.
"Kowe njupuk kabeh, yo? Kowe maling!" teriaknya histeris.
Aku tersentak mundur sampai hampir menabrak meja jengki. Ini bukan Ibu yang kukenal. Ibu yang kukenal adalah sosok pendiam yang dingin, bukan perempuan yang meledak-ledak tanpa alasan. Dadaku berdegup kencang. Apakah demensia ini sudah sampai pada tahap paranoia yang mengerikan?
"Ibu, ini Gista. Anak Ibu sendiri. Tidak ada pencuri di sini." Suaraku bergetar.
Ibu mulai terisak, tangisannya terdengar menyayat hati, sebuah jenis suara yang hanya bisa keluar dari seseorang yang sudah memendam luka selama berdekade-dekade. Ia memukuli dadanya sendiri dengan kepalan tangan yang lemah.
"Atiku loro, Nduk. Wis ra kuat aku nyimpen iki kabeh," rintihnya di sela tangis.
Aku memberanikan diri mendekat lagi, lalu memeluknya dengan erat meskipun ia terus meronta. Di momen itu, aku menghirup bau yang tak asing dari rambut Ibu yang seluruhnya sudah memutih. Aroma itu membawa aku pada ucapan Epictetus bahwa manusia tidak terganggu oleh hal-hal yang terjadi, tetapi justru oleh pandangan mereka tentang hal-hal tersebut. Tapi bagi Ibu, hal-hal yang terjadi di masa lalunya kini telah menjadi monster nyata yang mengejarnya sampai ke masa kini.
Setelah beberapa menit yang terasa seperti selamanya, tubuh Ibu perlahan melemas. Ia kelelahan. Isaknya mereda menjadi gumaman yang tidak jelas. Aku membimbingnya untuk berbaring di sofa, menyelimutinya dengan kain jarik yang ada di sana.
Ketika ia sudah tampak tenang dan tertidur karena kehabisan tenaga, aku berdiri di tengah ruang tamu yang kembali sunyi. Pandanganku tertuju pada lemari jati yang tadi ia tunjuk. Lemari itu terkunci rapat. Seingatku, kunci itu selalu melingkar di pergelangan tangan Ibu seperti gelang, namun sekarang kuncinya tergeletak begitu saja di atas meja, seolah sengaja ditinggalkan agar aku menemukannya.
Dengan tangan yang masih gemetar karena sisa ketakutan, aku mengambil kunci besi tua itu. Rasanya dingin dan berat. Aku berjalan menuju lemari tersebut, setiap langkahku di atas tegel abu-abu terdengar seperti dentum lonceng peringatan.
Aku memasukkan kunci ke lubangnya. Suara klik yang dihasilkan terasa begitu nyaring di telinga, seolah-olah aku baru saja membuka kotak pandora yang selama ini terkubur di bawah fondasi rumah ini. Saat pintu lemari itu terbuka, debu-debu halus menari di bawah cahaya lampu yang temaram.
Pintu kayu itu seolah menjadi gerbang menuju dimensi lain yang tidak pernah aku ketahui keberadaannya. Bau kamper yang menyengat mendadak terasa menyesakkan, seakan ribuan partikel debu itu mencoba masuk ke paru-paruku dan menceritakan rahasia mereka sekaligus.
Di sana, di antara lipatan kain kebaya lama yang berbau kamper, terdapat sebuah kotak timah kecil yang berkarat. Aku membukanya pelan-pelan. Di dalamnya bukan emas atau surat berharga. Hanya ada selembar foto hitam putih yang pinggirannya sudah gripis dimakan usia, dan selembar kain sisa potongan jarik yang bercak merahnya sudah berubah menjadi kecokelatan.
Darah.
Lututku lemas. Darah di kain itu bukan berasal dari luka kecil. Dan sosok lelaki di foto itu ... dia sama sekali bukan Bapak. Lalu siapa sebenarnya orang ini?

Rusdianto
3 Pengikut · 1 Novel